
"Minggir!"
Tanpa takut Keelua membelah lautan manusia yang ada di depan pintu ruang ganti. Lula tidak ikut campur, ia hanya berdiri di belakang kumpulan itu seraya menunggu temannya selesai dengan urusannya.
Setelah berhasil berdiri di depan pintu ruang ganti, Keelua berbalik dan menatap satu persatu gadis yang ada di sana.
"Lo mau ngapain? Jangan berdiri di situ, nanti Bumi enggak bisa keluar," teriak salah satu gadis.
"Kalian enggak ada kerjaan lain selain ngikutin orang apa? Lo pada enggak kasian sama Bumi? Dia sembuhi di dalam sampai kelaparan cuma gara gara kalian doang," omel Keelua.
"Kita cuma mau foto bareng, Keel," sahut salah satu dari mereka lagi.
"Udah, kapan kapan aja foto-fotonya, sekarang kalian balik ke kelas!"
"Enggak mau!" balas para gadis itu serentak.
"Pergi atau gue slepet kalian satu satu pakai jaket!" ancam Keelua seraya melepas jaket yang ada di pinggangnya.
"Enggak mau!" Para gadis itu tidak gentar.
Keelua menghembuskan napas pelan, ia mencoba memikirkan cara untuk mengusir para manusia manusia kurang kerjaan ini.
Sebuah bola lampu keluar dari pucuk kepala Keelua, gadis itu tersenyum miring.
"Atau kalian mau gue suruh Bumi buat nutup akun instagramnya?"
"Eh, jangan dong!"
"Enggak bisa gitu!"
"Jangan, anjir!"
Keelua terkekeh senang, rencananya berhasil.
"Ya udah, kalian pergi dulu sana, kasian si Bumi kelaparan tuh di dalam. Tenang aja, idola kalian bakal aman sama gue, enggak bakal ada yang lecet sedikit pun!" seru Keelua dengan menggebu gebu.
Tidak ada pilihan lain, para gadis itu akhirnya membubarkan diri satu persatu, meninggalkan Keelua dan Lula yang masih ada di depan pintu ruang ganti.
"Wih, Keelua selalu keren kayak biasanya," puji Lula.
Keelua tersenyum miring lalu mengangkat kedua alisnya.
"Oke, sekarang kita telpon si Bumi tukang nyusahin ini." Keelua merogoh sakunya lalu mengambil ponsel dan segera menghubungi Bumi.
Panggilan terhubung.
"Woi, keluar cepetan. Udah aman," titah Keelua.
Mendengar itu Bumi langsung mematikan panggilan.
"Kurang ajar," umpat Keelua.
Beberapa detik kemudian, suara pintu pun terdengar. Tampaklah sosok tinggi Bumi dari balik pintu.
"Beneran udah aman?"
Keelua mengangguk.
"Ah, lo emang temen paling baik!" Bumi mendekat lalu memeluk tubuh Keelua sebentar.
Keelua tersenyum bangga dengan wajah menyebalkannya, "Iya dong."
"Udah jam istirahat, 'kan? Makan dulu, yuk," ajak Bumi.
"Enggak, ah. Gue enggak laper, tapi kalau lo yang traktir, gue bisa jadi laper lagi kok," jawab Keelua.
Lula menyenggol lengan Keelua perlahan lalu tersenyum kikuk kepada Bumi.
"Enggak usah, Bum. Kita enggak laper kok," ujar Lula.
"Lah, gue laper, sih." Keelua menimpali.
Bumi hanya terkekeh pelan, "Ya udah, yuk. Gue traktir," ajak Bumi lagi.
"Enggak! Enggak usah, Bumi." Lula lagi lagi menolak.
"Lo enggak mau? Ya udah, gue aja. Ayo, Bum." Keelua melangkah lebih dulu meninggalkan Bumi dan Lula yang masih mematung.
Bumi melirik Lula sebentar lalu segera menyusul Keelua.
...****************...
"Tiada hari tanpa baku hantam."
Romeo sedang duduk di atas meja
di dalam kelas seraya memperhatikan Gibran dan Anraka yang sedang mengganti seragam basket mereka dan kembali memakai seragam sekolah.
"Si Raka kan emang kayak gitu, kayak lo enggak kenal dia aja," balas Gibran.
"Tapi gue salut sama si Keelua, walau pun si Raka udah kasar banget sama dia, dia masih tetap mau ikutan kata Omanya Raka buat mantau si Raka," imbuh Romeo.
"Keelua sama Omanya Arum kan emang deket banget, menurut gue sih wajar aja."
"Tapi si Raka udah keterlaluan enggak, sih?"
BRAK!
Anraka menggebrak meja yang ada di depannya.
"Bisa enggak jangan ngomongin gue pas gue lagi ada di sini?"
"Ya bagus, dong. Kita ngomongin di depan orangnya langsung, enggak dosa," kata Romeo.
Ganta tidak ikut dalam pembicaraan, ia hanya menjadi pendengar yang baik dan tidak banyak bicara. Tapi jangan salah, jika ingin meminta saran, Ganta lah jagonya.
Tipe orang yang lebih banyak mendengarkan memanglah orang yang paling bagus untuk dimintai saran. Sifat mereka yang pasif dan suka lebih memantau menjadikan mereka orang yang peka terhadap lingkungan sekitar. Akan lebih nyaman juga jika bercerita dengan tipe orang seperti Ganta, karena mereka hanya akan mendengarkan dan berbicara saat diminta.
Di EX, Ganta lah yang paling dewasa. Pemuda itu yang paling jago mengontrol emosi dan sikap, kebalikan dari sosok Anraka yang tidak sabaran dan gampang emosi. Ganta tenang seperti air tapi selalu bisa menghanyutkan.
Ganta jarang berbicara tapi sekalinya buka suara, omongannya bisa lebih pedas dari omongan tetangga. Tak jarang anggota EX meminta saran atau bercurhat ria pada Ganta, walau pun tampak sangat dingin dari luar, tapi pemuda itu sebenarnya sangat perhatian dan mau mendengarkan segala keluh kesah teman temannya.
"Emang lo enggak niat buat suka sama si Keelua, Rak?" tanya Gibran.
Anraka mendecih, "Gue enggak level sama cewek kumel kayak dia," balasnya.
"Jadi si Isabella itu tipe lo?" Ganta tiba tiba buka suara.
"Tumben kulkas berjalan mau ngomong," sindir Romeo.
"Isabella? Siapa itu?" tanya Gibran.
"Pacarnya si Raka, ogeb!" Romeo mengetuk kepala Gibran dengan tangannya.
Gibran mengaduh lalu mengelus kepalanya sendiri, "Lah, si Raka emang punya pacar?" tanyanya.
"Lo ke mana aja?" tanya Romeo emosi.
"Emang si Isabel dianggap?" Gibran tertawa meledek dengan suaranya yang menyebalkan.
BRAK!
"Apa apaan lo?" Seorang gadis membuka pintu dengan kasar.
"Anjir, orangnya muncul," bisik Romeo.
"Udah kayak jalangkung aja," jawab Gibran.
Romeo terkekeh pelan, "Tapi bedanya yang ini jalangkungnya bedaknya tebal." Lalu tertawa geli bersama Gibran.
"Heh! Kalian lagi ngomong gue, ya?" sarkas Isabella.
Gibran dan Romeo menggeleng, "Enggak. Lagi ngomongin jalangkung," seru Romeo.
"Jalangkungnya lo," bisik Gibran lalu kembali cekikikan.
Isabella kesal, lalu melangkah masuk bersama dua temannya. Gadis itu mengarahkan tatapannya. pada sosok pemuda yang sedang merebahkan tubuhnya di atas meja.
"Raka! Kamu lagi capek, ya?' seru Isabella seraya melangkah mendekat.
"Tadi kamu abis berantem, 'kan? Ada yang sakit, enggak? Atau luka gitu? Mau aku obatin?"
"Berisik!" balas Anraka dengan nada tinggi.
Isabella langsung mencebik bibir lalu membanting kakinya karena kesal.
"Kamu kenapa sih, Rak? Kamu marah sama aku karena aku jalan sama Johan kemarin, ya?" tanya Isabella. "Aku minta maaf, Rak. Si Johan yang ngajak aku, aku sih enggak mau tapi dia maksa."
Anraka tidak menggubris ucapan Isabella sama sekali, pemuda itu masih memejamkan matanya.
"Pacar kamu itu cantik banget, Rak. Jadi banyak yang ngegebet tapi aku milihnya kamu doang, kok."
"Huek!" Gibran akting seolah olah dia akan muntah.
"Kenapa lo? Iri?" tanya Isabella sarkas.
Gibran menggeleng, "Enggak, jijik aja."
Wajah Isabella berubah masam, ia memandang Gibran begitu sinis.
"Kalau lo emang setia sama Raka, harusnya lo enggak mau di ajak sana sini sama cowok lain," imbuh Romeo.
"Mampus, kena mental." Gibran menimpali.
"Apaan sih lo? Kan mereka yang ngajak, bukan gue yang mau!" sergah Isabella.
Romeo mendecak, "Tapi ujung ujungnya lo mau juga, 'kan?"
"Lo aja yang mau di ajak sana sini sama cowok, enggak usah alasan deh.' Gibran ikut mengompori.
Isabella menggeram kesal, "Sayang, lihat tuh teman teman kamu, masa mereka nuduh aku!" adunya namun Anraka tampak tidak peduli sama sekali.
"Sayang kepalamu peyang," cibir Gibran.
"Lo tuh, ya! Gue itu cuma mau sama Raka! Tapi mereka aja yang selalu ngajak gue, gue enggak enak nolaknya." Isabella mulai marah marah tidak jelas.
"Berarti lo murahan," sambung Ganta.
Semua orang menatap pemuda itu tidak percaya.
Gibran dan Romeo tertawa bersama, "Savage!"
.
.
.
.
.
.
.