
Di keesokan harinya, semua orang yang ada di rumah libur. Mulai dari Keelua, Anraka, Angel, Arya dan Regina.
Di hari libur, seluruh anggota keluarga itu memutuskan untuk tetap di rumah dan berkumpul bersama. Bahkan Anraka sekali pun, pagi ini dia ada di sana, bermain bulu tangkis bersama Angel di halaman belakang.
"Seru banget ya kalau libur, orang orang di rumah ini bisa ngumpul bareng. Halaman belakang juga luas banget, enak buat dipakai olahraga," kata Keelua. Ia sedang duduk bersama Regina dan Arya di tepi kolam berenang, memperhatikan Anraka dan Angel yang sedang 'bertanding'.
"Mama sama Papa juga senang, Keel. Jarang jarang lho kita bisa begini," timpal Arya.
"Bener banget. Raka sama Angel juga senang banget mainnya," sambung Regina.
Keelua mengangguk kukuh, ia memperhatikan wajah bahagia Angel yang benar benar sedang menikmati waktunya bersama kakaknya dan juga keluarganya.
Gadis kecil itu sering bercerita pada Keelua tentang betapa ia sangat merindukan keluarganya yang seperti ini, berkumpul bersama tanpa pekerjaan yang menghalangi mereka.
"Bukan cuma kamu, kami juga baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini di rumah kami setelah sudah lama sekali. Anraka tidak pernah seceria ini lagi setelah beberapa tahun yang lalu, dia tidak pernah mau tinggal di rumah saat libur, dia malah lebih memilih berkumpul bersama teman temannya daripada bersama keluarganya di rumah. Ajaib sekali." Oma Arum datang dari dalam rumah dengan langkah santai dan senyum tipis yang terpatri di bibirnya. "Ini juga berkat kamu, Keel," sambungnya.
Keelua membalas senyuman Oma Arum dengan senang, gadis itu menggeser tempat duduknya agar wanita paruh baya yang melangkah mendekat ke arahnya itu bisa duduk di sebelahnya.
"Duduk di sini, Oma," kata Keelua.
Oma Arum mengangguk, "Bagaimana hubungan kamu dengan Anraka, Keel? Kalian baik baik saja, 'kan? Oma harap begitu, kalian harus saling mendukung satu sama lain. Maafkan Anraka kalau sesekali dia melakukan kesalahan, dia pasti belum bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Sebagai istri, kamu harus menerima semua kekurangan suami kamu," tutur wanita paruh baya itu lagi.
Keelua hanya tersenyum getir. Dalam hati ia bergumam bahwa dirinya juga sama seperti Anraka, ia juga masih sulit menerima semua kenyataan ini. Di umur yang masih sangat muda ia harus menjadi seorang istri dan meninggalkan rumahnya demi tinggal bersama orang yang tidak ia cintai. Keelua rasa ia juga sama kecewanya seperti Anraka, tidak ada yang berbeda dari mereka, apa yang perlu Keelua pahami?
Gadis itu paham, Anraka adalah cucu kesayangan Oma Arum namun Oma Arum harusnya juga melihat bagaimana sikap cucunya yang selalu bertingkah seenaknya pada orang lain apalagi kepada Keelua yang notabenenya adalah istrinya sendiri.
"Keelua juga sama kayak Raka kok, Ma. Dia juga terpukul, dia juga masih susah buat nerima kenyataan ini. Masa Keelua bisa berusaha buat bersikap baik baik aja sedangkan Raka enggak? Enggak adil dong kalau Mama suruh Keelua pahamin Raka tapi Raka enggak mau bersikap lebih baik ke istrinya sendiri," cetus Regina yang duduk berhadapan langsung dengan Oma Arum.
"Raka 'kan suaminya, Raka yang berhak mengatur dan memimpin hubungan rumah tangga mereka. Jadi Keelua sebagai istri harus menuruti kemauan suaminya. Iya, 'kan, Keel?" Oma Arum menoleh ke arah Keelua yang tiba tiba diam.
Regina pun menyadari perubahan raut wajah Keelua yang signifikan. Ibu dari Anraka itu benar benar tau apa yang sedang Keelua fikirkan sekarang, sifat Oma Arum yang asli sudah mulai tampak.
"Benar kata Regina, Ma. Keelua juga sama aja kayak Raka, dia juga lagi mencoba buat menyesuaikan diri. Harusnya bukan Keelua yang kita minta untuk memahami tapi Raka yang harusnya kita ajar untuk lebih menghargai perempuan." Arya tak tinggal diam, pria itu juga ingin menyuarakan pendapatnya.
Mendengar semua pendapat yang menentang pernyataannya, Oma Arum hanya bisa geleng geleng kepala.
"Kalian ini dari dulu sampai sekarang sama saja, tidak pernah membela Raka dan selalu mencari kesalahannya. Padahal sudah jelas Raka yang paling tersakiti di sini, Keelua malah senang karena akhirnya bisa tinggal di rumah orang kaya dan punya fasilitas mewah yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya." Oma Arum mengatakan itu dengan suara yang ditekan hingga terdengar begitu jelas.
Anraka dan Angel yang tengah bermain bulu tangkis pun menghentikan aktivitas mereka lantas mendekat ke arah meja yang dipenuhi dengan anggota keluarga mereka termasuk Keelua.
Angel sempat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Oma Arum karena jarak tempatnya bermain dengan meja yang di tempati oleh kedua orang tuanya, Keelua serta Oma Arum itu tidak begitu jauh apalagi suara Oma Arum cukup nyaring.
"Ada apa, nih? Kenapa ribut ribut?" tanya Angel begitu ia dan Anraka berada di sebelah meja yang orang tuanya tempati.
Gadis kecil itu juga sempat melirik ke arah Keelua yang sudah tampak kehilangan keceriaannya.
"Kamu anak kecil tidak usah ikut campur, jangan berlagak sok berkuasa di sini. Kamu itu bukan apa apa," dumel Oma Arum pada Angel yang baru saja datang.
Angel seketika terdiam. Entah apa yang membuat Oma Arum tiba tiba memarahinya seperti ini.
"Kok Mama ngomong kayak gitu ke Angel, sih? Angel salah apa?" tanya Regina dengan emosi yang mulai naik.
Sedangkan tubuh Keelua yang sedang menonton aksi adu mulut yang kian memanas itu tiba tiba saja menegang. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, padahal pagi ini harusnya menjadi pagi yang indah untuk dinikmati bersama keluarga.
Jujur saja, Keelua memang sakit hati mendengar semua pernyataan Oma Arum yang baru saja terlontar tentangnya. Gadis itu tidak pernah menikmati fasilitas yang ada di rumah mewah ini sesuka hatinya, ia masih punya malu dan tidak mau asal menyentuh saja. Apa pun yang ingin ia lakukan selalu meminta izin pada Anraka atau Bi Maryam terlebih dahulu.
"Ada apa, sih? Kenapa tiba tiba pada ribut? Tadi baik baik aja." Anraka juga ikut angkat bicara.
"Udah, udah. Jangan ributin hal kayak gini." Arya mencoba melerai sebelum perdebatan antara Ibu dan istrinya ini semakin panjang.
"Keelua masuk dulu ya, semuanya." Keelua pamit untuk masuk ke dalam rumah seraya berdiri dari tempatnya.
"Kak Keel!" panggil Angel begitu melihat Keelua masuk ke dalam rumah dengan terburu buru.
Gadis kecil itu mengeram kesal kemudian kembali menoleh ke arah Oma Arum yang masih duduk dengan wajah angkuh dan seperti tidak memiliki perasaan bersalah sama sekali.
Anraka pun menghela napas panjang lalu melempar raket yang ia pegang ke tanah begitu saja kemudian turut melangkah masuk ke dalam rumah juga.
"Puas, Ma? Ini 'kan yang Mama mau? Selalu ngurung Raka dalam rasa kesepian dan bikin dia benci sama semua orang yang ada di samping dia? Ini bukan sayang, Ma. Ini obsesi."
Regina menatap sayu langkah Anraka yang penuh dengan kekecewaan.
...****************...
"Rak, biarin gue pulang ke rumah gue sekarang. Please, bantu gue pergi dari sini." Keelua langsung menghampiri Anraka yang baru saja memasuki kamar.
Raut wajah pemuda itu tampak lesu, ia tak mengatakan apa pun bahkan setelah Keelua menarik narik kaos yang ia gunakan.
"Kalau gue pergi dari sini, lo bakal bebas, Rak. Lo enggak akan disuruh jagain gue lagi, lo enggak akan disuruh buat nganterin gue ke sekolah lagi, kita enggak harus pulang bareng lagi. Itu 'kan yang lo mau? Jadi sekarang bantu gue buat pergi, Rak," sambung gadis dengan rambut yang terurai panjang itu, air matanya menetes perlahan membasahi pipi.
Di kondisi yang keruh seperti ini pun Anraka masih tidak mau buka suara, ia hanya menatap lurus ke depan di saat Keelua sudah tak mampu menahan tubuhnya sendiri. Gadis itu benar benar ingin pulang, ia tak mau tinggal di rumah ini jika keluarga Anraka menganggap dirinya hanya menikmati semua fasilitas yang ada.
Keelua sama sekali tidak melihat apa pun yang Anraka punya, ia hanya ingin melihat orang tuanya bahagia.
"Enggak. Lo enggak akan ke mana mana."
Keelua mendongak, melihat wajah Anraka yang menatap lurus dan tidak menoleh ke arahnya. Gadis itu kaget setengah mati, apa yang baru saja Anraka katakan ini? Apa ia sadar?
"Maksud lo apa, sih? Kita 'kan udah bikin perjanjian buat sama sama akhirin hubungan ini secara baik baik. Kenapa sekarang lo malah ngomong kayak gini ke gue? Mau lo apa, sih?" tanya Keelua tak percaya.
"Gue berubah pikiran. Lo harus tetap di sini, jangan pernah berharap bisa pergi dari rumah ini, lo itu istri gue," kata Anraka dengan penuh penekanan lalu berbalik dan keluar dari pintu meninggalkan Keelua yang membeku di tempatnya.
Tubuh Keelua jatuh terduduk, gadis itu seolah kehilangan harapan untuk bebas dan kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.
"Gue enggak mau di sini, Rak. Kenapa lo jahat banget sama gue!" seru Keelua dengan napas yang sudah hampir habis.
Tak lama berselang, terdengar suara seseorang yang membuka pintu, Keelua masih tetap menundukkan kepala dengan air mata yang jatuh bercucuran.
Tanpa aba aba, oknum yang membuka pintu kamar Anraka itu langsung memeluk tubuh Keelua erat erat dan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.
"Nangis aja, enggak apa apa. Kak Keelua masih punya Angel di sini, Angel yang akan selalu jagain kakak."
Orang itu ternyata adalah Angel, gadis kecil yang menang selalu tau apa yang Keelua rasakan tanpa perlu dijelaskan.
"Angel tau gimana perasaan Kak Keelua sekarang, kakak udah terlalu lama nyimpan semua perasaan yang bikin kakak sakit hati. Tapi, Angel mohon sama kak Keelua untuk tetap ada di sini, kakak jangan pergi ke mana mana, Angel butuh kakak, Bang Raka juga butuh kakak." Angel tak henti memeluk tubuh Keelua yang bergetar.
Napas Keelua seolah berhenti sejenak begitu mendengar kalimat terakhir yang baru saja Angel katakan. Apa maksudnya? Anraka membutuhkannya? Tapi kenapa?
"Rumah ini pasti bakal berubah sunyi kayak dulu lagi, Angel baru aja ngerasain hidup di tengah keluarga yang hangat lagi setelah sekian lama dan itu karena ada kakak di sini. Setelah kak Keelua datang, Angel ngerasa lengkap banget."
Keelua tau kemana arah pembicaraan gadis kecil yang tengah memeluknya ini. Ia tau bahwa orang tua Angel dan Anraka yaitu Arya dan Regina sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk anak mereka. Angel juga bercerita bahwa ia tidak punya teman bercerita dan hanya mendapat omelan dari Oma Arum setiap harinya bahkan untuk masalah kecil.
Keelua tau, Angel kesepian di rumah ini dan gadis kecil ini membutuhkannya untuk menemani hari harinya yang penuh dengan kesedihan tapi Keelua sudah tak sanggup lagi, sampai kapan ia harus pura pura menerima situasi yang memberatkannya ini?
Sedangkan Anraka? Kenapa pemuda itu membutuhkan Keelua di sini? Bukannya sejak awal pemuda itu juga membenci perjodohan bahkan pernikahan ini? Keelua tidak mengerti.
Keelua melepas pelukannya perlahan lalu menatap wajah Angel yang ternyata ikut menangis juga.
"Enggak apa apa. Kakak enggak apa apa, kakak cuma rindu rumah kakak sendiri. Biarin kakak pulang, ya?" kata Keelua pada Angel seraya mengusap wajah anak itu. perempuan
Angel menggelengkan kepalanya, "Ini rumah kakak juga sekarang, kakak di sini aja sama Angel.
Enggak usah dengarin apa yang Oma Arum bilang, Oma emang selalu kayak gitu, ke Angel juga gitu, kok." Lantas menggenggam kedua tangan Keelua dengan erat.
"Kakak bertahan di sini cuma buat orang tua kakak dan Oma Arum yang selalu baik sama kakak tapi kalau sikap Oma Arum udah kayak gini, kayaknya kakak udah enggak punya alasan lagi untuk tetap ada di sini," ujar Keelua.
"Angel masih bisa keliatan senang karena masih ada kak Keelua yang selalu nemenin Angel di sini, kalau kak Keelua pergi, Angel juga udah enggak punya alasan untuk tetap di sini."
Mata Keelua melebar, "Jangan, Angel."