
"Lo di mana, Keel?"
Suara Bumi terdengar jelas di telinga Keelua begitu gadis itu mengangkat teleponnya.
Keelua bingung harus menjawab apa namun ia juga tak mungkin berbohong di situasi seperti ini.
"Gue di kelas, Bum. Sorry, ya," kata gadis itu.
"Lho? Bukannya kita udah janjian ketemu di lapangan indoor, ya? Lo bilang udah ada di sana 'kan tadi? Gue baru aja sampai nih, tapi lo enggak ada."
Keelua semakin kebingungan, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya bahwa Anraka lah yang membawanya kembali ke kelas dengan paksa tanpa ia ketahui alasannya juga.
"Gue harus ambil sesuatu tadi terus kata teman sekelas gue ada tugas yang harus dikerjain makanya gue belum balik ke sana buat ketemu sama lo lagi," kilah Keelua.
Gadis itu adalah seorang yang tidak pandai berbohong, ia tidak pernah membohongi orang lain untuk hal hal besar maupun kecil, Keelua hanya tidak suka di bohongi makanya ia tak pernah membohongi orang lain. Gadis itu merasa gugup, apa yang harus ia katakan selanjutnya?
"Oh, ya udah. Gue 'kan udah di sini, lo bisa ke sini sekarang, enggak? Enggak apa apa kalau agak lama asal kita bisa ketemu di sini sekarang," ucap Bumi lagi, ia benar benar berharap bisa bertemu dengan Keelua hari itu juga.
Keelua berpikir sebentar, sepertinya ia bisa, lagi pula Anraka juga sudah tidak ada di sini, ia bisa bebas pergi semaunya.
Keelua bangkit dari kursinya lalu melangkah ke arah pintu kelas yang tertutup, sebelum sempat memegang gagang pintu, seseorang langsung menghalangi gerakan gadis itu.
"Eh, lo mau ke mana?" tanya Sarah, teman kelas Keelua yang entah datang dari mana.
"Mau keluar kelas lah, ngapain lo nanya?" balas Keelua dengan alis yang naik sebelah.
"Oh, enggak bisa. Satu kelas ini enggak mau dapat masalah cuma gara gara ngebiarin lo keluar dari kelas ini. Lo enggak dengar kata Anra-hmmp!"
Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, Keelua sudah membekap mulut gadis itu hingga ia tak bisa berkata kata lagi. Bisa berbahaya jika Bumi mendengar ada nama Anraka.
"Diem, diem!"
"Kenapa, Keel?" celetuk Bumi yang masih menyambungkan panggilannya.
"Bentar, ya. Nanti gue telepon lagi," ujar Keelua lantas mematikan sambungan teleponnya dengan Bumi.
"Lo bisa biarin gue keluar bentar aja, enggak? Gue pastiin Anraka enggak bakal tau dan dia enggak akan ngelakuin apa apa. Gue janji, please biarin gue keluar bentar aja." Keelua memohon pada Sarah agar teman kelasnya itu mau memberikannya jalan untuk keluar dari kelas.
"WOY! KEELUA MAU KELUAR, NIH!" sorak Sarah tiba tiba.
Semua orang mendadak menoleh dan memperhatikan Keelua yang masih berubah mencari cara agar bisa keluar dari kelas itu meskipun memang sudah tak ada jalan lain selain pintu masuk dan pintu keluar yang sudah dikuasai oleh Sarah.
"Kita enggak mau kena masalah, lo harus benar benar tetap di sini sampai jam pulang. Anraka enggak pernah main main sama apa yang dia omongin, semua orang tau itu." Seseorang datang dan menghampiri Keelua dan juga Sarah yang berdebat di depan pintu.
"Gue cuma mau keluar bentar aja, bener bener bentar aja. Anraka enggak bakal tau, lagian kenapa kalian takut banget sih sama dia?
"Mau bentar, mau lama, sama aja," kata orang yang baru saja datang dan tiba tiba menimbrung obrolan Keelua dan Sarah tadi.
"Please, kasih gue kesempatan. Ini penting banget tau, gue janji Raka enggak akan tau, beneran deh." Keelua terus mencoba membujuk teman teman kelasnya itu, ia tak mengira orang orang ini akan menuruti Anraka seperti ini.
"Terus kalau si Raka tau dan satu kelas kena masalah sama dia atau sama geng EX gimana? Lo mau nanggung nyawa mereka semua?" tanya Sarah.
Keelua terdiam, kenapa masalahnya seberat ini? Padahal ini hanya perkara keluar dari kelas saja.
"Ya udah, gue ngomong sama si Raka dulu. Tunggu di sini, gue speaker." Keelua mencari nomer Anraka untuk menghubunginya bahkan Keelua tidak ingat kapan ia menyimpan nomer pemuda itu di ponselnya.
Sarah dan seorang teman yang lain hanya memandangi Keelua seraya menjaga pintu masuk dan menghalanginya agar Keelua benar benar tidak bisa melarikan diri.
Panggilan berdering, Keelua mengetuk ngetuk dagunya, ia cemas karena Anraka tak kunjung mengangkatnya.
"Angkat dong, monyet," kesal Keelua.
"Lo ngatain si Raka monyet? Parah lo," timpal Sarah.
Keelua mengangkat kepalanya, "Emang kenapa, sih? Kalian kayaknya takut banget sama si Raka. Ngebebasin gue aja enggak mau, padahal si Raka enggak semenakutkan itu kok," ujarnya.
Mata Sarah melebar, "Dia bisa mukulin satu kelas tanpa bantuan, semua cowok yang dia lawan itu badannya kekar tapi dia enggak takut. Terus gimana kalau dia sampai ngehajar teman teman kelas kita yang enggak ada apa apanya ini? Badan mereka aja kayak cumi kering," tuturnya.
Keelua hanya bisa menghela napas panjang, ia merasa Anraka tidak perlu ditakuti. Gadis itu tau bahwa Anraka baik hanya saja ia sering bertingkah seenaknya dan tidak menghargai orang lain, mungkin hal itulah yang membuat Anraka ditakuti oleh orang orang.
Sesaat sebelum terputus otomatis, panggilan Keelua tersambung, Anraka mengangkatnya, si gadis pun gembira.
"Halo, Raka? Gue mau keluar kelas, ya?" kata Keelua.
"Mau ngapain?" tanya Anraka.
"Gue haus, mau minum. Laper juga, mau makan," jawab Keelua, ia sengaja membuat suara memelas agar Anraka sedikit bermurah hati padanya.
Panggilan terputus, Keelua hampir saja mengumpat.
"Tuh kan, enggak boleh berarti. Jadi lo enggak usah bujuk kita buat ngizinin lo keluar dari kelas ini karena kita enggak akan ngebiarin si Raka ngamuk di sini. Duduk sana," titah Sarah.
Keelua mendecak kesal, Anraka sialan. Pemuda itu selalu saja membuatnya berada di dalam kesusahan, apa yang harus ia lakukan sementara Bumi menunggunya di sana. Tidak mungkin ia berkata jujur bahwa Anraka menyekapnya di kelasnya sendiri.
Karena merasa tak punya pilihan lain, Keelua akhirnya duduk kembali ke tempatnya dan memilih untuk mematikan ponselnya agar Anraka dan Bumi tidak dapat menghubunginya lagi. Ia benar benar kesal, rasanya ia bisa menghajar Anraka sekarang juga.
Tak lama berselang, seseorang membuka pintu kelas Keelua lantas masuk ke dalamnya. Orang itu mencuri perhatian semua orang dan kemudian ia melangkah mendekat ke arah Keelua yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja.
"Makan."