BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
20. Kabur dari Rumah



Kata orang, rumah adalah istana untuk penguninya namun berbeda dengan Anraka. Pemuda itu menganggap rumah tidak seperti apa yang dikatakan orang, ia menganggap sebaliknya, rumah adalah neraka.


Mengapa pemuda ini bisa berpikiran semenyeramkan itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena ketika ia sudah berada di dalam rumah, ia akan sulit untuk keluar dari sana. Seperti malam ini, geng EX akan mengadakan tanding balapan bersama geng lain yang menantang mereka waktu itu.


Akan sangat memalukan jika Anraka sebagai ketua geng tidak datang ke sana, namun ia tetap harus melewati tantangan seperti malam malam sebelumnya.


Yaitu melewati Oma Arum yang pasti tidak akan membiarkannya keluar malam apa lagi sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 23.32.


"Gue harus buru buru, nih. Anak anak pasti udah nungguin," batin Anraka.


Pemuda itu pun melangkah keluar kamarnya dengan hati hati, menutup pintu kamarnya sepelan mungkin agar tidak ada suara yang ia timbulkan lalu mengendap endap ketika melewati kamar Angel yang berada di sebelah kamarnya.


Begitu hendak menuruni tangga, Anraka sampai berjinjit ketika menuruninya, ia tidak ingin langkah kakinya terdengar oleh siapa pun dan akan membuat rencananya keluar rumah malam ini gagal.


Tantangan yang paling besar untuk Anraka adalah, letak kamar Oma Arum yang berada di paling depan. Jadi Anraka harus benar benar waspada agar tidak ketahuan.


Anraka menarik napas panjang terlebih dahulu, lalu perlahan lahan melangkah dengan langkah yang lagi lagi berat dan pelan. Saking heningnya rumah itu, Anraka sampai bisa mendengar deru napasnya sendiri.


"Bang!"


"Anjing!"


"Ih, enggak boleh ngomong kasa-mphh!"


Tanpa pikir panjang Anraka langsung membekap mulut Angel yang tiba tiba berada di belakangnya dan membuatnya terkejut. Tanpa sengaja Anraka juga mengumpat karena mengira Angel adalah orang lain.


Angel memberontak minta bekapan di mulutnya dilepaskan, mau tak mau Anraka pun melepaskan tangannya yang membekap mulut anak perempuan itu.


"Abamg ngapain, sih? Kok kayak maling gitu? Mau kabur lagi, ya?" tanya Angel.


"Psttt!" Anraka menaikkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat pada Angel agar gadis kecil itu tidak berisik. "Pelanin suara lo," katanya.


Angel lalu menutup mulutnya sendiri lantas berbisik pelan, "Bang Raka mau kabur lagi, ya?" tanya Angel ulang.


"Iya. Enggak usah ngadu ke siapa siapa," balas Anraka.


"Tapi kalau ada yang nanyain gimana?" Angel masih


"Bilang aja enggak tau," kata Anraka.


"Tapi itu kan bohong," sahut Angel masih berbisik.


"Nurut aja kenapa, sih?!" teriak Anraka spontan.


Seketika Anraka tersadar dan lamgsung menutup mulutnya sendiri.


"Tadi katanya jangan berisik," kata Angel.


Anraka mendecak, "Lo ngapain, sih, jam segini masih keluyuran? Kayak tuyul aja," omelnya.


"Angel tadi abis ngambil minum, soalnya lagi marathon drama korea." Angel memperlihatkan gelas berisi air yang ia pegang.


"Udah udah, masuk kamar sana, terus tidur. Enggak usah nonton drama drama jam segini," titah Anraka.


"Kok Bang Raka jadi bawel gini, sih? Kalau mau kabur ya kabur aja. Enggak usah bawelin Angel." Gadis kecil itu balas mengomel.


Alis tebal Anraka menekuk. Kenapa sekarang Angel yang mengomelinya?


"Lo ini masih kecil udah pinter ngelawan Abang sendiri. Cepetan naik atau enggak bakal gue traktir lagi," ancam Anraka dengan nada suara dinginnya.


Angel yang kesal hanya bisa pasrah dan menuruti perintah kakak laki lakinya itu. Seraya melangkah ke arah tangga, Angel terus mengomel tidak jelas.


"Bang, Angel denger suara langkah kaki, kayaknya Oma bakal keluar dari kamar deh," kata Angel lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Urat leher Anraka seketika menegang, pasti yang dikatakan Angel itu benar karena walau pun menyebalkan, anak perempuan itu tidak pernah berbohong.


Suara kunci pintu yang diputar terdengar, Anraka pun panik dan lari ke belakang sofa ruang tengah untuk bersembunyi. Derap langkah kaki terdengar, Anraka mengintip dari balik sofa, tidak salah lagi, itu adalah Oma Arum yang keluar dari kamar dengan piyamanya.


"Tadi kayaknya ada suara Anraka, kok sekarang enggak ada?" Oma Arum berhenti di depan anak tangga menuju lantai dua.


Sambil planga plongo, Oma Arum menghela napas pelan, "Jangan jangan dia mau keluar malam terus balap balapan lagi. Enggak boleh dibiarin," gumam wanita paruh baya itu seraya melangkah naik ke arah tangga.


Sedangkan Anraka yang ada di balik sofa sudah berkeringat dingin karena debaran jantungnya yang kian cepat, ia benar benar takut ketahuan. Begitu ia memastikan Oma Arum sudah naik ke lantai dua untuk mengecek kamarnya, Anraka pun mengambil kesempatan emas untuk melarikan diri.


Anraka menghitung mulai dari satu sampai tiga lalu berlari ke arah ruang tamu namun masih dengan kaki yang berjinjit agar derap langkahnya tidak terdengar.


Pemuda itu pun berhasil keluar dari rumah setelah membuka pintu utama, ia selalu menyimpan kunci cadangan untuk membantunya keluar masuk kapan saja yang ia inginkan.


Anraka pun mendorong motornya dengan cara manual hingga keluar dari pagar, sebelum melakukan itu, Anraka sudah membuka kunci pagar terlebih dahulu.


Pada malam hari tidak ada satpam yang menjaga, karena sudah malam dan kawasan rumah Anraka juga tidak pernah ada maling atau orang orang iseng yang mungkin ingin masuk ke dalam kawasan rumahnya.


Setelah semuanya selesai, pemuda itu pun menghela napas lega lalu menyalakan mesin motornya dan melesat pergi menjauhi rumahnya. Sekali lagi ia berhasil kabur dari rumah, soal dimarahi atau tidaknya itu urusan besok ketika ia pulang.


"Akhirnya bisa keluar juga."


...****************...


"Gila, sedih banget!" Keelua mengusap sudut matanya yang mulai berair sambil terus menatap layar laptopnya yang masih menampilkan sebuah film drama korea.


Tiba tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel gadis itu, menandakan ada seseorang yang mengiriminya pesan. Keelua mendecak lalu menghentikan sementara film drama yang sedang ia tonton lantas meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


Ternyata sebuah pesan dari adik Anraka, Angel.


"Kak Keelua masih marathon nonton?" Isi pesan yang ada di layar ponsel Keelua.


Keelua mulai mengetik pesan balasan untuk Angel. "Iya. Kamu udah selesai, ya?"


Tak lama Angel mengirim balasan lagi.


"Belum. Tapi Kak Keel mau tau, enggak?"


"Tau apa?"


"Kepo, enggak?"


"Apa, Angel?" Keelua mengirim pesan itu sambil menghela napas. Ada ada saja anak ini.


"Bang Anraka kabur lagi."


Sebuah pesan yang baru masuk itu mampu membuat Keelua tersenyum miring.


"Kali ini ketangkep, enggak?"


"Masih enggak."


"Yah. Enggak seru."


"Tapi Bang Raka kasian, ya. Kayaknya tertekan banget."


Keelua tertawa kecil membaca pesan dari Angel itu. Apa yang harus dikasihani dari pemuda nakal seperti Anraka itu? Dia pasti akan melakukan apa saja yang ia senangi tanpa memikirkan orang lain.


Anraka terlalu keras kepala untuk diberitahu atau diberi wejangan serta petuah, kepalanya terlalu sulit untuk mencerna hal hal baik seperti itu. Tapi di balik segala kenakalannya, Anraka hanyalah anak nenek yang sangat sulit untuk keluar rumah, ia bahkan harus kabur terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan teman temannya di malam hari.


Kasian sekali.


"Semoga nanti ketangkep, ya!" Keelua mengetikkan pesan itu sambil tersenyum geli.


Beberapa saat Angel mengirim balasan, "Iya. Biar kapok."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.