
"Ma, sebenarnya ada apa sama sikap Mama ke Keelua? Apa salah dia? Kenapa Mama tiba tiba bersikap ketus ke dia? Padahal, Keelua itu anak yang baik, dia mau berusaha buat menyenangkan hati orang orang di rumah ini. Mama bisa jelaskan sebenarnya ada apa?"
Arya duduk di depan Ibunya, ia sengaja meminta izin untuk masuk ke dalam kamar Oma Arum untuk membicarakan hal yang amat penting untuk dibahas hari ini. Soal sikap Ibunya yang tiba tiba berubah.
Oma Arum tampak cuek saja dan tidak begitu mengindahkan kehadiran Arya di kamarnya.
"Mama enggak mau bicara soal ini, Arya. Mama cuma tiba tiba tidak suka dengan dia, harusnya kita enggak menjadikan dia sebagai menantu." Oma Arum akhirnya buka suara setelah ruangan itu dibiarkan hening begitu saja.
"Tidak suka? Mama pasti punya alasan untuk itu, tidak mungkin Mama tiba tiba tidak suka. Mama ingat 'kan kalau Mama sendiri yang meminta aku dan Regina pergi ke rumah Keelua dan melamarnya untuk Anraka? Cucu kesayangan Mama yang sekarang kayaknya udah benar benar jatuh cinta sama gadis pilihan Mama. Itu suatu kemajuan yang perlu dirayakan sebenarnya," sahut Arya.
Oma Arum berdiri, ia tampak kesal dengan raut wajahnya yang seperti malas berbicara.
"Pokoknya Mama udah enggak suka sama dia, enggak peduli dulu Mama yang minta kalian untuk melamar dia, Mama tetap udah enggak suka sama dia."
Arya geleng geleng kepala, ia juga sebenarnya tidak tau apa penyebab dari ini semua.
"Ya udah, Arya paham. Tapi Mama enggak boleh bersikap kayak gitu ke Keelua, dong. Dia itu anak yang baik, dia selalu bisa ngertiin Anraka bahkan bikin Anraka jadi anak lebih baik seperti yang yang Mama harapkan." Arya mencoba menjelaskan dengan kata kata yang sesingkat dan sehalus mungkin. Ia tak ingin Ibunya merasa tersinggung.
"Semua itu terserah Mama, kamu enggak bisa ngatur ngatur Mama, Arya." Oma Arum membuang wajah kemudian naik ke ranjangnya untuk tidur.
Lagi lagi Arya memijat pelipisnya, ia tau bahwa hal ini tidak bisa didiamkan terlalu lama karena ini berkaitan dengan kedamaian keluarga yang bisa bisa menjadi terganggu karena ada anggota keluarga tersebut yang tidak menyukai anggota keluarga lain. Tentu saja ini adalah masalah.
"Ya udah, Mama istirahat dulu. Arya keluar, ya," kata Arya seraya bangkit dan berjalan ke luar pintu kamar, meninggalkan Oma Arum yang sengaja diam dan mengabaikan anaknya.
Begitu Arya menutup pintu, Oma Arum berbalik dan mendecak kesal.
"Anak itu enggak boleh di sini lebih lama."
...****************...
"Gimana, Pa? Papa udah ngomong ke Oma?"
Begitu masuk ke kamarnya, Arya langsung menemukan sosok istrinya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Udah tapi Oma enggak mau dengar, Oma kayak benar benar enggak suka sama Keelua. Enggak tau juga apa penyebabnya tapi Oma kayaknya punya masalah yang besar sama Keelua," jelas Arya pada istrinya.
"Masalah? Enggak mungkin Keelua bikin masalah sama Oma, bahkan kamu tau sendiri gimana sikap Keelua ke orang lain. Anak itu baik banget dan emang sopan, dia selalu ramah dan enggak pernah macam macam," kata Regina.
Setelah bangkit dari kursi meja riasnya, Regina pun melangkah menuju kasur untuk duduk di sebelah suaminya.
"Aku juga enggak tau, tapi masalah apa pun yang ada di antara mereka berdua, sikap Oma tetap aja enggak boleh kayak gitu. Keelua pasti sakit hati sekali tapi dia tetap senyum dan pura pura tenang. Itu keliatan sekali." Arya menghela napas panjang, mengapa berusaha mendamaikan sesulit ini?
"Makanya kita harus perbaiki ini, Pa. Apalagi Raka juga udah suka banget sama Keelua, aku senang banget ngelihat Anraka sekarang jadi anak yang baik dan enggak pernah ngelakuin kegiatan nakalnya lagi. Aku bahkan udah enggak pernah lihat tangannya Raka merah merah atau mukanya lebam, artinya dia juga enggak pernah berantem lagi," tutur Regina.
Regina memang sangat menyadari perubahan Anraka, anak laki laki satu satunya yang sebenarnya sangat sulit berubah atau pun diubah sikapnya. Namun, dengan sangat mudah Keelua bisa melakukan itu bahkan hingga membuat Anraka patuh padanya.
Memang benar, menemukan orang yang tepat akan membawa kita ke dalam kebaikan. Keelua selalu bersikap baik dan menerima keadaan yang memaksanya untuk menerima Anraka pula.
Walaupun saling benci, tetapi keduanya memilih untuk tidak mengeluh dan tetap menjalani semuanya demi orang tua mereka. Sejujurnya hati Regina sangat sakit saat melihat anaknya harus memaksakan perasaannya, mengingat ia juga pernah ada di posisi itu.
Hingga Keelua dan Anraka sampai pada titik di mana kebencian itu berubah menjadi cinta karena keterpaksaan keadaan yang selalu mempertemukan mereka lagi dan lagi.
"Keelua memang membawa pengaruh baik untuk Anraka makanya kita harus menjaga perasaan kedua pihak. Pihak Keelua dan pihak Oma Arum yang sudah benar benar tidak suka pada Keelua," ucap Arya lagi.
"Kita selalu menjaga perasaan Oma Arum tapi Oma enggak pernah sama sekali ngejaga perasaan kita bahkan anak anak kita yang enggak punya salah apa pun sama dia. Aku bingung, Pa. Apa sebenarnya yang Oma Arum mau?" Regina mulai kesal, ia sekuat mungkin berusaha untuk meredam emosinya yang sebenarnya sudah hampir meledak.
Saat mendengar cacian Oma Arum pada Keelua di meja makan tadi, ingin rasanya Regina mencekoki sup itu ke dalam mulut Oma Arum kembali saat ia membuangnya langsung dari mulutnya. Tidak bisa terbayangkan bagaimana perasaan Keelua yang melihat bahwa makanan yang telah susah payah ia buat di buang begitu saja dan orang yang memakan itu mengatakan bahwa makanan tersebut tidak bisa dimakan.
Sebagai seorang Ibu yang selalu memasak untuk keluarganya, Regina tau betul bagaimana rasanya jika makanan yang telah kita buat dengan teliti disebut tidak enak oleh orang yang mencicipinya.
"Oma Arum itu orang tua kita, Ma. Kita harus sayang dan patuh sama dia, kita harus ngejaga dia dan perasaannya. Walaupun aku tau kadang Oma Arum mungkin nyakitin perasaan kita, perasaan kamu, perasaan Raka dan Angel atau sekarang Keelua. Tapi tetap aja Oma itu orang tua kita. Iya, 'kan, Ma?" Arya menyerongkan tubuhnya lalu menatap mata Regina sambil menggenggam tangannya.
"Aku tau, aku sangat tau itu. Tapi bukannya orang tua harus ngejaga perasaan anaknya juga, ya? Malah kebanyakan orang tua mau anaknya bahagia terus bahkan aku juga gitu, aku mau anak anak aku bahagia terus dan enggak sakit hati karena omongan orang atau bahkan karena omongan aku sendiri pun. Aku enggak mau."
Regina terus mengeluarkan segala keresahannya di depan suaminya, wanita itu tidak peduli meskipun orang yang sedang ia keluh kesahkan ini adalah Ibu dari suaminya sendiri. Suaminya harus tau semua ini agar ia juga bisa berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Oma Arum ini salah dan tidak bisa dimaklumi.
"Aku tau, Ma. Tapi kita harus kayak gimana lagi? Satu satunya hal yang bisa kita lakukan cuma nerima sikap Oma Arum sampai Oma Arum yang sadar sendiri dan tau kalau apa yang udah dia lakuin itu salah," jawab Arya.
Regina geleng geleng kepala, ia sudah tak sanggup membahas ini, hanya emosinya saja yang terus bertambah.
"Ya udah, terserah kamu. Tapi tolong, jangan sampai Mama kamu itu nyakitin hati anak anakku lagi. Hati aku lebih sakit dari mereka kalau mereka disakitin hatinya sama orang lain. Paham?"
"Selamat pagi," sapa Keelua seraya menuruni tangga bersama dengan Anraka di sisinya, wajah pemuda itu masih mengantuk tapi setidaknya sekarang ia sudah bisa bangun lebih cepat.
"Selamat pagi, sayang. Kalian udah mau langsung berangkat sekolah?" tanya Regina yang sedang duduk di ruang tengah sambil memangku laptopnya seperti biasa.
"Iya, Ma. Raka bangunnya lama banget, padahal Keelua udah bangunin dari sejam yang lalu tapi dia baru bangun sekarang. Pemalas banget anaknya," kata Keelua seraya terkekeh.
"Mungkin Raka kecapean, iya 'kan, Raka?" tanya Regina pada Anraka, wanita muda itu tersenyum.
Anraka berdiri dengan malas di depan tangga sambil menggaruk kepala belakangnya, "Gimana enggak susah bangun, orang Raka nemenin dia nonton drama Korea semalaman," jawab pemuda itu.
Raut wajah Keelua berubah namun Regina tertawa di susul oleh Arya yang baru saja datang dari arah kamar.
"Kalian ini emang benar benar lucu, ya," kata Arya sembari duduk di sebelah istrinya dan menyimak obrolan pagi yang menyenangkan itu.
"Enggak gitu, Ma, Pa. Raka itu-"
"Kalau kamu yang salah jangan salahin cucu saya lagi, buat apa kamu kayak gitu di rumah Raka? Kamu mau nyari perhatian di sini supaya kamu bisa dapat kasih sayang lebih dari dia?"
Dari arah kiri tangga tiba tiba seseorang muncul dengan langkah santai menuju ke arah ruang tengah, tempat semua orang berkumpul.
Keelua terdiam, ia merasa kata kata Oma Arum barusan adalah singgungan untuk dirinya. Singgungan yang benar benar menyakitkan.
"Enggak gitu, Oma. Keelua cuma-"
"Kamu ini makin hari makin ngelunjak, ya. Kamu itu harus tau diri, siapa kamu di sini dan siapa Raka di sini, itu harus dibedakan. Kamu cuma orang asing yang masuk ke keluarga kami jadi kamu harus perhatikan semua tingkah laku kamu jangan sampai keterlaluan dan seenaknya saja. Kamu pikir kamu sangat disukai di sini?"
"Oma, cukup."
Bukan Regina atau Arya yang menghentikan kata kata pedis dari Oma Arum, melainkan Anraka sendiri. Untuk pertama kalinya, Anraka membela Keelua di depan semua orang.
"Oma ini kenapa, sih? Oma ada masalah apa sama Keelua? Dari kemarin sampai sekarang kayaknya Oma selalu salah ngelihat Keelua. Padahal dia enggak ngapa ngapain, dia enggak bertingkah seenaknya. Kalau Oma punya masalah harusnya Oma bicarain baik baik, Oma enggak kasian sama Keelua?"
Regina dan Arya pun terpaku, mereka benar benar melihat bahwa Anraka berani menentang kata kata Oma nya sekarang.
"Kamu udah berani ngelawan Oma karena dia, ya? Bagus sekal—"
"Udah, Keel. Kita sarapan di sekolah aja, kita berangkat sekarang," kata Anraka sambil menarik tangan Keelua melewati Oma Arum dan keluar dari rumah begitu saja.
Regina tersenyum, ia bangga melihat sikap Anraka yang sudah sangat berbeda, menjadi lebih dewasa dan membela apa yang ia rasa benar.
Dengan tubuh yang menegang, Oma Arum berbalik dan kembali ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya itu dengan keras.
Arya memeluk bahu Regina lantas berucap, "Aku bangga sama Raka."