
"Yang soal waktu itu, gimana?"
"Apa?!"
"Yang soal waktu itu, gimana, Keel?"
"Makan batu?! Lo mau makan batu?!"
Bumi tertawa pelan, Keelua ini ada ada saja.
Karena Keelua tidak bisa mendengar suaranya dengan baik, akhirnya Bumi sedikit memelankan laju motornya. Knalpotnya juga sedikit bising mungkin hal itulah yang membuat Keelua tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Yang waktu itu, Keel. Gimana? Lo mau enggak?" tanya Bumi lagi.
Keelua berpikir sebentar, apa yang Bumi maksudkan ini? Ia tak paham.
"Yang waktu itu apaan, sih? Lo jangan main kode kodean dong," balas Keelua.
Jalanan kota yang masih ramai di sore hari begini menjadi saksi perjalanan penuh rasa senang di hati Bumi, pemuda itu tak tau bagaimana bisa perasaannya berubah dengan begitu cepat.
Entah sejak kapan Keelua berhasil merebut hatinya secara paksa, gadis yang lebih dekat dengan Anraka ini terlalu menarik jika hanya untuk dipandangi dari jauh. Bumi ingin yang lebih dari ini, Bumi ingin tau segalanya tentang Keelua, Bumi ingin menjadi sebuah alasan ketika gadis itu tertawa, bahagia dan menangis.
Bumi ingin selalu mendekap Keelua dalam raganya. Jika boleh, Bumi ingin Keelua menjadi miliknya.
"Kalau lo lupa, beberapa hari yang lalu gue sempat ngajakin lo nonton dan kayaknya lo belum jawab. Jadi, gimana?" tanya Bumi, kini Keelua bisa mendengarnya dengan jelas.
Si gadis dengan rambut dikuncir menepuk dahinya, "Astaga, iya! Gue lupa!"
"Jadi gimana?" tanya Bumi memastikan.
Pemuda itu benar benar ingin pergi bersama Keelua, ia sudah menunggu jawaban gadis itu berhari hari lamanya namun ternyata Keelua lupa. Tapi tak apa, semoga gadis itu mau.
"Ya udah, sekarang aja."
"Eh?" Mata Bumi melebar, apa Keelua benar benar mengajaknya pergi sekarang?
"Sekarang? Jadi kita nonton sekarang?" Bumi memastikan.
"Iya, gue juga enggak mau ke mana mana tapi kalau lo enggak bisa sekarang, kita—"
"Bisa. Kita ke mall sekarang juga."
Tanpa basa basi, Bumi langsung memutar motornya dan berbalik arah dengan gerakan kilat.
Keelua senang karena Bumi sangat berantusias, mungkin pemuda itu punya sebuah film yang sangat ingin ia tonton dan tidak punya teman untuk menemaninya menonton jadi ia mengajak Keelua untuk pergi bersamanya.
Keelua tidak mau terlalu percaya diri, setelah dipikir pikir, Bumi tidak mungkin menyukainya. Bumi adalah anak pemilik yayasan dan secara otomatis dia adalah pemilik sekolah, banyak gadis yang mengejarnya dan selalu mengidolakan pemuda tinggi nan tampan tersebut.
Bumi tinggal memilih siapa gadis yang ia mau dan gadis itu akan langsung mendatanginya tanpa perlu repot repot mengambil hatinya.
Keelua selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Bumi memang selalu bersikap baik pada semua orang jadi ia bukanlah teman yang spesial untuk Bumi. Keelua merasa ia harus sadar diri dan mengetahui bahwa sikap baik seseorang tidak bisa menjadi penentu bahwa orang itu menyukai kita.
"Ada film yang pengen banget lo tonton, ya? Kayaknya lo semangat banget," kata Keelua, ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan agar ia bisa mendengar suara Bumi namun untuk Bumi, itu terasa seperti pelukan hangat.
"Bukan karena filmnya tapi karena orang yang bakal nemenin gue nonton," balas Bumi.
Keelua hanya menganggukkan kepala, ia mengerti. Bumi sepertinya akan bertemu seseorang di sana, itulah sebabnya ia sangat bersemangat.
Sejak tadi Bumi terus memperhatikan wajah Keelua dan kaca spion tanpa gadis itu sadari, sesekali Bumi sempat melihat gadis itu tertawa sendiri dan tersenyum ke arah objek yang ia lihat di depannya.
Keelua adalah gadis yang ceria, auranya yang sangat positif membuat gadis itu punya daya tarik tersendiri yang membuat orang orang atau mungkin siapa saja terpikat.
"Kenapa lo senyum senyum terus, Keel?" tanya Bumi sambil memperhatikan spion motornya.
Mendengar itu, Keelua langsung menutup mulutnya lalu ikut melirik ke arah kaca spion, ia tak tau bahwa Bumi sedang memperhatikannya.
"Enggak ada, gue cuma senang ada lihat aktivitas orang orang dan apa aja yang ada di jalanan, apa aja yang tertangkap sama sorot mata gue. Semuanya indah, apalagi langit." Keelua menjelaskan apa yang ia rasakan dengan begitu mudah, hingga mampu membuat Bumi terpanah.
"Kalau menurut lo, cinta itu apa, Keel?" tanya Bumi tiba tiba.
Entah lah, pemuda itu hanya ingin bertanya walaupun kedengarnnya aneh tapi apa salahnya menanyakan hal yang tidak jelas sekali sekali?
Keelua berpikir sebentar, sepertinya ia juga ikut merasa bahwa pertanyaan dari Bumi ini aneh namun gadis itu akan berusaha untuk menjawabnya.
"Menurut gue, cinta itu rumit karena sulit untuk dimengerti. Enggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa tau darimana cinta itu berasal dan gimana caranya cinta bisa hilang." Keelua balas melirik Bumi dari spion motor.
"Cinta itu rumit, ya?" Bumi bergumam.
"Iya," balas Keelua dengan senyum cerianya.
"Kalau cinta itu rumit, menurut lo lebih rumit cintanya atau cara ngungkapinnya?" Bumi menatap lurus ke depan, membiarkan Keelua sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kayaknya, lebih rumit cara ngungkapinnya kalau lo belum percaya diri. Ungkapin perasaan sebenarnya gampang kalau lo enggak mikirin soal ditolak atau diterimanya, tapi kalau lo cuma pengen orang yang lo suka itu tau, gue yakin enggak akan rumit. Paham enggak maksud gue?" Keelua sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, agar bisa mendengar jawaban dari Bumi.
Bumi terkekeh pelan, ia menyetujui pernyataan Keelua, itu benar adanya. Gadis yang duduk di belakangnya ini benar benar mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Meskipun tau bahwa Keelua belum pernah punya pacar sebelumnya, Bumi tetap menanyakan hal yang mungkin orang orang yang belum pernah menjalin hubungan tidak ketahui. Namun Keelua tetaplah Keelua, gadis yang tau banyak hal dari kisah orang lain yang diceritakan kepadanya.
Keelua mengangguk, gadis itu menghirup udara sore yang indah itu dengan penuh rasa tenang.
"Memahami cinta enggak selalu harus ngerasain yang namanya pacaran dulu, cinta kan macamnya banyak dan objeknya juga beda beda. Cinta enggak selalu sama pacar aja, ada orang tua, saudara, teman, sahabat. Iya, 'kan?" jelas gadis itu.
Sungguh, Bumi sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak menyukai Keelua. Gadis itu membuatnya jatuh sejatuh jatuhnya, ia tak menyangka, semesta dengan begitu mudahnya membolak balikkan hatinya.
Jika di ingat ingat, memangnya siapa Keelua dulu? Dia hanyalah gadis biasa yang tidak punya sesuatu yang mampu membuat orang orang melirik ke arahnya. Gadis itu hanya salah satu dari banyak gadis yang terlihat sangat biasa saja di sekolah. Sampai pada suatu hari saat Anraka yang sudah menjadi teman Bumi waktu itu akan beradu jotos dengan kakak kelas di lapangan, Keelua muncul dan langsung menghentikan perseteruan tersebut dan membuat Anraka tidak jadi memukuli kakak kelasnya.
Mulai dari saat itulah Keelua menjadi sasaran empuk para fans Anraka, seiring berjalannya waktu gadis itu juga mulai akrab dengan semua teman teman Anraka yang terbentuk dalam geng EX.
Keelua berubah menjadi gadis yang dikenal di seluruh antero sekolah, banyak didekati siswa siswa tampan dan kaya namun ia menolak dengan alasan ia belum pernah berpacaran sebelumnya maka dari itu ia harus mencari seseorang yang benar benar pas sampai mereka akan menikah.
Memang aneh, tapi seperti itulah Keelua, orang orang harus memaklumi itu.
"Bener juga, lo pintar banget, sih," puji Bumi.
Keelua menepuk bahu Bumi pelan, "Kok lo baru nyadar sekarang, sih? Gue emang pintar dari dulu kali."
Kemudian keduanya tertawa bersama, seolah olah jalanan ini hanya milik mereka berdua saja dan yang lain hanya udara.
"Senang rasanya bisa punya waktu berdua sama lo kayak gini, Keel."
...****************...
"Gimana filmnya? Bagus, ya?"
Bumi dan Keelua keluar dari studio bioskop dengan santai, film yang baru saja mereka tonton adalah film horor, Bumi yang merekomendasikannya.
"Bagus, sih. Tapi serem banget, gue sampai mual nontonnya," balas Bumi.
"Kan lo yang mau nonton itu, gimana sih?" Keelua terkekeh pelan.
Bumi menelan salivanya, apa yang ia rencanakan ternyata tidak sesuai, semuanya tidak berjalan lancar. Harusnya Keelua takut dan berlindung padanya, tapi ini malah kebalikannya, Bumi yang takut dan Keelua yang menikmati film tersebut. Ada ada saja.
Bumi sangat malu namun ia berusaha bertingkah setenang mungkin agar ia tidak terlihat lemah di depan Keelua.
"Oh, iya. Ini uang lo, gue ganti, ya." Keelua mengambil beberapa uang dari saku bahunya, uangnya berupa pecahan uang kecil jadi ia harus mengeluarkan semuanya lalu menghitungnya lebih dulu.
"Eh, jangan! Gue enggak mau patungan, gue yang bayarin lo, oke? Kan gue yang ngajak, enggak apa apa. Kantongin lagi uang lo, gue enggak bakal terima." Bumi menahan tangan Keelua yang hendak memberikan uang padanya, dia ini laki laki, tentu saja ia tidak akan mau menerima uang dari seorang gadis.
"Tadi lo beli makanannya banyak, lho. Yang habisin gue juga, masa gue enggak bayar? Gini gini gue masih punya malu juga, Bumi." Keelua mendongak, menatap pemuda yang berdiri di depannya.
"Enggak apa apa, lo simpan uangnya, gue enggak mau uang lo. Lo cukup nemenin gue jalan jalan aja, gue bosan banget di rumah."
Keelua tersenyum, "Ya udah, oke!"
Kalau begitu, Keelua akan dengan senang hati membiarkan Bumi mentraktirnya dan membelikannya makanan apa saja. Rasanya adil, Keelua memberikan waktunya yang berharga, yang bisa ia gunakan untuk menonton beberapa episode drama Korea dan Bumi mengeluarkan sejumlah uang yang tentu saja tidak seberapa untuk pemuda kaya raya tersebut.
Akhirnya kedua berjalan jalan lagi mengelilingi mall, melihat lihat toko dan mampir sebentar namun tidak membeli apa apa padahal Bumi sudah menawarkan Keelua untuk membeli sesuatu tapi gadis itu tidak mau. Keelua hanya melakukan kebiasaannya ketika datang ke mall, dia adalah tipe tipe manusia yang memasuki semua toko yang menarik perhatian, melihat melihat sebentar, mencoba satu persatu lalu keluar dari toko tanpa dosa.
Bumi tidak malu dengan tingkah Keelua, pemuda itu membiarkan saja gadis yang sedang hang out bersamanya ini bersenang senang. Tidak akan Bumi biarkan orang lain merusak kegembiraan gadis itu, jika ada yang protes, Bumi akan membeli tokonya beserta semua barang yang mereka jual.
Bumi tidak peduli, yang penting Keelua senang.
"Bumi, lo suka baca buku, enggak?" tanya Keelua saat keduanya akan melewati sebuah toko buku yang besar dan tampak ramai.
"Enggak terlalu, gue lebih suka baca komik. Yang suka baca buku itu si Ganta," jawab Bumi.
"Udah ketebak, sih. Ganta 'kan anaknya pinter," timpal Keelua lagi.
Bumi cemberut sesaat, ia tak suka Keelua memuji pemuda lain meskipun ia tak memperlihatkannya ke gadis itu.
"Kalau lo mau, gue bisa kok biasain diri baca buku supaya gue jadi suka juga. Lo suka baca novel gitu, 'kan? Lo mau gue beliin satu lemari novel buat stok di rumah lo, enggak?"
"HAH? SATU LEMARI?!" Keelua memekik kaget. "Lo nawarin satu lemari novel kayak lagi nawarin boba, ya."
Bumi menatap Keelua dengan alis yang naik, "Emang kenapa? Enggak bakal habis sepuluh juta, kok. Kebetulan di rekening gue masih ada duit jajan yang belum habis, nyokap gue mau ngirim lagi jadi enggak apa apa kalau mau dihabisin."
Mata Keelua melebar, ia tak bisa berkata kata. Kemudian dengan berani gadis itu bertanya lagi pada Bumi yang masih setia menatapnya, "Emangnya duit jajan lo berapa, Bum?"
"Cuma lima puluh juta sebulan."
"HAH?!" Lagi lagi Keelua memekik, "Gue sehari bisa jajan seratus ribu aja udah lebih banget, ya ampun." Gadis itu mengusap wajahnya.
Bumi hanya tersenyum kikuk.
"Kayaknya gue enggak akan ketemu lagi sama manusia yang uang jajannya segila lo."
"Gibran, si Gibran uang jajannya seratus juta sebulan."
"Buset. Mampus gue!"