
"Makasih ya Bang Raka yang paling ganteng semobil ini, Angel tuh suka banget kalau Bang Raka itu baik kayak gini. Jadi sekarang Angel maafin, ya."
Anraka melirik adiknya yang sedang tersenyum senang dan memeluk semua novel baru miliknya.
Ada Keelua juga di dalam mobil Anraka, setelah perdebatan panjang antara Angel dan Anraka. Angel memaksa Keelua untuk ikut pulang bersama, sedangkan Anraka menolaknya. Namun Angel tetaplah Angel yang keras kepala, akhirnya karena sudah lelah berdebat Anraka pun mengalah.
Sedangkan tanpa rasa canggung Keelua pun naik ke dalam mobil Anraka walau pun ia tau pemuda itu tidak ikhlas. Masa bodo untuk Keelua, yang penting ia bisa pulang dengan aman dan nyaman.
"Buat apa? Gue enggak minta maaf," balas Anraka acuh.
"Bang Raka emang enggak minta maaf sama Angel tapi Angel tau Bang Raka mau beliin semua ini karena merasa bersalah. Dan karena Angel juga peka, jadi tanpa perlu Bang Raka minta maaf, Angel udah maafin. Ngerti?"
Anraka hanya bergumam pelan merespon celotehan adiknya itu.
"Aduh, ini bocil cerewet banget, ya. Kalau jadi adik gue pasti udah gue masukin ke kulkas dari lama." Keelua buka suara.
"Ih, Kak Keel kok gitu?!" protes Angel.
"Emang." Anraka menimpali.
Keelua tertawa pelan lalu beralih melihat wajah datar Anraka dari spion, "Tumben lp setuju sama gue, nyet," katanya.
"Kak Keel sama Bang Raka sama aja. Psikopat." Angel mencebik bibir.
Keelua masih setia cekikikan, "Lah, kenapa emang?"
"Bang Raka pernah mau masukin aku ke kulkas, tapi enggak muat," tutur Angel.
Tanpa bisa menahan lagi, akhirnya Keelua tertawa terbahak bahak. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Angel saat ingin dimasukkan ke dalam kulkas oleh kakaknya yang kurang ajar itu. Hal yang membuat Keelua tidak bisa menahan diri untuk tergelak adalah saat ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Ravi-adik Keelua-ingin memasukkan gadis itu ke dalam kulkas karena kesal akibat Keelua selalu mengganggunya bermain game online.
"Kak Keelua jangan ketawa dong! Ngeselin tau!" Angel memekik kesal.
Mobil Anraka dipenuhi dengan tawa renyah Keelua yang sudah tak mampu gadis itu tahan, ditambah humornya yang memang sangat receh membuatnya tertawa hingga perutnya sakit.
"Lucu aja, kemarin si Ravi juga mau masukin kakak ke dalam kulkas. Kakak cuma ketawa ketawa aja pas dia maksa nutup pintu kulkas tapi enggak bisa," cerita Keelua dengan sisa sisa tawanya.
Angel mendengus, "Pasti Ravi tertekan punya kakak kayak Kak Keel," gumamnya.
Keelua ikut mendengus mengikuti gaya Angel, "Pasti si Anraka tertekan punya adik kayak Angel."
"Kak Keel!"
Keelua kembali tertawa geli, sambil memegangi perutnya yang mulai terasa keram, netra gadis itu kembali melirik ke arah Anraka dari spion. Keelua tidak menyangka mendapati sebuah senyum tipis terlukis di bibir si kulkas berjalan itu.
...****************...
"Keelua cantik nan gemoy pulang!"
"Pulang sama siapa kamu? Kayaknya yang tadi itu bukan mobilnya si Elvano."
"Si El tadi balik duluan, ada urusan mendadak katanya. Tapi aku masih mau ke toko buku jadi kusuruh aja dia pulang," jelas Keelua seraya mendaratkan bokongnya ke atas sofa.
Sekar-Ibu Keelua-yang tadi sempat mengintip dari balik jendela sekarang sedang duduk di depan TV dengan daster kesayangannya. Mengintip anak perempuannya pulang bersama siapa sudah menjadi rutinitas untuknya tapi mengintip secara diam diam.
"Terus tadi balik bareng siapa?" tanya Sekar.
"Bareng Anraka sama Angel," balas Keelua seraya mengeluarkan semua novel yang ia beli menggunakan uang Anraka dan meletakkannya di atas meja.
Sekar menoleh ke arah anaknya, "Lho, katanya ke Mall? Kok ketemu sama Anraka?"
"Ya enggak tau, kok tanya saya."
"Heh, kamu ini, ya. Kurang ajar sama orang tua. Mma nanya serius, Keel," omel Sekar.
Keelua mendengus, "Aku juga jawabnya serius, Ma."
Sekar kembali memfokuskan matanya ke arah TV yang menyiarkan drama series kesukaan Ibu Ibu jaman sekarang, ini adalah drama yang paling ia tunggu setiap malam.
"Eh, ini novel satunya mana, ya? Kayaknya kurang satu deh," gumam Keelua, tangannya sibuk mengecek satu persatu novel yang ada di atas meja.
"Astaga, Keel! Itu novel sebanyak gitu buat apa?! Kamu dapat uang dari mana? Ngepet lagi?" Sekar histeris melihat tumpukan novel yang masih disegel menumpuk di atas meja, ia baru menyadarinya.
Sepertinya ia harus buru buru mengecek kamar Keelua, jangan jangan anak perempuannya itu melakukan ritual malam jumat.
"Buat dimakan kali." Ravi tiba tiba datang dan menjawab omelan Sekar.
"Ngepet lagi? Maksud Mama apa bilang aku ngepet pakai kata lagi? Emang sebelumnya aku pernah ngepet apa?" protes Keelua.
"Lo bocil enggak usah banyak bacot." Keelua melirik tajam ke arah Ravi yang fokus pada ponselnya.
"Ya terus dapat uang dari mana buat beli buku banyak kayak gitu?" tanya Sekar lagi.
Keelua tersenyum bangga, "Gratis dong," ucapnya.
"Anraka."
"Kok bisa?!"
Keelua tersentak lalu menutup kedua telinganya dengan kesal, "Jangan teriak teriak mulu, Ma! Enggak kasian apa sama jantung aku?"
Sekar merubah posisinya dan menghadap lurus ke arah Keelua yang kini sudah duduk di atas tikar dan menghitung semua novelnya.
"Ceritain ke Mama gimana ceritanya kamu bisa ketemu sama Anraka terus dibeliin novel sebanyak ini. Jangan bilang kamu nodong dia," cecar Sekar dengan tatapan menyelidik.
"Yee! Enak aja! Mana mungkin seorang Keelua mau nodong cowok nyebelin kayak dia? Keelua juga punya duit kali," kesal gadis itu.
"Kalau punya duit kenapa mau aja di traktir sama orang?" celutuk Ravi.
"Ya karena gratis lah! Kan kata Bapak Bambang kita tidak boleh menyia-nyiakan anugrah alis anu gratis!" seru Keelua seraya tertawa jahat.
Ravi hanya mendecih lalu kembali bermain game online di ponselnya.
"Mama makin setuju kalau kamu sama Anraka, Keel." Sekar tersenyum jahil ke arah Keelua.
Keelua memutar bola matanya malas, "Enggak. Si kulkas berjalan itu juga pasti enggak mau sama aku," akunya.
"Tumben sadar diri." Ravi kembali menyelutuk.
"Ya emang harus banyakin sadar diri kata Bapak Bambang. Lagian gue juga enggak mau kok sama anak begajulan kayak si Raka, enggak usah banyak omong lo." Keelua melirik adiknya laki lakinya yang sejak tadi membuatnya emosi.
"Sapatau jodoh, kan enggak ada yang tau, Keel," imbuh Sekar.
Ravi malah terkekeh, "Kasian banget si Raka kalau jodohnya kayak kakak gue," gumamnya diiringi suara tembakan dari game yang sedang ia mainkan.
Keelua mencoba menarik napas panjang, memasukkan semua novelnya kembali ke dalam plastiknya dan bergegas untuk pergi ke kamarnya.
"Awas, jangan ke situ, di situ ada musuh!" seru Ravi pada ponselnya.
Keelua tersenyum miring lalu segera mengambil ancang ancang.
"Keel, jangan mulai," tegur Sekar yang masih asik menonton TV tapi sudah mengetahui niat buruk anak perempuannya.
"Satu, dua, tiga! Hiyaaaa!"
Keelua mulai berlari kencang lalu dengan gerakan kilat menarik ponsel Ravi dari tangan si empuhnya, dan melesat cepat masuk ke dalam kamarnya.
"KAK!" pekik Ravi yang baru sadar bahwa ponselnya baru saja dicuri dari tangannya.
"Sial!" umpatnya lalu bangkit dan berniat mengejar Keelua.
"Ravi, omongannya di jaga atau Mama tabok pantat kamu," tegur Sekar.
Ravi mendecak kesal lalu kembali menjalankan niatnya untuk menyusul Keelua.
"Kak! Kembaliin hape gue!"
Terdengar suara tawa Keelua dari dalam kamar gadis itu yang sudah terkunci rapat. Ravi mengetuk pintu tersebut beberapa kali dengan kesal, ingin sekali rasanya ia mendobrak pintu berwarna putih itu.
"Wah, ini cara mainnya gimana, ya?" seru Keelua dari dalam kamar dengan maksud ingin memancing kemarahan sang adik.
"Lo enggak bisa mainin itu! Kembaliin, enggak?!"
"Eh, bisa nembak nembak." Keelua terus menggeser geser layar ponsel Ravi tanpa tau apa yang ia lakukan.
"Kak! Awas lo, ya!"
"Udah, ah. Dikeluarin aja."
"Kalau sampai gue AFK, gue kutuk lo jadi batu! Dasar kakak durhaka!"
.
.
.
.
.
.
.