
"Gimana, Angel? Perasaan kamu udah enakan?" tanya Keelua sambil menyuapi makanan yang baru saja diantar oleh perawat ke kamar tempat Angel dirawat.
"Kamu udah baik baik aja kan, Angel? Kamu sakit apa sih, adik gemes?" Romeo menimpali.
"Lo kedengaran kayak om om pedo deh," potong Gibran.
Perkataan Gibran itu sukses membuat orang orang yang ada di dalam ruangan tertawa. Termasuk Ganta.
"Gue itu ngasih contoh cara ngomong sama anak anak yang baik dan benar. Bukan kasar kayak lo semua," balas Romeo.
"Mana ada kasar, gue mah halus," Gibran menyelutuk lagi.
"Matamu halus," maki Romeo.
"Mana ada mata yang halus. Kok goblok, sih?" sahut Gibran.
"Kalian bisa diam, enggak? Adik gue mau makan dengan tenang. Mending kalian pulang sana." Kata kata itu bukan keluar dari Anraka, melainkan dari Bumi.
"Lo pikir kita gampang diusir apa?" tanya Gibran. "Enggak akan semudah itu. Iya 'kan, Rom?" lanjutnya.
"Yoi." Romeo mengangguk tanda menyiakan.
Bumi memutar bola matanya malas.
"Udah, ih. Kalian diam, gue mau ngasih makan Angel." Keelua akhirnya buka suara.
Para pemuda itu pun diam. Menurut seperti anjing kecil yang lucu.
"Gue serius nanya, Angel sakit apa?" Romeo mengulangi pertanyaannya. Kali ini pertanyaan itu ia lontarkan kepada seluruh manusia ruangan. yang ada di dalam
"Dia lompat ke kolam renang."
"HAH?!"
Semua orang yang ada di dalam ruangan dibuat terkejut ketika Anraka mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Angel hingga gadis itu bisa masuk rumah sakit seperti ini.
"Lompat ke kolam terus kelelep, gitu?" tanya Gibran memastikan.
Anraka mengangguk, "Iya."
"Astaga, Angel. Kamu kenapa, dek? Kamu enggak merhatiin jalan atau gimana sampai bisa jatuh ke kolam?' tanya Keelua.
"Angel sengaja, kak."
"Sengaja? Maksudnya gimana?" Romeo menyelutuk.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut menatap Angel dengan tatapan bingung serta heran.
"Angel sengaja jatuhin diri ke kolam, pas itu rasanya Angel enggak perlu hidup lagi," jelas gadis kecil itu sambil tertawa pelan.
"Enggak, Angel! Kenapa lo bisa bisanya mikir kayak gitu, hah? Lo enggak mikirin perasaan gue? Perasaan Papa sama Mama? Perasaan Oma?" cerocos Anraka dengan kesal.
"Udah, Rak. Ini bukan saatnya lo marahin Angel. Biarin dia tenang dulu, dia juga baru siuman." Bumi menahan tubuh Anraka agar pemuda itu bisa lebih tenang.
"Oma kayaknya bakal senang kalau waktu itu Bang Raka enggak selamatin Angel," cicit Angel sambil menundukkan kepalanya.
Keelua menatap Anraka dan Angel bergantian. Ada apa ini? Apa maksud dari perkataan Angel? Kenapa Oma Arum akan senang jika Angel tidak selamat? Keelua benar benar tidak mengerti.
"Udah. Stop. Angel sekarang harus makan dulu, jangan mikiran yang lain, ya. Pokoknya harus cepat cepat sehat biar bisa keluar dari rumah sakit. Abang abang semua ini keluar dulu, biar Angel ditemenin makan sama Kak Keelua aja," ujar Bumi lalu berbalik dan mengajak semua pemuda yang ada di sana untuk keluar dari ruangan.
Termasuk Anraka.
Hanya Keelua dan Angel yang tersisa, gadis dengan rambut dikuncir tinggi itu kembali membantu Angel untuk makan. Perlahan lahan Keelua menyuapkan makanan ke mulut Angel yang selalu dibuka sedikit saat Keelua memintanya untuk membuka mulut.
Keelua masih tidak mengerti, pikirannya seolah bercabang. Apa yang sebenarnya terjadi pada Angel? Haruskah ia mencari tau?
"Makanannya enak enggak, Angel?" tanya Keelua mulai membuka obrolan.
Dengan cepat Angel menggeleng, "Enggak enak. Enggak ada rasanya," kata gadis kecil itu.
Keelua membalas keluhan anak perempuan itu dengan kekehan kecil. "Kak Keelua punya cerita. Angel mau dengar enggak?" tawar Keelua kemudian.
Angel mengangguk mantap, "Mau, kak!"
Keelua tersenyum kecil, setidaknya Angel masih mau diajak bicara dan masih bisa merespon semua pertanyaannya. Gadis kecil ini mungkin hanya butuh didengarkan dan dimengerti, entah seberat apa beban pikiran yang Angel tanggung selama ini, padahal umurnya masih sangat muda dan belum pantas memikirkan hal hal berat yang mungkin akan mengganggu pertumbuhannya. Angel sudah melewati batas.
Otak Keelua berputar cepat, mencari kira kira cerita apa yang cocok untuk ia ceritakan pada Angel sekarang. Gadis itu harus pandai membuat alur kisah spontan di dalam kepalanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Keelua mulai bercerita.
"Di suatu hari, ada seorang anak kecil lucu yang tinggal di sebuah rumah kecil bersama kakak kakaknya. Tapi, anak kecil yang lucu itu sedih, karena kakak kakaknya enggak suka sama dia." Gadis berkulit putih bersih seperti susu itu mulai merangkai kata demi kata lantas membuat satu cerita absurd yang semoga saja bisa membuat Angel merasa lebih baik.
"Di suatu malam, anak kecil itu berniat untuk kabur dari rumahnya, dia pengen pergi sejauh mungkin dari keluarganya karena dia udah enggak kuat sama sikap anggota keluarganya yang selalu aja mojokin dan salahin dia buat hal hal yang tidak gadis kecil itu lakuin."
Sambil bercerita, tangan Keelua tidak berhenti terus menyuapi makanan yang ada ke dalam mulut Angel. Gadis kecil itu juga tampak"Atau mungkin, Angel emang enggak sakit tapi terjadi sesuatu yang buruk sama dia."antusias mendengar cerita Keelua, ia sampai diam dan memasang telinga baik baik.
"Terus? Anak kecil itu jadi kabur, kak?"
Keelua mengangguk, "Iya. Akhirnya anak kecil itu kabur, dia pergi dari rumahnya. Tapi, tiba tiba dia tersesat, dia enggak tau dia ada di mana dan enggak tau arah pulang ke rumahnya itu ke mana."
Satu suapan masuk lagi ke dalam mulut Angel.
Tanpa diketahui, ternyata ada seseorang yang tengah memperhatikan interaksi Keelua dengan Angel dari luar ruangan. Orang yang sedang mengintip itu tampak sangat senang melihat kedekatan Keelua dengan Angel, si gadis kecil yang tengah sakit tersebut.
Keelua bahkan memiliki cara agar Angel yang sedang tidak nafsu makan akhirnya ingin memakan makanannya dan sekarang makanan itu sudah hampir habis.
Keelua sangat keibuan.
"Setelah itu, kak?"
"Setelah itu kamu minum dulu." Keelua mengambil gelas yang ada di atas nakas lalu memberikannya pada Angel agar gadis kecil itu tidak tersedak.
"Terus? Lanjutannya gimana, kak Keel?" tanya Angel. Sepertinya ia sangat ingin mendengar cerita dari Keelua.
"Nah, dia kan udah tersesat gitu, 'kan? Abis itu karena dia udah enggak tau dia ada di mana, akhirnya dia milih buat duduk di bawah pohon yang daun daunnya besar besar banget, terus panjang. Dia sengaja sembunyi di situ biar enggak ada yang ngelihat dia di hutan itu." Keelua terus bercerita dengan mimik wajah yang disesuaikan agar Angel akan lebih senang mendengar ceritanya.
"Terus enggak ada yang nolongin dia, Kak? Kasian banget," ucap Angel sembari memeluk lututnya.
Makanan untuk pasien cilik itu sudah habis, Keelua hanya perlu melanjutkan ceritanya hingga habis agar Angel tidak penasaran. Keelua berharap, semoga usaha kecilnya ini bisa sedikit berarti untuk kesembuhan adik dari Anraka tersebut.
"Enggak ada yang nolong dia sampai malem, anak kecil itu akhirnya cuma bisa nangis dan nangis sambil berdoa semoga ada orang yang mau nolongin dia dan bawa dia pergi dari sana." Tangan Keelua naik lantas merangkul bahu Angel.
"Tiba tiba, anak kecil itu dengar suara langkah kaki dari dalam hutan. Langkah kaki yang kedengarannya makin dekat dan terus mendekat ke arah dia. Anak kecil itu akhirnya nutup mulutnya biar suara tangisannya enggak kedengaran sama orang asing yang mungkin punya niat jahat sama anak kecil itu." Keelua membelai rambut panjang Angel yang terurai begitu indah.
Di dalam ruangan yang sepi tersebut hanya suara detak jarum jam yang mengiringi Keelua menceritakan ceritanya yang sebenarnya dia buat secara spontan tanpa ada persiapan sama sekali. Benar benar hanya untuk membuat Angel merasa nyaman dan mau memakan makanan rumah sakit yang katanya tidak enak tadi.
"Orang asing yang langkah kakinya didengar sama anak kecil tadi pun udah berhenti. Berhenti tepat di depan tempat persembunyian anak kecil itu, enggak pakai lama, orang itu langsung ngebuka daun yang nutupin si anak kecil tadi. Terus kamu mau tau enggak apa yang terjadi selanjutnya?" Keelua menggantung ceritanya lalu bertanya pada Angel.
"Anak kecil itu dimakan sama orang asing?" jawab Angel polos.
Keelua mendecak, "Ya enggak lah, Angel. Dia kan orang, masa orang makan orang."
"Sumanto?"
"Kok kamu bisa tau Sumanto, sih?" tanya Keelua balik.
Angel terkekeh, "Dari artikel."
"Astaga. Tapi enggak gitu konsepnya, Angel." Keelua frustrasi.
"Ya udah. Lanjut lagi," kata Angel.
Keelua pun menarik napas panjang dan bersiap untuk melanjutkan ceritanya.
"Nah, pas daun itu dibuka, anak kecil itu pun tau kalau ternyata jejak langkah yang dia dengar itu adalah suara jejak langkah kakak kakaknya yang lagi nyariin dia," terang Keelua.
Angel langsung bersorak ria, "Jadi, kakak kakaknya itu sayang sama dia, ya?"
Keelua mengangguk, "Betul sekali," katanya. "Ternyata kakak kakak anak kecil itu udah sadar kalau selama ini mereka udah jahat sama si anak kecil itu dan merasa enggak mau kehilangan anak kecil itu. Akhirnya mereka sama sama nyarı adik mereka dan nemuin adiknya di bawah pohon."
"Wah! Pasti dia senang!" seru Angel.
"Iya. Anak kecil itu senang banget apa lagi pas salah satu dari kakaknya bilang gini; "Maafin kita ya, adikku. Kakak kakak kamu udah sadar kalau kita salah selama ini karena udah jahat sama kamu." Anak kecil itu langsung kegirangan terus bangkit dan akhirnya bisa pulang sama kakak kakaknya."
Angel bertepuk tangan riuh.
"Kamu tau pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita kakak barusan?"
...****************...
"Ma, kakak enggak pulang?"
Ravi baru saja keluar dari kamarnya lantas menemukan sang Ibu sedang duduk di markas kesukaannya alias di sofa depan TV.
"Enggak, Rav. Kakak kamu nginep di rumah sakit, nemenin Raka buat jagain Angel, dia dimintain tolong sama Oma Arum," jawab Sekar tanpa menoleh ke arah anaknya.
Ravi mendecak lantas melangkah mendekat ke arah Ibunya yang sedang bersantai tersebut.
"Ravi enggak mau pergi sekolah kalau gitu," ucap Ravi seraya mendaratkan bokongnya ke sofa di samping sang ibu.
"Kenapa? Kenapa kamu enggak mau masuk sekolah? Tumben banget, biasanya kamu enggak mau banget ketinggalan pelajaran. Hujan badai halilintar aja kamu masih tetap mau berangkat ke sekolah. Kok sekarang tiba tiba enggak mau?" tanya Sekar, wanita itu tak begitu ambil pusing saat anaknya yang pintar mengatakan ia tak mau pergi sekolah.
Mungkin Ravi lelah belajar atau matanya sudah tak sanggup untuk membaca semua tumpukan buku yang ia punya.
"Malas aja gitu, lagian kenapa kakak harus pakai nginap segala, sih?" kesal Ravi seraya menatap lurus ke arah TV yang sedang menayangkan komersial break.
Dahi Sekar mengerut lantas ia menoleh ke arah anak laki lakinya itu, "Jadi kamu malas ke sekolah karena kakak kamu enggak ada di rumah? Gara gara kakak kamu nginap di rumah sakit? Apa hubungannya, Ravi?" Lantas geleng geleng tak percaya.
"Gara gara Angel enggak masuk sekolah." Anraka bergumam kecil dan tanpa sadar Sekar bisa mendengarnya.
"Oh, gara gara Angel, ya. Pantas aja," goda Sekar kemudian.
Mata Ravi melebar, apa suaranya terlalu keras sampai sang ibu bisa mendengarnya? Astaga, ini bencana.
"Eh, Mama mau tau, enggak? Sebelum Angel masuk rumah sakit, satu jam sebelumnya Ravi masih sempat telponan lho sama dia. Lebih tepatnya si Angel yang telpon Ravi." Anak laki laki itu dengan cepat merubah topik pembicaraan.
"Beneran? Berarti sebelum itu dia baik baik aja dong, enggak sakit atau gimana gimana. Tapi kenapa Angel bisa tiba tiba masuk rumah sakit, ya? Kasian banget dia." Sekar juga ikut menatap layar TV tapi telinganya fokus pada Ravi.
Ravi geleng geleng kepala, "Ravi juga enggak tau, tapi emang dari suaranya dia kedengaran baik baik aja. Mana ada orang sakit masih sempat nelpon orang lain dengan pembahasan yang enggak penting." Lantas menghela napas panjang.
Anak laki laki itu terus memikirkan kondisi Angel sejak kemarin, ia ingin tau apakah temannya itu sudah baikan atau belum tapi ia malu bertanya pada Keelua.
"Atau mungkin, Angel emang enggak sakit tapi terjadi sesuatu yang buruk sama dia."
.
.
.
.
.
.
.
.