
"Gimana? Hari ini jadi, enggak?"
"Jadi. Tengah malam, 'kan?"
"Iya, bro. Kayak biasa."
"Oke. Kita start dari basecamp aja, yang datang duluan nunggu di situ aja, ya."
"Oke."
"Sip."
"Gimana, Raka?"
"Iya. Mungkin juga bakal lama datangnya."
"Enggak apa apa, lo kan harus ngelewatin suhu dulu."
Kelima pemuda itu tertawa.
"Lo juga ikut kan, Ta?"
Yang ditanyai mengangguk, "Iya."
Anraka, Ganta, Romeo, Bumi dan Gibran sedang berada di sebuah cafe, mereka sedang merencanakan kegiatan mereka malam ini. Ada geng lain yang mengajak mereka balapan malam ini, jadi mereka harus mempersiapkan diri.
"Malam ini yang bakal ngewakilin EX siapa?" tanya Romeo.
Si Ganta aja, saran Gibran.
"Lo aja." Bumi menimpali.
"Lah, kok gue?"
"Halah, sok sokan nanya. Gue tahu lo cuma mau dipuji, 'kan?" sinis Romeo.
Gibran terkekeh, "Tau aja lo."
"Tapi emang si Gibran yang paling jago balap di antara kita, kita harus apresiasi itu," tutur Ganta.
"Aduh. Udah deh, jangan muji gue kayak gitu. Nanti gue terbang, enggak ada yang nangkep terus mati gimana?"
"Ya udah, enggak apa apa," imbuh Anraka.
"Kurang ajar!"
Kelima pemuda itu pun tertawa bersama. Tanpa mereka ketahui, meja mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi. Kondisi cafe cukup ramai, keberadaan sekumpulan pemuda tampan tentu saja akan menarik perhatian, terutama untuk para gadis.
"Aduh, malas banget!" Seorang gadis masuk ke dalam cafe dengan wajah cemberut.
"Mbak, saya mau cheese cafe dua sama americano dua, ya. Bungkus."
"Baik. Silahkan ditunggu."
Keelua menyugar rambutnya ke belakang yang terurai begitu saja. Gadis itu sangat kesal karena kalah bermain game dengan Ravi dan sesuai perjanjian yang kalah harus pergi ke luar rumah untuk membeli camilan.
Dan si menyebalkan Ravi meminta cheese cake. Ia memang selalu suka merepotkan Keelua.
Pandangan mata Keelua tiba tiba menemukan sosok lima orang pria yang tentu sangat ia kenal bahkan ketika ia tidak melihat wajah para pemuda itu sekali pun.
Keelua buru buru membalikkan badan, sebisa mungkin menghindar agar salah satu dari kelima pemuda itu tidak melihatnya. Bukan apa apa, hanya saja Keelua sangat malu dengan penampilannya.
Celana yang sangat pendek dan juga hoodie yang menutupi celananya, serta sendal rumah yang membuat penampilannya sangat sederhana dan lebih mirip dengan anak jalanan. Rambutnya juga sangat berantakan karena tidak diikat seperti biasanya.
Sebenarnya Keelua tak apa jika bertemu mereka, namun ia harus tetap menjaga martabatnya sebagai gadis rumahan yang estetik.
"Keelua!"
Mata Keelua melebar. Tidak, jangan sampai mereka melihatnya.
Keelua menutupi wajahnya dengan ponselnya dan melihat ke arah lain. Walau pun Bumi sudah memanggilnya namun ia tetap pura pura tidak dengar dan tidak memperhatikan.
"Mba, ini pesanannya." Suara itu mengagetkan Keelua, gadis itu langsung mendongak dan mengambil pesanannya.
"Makasih." Lalu berbalik.
"Hai."
"Astaga!"
Keelua terkejut ketika Gibran sudah ada di belakangnya, padahal pemuda itu tidak berniat untuk membuatnya terkejut.
"Hai," balas Keelua dengan gugup.
"Kenapa lo pura pura enggak dengar pas dipanggil sama Bumi?" tanya Gibran menyelidik.
"Siapa bilang? Enggak kok." Keelua melirik ke arah Bumi dan anggota EX yang lain.
Bumi melambaikan tangan, Keelua membalasnya dengan senyuman.
"Lo beli apa?"
"Cheese cake sama Americano."
Gibran langsung menarik tangan Keelua lalu mengajak gadis itu untuk pergi ke meja geng EX. Pandangan mata para gadis yang sejak tadi memperhatikan meja para pemuda itu langsung fokus ke Keelua.
"Hai, Keel. Ketemu juga kita," sapa Romeo.
"Tadi gue manggil manggil lo, tapi kayaknya lo enggak dengar." Bumi menimpali.
"Sorry, berisik soalnya."
Alasan bodoh. Keelua merutuki dirinya sendiri, jelas jelas di dalam cafe itu menggema lagu yang sangat slow dan tidak berisik sama sekali.
"Berisik apanya? Gue ada bisa dengar lo napas dari sini ke sana," potong Gibran.
"Aduh!"
Keelua langsung memukul lengan pemuda itu, "Bisa diem, enggak?!"
Gibran mendecak kesal.
"Duduk, Keel," titah Ganta.
"Iya, thanks." Keelua pun duduk di sebelah Romeo.
"Tumben lo keliatan kalem banget, enggak kayak biasanya," tegur Romeo.
Keelua menghela napas pelan, karena ia sedang canggung saja makanya sikapnya seperti ini. Soal sikapnya pada EX beberapa hari lalu ketika di baru keluar dari ruang kesehatan dan akhirnya pingsan lalu diantar pulang oleh Anraka, Keelua merasa bersalah atas sikapnya
"Enggak, anjir. Gue biasa aja."
"Rambut lo diurai gitu boleh juga, kayak ada kesan ceweknya dikit," timpal Gibran.
Keelua terkekeh seraya menundukkan kepalanya, "Bangsat."
Umpatan itu membuat semua pemuda yang ada di sana tertawa, tanpa berdosa Keelua pun ikut tertawa.
"Kalian kok nongkrong jauh banget?" tanya Keelua.
"Kita emang sering di sini," balas Bumi.
Bibir Keelua membulat, "Kok gue enggak pernah lihat? Padahal rumah gue dekat sini."
"Hah? Rumah lo deket sini? Boleh doang kita main ke rumah lo." Romeo memotong.
"Ada ada aja lo. Ada bokap gue!" seru Keelua.
"Kayaknya seru, ayo. Rumahnya dekat banget dari sini," imbuh Anraka seraya tersenyum miring.
Mata Keelua membulat. Tidak, ia akan terkena masalah. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan pemuda datang ke rumahnya? Apa lagi mereka ada lima orang. Ini bencana.
Jika Ayahnya tidak ada di rumah itu tak masalah, namun kali ini Ayahnya sedang istirahat dan pulang ke rumah.
"Enggak! Gue pukul lo ya, Rak," ancam Keelua.
"Ya udah, gass! Gue juga mau sungkem sama bokapnya Keelua, mau tau resep cara bikin anak yang cakep," tambah Ganta.
"Ayolah, kali aja kita dikasih makan," ujar Romeo.
"Masakan mamanya Keelua enak kata si Raka," imbuh Bumi.
Bumi dan Romeo terkekeh lalu bangkit dari kursi mereka.
Pelipis Keelua sudah mengeluarkan peluh, ia tidak mungkin membiarkan para berandal itu datang ke rumahnya sekarang! Bisa bisa ia akan dijadikan sate oleh Pak Bambang.
"Ganta! Tolongin gue!" Keelua merengek pada Ganta agar pemuda itu mau menghentikan aksi gila teman temannya.
Pemuda itu malah tersenyum, tipis sekali. "Udah, ikutin aja. Kali aja seru."
"Jangan, goblok!"
Ganta pun beranjak dari tempatnya menyusul keempat temannya yang sudah keluar dari cafe lebih dulu dan meninggalkan Keelua cafe. yang sudah pucat di kursi
"Jangan! Gue tabok pala lo satu satu, ya!"
Keelua bangkit dari tempatnya lalu ikut mengejar kelima pemuda itu yang sudah beranjak dari ambang pintu cate.
Rumah Keelua sangat dekat dari cafe, hanya perlu menyebrangi jalan dan akhirnya sampai.
Keelua berlari lalu menarik lengan Gibran untuk menahan langkah pemuda itu namun sia sia.
"Udah, ikut aja. Kita cuma mau silaturahmi," ujar Gibran.
"Silaturahmi kepalamu! Enggak usah, belum lebaran!"
"Enggak apa apa, nunggu lebaran kelamaan," timpal Romeo.
"Kalian udah gila apa? Mau dimasukin ke kandang sapi sama bokap gue?!" pekik Keelua.
"Boleh tuh." Bumi menimpali.
Mereka pun memasuki gerbang Keelua yang memang sengaja tidak ditutup oleh gadis itu, kelima pemuda itu pun masuk tanpa takut.
Keelua sudah tidak bisa mengatakan apa pun lagi, ia sudah pasrah dengan nasibnya beberapa menit lagi.
Anraka pun berdiri di depan pintu Keelua, bersiap siap untuk menekan bel. Namun sebelum itu, Anraka melirik ke arah Keelua yang sudah pasrah seraya memijat pangkal hidungnya.
Belum sempat Anraka menekan bel yang ada di sebelah pintu, tiba tiba saja pintu itu terbuka.
"Kalian siapa?"