BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
57. Bumi



"Hai, Keel! Dari mana aja lo? Kok suka tiba tiba ngilang, sih? Udah berapa hari lo enggak masuk sekolah, gue kangen tau enggak?"


"Lebay lo ah."


Lula mencebik bibir lalu duduk di sebelah Keelua yang baru saja datang dan memasuki kelas.


"Gue serius, lo dari mana aja? Lo enggak bisa dihubungin sama sekali, gue panik banget. Gue pengen datang ke rumah lo tapi gue sibuk banget bantuin nyokap gue di toko. Lo baik baik aja, 'kan?"


Keelua tersenyum kecil saat melihat reaksi Lula yang begitu senang karena kedatangannya, Keelua merasa dicintai.


"Gue baik baik aja, La. Kalau gue lagi kenapa kenapa enggak mungkin gue ke sekolah sekarang, 'kan?" balas Keelua dengan santainya.


Lula mengangguk kecil sambil mengusap tengkuknya, "Bener juga, sih. Ngomong ngomong lo naik apa ke sekolah hari ini?"


"Gue sama Ra-gue naik taksi, kayak biasa.


"Naik taksi? Harusnya lo hubungin gue aja, gue udah dibolehin bawa mobil ke sekolah lho sama nyokap gue. Seru banget enggak, sih?!" Lula berseru senang.


Ada banyak hal yang ingin Lula ceritakan pada Keelua selama gadis itu tak masuk sekolah. Walaupun menyebalkan dan pecicilan, Keelua adalah pendengar yang baik dan selalu memberi saran yang masuk akal untuk Lula.


Kedua gadis itu sudah terbiasa berbagi cerita mereka satu sama lain. Jadi jika sehari saja tak bertemu, rasanya seperti ada yang berbeda.


"Gila! Keren banget ya lo sekarang, jangan sampai lo ngelupain gue! Gue ini teman lo satu satunya yang nerima lo apa adanya waktu lo enggak punya apa apa. Inget itu!" tekan Keelua dengan nada suara sarkas.


Lula tertawa kecil, "Bego lo! Iya lah! Lo satu satunya temen gue yang goblok, enggak punya lagi gue temen goblok kayak lo." Seraya merangkul pundak Keelua dengan erat.


Keelua dan Lula akhirnya tertawa bersama, sudah beberapa hari mereka tak bertemu dan tertawa seperti ini. Keelua juga merindukan Lula.


Andai saja, Keelua bisa menceritakan apa saja yang telah terjadi padanya dalam kurung waktu yang singkat ini. Tidak mungkin ada yang percaya bahkan Keelua sendiri tak percaya dengan apa yang ia alami. Semuanya terjadi begitu cepat.


"Lo punya cerita seru apa aja selama kita enggak ketemu? Biasanya lo yang punya paling banyak cerita, lo harus kasitau gue sekarang!" kata Lula dengan mata yang berbinar.


Keelua diam, matanya sedikit melebar lantas tanpa sadar ia menelan salivanya dengan susah payah, tak tau akan mengatakan apa.


"Gue enggak punya cerita yang bisa gue cerita ke lo sih, karena emang enggak ada hal yang seru sama sekali. Kayak apa, ya? Ngebosenin banget gitu, lho," jawab Keelua. Tentu saja ia berbohong.


"Beneran? Masa enggak ada satu pun? Tumben hidup lo enggak seru, biasanya ada ada aja yang seru," timpal Lula lagi.


"Enggak ada, La. Lo enggak percaya deh sama gue." Keelua tersenyum kikuk, berusaha sekuat mungkin untuk menutupi segala kebohongannya.


Lula mendecak, "Masa enggak ada yang seru, sih. Kecewa banget gue," katanya.


"Lo gimana? Punya cerita seru apa emangnya?" Giliran Keelua yang balik bertanya.


Sebelum menjawab, Lula tertawa kecil terlebih dahulu, "Gue enggak punya cerita seru juga makanya gue pengen lo yang cerita ke gue."


Di detik selanjutnya, kedua gadis itu kembali tertawa, mereka menarik atensi murid murid lain yang berada di dalam kelas. Beberapa hari tak berjumpa saja bisa membuat mereka selepas ini saat bertemu, bagaimana jika lebih lama lagi?


Keelua dan Lula memanglah definisi teman sefrekuensi.


"Stop ketawanya, kayaknya guru udah mau masuk. Hari ini ada tugas, enggak?" tanya Keelua.


Lula berpikir sebentar, "Ada."


"Ada? Aduh, gimana nih. Gue enggak tau kalau ada tugas, bisa bisa gue kena marah sama guru," eluh Keelua.


"Tenang aja! Kayak biasa, gue selalu punya dua tugas yang sebenarnya enggak tau kenapa gue buat ini. Mungkin ini dikhususkan untuk saat saat kayak gini, pas lo enggak ngerjain tugas." Lula mengeluarkan dua buku dari dalam tasnya dan menunjukkan dua buku berbeda yang punya satu tugas yang sama.


"Ya ampun, lo emang temen gue yang paling baik sedunia deh! Enggak rugi gue pelihara lo dari dulu," pekik Keelua seraya mendekat dan memeluk tubuh Lula.


"Bacot lo! Ambil nih," balas Lula dengan kesal kemudian memberikan bukunya pada Keelua.


Terkadang Lula memang sering membuat satu tugas di dua buku yang berbeda, hal itu ia lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk temannya yang sangat sering lupa mengerjakan tugas.


Meskipun begitu, Lula tidak pernah merasa keberatan walaupun kadang Keelua sangat tidak tau diri.


"Makasih, ya, Lula cantik! Tapi cantikan gue," ucap Keelua seraya mengambil buku yang Lula lempar ke arahnya.


Lula hanya menaikkan alis tanda mengiyakan.


"Gue penasaran, hari ini Raka masih sekolah enggak, ya?" gumam Lula pelan.


Keelua spontan menoleh, "Kenapa emang?" tanyanya.


"Beberapa hari ini dia enggak masuk sekolah. Pas lo izin, dia izin juga. Harinya sama pula, kebetulan banget enggak, sih?"


Keelua terdiam. Bagaimana jika Lula curiga? Sama seperti gadis yang waktu itu Keelua hajar karena berani berani menuduhnya, tapi jika sudah seperti ini, Keelua bingung ingin mengatakan apa.


"Gue enggak tau apa apa sih soal dia, gue beberapa hari enggak masuk karena lagi sakit dan emang enggak megang hape. Mama gue enggak ngebolehin, jadi gitu deh," ujar Keelua.


"Emang yang bilang lo tau apa apa siapa?"


Sialan. Keelua salah bicara.


"Gue cuma pengen bilang aja biar obrolan kita panjang, gimana sih lo ah. Gitu doang dipermasalahin, ya udah gue diem aja."


Keelua membuang muka lantas membaca isi tugas yang sudah Lula kerjakan untuknya, gadis itu mencoba mencari kegiatan lain agar ia tak saling menatap mata dengan Lula. Bisa bisa Lula menyadari kegugupannya dan tau bahwa ada sesuatu yang Keelua sembunyikan.


"Oh, gitu, ya. Ya udah deh, yang penting Raka udah ada di sekolah sekarang, jadi gue bisa menikmati ketampanan dia lagi." Lula menangkup dagunya menggunakan tangan kiri lantas tersenyum dan tersipu.


Keelua memutar bola matanya malas, Lula ini berlebihan sekali. Saat Lula memuja Anraka dengan begitu fanatiknya, Keelua malah sudah bosan melihat wajah pemuda itu setiap hari. Orang orang tidak tau saja bagaimana menyebalkannya pemuda yang selalu di puji puji itu.


Mereka hanya melihat Anraka yang tampan dan keren saja tapi tidak melihat Anraka yang kasar dan tidak punya hati.


"Eh, karena gue udah bisa bawa mobil sendiri, gue pengen main ke rumah lo abis pulang sekolah, ya? Boleh, 'kan?"


...****************...


"Eh, si Raka!"


"Gila! Dari mana aja lo?!"


"Kirain udah lenyap di telan si Bumi."


"Enak aja lo!"


Anraka masuk ke dalam kelasnya dengan tampang kusut sementara teman temannya sudah menyambutnya dengan begitu antusias.


"Kok mukanya ditekuk gitu, sih? Lo abis kemalingan apa gimana?" tegur Gibran.


"Enggak."


"Dari mana aja, Rak? Susah banget dihubungin," timpal Bumi.


"Kalau ada masalah cerita dong, bukannya ngilang gitu. Geng EX jadi kehilangan arah kalau enggak ada lo." Romeo menyeletuk.


"Stop, Romeo. Gue jijik." Gibran menepuk pundak Romeo yang duduk di sebelahnya.


Suasana di dalam kelas sudah cukup ramai karena sebelum masuk ke dalam kelas, Anraka mampir ke kantin belakang untuk merokok. Pikirannya sangat kacau akhir akhir ini dan karena ia selalu berada di rumah, pemuda itu akhirnya tidak punya kesempatan untuk mengisap nikotin kesukaannya.


Semua teman temannya tau bahwa Anraka tidak diizinkan merokok oleh orang tuanya dan juga Oma Arum, sudah menjadi rahasia umum.


Satu satunya hal yang Anraka jaga sekarang adalah apa yang baru saja terjadi di dalam hidupnya, apa yang membuatnya pusing sekarang dan apa yang sedang menjadi beban hidupnya.


Anraka tidak ingin siapa pun mengetahuinya bahkan teman temannya sendiri.


"Gue lagi ada masalah tapi semuanya udah beres. Geng EX aman, 'kan?" Anraka duduk di tempatnya sembari menarikkan kedua kakinya ke atas meja.


"Masalah apa, Rak? Lo enggak mau cerita sama kita?" balas Bumi.


Anraka diam sebentar lantas menjawab, "Enggak perlu. Gue udah bilang kalau masalahnya udah selesai, percuma kalau diceritain. Tugas kalian itu jagain wilayah geng EX bukannya nyuruh gue cerita.


Gibran mendecak, "Ya udah. Ngomong ngomong sebenarnya geng EX baik baik aja, cuma barusan gue dapat kabar katanya ada satu anak buah kita yang dipukulin sama anak sekolah lain karena dia ngehalangin orang orang itu masuk ke kantin belakang.""


"Anak buah kita? Siapa namanya?" tanya Anraka.


"Si Andre," celetuk Romeo.


"Dulu orang orang dari sekolah lain itu enggak berani masuk ke sini tapi mungkin karena mereka dengar kabar kalau lo udah beberapa hari enggak masuk, makanya mereka nyoba buat nerobos," sambung Bumi.


Anraka mencemooh, "Kita ke markasnya pulang sekolah nanti."


...****************...


"Hai."


"Hai, Bumi."


"Lo sendirian di sini?"


"Enggak, sama Lula. Dia masih ke toilet, kenapa emang?"


"Enggak apa apa. Lo baru masuk sekolah, ya? Beberapa hari ini ke mana aja?"


Keelua tersenyum kecil, mengapa semua orang yang melihat wajahnya selalu menanyakan hal yang sama? Apa tidak ada obrolan basa basi lain yang bisa mereka katakan? Keelua takut memberikan jawaban yang berbeda beda hingga membuat orang orang yang menanyainya curiga. Keelua adalah contoh manusia yang selalu gugup saat mengatakan sesuatu yang tidak benar atau berbohong. Itu sebabnya orang yang sudah sangat mengenal gadis itu bisa tau jika ia sedang berbohong atau tidak.


Bumi menatap Keelua dengan tatapan hangat, sangat berbeda dengan Anraka.


"Iya, gue lagi sakit gitu, Bum, makanya pengen istirahat beberapa hari tapi udah baikan kok sekarang makanya udah bisa masuk sekolah lagi," jawab Keelua dengan senyum kecil.


"Bagus deh, gue senang ngelihat lo udah masuk sekolah lagi. Jaga kesehatan ya, Keel. Gue enggak mau lo sakit lagi," ucap Bumi sembari mengelus pucuk kepala Keelua pelan.


Entah ada berapa pasang mata yang memperhatikan Keelua dan Bumi saat itu, Keelua bisa merasakannya bahkan tanpa melihat ke arah mana pun.


Keelua lupa bahwa ia sudah punya suami, meskipun ia memang tidak pernah ingin mengakui Anraka sebagai suaminya.


Napas Keelua naik turun, ia hanya bisa tersenyum kikuk seperti orang bodoh saat ia diperlakukan seperti ini. Ini terlalu manis, Keelua tidak terbiasa namun ini pasti akan membuatnya candu.


"Iya, Bumi. Makasih ya lo udah perhatian sama gue tapi bisa enggak lo jangan ngelus kepala gue?" ucap Keelua gugup.


Mata Bumi sedikit melebar kemudian dengan spontan ia menarik tangannya kembali.


"Kenapa? Lo ngerasa enggak aman, ya?" tanya Bumi, raut wajahnya berubah, sepertinya ia merasa tidak enak.


Keelua menggeleng, "Enggak, kok. Enggak apa apa, gue cuma ngerasa kayak ada kupu kupu beterbangan gitu di perut gue. Mules banget rasanya."


Di detik selanjutnya, Keelua dan Bumi tertawa bersama tanpa menghiraukan orang orang di sekitar mereka yang juga sedang menikmati makan siang di kantin.


"Ada ada aja, bisa bisanya ada kupu kupu di perut lo. Masuknya lewat mana coba?" tanya Bumi sambil tertawa pelan.


"Lewat mana aja." Keelua balas tertawa.


Keelua merasakan sesuatu yang aneh dari Bumi, gadis itu merasa mungkin saja pemuda yang sedang duduk di depannya ini punya rasa ketertarikan yang berbeda padanya.


Dengan kata percaya dirinya; Bumi mungkin suka pada Keelua.


Itu tampak jelas, bukan Keelua yang mengada ngada tapi Bumi memang selalu memberinya perhatian kecil lebih dari seorang teman. Awalnya Keelua merasa tidak masalah atau keberatan karena itu, Keelua juga suka tipe pemuda seperti Bumi.


Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah, Keelua sudah menjadi istri dari sahabat baik Bumi, siapa lagi kalau bukan Anraka Pranata.


Meskipun Keelua tau bahwa Anraka sama sekali tidak menyukainya apalagi sampai mencintainya tapi Keelua merasa bahwa mungkin sebaiknya ia menjaga perasaan keluarganya dan juga perasaan keluarga Anraka yang sudah sangat baik padanya.


Keelua tak perlu repot repot memikirkan perasaan Anraka karena pemuda itu saja sama sekali tak mempedulikan perasaannya. Bahkan setelah keduanya menikah, Isabel masih tetap menganggap Anraka sebagai pacarnya. Itu bukan kesalahan Isabel sebenarnya, gadis itu tidak tau bahwa laki laki yang ia puja sudah punya istri, jika ia tau, mungkin Isabel akan bunuh diri.


Keelua masih tidak paham, apa yang ia lakukan bersama Bumi ini salah atau tidak. Yang ia tau, dirinya dan Anraka sama sama tidak saling mencintai. Keelua rasa itu sudah cukup menjelaskan bahwa mereka tidak saling menjaga perasaan.


Cukup membingungkan tapi Keelua akan membiarkan saja hubungannya dengan Bumi berjalan seperti biasa. Gadis itu tetap menganggap Bumi seperti teman biasa tapi ia tak tau bagaimana perasaan Bumi terhadapnya.


Apa pun yang akan terjadi, semoga itu tidak akan menyakiti siapa siapa. Keelua hanya ingin menikmati masa masa sekolah yang masih ia miliki sekarang, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua rasa sakit yang telah ia torehkan ke dirinya sendiri.


"Besok lo sibuk enggak, Keel? Nonton, yuk?"