BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
9. Pemuda Menyebalkan



"Cinta mungkin bisa merubah menjadi benci tapi benci juga bisa menumbuhkan cinta."


Anraka tersenyum miring setelah membaca sebuah quote yang tertulis di sampul belakang novel Keelua yang tertinggal di dalam mobilnya.


"Sampah."


"Oh, itu novelnya Kak Keelua, ya?" Angel mendapati kakaknya sedang memegang novel bersampul merah jambu di tangannya.


"Enggak tau," ujar Anraka lalu menaruh novel itu di jok belakang mobilnya.


"Nanti Bang Raka kasih ya ke Kak Keel, pasti dia nyariin," pinta Angel.


"Males."


"Ih, kok gitu?!" kesal Angel, "Enggak mau tau, Bang Raka harus kasih novelnya ke Kak Keelua besok atau kita unfriend!" tekan Angel lalu keluar lebih dulu dari mobil meninggalkan Anraka.


Anraka mendecak kesal. Angel dan Keelua sama saja, sama sama sudah memaksa dan sama sama suka merepotkan orang lain. Pantas saja mereka sangat dekat dan akrab.


Pemuda itu kembali mengambil novel yang tadi ia letakkan di jok belakang lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang sedang ia duduki.


Tangannya bergerak membuka novel itu dan melihat semua lembaran di dalamnya tanpa niat untuk membacanya. Namun netranya menangkap sebuah dialog yang sepertinya harus ia baca.


"Gue emang benci sama lo, tapi lo itu punya gue."


Anraka membaca dialog itu seperti bergumam, satu alisnya terangkat. Dialog macam apa itu? Tokoh di dalam novel itu terlalu naif. Untuk apa Keelua membeli novel seperti ini? Seleranya rendahan sekali.


"Bang! Cepetan masuk! Disuruh Oma!" pekik Angel dari teras.


Anraka yang masih diam di dalam mobil yang berada di garasi pun menutup novel itu lalu sekali lagi melemparnya ke jok belakang. Dirinya tidak tau kenapa ia tiba tiba saja ingin membaca tulisan


yang ada di sebuah buku. Sebenarnya hanya penasaran saja.


Pemuda itu pun keluar dari mobil lalu melangkah santai ke dalam rumah setelah mengunci garasi. Malam ini cukup melelahkan untuknya, harus menemani dua gadis aneh dan cerewet dalam satu waktu.


"Besok aja gue buang tuh novel."


...****************...


"Permisi."


"Eh, Non Keelua. Silahkan masuk, non." Bibi Maryam membukakan pintu untuk Keelua.


Keelua menggeleng, "Saya enggak masuk deh, Bi. Mau titip susu ini aja ke Oma Arum, soalnya udah mau telat nih." Lalu menyodorkan tas kain berisi dua botol susu yang dibawanya.


"Lho, enggak mampir dulu? Nanti Oma Arum nyariin, non," tanya Bi Maryam.


Keelua menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia sebenarnya ingin sekali singgah dan menyapa nenek Anraka tapi ia harus buru buru karena akan terlambat. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya dan mendapati motor Anraka masih terparkir rapi dalam garasi yang terbuka.


"Anraka belum berangkat, Bi?"


Bibi Maryam menggeleng, "Belum, non. Tadi den Raka bangunnya kesiangan jadi belum berangkat sampai sekarang".


"Oh, gitu. Ya udah, Keelua berangkat sekarang, sampaiin salam aja buat Oma Arum ya, bi!" Keelua melambaikan tangannya lalu berbalik.


"Keelua!"


Langkah gadis itu terhenti ketika mendengar suara yang tak asing memanggilnya dari dalam rumah. Keelua pun menoleh dan membalikkan badannya kembali lantas tersenyum kikuk.


"Kamu mau ke mana, sayang?"


"Mau berangkat, Oma. Udah telat banget ini." Keelua mendekat lalu memeluk tubuh wanita paruh baya itu sebentar.


"Ini susunya udah Keel bawain, dapat salam dari Mama Papa juga," imbuhnya.


Oma Arum tersenyum lalu mengelus pundak Keelua dengan sayang, "Iya, sayang. Terima kasih, ya."


"Sama sama, Oma. Kalau gitu Keelua berangkat dulu, ya."


"Mau naik apa kamu?" tanya Oma Arum.


"Itu aku naik taksi online," ujarnya seraya menunjuk sebuah mobil yang menunggunya di depan gerbang rumah Anraka.


"Kamu bareng Raka aja, ya. Biar cepet, dia naik motor. Kalau naik mobil pasti kejebak macet," saran Oma Arum.


"T-Tapi, Oma. Aku—"


"Enggak usah ngebantah, Raka bentar lagi siap kok."


Keelua merutuk di dalam hati, kenapa ia harus terjebak dengan Anraka lagi? Apa alam semesta tidak bisa membiarkannya hidup tenang sehari saja tanpa Anraka?


"Raka berangkat ya, Oma," ucap Anraka seraya menyugar rambut jatuhnya ke atas.


Oma mengangguk seraya tersenyum lalu menepuk bahu cucunya itu, "Kamu berangkat sama Keelua, ya. Kasian udah telat."


Raka tidak akan pernah menolak permintaan Omanya, namun kali ini ada rasa tidak rela dalam hatinya tapi apa boleh buat? Mau tidak mau, ia harus mau.


Pemuda itu pun mengangguk lalu melangkah menuju garasi setelah mencium pipi Omanya sekilas di depan Keelua. Sedangkan Keelua hanya diam saja, ia juga tidak mungkin menolak permintaan Oma Arum.


Kedekatan antara Anraka dan Oma Arum sudah sangat sering Keelua lihat, jadi tidak ada rasa kaget lagi untuknya. Walau pun semua orang melihat Anraka adalah pemuda yang datar dan dingin dari luar, tapi sebenarnya pemuda itu penuh kasih sayang dan manja.


Tidak banyak orang yang mengetahui hal itu, karena Anraka juga tidak menunjukkannya ke sembarang orang. Anraka benar benar pemuda yang misterius dan sulit ditebak.


Anraka sudah selesai mengeluarkan dan memanaskan motornya, Keelua pun kembali pamit pada Oma Arum sebelum naik ke atas motor sport Anraka.


"Berhenti di depan taksi itu dulu, gue belum bayar." Keelua menunjuk mobil yang masih setia menunggunya di depan.


Anraka pun berhenti dan menyuruh sopir taksi itu untuk membuka kaca jendelanya lalu memberikan uang pecahan seratus ribu rupiah tanpa menunggu kembaliannya.


Pemuda itu langsung melesat menjauh dari rumahnya menuju sekolah.


"Raka! Itu lo bayar kebanyakan!" pekik Keelua seraya menepuk bahu Anraka.


Keelua yakin bahwa Anraka mendengar suaranya namun memilih untuk tidak peduli.


"Lo buang buang duit tau, enggak?!" pekik Keelua lagi.


Anraka lagi lagi tidak menjawab namun ia malah menggas motornya dengan kecepatan tinggi, Keelua tersentak kaget lalu menarik kemeja yang digunakan pemuda itu agar menjaga tubuhnya tidak jatuh.


"Lo jangan gila, deh! Kalau mau mati, mati aja sendiri jangan ngajak ngajak," kesal Keelua lalu memukul kepala Anraka yang masih tertutupi helm.


Setelah beberapa saat Keelua mempertaruhkan nyawa di atas motor Anraka, tiba tiba saja pemuda itu memelankan laju motornya dan berhenti di sisi trotoar jalan. Mereka belum sampai di sekolah, jaraknya masih tersisa satu kilo meter lagi. Alis Keelua menekuk tajam, ada apa ini?


"Kenapa berhenti? Kita belum sampai," tanya Keelua.


"Turun."


"Palamu pecah. Eh, turun apaan?"


"Turun dari motor gue," ulang Anraka datar.


"Kok gitu, sih? Ini belum sampai di sekolah, bego!" Keelua mulai kesal.


"Lo turun sekarang. Gue enggak mau ngebonceng lo sampai sekolah."


Mulut Keelua terbuka lebar, tak percaya mendengar kata kata pedas dari mulut Anraka itu.


"Lo udah gila apa? Ini masih jauh banget dari sekolah, Anraka! Lo tega nurunin gue di sini?!"


"Turun."


Keelua mendecak kesal lalu terpaksa turun dari motor Anraka. Belum sempat Keelua mengumpati pemuda itu, Anraka sudah kembali menancap gas dan pergi meninggalkan Keelua di pinggir jalan seperti gembel.


"Dasar lo cowok kurang ajar! Enggak ada adab! Gue sumpahin lo suka sama gue, terus gue ghosting lo biar mampus!"


Keelua menarik napas panjang setelah selesai meneriaki Anraka yang sudah tak nampak lagi di pandangan. Gadis itu mencoba menetralkan deru napasnya lalu merapikan sedikit rambutnya yang berantakan.


"Gue harus kalem dan cantik seperti biasa. Jangan marah marah, Keel. Nanti enggak kiyowo lagi. Huh."


Tanpa pikir panjang dan karena tidak ingin berjalan sejauh satu kilo meter menuju sekolahnya, akhirnya Keelua merogoh sakunya dan membuka ponselnya untuk menghubungi seseoang.


"Halo, Vano. Jemput gue, dong!"


.


.


.


.


.


.


.