BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Gibran Sanjaya



"Halo, lo di mana?"


"Gue di depan UGD sama anak anak yang lain, lo udah sampai?"


"Udah, gue ke situ sekarang."


Panggilan terputus.


"Mereka ada di ruang UGD, kita ke sana sekarang."


"Oke."


Keelua dan Anraka pun turun dari mobil dan langsung menuju ke ruang unit gawat darurat rumah sakit tersebut. Dengan terburu buru mereka melangkah dan mencari cari keberadaan teman teman mereka yang sudah datang lebih dulu.


Dari kejauhan, Anraka sudah dapat melihat orang orang yang ramai berkumpul di depan ruang UGD, susah pasti itu adalah anggota geng EX yang sedang menemani Gibran.


"Gimana Gibran?"


"Dari mana aja lo?" tanya Bumi.


"Gue harus ngurus sesuatu dulu, gue udah buru buru ke sini," balas Anraka.


"Ngurus apaan? Ngurus hubungan lo berdua? Bahkan pas teman lo kena musibah kayak gini lo masih sempat sempatnya pacaran sama dia," tuduh Bumi dengan sarkas.


Keelua melihat jelas bahwa Bumi menatap sinis ke arahnya, gadis itu tidak membalasnya dengan tatapan yang sama, ia hanya diam saja dan tidak memberikan respon yang berarti.


"Kenapa lo jadi bawa bawa Keelua? Gue punya urusan apa pun itu bukan urusan lo." Anraka mulai terpancing emosi tapi dengan cepat Keelua menarik tangan pemuda itu.


"Jangan marah marah di sini, ini UGD, lo enggak boleh kepancing emosi," bisik Keelua.


Anraka menarik napas panjang, ia hampir lupa bahwa sekarang ia dan orang orang ini sedang berada di rumah sakit. Akan tetapi, sikap Bumi sangat menyebalkan, membuatnya ingin memukul wajah pemuda itu.


"Apa apaan kalian ini? Kalian mau berantem kayak di sekolah juga? Enggak malu dilihatin sama anak anak yang lain? Kalian ini anggota inti tapi kelakuan kayak bocah," tegur Romeo.


Dari mereka semua, yang paling tampak kecemasannya adalah Romeo, mungkin karena pemuda itu yang paling dekat dengan Gibran dan mereka berdua selalu bersama.


Anraka langsung mencoba mengontrol emosinya dan membuat suasana menjadi tidak tegang lagi. Awalnya pada anggota geng EX itu sedang becanda dan mengobrol ringan sampai Anraka datang dan tiba tiba adu mulut dengan Bumi. Yang notabenenya adalah sama sama anggota inti.


Sementara Anraka adalah orang yang paling malu saat gengnya disebut tidak kompak apalagi dalam satu geng ada beberapa anggota yang saling bersiteru.


Tapi sekarang, hanya karena seorang gadis cantik mereka harus mengalami perang dingin. Tapi sebenarnya Anraka tidak pernah mengatakan bahwa ia sedang bertengkar dengan Bumi apalagi membenci sahabatnya tersebut. Karena menurut Anraka, teman dan sahabat adalah hal yang terpenting.


Namun, karena sekarang prioritasnya bertambah, pemuda itu menempatkan Keelua di urutan pertama yang harus ia prioritaskan.


Yang Anraka tidak suka dari Bumi adalah cara pemuda itu berbicara yang seolah menyindirnya dan cara pemuda itu menatap Keelua, seolah ada perasaan ingin menerkam gadis yang berdiri di sebelah Anraka itu.


"Enggak ada yang berantem," sahut Anraka sambil melangkah mendekat ke arah teman temannya dan mencarikan tempat duduk untuk Keelua.


"Gimana ceritanya? Kenapa bisa tiba tiba kayak gini?" tanya Anraka.


"Gue juga enggak paham, tapi kronologinya; gue tadi nemenin Gibran ke cafenya buat ngecek keadaan di sana lagi kayak gimana, beberapa hari ini dia emang sering ke situ buat ngecek. Terus kejadiannya pas sore menuju malam, gue sama Gibran udah mau balik, pas gue masuk duluan ke dalam mobil, tiba tiba aja ada yang lari ke arah Gibran, dia dari belakang," jelas Romeo.


Semua yang ada di tempat itu mendengarkan dengan seksama, bahkan orang orang yang tidak mengenal siapa itu Gibran dan siapa orang orang yang ada di depan UGD ini. Suara Romeo cukup keras hingga orang lain pun dapat mendengar obrolan mereka.


"Awalnya dia mau nyerang Gibran di kepala tapi kayaknya Gibran sadar kalau ada yang ngikutin dia akhirnya dia noleh terus nahan pukulan orang itu. Mereka sempat berantem beberapa menit, gue pun ikutan keluar dari mobil karena harus bantuin Gibran. Pas gue keluar dari mobil, orang itu kaget abis itu langsung ngeluarin pisau kecil terus ngebacok bagian lengan kanan Gibran," terang Romeo.


Mereka semua akhirnya paham, meskipun Identitas orang yang melakukan ini pada Gibran masih menjadi misteri tapi bukan geng EX namanya jika tidak mencari tau.


"Gue juga minta rekaman CCTV di lokasi kejadian, orang itu pakai baju serba hitam dan mukanya benar benar ditutup. Dari awal gue udah curiga sama orang itu, awalnya gue ngelihat dia ada di dalam cafe juga, dia duduk di salah satu meja dekat dari meja yang gue sama Gibran tempati. Beberapa detik setelah gue dan Gibran keluar dari cafe itu, orang tadi juga ikut keluar tapi enggak tau ke mana, dia cuma keluar dari cafe gitu aja dan enggak keliatan ngikutin kita." Romeo terus menjelaskan secara detail.


"Ngeri juga, ya. Apa mungkin dia salah satu orang yang pernah ngeganggu geng EX? Sapatau dia ada dendam sama kita makanya nyerang Gibran," ujar salah satu anggota EX yang ada di sana.


"Gue enggak tau tapi selama ini aman aman aja. Kalau pun dia emang punya dendam sama kita, harusnya dia enggak nyerang dari belakang, dong. Bawa senjata tajam lagi, bener bener enggak masuk akal," sambung Romeo.


"Namanya juga orang jahat, dia pasti bakal lakuin apa aja asal dia bisa nyerang orang yang mau dia serang," tambah anggota yang lain lagi.


Keelua tidak mengenal semua anggota geng EX kecuali anggota inti, anggota anggota yang lain jarang ia lihat, mereka selalu berkumpul di markas geng EX sementara Keelua enggan datang ke sana.


"Udah lah, itu enggak penting untuk sekarang. Kita bisa cari pelakunya nanti, yang jelas Gibran harus baik baik aja dan kita semua harus nemenin dia," kata Anraka.


Semua orang menyetujui.


"Mama sama Papanya Romeo udah kalian kabarin belum?" tanya Keelua.


"Belum, sih," jawab Romeo. "Gue takut, gue juga enggak tau mau ngomong apa ke orang tuanya Gibran," sambungnya.


Anraka mendecak, "Seharusnya sebelum lo hubungin gue, lo hubungin orang tuanya Gibran dulu, mereka harus tau ini."


"Hape Gibran ada sama lo, 'kan? Sini gue hubungin orang tuanya dulu," pinta Anraka.


Romeo pun memberikan ponsel milik Gibran pada Anraka, kebetulan Gibran juga tidak pernah memberikan kata sandi untuk ponselnya sendiri jadi siapa saja bisa membukanya.


Dengan gerakan cepat Anraka membuka ponsel Gibran dan langsung mencari kontak orang tua pemuda itu, tak apa apa jika ia dimarahi yang terpenting orang tua dan keluarga Gibran bisa tau keadaan anak mereka.


Anraka memilih untuk menelepon Ibu Gibran, nomernya ada di bagian paling atas dan diberi pin oleh pemuda itu.


Beberapa saat panggilan itu berdering, akhirnya di angkat. Tak lupa Anraka menyalakan mode pengeras suara agar semua orang yang ada di sana bisa mendengar obrolannya dengan Ibu dari Gibran itu.


"Kenapa kamu? Kamu enggak tau Mama lagi sibuk? Mau apa lagi? Minta uang? Tinggal chat aja enggak usah nelpon, buang buang waktu."


Semua orang yang ada di sana terkejut, bahkan Romeo sekali pun. Mendengar kata kata dari Ibu Gibran barusan membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Halo, Tante. Maaf, ini bukan Gibran. Saya Anraka, saya mau kasih kabar kalau Gibran lagi ada di rumah sakit sekarang, dia di serang sama orang yang enggak dikenal," ujar Anraka.


Untuk beberapa detik tidak ada suara dari ujung sana, Anraka sempat kebingungan namun kemudian Ibu Gibran itu bersuara lagi.


"Saya akan kirim orang untuk menjaga dia di sana, kasih tau aja berapa total biaya yang harus dibayar nanti saya langsung kirim ke kamu. Terima kasih sudah membawa anak saya ke rumah sakit, tolong jangan mengganggu."


Anraka tidak habis pikir, apa apaan itu? Bagaimana mungkin seorang Ibu bisa setenang itu saat anaknya dikabarkan masuk rumah sakit karena diserang.


"Itu ... mamanya Gibran?" tanya Keelua.


"Iya. Di hapenya Gibran namanya Mama. Chatnya juga di pinned," kata Anraka sambil memberikan ponsel Gibran pada Romeo lagi.


"Mamanya Gibran emang kayak gini?" tanya Romeo pelan.


"Kan lo yang selalu sama dia, lo enggak tau apa apa soal sikap orang tuanya?" Giliran Bumi yang bertanya.


Romeo menggelengkan kepala, "Enggak, bahkan gue hampir enggak pernah ketemu sama orang tuanya Gibran. Lo tau sendiri Gibran jarang pulang ke rumahnya, palingan di apartemen dia doang."


"Ya udah, mending kalian jangan bilang ke Gibran soal sikap Mamanya, bilang aja kita enggak ngehubungin Mamanya biar dia enggak sedih." Keelua memberi saran.


Semuanya menyetujui, meskipun masih ada sedikit sesak di hati teman teman Gibran saat mendengar Ibu dari teman mereka bersikap acuh pada anaknya sendiri.


Terutama Romeo, bagaimana mungkin ia tak tau bahwa hubungan Gibran dengan orang tuanya tidak begitu baik? Ia juga baru tau ini, dia yang tidak peka atau memang Gibran yang terlalu pandai menyembunyikan perasaannya?


Selama ini Gibran bersikap baik baik saja seperti tidak ada masalah, ia juga tidak pernah menyinggung soal keluarganya atau apa pun. Semuanya benar benar terlihat baik baik saja.


Ternyata di balik sikap Gibran yang ceria dan suka becanda, ada sesuatu yang tersembunyi dari pemuda itu.


Siapa yang menyangka bahwa pemuda secerewet dan sereceh Gibran ternyata adalah seorang anak yang diacuhkan oleh orang tuanya? Di dengar dari cara Ibu Gibran berbicara, sepertinya ia sama sekali tidak mau mendengar apa pun dari anaknya sendiri.


Yang ia katakan hanyalah uang dan jangan mengganggu. Seolah olah telepon dari anaknya adalah hal yang tidak perlu dan sangat membuang buang waktunya.


Ternyata hidup Gibran lebih berat dari apa yang orang orang lihat, seorang pemuda yang tampak tidak punya masalah ternyata adalah orang yang paling menderita.


Semuanya salah karena menganggap Gibran ini baik baik saja.


Beberapa jam berselang, semua teman teman Gibran yang ada di rumah sakit masih setia menunggu. Kabarnya Gibran kehabisan banyak darah karena luka bacok yang ada di lengannya hingga ia mendadak pingsan tapi selain itu tidak ada masalah yang perlu dicemaskan lagi.


Teman teman Gibran termasuk Keelua cukup lega, namun tetap saja mereka was was dan masih menunggu Gibran siuman.


"Gue enggak nyangka ternyata orang tuanya Gibran kayak gitu, gue kira selama ini dia baik baik aja."


Sambil menunggu kabar siumannya Gibran dari dokter, Keelua dan Anraka duduk di kursi tunggu, mereka duduk berdampingan dan membahas ulang tentang Ibu Gibran.


"Gue juga baru tau ini, udah lama banget gue temenan sama Gibran tapi gue enggak pernah datang ke rumah dia pas orang tuanya ada di rumah atau ngelihat Mama atau Papanya ada di rumah. Dia juga enggak pernah ngomong apa apa soal keluarganya," balas Anraka.


Keelua manggut manggut, kehidupan seseorang memang tidak bisa dilihat dari luarnya saja.


"Jadi selama ini dia nyembunyiin ini dari teman teman dia, ya. Berarti dia emang tertutup banget soal keluarganya. Sampai kalian aja yang notabenenya itu sahabat dia enggak ada yang tau sama sekali."


Anraka menghela napas panjang, "Harusnya gue lebih peka lagi ke teman teman gue, andai Gibran bilang, kita pasti bakal ngasih dia semangat walaupun mungkin enggak berarti banyak tapi setidaknya bisa bikin dia enggak ngerasa kesepian."


Keelua beralih mengelus punggung Anraka, ia mengerti apa yang pemuda itu rasakan tapi ia tak bisa melakukan apa apa juga.


"Bukan salah lo. Tiap tiap orang emang selalu punya privasi atau rahasia yang enggak pengen dan enggak mau mereka kasih tau ke orang lain. Biar dia yang nyimpan itu sendiri, enggak apa apa kok. Pasti bakal ada waktunya Gibran ngomongin itu semua kalau dia udah siap."


Anraka menganggukan kepala, menyetujui kata kata Keelua.


Dari jarak beberapa meter Bumi memperhatikan kedekatan Keelua dan Anraka, tanpa sadar tangannya mengepal kuat.


"Keluarga Gibran Sanjaya?"