
"Lo bisa enggak tidur di bawah aja? Lo enggak bisa ngalah sama cewek?"
"Gue enggak mau ngalah sama cewek kayak lo."
Keelua menghentakkan kakinya ke lantai, menatap pemuda yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidur kayak gini sempit, mending lo di bawah aja biar sama sama luas. Bed covernya lo taruh di lantai biar lo ada alas tidur," titah Keelua.
Anraka mendecak, "Lo aja, ini kamar lo, lo enggak berhak nyuruh nyuruh gue."
"Andai bukan karena Oma Arum yang nyuruh gue, gue juga ogah tidur sekamar sama lo! Kamar jelek kayak gini aja bangga, mendingan juga kamar gue!" balas Keelua dengan sarkas.
"Ya udah, lo pulang aja ke rumah orang tua lo, gue juga enggak butuh lo di sini." Anraka membalas dengan santai, tidak menggebu gebu seperti Keelua.
"Hati hati sama mulut lo! Cowok bisa aja langsung bikin hubungan suami istri cerai pakai kata kata." Keelua berseru dengan kesal.
Entah ada yang mendengar suara mereka atau tidak, yang jelas Keelua harus melampiaskan kekesalannya pada seseorang. Terlebih lagi pada orang yang sangat menyebalkan seperti Anraka.
"Apa masalahnya? Hubungan kita juga bukan didasari sama cinta jadi emang hambar," tanya Anraka, tanpa semangat sedikit pun.
Bukannya diam dan berhenti mengoceh, Keelua malah menarik napas dalam dalam.
"Lo yang goblok, mau mau aja disuruh nerima perjodohan ini. Harusnya lo tolak aja!"
"Gue enggak pernah ngelawan apa yang Oma Arum suruh selama ini, gue udah contoh menantu idaman."
Keelua memasang tampak nulisnya, "Terserah lo mau bilang apa, gue enggak mau jadi janda di umur tujuh belas tahun, kita cerai nanti aja kalau gue udah berhasil morotin semua harta lo dan ngasih minum lo racun supaya semua warisan lo jatuh ke tangan gue!" kata gadis itu sambil tertawa puas.
"Cewek sinting!" maki Anraka kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.
Keelua semakin kesal karena Anraka sama sekali tidak mau mengalah, ia juga tak mau tidur di lantai. Mau tak mau, gadis itu harus kembali tidur satu ranjang dengan Anraka namun seperti kemarin, dua bantal guling yang ditaruh di tengah menjadi pemisah antar keduanya.
Sambil membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, Keelua menatap langit langit. Satu hal yang ia rasakan, rindu. Gadis itu merindukan kamarnya, kamarnya yang jarang rapih namun sangat nyaman untuknya. Dia tak perlu berbagi tempat tidur dengan manusia menyebalkan seperti Anraka.
Keelua sadar, hidupnya sudah berubah sekarang, tak ada lagi kehidupan bebas tanpa beban, tak ada lagi bermanja manja pada Ibu dan Ayahnya, dia sudah menjadi istri seseorang sekarang.
Orang yang paling Keelua rindukan juga adalah adiknya, Ravi. Sedang apa anak laki laki itu sekarang? Mungkin dia sedang bermain game sampai larut, jika Keelua ada di rumah, ia pasti akan memarahi Ravi karena tak henti hentinya bermain game dan tidak pernah memperhatikan kesehatannya.
Meskipun adiknya itu menyebalkan, Keelua sangat menyayanginya. Mungkin gadis itu tak pernah mengatakan hal tersebut secara gamblang namun Ravi pasti bisa mengetahui hal itu tanpa perlu Keelua jelaskan.
Keelua ingin pulang, ia merindukan suasana rumahnya yang hangat. Hanya ada dia, Ravi dan Sekar yang menunggu Bambang pulang di sore hari yang tenang. Duduk di depan TV bersama dan mengobrol tentang hal hal yang terjadi di hari itu.
Rumah Anraka memang dipenuhi oleh orang orang yang memperlakukan Keelua dengan baik namun tetap saja, rumahnya tidak pernah bisa tergantikan.
Terdengar suara helaan napas dari sisi Keelua, gadis itu pun menoleh dan mendapati Anraka sudah tak bergerak dan tak cerewet lagi.
Tangan Keelua naik dan menarik selimut yang menutupi wajah pemuda itu, ternyata Anraka sudah tertidur pulas dengan wajah polosnya.
Keelua memandangi wajah itu sebentar, cukup tampan namun tetap memiliki aura menyebalkan.
Mungkin orang lain terkhususnya fans Anraka di sekolah akan sangat amat bangga jika menikah dengan ketua geng EX ini. Anraka memiliki wajah yang tampan dan harta yang berlimpah. Tidak hanya harta milik orang tuanya, baru baru ini Keelua diberitahu oleh Angel bahwa Anraka sedang mengelolah mall yang sudah menjadi milik pemuda itu pribadi.
Semua uang yang Anraka punya di rekeningnya adalah penghasilannya sendiri, sebab itu Anraka terkadang tak ragu menghambur hamburkan uangnya untuk hal hal yang tak berguna.
Angel juga bercerita bahwa Anraka memiliki hubungan yang tak begitu harmonis dengan kedua orang tuanya karena orang tua mereka terlalu sibuk. Arya dan Regina sangat sibuk hingga tak memiliki waktu untuk Anraka dan Angel.
Untuk Angel itu tak masalah karena gadis itu tau bahwa orang tua mereka bekerja untuk mereka juga, untuk dirinya dan Anraka. Hanya saja, itu terlalu sulit diterima untuk Anraka. Terkadang pemuda itu hanya butuh perhatian bukan fasilitas dan harta yang berlimpah. Angel tau isi hati Anraka, hanya pemuda itu saja yang terlalu tertutup dan tidak pandai mengekspresikan perasaannya.
Keelua tak menyangka, ternyata di balik sikap Anraka yang keras di mata orang orang serta ditakuti di mana saja ia berada, ternyata ada sisi sedih di kehidupannya yang tak diketahui oleh siapa pun kecuali keluarganya.
Keelua kembali teringat akan orang tuanya, gadis itu jadi paham; meskipun orang tuanya tidak selalu bisa memberikan apa yang ia mau, tetapi mereka selalu berjanji akan selalu memberikan waktu yang mereka punya. Mungkin tak setiap saat karena Bambang harus bekerja menghidupi Keelua dan Ravi. Namun Sekar, wanita itu selalu ada dan memastikan anak anaknya tidak kekurangan apa pun.
Ternyata di luar sana, ada banyak anak yang hanya mendambakan perhatian dari orang tua mereka yang begitu sulit mereka dapatkan. Orang tua mereka terlalu sibuk untuk bekerja dan mencari uang yang sebenarnya untuk anak mereka juga.
Ada anak yang terlalu banyak menuntut dan ada pula orang tua yang tak bisa mengerti apa yang anak mereka inginkan.
Hidup mewah dengan segala kekayaan ternyata tidak selalu menjanjikan kebahagiaan.
Terkadang yang anak butuhkan hanyalah perhatian dan kasih sayang.
Begitu sederhana namun sulit untuk terlaksana.
Keelua harusnya bersyukur, bukan malah mengeluh untuk hal hal yang tidak seharusnya dikeluhkan.
Di menit selanjutnya, Keelua mengusap air matanya, perasaan aneh kembali berkecamuk. Mungkin ini yang dinamakan home sick, begitu merindukan suasana rumah dan tidak bisa berhenti memikirkannya.
Tanpa gadis itu tau, Anraka membuka sedikit matanya dan menemukan Keelua sedang mengusap usap sudut matanya yang basah.
Dalam hati Anraka bergumam dan bertanya tanya, memangnya sehancur apa Keelua sekarang?
...****************...
"Kalian hari ini beneran mau masuk sekolah?" tanya Regina saat semua anggota keluarga sedang berkumpul di meja makan.
"Iya, Ma. Keelua udah rindu banget sama sekolah, udah hampir seminggu izin dan enggak masuk sekolah," balas Keelua dengan semangat.
Mata Keelua melebar, "Papanya Bumi?" tanyanya. "Enggak usah, Pa. Enggak apa apa, Keelua masih mau sekolah kok, Keelua masih mau nikmatin masa mudanya Keelua," sambungnya.
"Kamu boleh nikmatin masa muda kamu, tapi kamu harus ingat kalau sekarang kamu udah punya suami jadi jangan lalai sama tanggung jawab kamu ngurus suami kamu, ya, sayang," pesan Oma Arum.
Dengan terpaksa Keelua mengangguk, tak lupa juga senyum palsu ia sematkan di sana. "Iya, Oma," jawabnya.
"Gimana malam malam kamu sekamar sama Anraka? Nyenyak kan tidurnya? Kalian udah sampai buat a-"
"Raka udah selesai."
Anraka bangkit dari kursinya lantas melangkah mendekat ke arah Oma Arum yang tadi belum sempat menyelesaikan ucapannya kemudian menyalimi tangan wanita tua tersebut.
"Raka berangkat," kata Anraka lalu melangkah lebih dulu keluar rumah, meninggalkan istrinya yang masih mematung di tempat duduknya.
Oma Arum menghela napas panjang lalu beralih menatap Keelua, "Gimana, Keel? Kamu sama Raka udah-"
"Keelua juga udah selesai, Keelua ngejar Raka dulu, Oma. Nanti Keelua ditinggalin sama dia."
Keelua buru buru bangkit kemudian menyalami tangan Oma Arum, Regina dan Arya lantas lari secepat mungkin meninggalkan meja makan.
"Kak Keelua sama Bang Raka buru buru banget, makannya aja belum abis," kata Angel.
Arya dan Regina tertawa kecil melihat tingkah Raka yang dengan cepat meninggalkan meja makan dan Keelua yang salah tingkah. Oma Arum ada ada saja, menanyakan hal seperti itu kepada pengantin baru.
"Mama jangan nanya kayak gitu ke mereka, mereka udah masih baru. Pasti masih malu malu," ucap Arya.
Oma Arum mencemooh, "Ngapain malu malu, mereka 'kan udah sah. Harusnya kalau ditanya kayak gitu tinggal dijawab, udah apa belum, gampang, 'kan?" katanya.
"Enggak gitu dong, Ma." Arya kembali terkekeh.
"Emangnya Kak Keelua sama Bang Raka udah apa? Malu malu kenapa?" tanya Angel dengan begitu polosnya.
"Udah, kamu masih kecil. Enggak perlu tau, ya. Sekarang makan, abis itu berangkat ke sekolah, udah ditungguin tuh sama sopir." Regina tidak berniat menjawab kebingungan Angel.
Angel hanya mengangguk polos.
"Tungguin gue, dong!" seru Keelua sembari masuk ke dalam mobil Anraka.
"Ngapain lo?"
"Mau ke Jerman, mau ke sekolah lah! Muka doang cakep, otak enggak dipakai. Heran gue," jawab Keelua dengan kesal.
"Kenapa naik mobil gue? Lo enggak bisa ke sekolah sendiri? Enggak usah manja," kata Anraka.
"Oh gitu, ya udah. Gue juga nebeng lo karena disuruh Oma Arum, sih. Kalau lo enggak mau, ya udah gue turun. Nanti gue bilang ke Oma kalau lo nyuruh gue ke sekolah sendiri. Bye," ucap Keelua lantas bergerak turun dan lebih dulu membuka pintu mobil Anraka.
"Enggak usah bikin gue kesel. Tutup lagi pintunya," titah Anraka.
Keelua tersenyum jahat lalu kembali duduk dengan santai di atas mobil mewah itu. Ternyata menjadi istri Anraka tidak seburuk itu, ia akhirnya bisa menikmati semua kekayaan yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Kok belum jalan? Lo enggak bisa nyetir mobil apa gimana?" tanya Keelua dengan santainya.
"Gue bukan sopir lo," tekan Anraka.
"Terus?"
"Duduk di depan."
"Malas banget."
"Duduk di depan atau turun."
"Sialan."
Mau tak mau, keelua harus berpindah tempat duduk lagi padahal ia sudah sangat nyaman duduk di belakang dengan kaki yang ia naikkan ke kursi mobil.
"Lo tadi enggak nyium tangan Mama sama Papa lo pas mau berangkat, cuma nyium tangan Oma Arum doang. Kenapa?" tanya Keelua membuka obrolan.
"Enggak ada waktu." Anraka membalas acuh.
Keelua berpikir sebentar, "Enggak ada waktu? Nyium tangan orang tua lo sendiri enggak bakal makan waktu satu menit."
"Bukan urusan lo.".
Keelua melirik sebentar ke arah Anraka, wajah pemuda itu selalu datar tanpa ekspresi, Keelua curiga; jangan jangan Anraka ini memang bukan manusia.
"Bisa bisanya lo tahan sama muka datar lo itu, sesekali lo enggak punya niat buat nunjukin ekspresi, gitu? Jutek mulu perasaan," kata Keelua lagi.
Anraka tidak menjawab, suasana di dalam mobil mendadak canggung. Sedangkan Keelua tak terbiasa dengan keheningan seperti ini. Jika berada di dalam mobil bersama Ravi, Keelua pasti akan berbicara banyak dan mendengar banyak cerita juga dari Ravi. Namun, sayangnya Ravi dan Anraka berbeda.
"Jangan sampai orang orang tau apa pun tentang gue sama lo, tetap bersikap kayak orang enggak kenal."
Keelua melirik sebentar, "Enggak perlu lo kasih tau, gue juga paham."