BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Rasa Cinta



Banyak sekali hal yang terjadi selama Keelua hidup sebagai istri dari pemuda tampan dan digemari banyak wanita ini.


Sekarang semuanya terasa jauh lebih indah setelah melewati segala masalah yang terus menerus hadir di tengah tengah mereka. Masalah yang selalu muncul tanpa jeda namun akan selalu ditemukan jalan keluarnya.


Sampai hari ini, Keelua tidak pernah menyesal menjadi salah satu orang terpenting di hidup Anraka. Ia juga senang bisa mengenal pemuda itu hingga akhirnya mereka saling mencintai.


Danau yang luas ini menjadi saksi perjalanan cinta Keelua dan Anraka yang tidak mudah, benar benar tidak mudah karena terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan.


Mulai dari masalah besar hingga masalah terkecil yang tidak seharusnya ada. Tapi, seperti inilah hubungan itu bekerja.


Anraka berbaring di atas alas yang sudah disiapkan, sementara Keelua duduk di sebelahnya dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk pemuda itu.


Kedua pasangan tersebut sedang menikmati damainya sore di pinggir danau, dengan beberapa makanan ringan di keranjang makanan yang mereka bawa.


Sangat menyenangkan dan sangat tenang.


"Capek banget, ya, Keel," ujar Anraka tiba tiba.


"Iya. Capek banget," balas Keelua.


Bahkan tanpa penjelasan pun, mereka berdua bisa saling mengerti. Tentang segala perasaan dan hasrat yang mereka punya, semuanya seolah sudah menyatu hingga menjadi padu.


"Gue senang semuanya udah selesai, walaupun banyak hal yang lagi lagi harus kita relain tapi setidaknya kita udah bisa lebih tenang sekarang," sambung pemuda itu.


Keelua terdiam, dengan bibirnya yang tertutup rapat, ia dengan senang hati memainkan rambut Anraka yang ada dipangkuannya.


"Hidup emang kayak gitu, 'kan? Kita udah ngelewatin titik terendah yang sempat kita jalanin, kalau sekarang lagi di kasih kebahagiaan, kita juga harus nikmatin." Keelua ikut buka suara.


Anraka mengiyakan itu dalam hati, udara sejuk di sekeliling mereka membuat perasaan perasaan positif terus berkembang hingga membuat keduanya merasa bahagia yang teramat sangat.


Seolah beban yang amat besar yang sedang mereka tanggung lenyap begitu saja.


"Enggak nyangka juga kita bisa sampai di sini, gue kira kita enggak akan bisa kayak gini. Maksud gue dalam hal mencintai, kalau diingat ingat, itu terlalu jauh dari perkiraan kita di awal." Anraka menambahkan.


"Sama kayak di buku buku novel yang sering gue baca atau di dalam drama yang suka gue tonton; yang namanya cinta enggak akan datang gitu aja, pasti ada sebab dan alasan kenapa cinta itu bisa muncul. Yang tiba tiba jatuh cinta itu mah kayaknya hidupnya dari sananya emang udah enggak jelas," sahut Keelua.


Anraka tertawa, "Enggak tau, tapi sejak sama lo gue baru bisa percaya kalau ada benci yang bisa jadi cinta. Semuanya cuma karena terbiasa dan rasa nyaman yang luar biasa."


"Kalau diingat ingat, siapa juga yang bisa suka sama anak nakal yang kerjaannya cuma berantem doang. Mukulin orang sana sini, enggak tau apa apa tiba tiba nonjok orang. Enggak jelas banget enggak, sih?"


Keelua mulai membahas masa lalu Anraka yang cukup kelam hingga tak ingin pemuda itu dengar lagi karena alasan malu.


Memangnya siapa yang tidak malu jika punya masa lalu seperti itu? Semua orang ingin tampak baik di depan orang lain. Menjadi nakal artinya tidak bisa bergabung dengan masyarat luas, karena anak anak nakal terlalu sering melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan namun tidak dapat ditangkap juga.


"Nakal nakal gini banyak yang suka, ya. Hampir semua cewek di sekolah suka sama gue, kecuali lo. Selera lo rendahan sih," balas Anraka.


"Enak aja! Ngapain gue nikah sama lo kalau gitu?!" pekik Keelua tak terima.


"Kan kita dijodohin," ucap Anraka seraya menatap wajah Keelua dari bawah.


Sang gadis diam beberapa saat, "Oh iya, ya. Lupa." Lantas tersenyum hingga deretan gigi putihnya tampak.


Kedua manusia yang sudah resmi menjadi pasangan selama beberapa tahun itu akhirnya melanjutkan pembahasan mereka dengan becanda dan saling memberi lelucon satu sama lain. Mereka begitu menikmati waktu mereka berdua, waktu waktu seperti ini yang sangat berharga.


Di tempat dan waktu yang tepat, mereka saling menukar perasaan dan isi pikiran, setelah banyak hal yang mereka lewati. Segala hal yang menguras tenaga, segala hal yang menguras hati.


Sudah mereka lewati bersama sama, walaupun sulit, mereka pasti akan tetap melakukannya.


Hingga saat ini, hingga mereka sudah membuat janji untuk tetap bersama bagaimana pun keadaannya.


"Tapi semua pertemuan dan perpisahan pasti punya alasan dan emang udah takdir. Enggak ada manusia yang dipertemukan dan dipisahkan tanpa alasan. Begitu Juga dengan seseorang yang datang dan pergi, walaupun mereka datang dan pergi, sudah bisa dipastikan bakal ada penggantinya lagi. Entah itu baik atau enggak, semuanya udah punya porsi masing masing."


Anraka mengambil tangan Keelua yang ada di atas kepalanya lalu menggenggamnya erat.


"Iya, bener. Hal terbaik dari takdir adalah gue bisa ketemu sama lo," balas Anraka. "Eh, enggak. Maksudnya ketemu sama kamu," sambungnya membenarkan perkataannya.


"Kamu?" tanya Keelua sambil menahan tawanya.


Ada apa ini? Mengapa tiba tiba Anraka memanggilnya dengan sebutan 'kamu'? Itu bukan hal yang biasa untuk mereka lakukan, Keelua dan Anraka sudah saling memanggil dengan sebutan 'lo gue' sejak dulu, jadi mendengar panggilan lain, membuat Keelua merasa cukup aneh.


"Sekarang kita harus pakai aku kamu, ya."


Keelua tertawa terbahah bahak, seolah apa yang baru saja dikatakan oleh Anraka adalah hal yang paling lucu sedunia hingga membuatnya segeli ini.


"Kenapa ketawa? Enggak lucu tau," kata Anraka.


"Lucu lah, lo ngapain tiba tiba pengen pakai panggilan aku kamu? Kita udah kayak gini dari dulu, kenapa baru minta ganti sekarang?" tanya Keelua dengan sisa sisa tawanya.


Anraka bangkit dari posisi rebahannya, kemudian duduk di sebelah Keelua dan mendekap bahu gadis itu.


"Kamu 'kan suka kisah percintaan kayak di drama drama gitu, walaupun aku enggak bisa wujudin itu, setidaknya aku bisa nunjukkin rasa sayang aku kayak cowok cowok yang katanya bikin kamu baper itu. Dan setau aku, mereka enggak ada yang pakai kata lo dan gue. Iya, enggak, sih?" kata Anraka.


Keelua masih sulit menahan tawanya, namun ia tetap mendengarkan apa yang Anraka katakan padanya hingga pemuda itu selesai.


Ada ada saja. Entah apa maunya.


"Tapi mereka emang enggak pakai lo gue, mereka 'kan bukan dari Indonesia," balas Keelua seraya cekikikan.


"Benar juga, ya." Anraka sontak saja terdiam.


Lagi lagi Keelua hanya bisa tertawa hingga perutnya sakit, Anraka ini banyak ditakuti oleh teman teman sebayanya dulu karena ia jago berkelahi namun untuk hal hal seperti ini saja mampu membuatnya terdiam.


Sangat lucu, dia menggemaskan.


"Ya udah, oke. Walaupun gue agak geli—eh maksudnya aku agak geli, tapi enggak apa apa," balas Keelua, ia benar benar sedang menahan kegelian yang luar biasa.


"Harus terbiasa pokoknya, walaupun lo mau muntah tapi tetap harus. Ini adalah komitmen berbangsa dan bernegara!" seru Anraka seolah ini hal yang benar benar serius.


"Apaan sih lo?!" Keelua tertawa renyah. "Eh, maksudnya, apaan sih kamu?" Kemudian tertawa lagi.


Akhirnya keduanya tertawa bersama, tertawa seolah mereka adalah manusia yang paling bahagia di dunia. Seolah mereka adalah pemilik dunia dan seisinya.


Tawa yang tulus, tawa bahagia, tawa yang tidak akan pernah mereka lupakan.


"Makasih, ya. Selama ini udah banyak banget masalah yang harus kita lewatin, tapi kamu tetap mau jalan bareng aku, aku tetap mau ada di samping aku buat nemenin aku. Kapan pun dan bagaimana pun keadaannya. Kamu enggak tau sesyukur apa aku bisa punya istri plus sahabat kayak kamu." Anraka menoleh ke arah Keelua, menatap gadis itu dengan sorot matanya yang teduh.


Lewat tatapan itu, mereka saling menebarkan cinta yang tak sanggup mereka ungkapkan dengan kata kata.


"Mata kamu bagus banget, ada masa depan aku di dalamnya."


Pipi Keelua sontak saja memerah, merah padam, gadis itu malu sekali.


Ini aneh namun setelah begitu lama tinggal bersama, ini adalah kali pertama Anraka memuji Keelua hingga terkesan memberi gombalan seperti ini.


Bisa dibayangkan bagaimana rasanya dipuji oleh seorang pemuda tampan yang tidak pernah berkata manis sebelumnya.


Rasanya lebih mendebarkan dibanding dipuji oleh seratus pemuda mulut manis yang lain.


"Sebelum ada kamu, hidup aku abu abu. Makasih sudah memberi banyak warna."


...****************...


Berbulan bulan berlalu, semuanya akhirnya berubah menjadi baik baik saja. Lebih baik baik saja dari pada hari hari yang lalu.


Setelah begitu banyak masalah yang dilewati dan berbagai cerita yang sempat dibagi, pada akhirnya semua kisah akan berakhir bahagia.


Walaupun ada beberapa hal yang harus dikorbankan dan diikhlaskan, setidaknya semuanya tetap berjalan meskipun sedikit tertatih.


Suka duka yang dilewati akan selalu menguatkan meskipun membuat air mata terjatuh dan menangis.


Keelua bahagia, dengan dirinya yang sekarang dan kehidupannya yang sekarang. Ada banyak hal yang gadis itu pendam dan tak mampu untuk ia ceritakan, tapi bersama Anraka, Keelua janji akan selalu bahagia.


Anraka adalah dunianya, begitu pun sebaliknya.


Awalnya, Keelua mengira semesta itu jahat karena sudah merebut semua kebebasan yang ia punya, namun pada akhirnya pepatah yang mengatakan bahwa semesta akan mengganti semua kesedihan menjadi kebahagiaan terbukti.


Inilah Keelua yang sekarang, gadis yang lebih bahagia dari sebelumnya. Gadis yang dulu pernah mengatakan bahwa dunia tidak adil padanya, sekarang berubah menjadi gadis yang terus berterima kasih pada takdir yang begitu baik dan benar benar tau apa yang ia butuhkan.


"Ayo, sayang. Kita ke makam sekarang."


Di tengah tengah keheningan Keelua menatap kosong halaman belakang rumah keluarga Pranata yang luas, tiba tiba datang seorang wanita dengan pakaian serba hitam sambil tersenyum ke arahnya.


Keelua pun memakai pakaian yang berwarna senada dengan Ibu mertuanya itu, sang gadis bangkit dan menggenggam tangan Ibu dari suaminya tersebut.


Keduanya melangkah keluar dari rumah. Orang orang sudah menunggu mereka, setelah kedua perempuan itu hadir, semuanya akhirnya siap untuk berangkat.


"Kamu jangan nangis lagi, ya."


Seorang pemuda tampan yang selalu tampak gagah menggenggam tangan Keelua dan tersenyum tipis ke arah gadis itu.


Keelua mengangguk, dia akan berusaha untuk tidak menangis kali ini.


Bagaimana pun keadaannya, yang harus ia lakukan adalah menerima ini semua dengan lapang dada, mengeluh pun tidak ada gunanya dan satu satunya cara agar tetap bahagia adalah menyadari bahwa apa yang telah pergi tidak akan bisa kembali.


Perjalanan pun dimulai, ada tiga mobil yang saling beriringan. Di mobil pertama ada Keelua dan Anraka, di mobil kedua ada Arya, Regina dan Angel, di mobil ketiga ada Bambang, Sekar dan Ravi.


Mereka bersama sama pergi ke tempat peristirahatan terakhir salah satu anggota keluarga mereka, untuk memperingati tiga puluh hari kepergiannya.


"Kamu baik baik aja, 'kan?" tanya Anraka pada istrinya yang sejak tadi hanya diam dan menatap kosong ke depan.


"Iya, aku baik baik aja."


"Kalau ada apa apa, kasih tau aku, ya. Kamu tau kalau aku selalu ada buat kamu."