
"Lo enggak dengar dia bilang apa? Lepasin."
Keelua dan Bumi menoleh, atensi mereka teralihkan oleh suara seseorang yang berdiri di belakang mereka.
"Ini bukan urusan lo, Raka." Bumi membalas tatapan tajam Anraka dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.
"Ini urusan gue, apa pun yang ngelibatin Keelua, itu udah jadi urusan gue."
Dahi Bumi mengerut, "Apa urusan lo sama Keelua? Sejak kapan lo peduli sama dia? Bukannya selama ini lo benci sama dia?" tanya pemuda itu.
Urat leher Anraka menegang, pemuda itu melangkah mendekat lalu melepaskan cekalan tangan Bumi dari lengan Keelua.
"Lo juga enggak punya hak untuk tau, yang harus lo ingat adalah; jangan pernah sentuh dia kalau lo enggak mau berurusan sama gue."
Dengan gerakan cepat, Anraka langsung menarik tubuh Keelua dan membawanya ke belakang tubuhnya. Sedangkan Keelua hanya pasrah, ia tak bisa lagi berbuat apa apa bahkan untuk sekedar melawan saja ia tak mampu.
Aksi Anraka ini membuat Bumi berpikir keras, apa Keelua dan sahabatnya punya hubungan yang lebih dari seorang teman biasa? Tapi bagaimana mereka bisa dekat dengan waktu yang sangat singkat? Bukannya Anraka juga masih punya pacar yang rela memaki Keelua hanya karena berani mendekati ketua Geng EX
itu?
Ini sangat membingungkan untuk Bumi, ia tak menyangka sahabatnya bisa menusuknya dari belakang seperti ini.
"Gue kira lo tau kalau gue suka sama Keelua, Rak. Kenapa sekarang lo tiba tiba mau ngerebut dia dari gue?" Bumi buka suara, sesaat sebelum Anraka akan membawa Keelua pergi dari tempat itu.
Mata Keelua melebar, jantungnya berdebar. Ia menatap Bumi dengan air mata yang berlinang, ia sungguh tak menyangka bahwa Bumi akan mengatakan hal yang benar benar tidak ingin ia dengar. Keelua tau, ini akan sangat menyakitkan untuk Bumi.
"Gue enggak ngerebut siapa siapa dari siapa pun, gue cuma ngejaga apa yang udah jadi milik gue."
Anraka mengatakan kata kata barusan tanpa perasaan bersalah sama sekali, ia tak menyangkal bahwa selama ini ia memang tau bahwa Bumi pernah mengatakan kalau ia menyukai Keelua. Namun, itu tak cukup membuat Anraka yakin bahwa perasaan Bumi ini tulus pada gadis yang sedang berdiri di belakangnya.
Tidak secara langsung, Anraka sebenarnya sedang menjauhkan Bumi dari patah hati. Sekarang pemuda itu memang tidak tau bahwa Keelua sudah menikah, tapi suatu saat ia pasti akan tau dan benar benar kaget jika mengetahui kebenarannya tersebut.
Cinta memang tidak selamanya indah dan hidup pun tidak selalu manis, setiap orang harus belajar untuk menerima kenyataan meskipun terkadang sulit untuk ditelan.
"Keelua bukan milik lo, lo enggak bisa milikin semua yang lo mau, Anraka!" Bumi mengeram kesal, matanya seperti berapi.
Suasana di tempat itu berubah tegang, Keelua merasakan aura kemarahan dari kedua pemuda yang notabenenya adalah sahabat ini. Keelua tidak akan membiarkan mereka bertengkar di sini, di dalam sekolah, itu akan menghancurkan reputasi Geng EX di depan orang orang yang menghormati mereka.
Dengan tangan yang gemetar, Keelua mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya lalu segera menghubungi Gibran dan meminta pemuda itu agar segera datang ke tempatnya berada sekarang.
"Halo, Gib. Lo harus ke sini sekarang, ini gawat banget."
"Lo kenapa? Gue lagi makan sama Romeo, ada Ganta juga di sini. Kita di kantin belakang, lo aja yang ke sini," balas Gibran.
"Anraka sama Bumi mau berantem!"
...****************...
"Gue juga enggak percaya kalau mereka bakalan berantem, kira kira hal apa yang bisa bikin mereka kayak gini? Kalian tau 'kan kalau Anraka paling cocok sama siapa? Siapa lagi kalau bukan si Bumi. Masa mereka berantem, sih?" Gibran pun buka suara.
"Gue udah duga ini dari awal, apa lagi penyebab mereka berantem kalau bukan masalah cewek?" Ganta menimpali.
Ketiga pemuda itu sedang terburu buru, mereka akan segera sampai di tempat yang Keelua tunjukkan untuk menenangkan kedua teman mereka namun mereka sengaja menyempatkan diri untuk bertukar pikiran terlebih dahulu.
"Gara gara cewek? Siapa ceweknya?" gumam Romeo.
"Keelua!"
Gibran memanggil nama seorang gadis yang hanya berdiri mematung di sisi koridor, gadis itu sedang memperhatikan dua pemuda yang sebentar lagi pasti akan adu jotos.
Romeo dan Ganta buru buru memisahkan mereka, Ganta menarik tubuh Anraka dan Romeo menarik tubuh Bumi. Di mata keduanya sudah penuh kemarahan, ini pertama kalinya mereka melihat anggota geng EX bertengkar dengan anggota lain.
Untung saja tidak ada orang lain yang melihat aksi mereka.
"Kalian kenapa, sih? Kenapa bisa kayak gini?!" Gibran berdiri di tengah tengah keduanya, mencoba menenangkan dua orang yang sedang tersulut emosi itu.
Karena ingin menjaga privasi Geng EX, mereka semua memilih untuk pergi dari sekolah dan menuju ke markas EX saja untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan Anraka dan Bumi ini.
Sesampainya di sana, keduanya duduk berhadapan. Keelua juga ikut tapi gadis itu tetap tak mau mengatakan apa apa, sesekali ia hanya menangis tanpa suara.
"Gue enggak tau masalah kalian apa tapi gue benar benar enggak suka ngelihat kalian kayak gini. Kita udah temenan dari lama, kayaknya udah enggak ada hal yang bisa bikin kita berantem kayak gini tapi akhirnya kalian nunjukin kalau ternyata masih ada. Kasih tau gue, kalian ada masalah apa? Kita selesaiin sama sama." Sebagai orang yang paling peduli, Gibran duduk di sana untuk membantu teman temannya menyelesaikan masalah.
"Lo tanya aja sama teman lo yang penghianat ini," kata Bumi, sorot matanya tertuju pada Anraka.
"Lo yang enggak tau malu, gue udah bilang kalau dia itu punya gue." Anraka membalas.
Romeo menganga, tampaknya masalah yang dihadapi oleh kedua temannya ini adalah masalah yang cukup berat.
"Dia? Dia siapa yang kalian maksud?" tanya Gibran lagi.
Ganta juga ada di sana, namun seperti biasa, ia hanya akan memperhatikan dan berbicara saat dibutuhkan saja.
"Keelua," ucap Anraka dan Bumi bersamaan.
Gibran memucat, apa yang tadi Ganta katakan itu benar? Ganta bilang bahwa Anraka dan Bumi pasti bertengkar karena seorang gadis dan itu terbukti sekarang. Dan yang membuat masalah ini lebih menarik yaitu, gadis yang keduanya perebutkan ternyata adalah Keelua.
Seorang gadis yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran Gibran, mengingat Anraka sangat membenci Keelua. Bagaimana bisa sekarang ketua geng itu rela bertengkar dengan sahabatnya sendiri hanya karena seorang gadis yang dulu ia benci.
"Kalian bertengkar gara gara Keelua? Lo dulu benci banget sama Keelua, Raka. Kenapa lo enggak ngerelain aja Keelua buat Bumi. Emangnya lo sayang sama dia?" tanya Gibran.
"Gue sedang mencoba."