BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
36. Tiga Pemuda



Ravi dan Keelua akhirnya sampai di warung mie ayam yang mereka tuju, Ravi sudah memesan dan mereka tinggal menunggu makanan itu jadi.


"Ngomong ngomong, kenapa lo nanya nanya soal suka sukaan tadi? Lo lagi suka sama cewek, ya?" tanya Keelua tiba tiba.


Ravi mencemooh, gadis yang duduk di sebelahnya ini pasti baru sadar karena otaknya yang lemot itu sangat lama memproses sesuatu.


"Lo telat nanyanya," sahut Ravi.


"Gue baru ngeh, gue baru sadar jadi nanyanya juga sekarang. Jawab aja, sih, ribet banget lo jadi laki," gerutu Keelua kemudian.


"Enggak ada. Cuma iseng aja."


Keelua mengangkat kedua alisnya, "Gue enggak percaya, lo pasti lagi suka sama cewek. Pokoknya cepat atau lambat gue harus tau cewek itu siapa atau enggak gue coret lo dari daftar warisan," ancamnya.


"Emang lo punya apa buat diwarisin?" goda Ravi.


"Sapi." Keelua mengatakan itu dengan wajah congkak yang lucu.


Kemudian kedua manusia itu cekikikan.


"Astaga, gue lupa!" Tiba tiba Keelua memukul jidahnya sendiri.


Ravi melirik, "Lupa apaan?" tanyanya.


"Gue harus ke rumah sakit habis ini, Angel katanya masuk rumah sakit. Oma Arum minta gue buat nemenin Anraka jagain Angel di sana," jawab Keelua.


Bisa bisanya ia lupa dan malah ikut pergi membeli mie ayam bersama Ravi.


Ravi sedikit tersentak kaget, "Angel masuk rumah sakit? Tadi sebelum gue mandi dia baru aja nelpon gue."


"Hah?"


...****************...


"Anraka, kamu pulang aja. Nanti Mama sama Papa yang jagain Angel," kata Regina.


"Enggak usah. Mama sama Papa aja yang pulang, ke sininya besok pagi aja sebelum Raka ke sekolah kalau mau. Sekarang Raka aja yang jagain Angel, ini tanggung jawab Raka," balas Anraka.


"Nanti kamu kecapean, sayang," kata Regina.


Anraka menggeleng, "Mama sama Papa yang capek, abis kerja. Raka enggak apa apa."


Regina menghela napas. Memang benar, tubuhnya memang sudah terasa remuk sejak tadi. Jadwal suami sekaligus bosnya yang sangat padat membuat jam istirahatnya tidak teratur. Di tambah lagi jika ia harus menjaga Angel di rumah sakit, Regina pasti tidak akan sanggup.


"Ya udah, Mama sama Papa bakal nginep di hotel dekat sini aja, kamu kalau ada apa apa kabarin aja, ya," kata Arya.


Anraka mengangguk, "Iya, Pa," katanya.


"Mama sama Papa pergi dulu, ya. Biarin Bi Maryam pulang buat jagain Oma Arum, kamu enggak apa apa sendirian?" tanya Arya.


Oma Arum sendirian di rumah, tidak mungkin tidak ada orang yang menemani beliau. Arya yakin bahwa Anraka bisa menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya yang belum juga siuman, pria itu yakin bahwa anak laki lakinya tersebut bisa diberi tanggung jawab dalam hal ini.


"Iya, Raka bisa sendiri," balas Anraka.


Regina pun mendekat ke arah Anraka lalu memeluk tubuh anak laki laki itu dengan erat, "Kamu jaga diri kamu sama adik kamu baik baik, ya, sayang. Mama percaya sama kamu," katanya.


Anraka mengangguk pelan, "Iya, Ma."


Regina pun melepas pelukannya lalu membiarkan sang suami bergantian memeluk tubuh anak mereka tersebut.


"Kamu anak kebanggaan Papa, kamu harus bisa jaga diri dan adik kamu, ya. Jaga kepercayaan Mama kamu," kata Arya.


Lagi lagi Anraka hanya mengangguk lalu membalas pelukan Ayahnya itu. Sungguh, jarang sekali Anraka mendapatkan pelukan seperti ini dari kedua orang tuanya. Entah itu karena dirinya yang selalu menjauh atau karena orang tuanya yang terlalu sibuk.


"Permisi."


Suara seseorang yang baru saja masuk mengalihkan atensi tiga orang yang ada di ruangan tersebut.


"Keelua?"


"Masuk, sayang."


Seorang gadis yang baru saja datang itu pun masuk ke dalam ruangan bernuansa putih dan beraroma khas obat obatan tersebut.


"Halo, Om. Halo, Tante," sapa Keelua lalu menyalami tangan Arya dan Regina bergantian.


"Halo, cantik. Kamu tau dari mana kalau kita ada di sini?" tanya Regina.


Keelua terkekeh, "Oma Arum yang ngasih tau, Tante. Terus aku juga disuruh ke sini," jawabnya.


"Untung deh kamu ada di sini, jadi ada yang nemenin Anraka," timpal Arya. "Kamu udah izin ke Mama kamu atau belum? Kalau belum biar Om aja yang minta izinin kamu, ya," lanjutnya.


"Udah kok, Om. Keelua udah bilang kalau mau ke rumah sakit jenguk Angel," balas Keelua.


Arya tersenyum, "Bagus deh kalau gitu. Ya udah, Om sama Tante pergi dulu, ya," ucap Arya lalu lengannya direngkuh oleh Regina.


"Tante pasti dulu, ya, sayang. Yang betah sama Raka," pesan Regina.


Keelua mengangguk kukuh, lalu menampakkan senyum termanisnya. Kedua orang tua Anraka itu pun akhirnya keluar dari ruangan dan melenggang pergi.


Si gadis menghela napas panjang, "Dan akhirnya gue terjebak di sini sama lo," eluh Keelua lalu mendudukan bokongnya ke atas sofa.


"Lagian lo ngapain ke sini?" tanya Anraka ketus.


"Lo tuh, ya! Udah ditemenin, enggak bilang makasih masalah ngomong gitu," omel Keelua.


"Gue enggak nyuruh lo ke sini, apa lagi minta lo nemenin gue," balas Anraka.


Keelua terdiam. Benar juga.


"Ya sama aja! Kan Oma Arum yang nyuruh gue ke sini, berarti lo enggak ngehargain Oma lo," sahut Keelua. Tidak ingin kalah debat.


Anraka melirik Keelua malas, "Kalau udah kalah debat itu ngaku aja, enggak usah banyak alasan lagi," sindirnya.


Keelua mendecih, "Mana ada. Diem lo!" bentak gadis itu.


"Ini rumah sakit, adik gue lagi sakit. Kalau lo mau teriak teriak kayak gitu, ke kuburan sana." Anraka mendecak kesal.


Keelua baru menyadarinya. Gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menoleh ke arah Angel yang sedang terbaring lemah.


"Astaga, Angel." Gadis itu mendekat, lalu memegang tangan Angel yang sedingin hujan di malam hari.


Mata gadis itu menatap tiap inci wajah Angel yang pucat. Ia tidak tau apa yang telah terjadi pada adik Anraka yang masih ini namun pasti sebuah hal yang buruk sekali hingga mampu membuat Angel yang biasanya ceria dan periang jadi diam seribu bahasa seperti ini.


"Kamu baik baik aja, 'kan? Cepat bangun, ya, terus kita pergi ke toko buku sama sama kayak waktu itu. Nanti bayarnya pakai uang Anraka lagi, ya, soalnya Kak Keelua lagi enggak punya duit alias miskin," lirih Keelua.


Anraka yang mendengar kata kata konyol dari Keelua mendecak kesal. Pasti ada yang salah dengan jaringan otak gadis itu. Pikirnya.


"Kak Keelua bakal jagain Angel di sini, walau pun harus terjebak sama kakak kamu yang nyebelin itu," kata Keelua menyindir Anraka.


"Ya udah, lo pulang sana. Enggak usah di sini," seru Anraka.


"Tuhkan, Ngel? Kamu dengar, 'kan? Kakak kamu emang jahanam," ujar Keelua pada Angel yang jangankan mendengar, membuka mata saja tidak.


"Kasian banget sih kamu, Angel.


Bisa bisanya kamu punya kakak kayak dia," kata Keelua lagi sambil mencebikkan bibir dan mengangkat tangannya lalu mengelus pelan rambut Angel.


'Diam atau gue usir lo?" ancam Anraka dengan nada suara dingin.


Keelua mendecak lalu berbalik dan duduk di sofa yang tersedia. Anraka masih menatap gadis itu tajam, namun Keelua tidak peduli. Ia langsung mengambil ponselnya dan membuat posisinya nyaman di atas sofa.


Ruangan menjadi hening. Hanya ada deru napas masing masing yang Anraka dan Keelua dengar. Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening karena tidak ada yang mau membuka suara atau memulai obrolan. Akan tampak aneh jika dua manusia itu saling bercakap cakap, karena semua orang pun tau, bahwa hubungan mereka tidak lebih dari dua seorang musuh yang sedang perang dingin.


Tidak pernah ada kata damai antara Keelua dan Anraka.


Setelah beberapa lama saling diam, Keelua pun mulai merasa bosan. Gadis itu melirik arlojinya, ternyata sudah jam 23.11, sudah larut. Apa yang harus Keelua lakukan sekarang? Ia benar benar sangat bosan.


"Rak," panggil Keelua seraya berbisik.


Anraka yang sedari tadi diam tanpa melakukan apa pun melirik ke arah gadis yang baru saja memanggilnya.


"Lo bosan, enggak?" tanya Keelua.


Anraka tidak menjawab, pemuda itu hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Gue mau keluar bentar beli minum, kayaknya di rumah sakit ini ada kantinnya. Lo mau ikut?" tanya Keelua lagi.


Pemuda yang duduk di sofa yang bersebelahan dengan Keelua itu lagi lagi tidak menjawab, hal itu alhasil membuat Keelua geram hingga akhirnya ia tidak mengatakan apa pun lagi pada Anraka dan langsung bangkit dari tempatnya.


"Gue mau ke kantin. Bye," kata Keelua lalu keluar dari ruangan tersebut.


Setelah berhasil melenggang pergi dari ruangan Angel, Keelua pun tak habis habisnya merutuki sikap Anraka yang benar benar tidak menghargai dan tidak pantas untuk dicontoh. Padahal Keelua hanya bertanya dan cara bertanyanya pun bisa dibilang sopan, gadis itu benar benar tidak mengerti dengan isi kepala Anraka.


"Ya udah, sih, kalau enggak mau.


Tinggal bilang, enggak usah ngacangin kayak gitu! Gue kan jadi malu!" omel Keelua sambil melewati lorong lorong rumah sakit yang sepi.


Saat menyadari lorong lorong rumah sakit yang ia lewati sangat sepi, tiba tiba perasaan gadis itu tidak enak. Sebenarnya ia juga tidak tau di mana letak kantin di rumah sakit ini, gadis itu hanya merasa sangat bosan dan tidak tau harus melakukan apa.


"Aduh, ini kantinnya di mana, ya," gumam Keelua.


Manik mata legam gadis itu terus melihat ke sana ke mari, memastikan tidak ada yang mencurigakan atau tidak ada orang yang mengikutinya. Keelua tidak begitu takut dengan makhluk makhluk tak kasat mata yang ingin menakutinya, gadis itu lebih takut dengan makhluk sesamanya, yaitu manusia.


Kalau hantu, mereka mungkin menyeramkan namun tetap tidak bisa melukai fisik Keelua secara langsung. Sedangkan manusia, mereka tampak tidak menyeramkan namun sangat berbahaya.


Sejenis begal, penculik, pencuri, perampok, maling adalah manusia yang paling menyeramkan dan paling berbahaya menurut Keelua. Apa lagi jika orang orang itu tak segan segan untuk membunuh korbannya.


Walau pun tidak tau harus ke mana, Keelua tetap berjalan saja hingga bertemu dengan beberapa orang pria di tempat terbuka yang Keelua duga mungkin adalah taman rumah sakit. Gadis itu berniat mendekati manusia manusia itu, ia ingin bertanya di mana letak kantin.


"Permisi," ucap Keelua begitu ia sampai di hadapan para pria tersebut.


Salah satu dari pria itu berbalik lalu menatap Keelua dengan datar.


"Mau tanya, kak. Di rumah sakit ini ada kantin, enggak?" tanya Keelua sembari menampakkan sedikit senyum tipis.


Pria itu tidak langsung menjawab, begitu pula dengan dua pria lainnya. Keelua menelan salivanya susah payah karena mulai merasa gugup, para pria itu diam saja lalu bersamaan menatap sesuatu yang berada di belakang mereka.


Keelua menyadari tatapan itu, dengan perlahan pun gadis itu menoleh untuk mengetahui apa yang orang orang itu lihat di belakangnya. Semoga bukan sesuatu yang menyeramkan atau berbahaya.


Tidak ada apa apa. Tempat di belakang Keelua kosong, tidak ada sosok atau pun hal yang menarik untuk di lihat di sana.


"Astaga!"


Keelua memekik ketika ia menoleh ke depan namun kursi yang tadinya di duduki oleh tiga orang pria dewasa mendadak kosong.


Detak jantung Keelua seakan akan saling memburu, gadis itu tidak bisa melakukan apa apa selain mematung di tempatnya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak berteriak.


Dengan gemetaran, Keelua melangkah perlahan lahan ke belakang, walau pun tidak tau apa sebenarnya yang baru saja ia lihat, namun gadis itu tetap memutuskan untuk lari dari sana.


Ketika sedang memundurkan langkahnya, tiba tiba saja punggung Keelua menabrak sesuatu. Tubuhnya semakin gemetar dan ia siap untuk berteriak.


"AAA-hmp!"


"Jangan berisik, udah malam," bisik orang yang baru saja membekap mulut Keelua.


"Goblok! Gue kira lo hantu!"


"Enggak ada hantu seganteng gue," balas orang itu.


Keelua mendecak, "Ada. Kalau hantu jadi jadian."


Orang itu hanya memutar bola matanya malas tanpa menjawab perkataan dari Keelua. "Lo ngapain ke si—"


"Mending lo jangan di sini, nanti orang yang lihat lo ngira lo kunti yang berkeliaran," potong orang itu.


"Yang ada gue yang ketemu hantu!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.