
"Si Vano lama banget! Bangs-"
Pip.
Akhirnya yang ditunggu tunggu pun tiba, motor Elvano mendarat mulus di hadapan Keelua sebelum gadis itu selesai mengumpatinya.
Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, langit sudah menggelap dan cuaca sudah mulai tidak mendukung.
"Lo kok lama banget sih, El? Gue udah capek nunggunya, kita pasti udah telat nih! Pasti dihukum!" Keelua mengomel bahkan sebelum Elvano menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dengerin gue dulu, Keel. Ini gue baru banget bangun dan langsung nyusul lo ke sini. Niatnya enggak mau sekolah tapi lo maksa," jelas Elvano.
Keelua lagi lagi mendengus kesal dan mendekat ke arah Elvano lalu naik ke atas motor pemuda itu dengan buru buru.
"Ya udah, cepetan. Bentar lagi hujan."
Elvano pun langsung menancap gas tanpa basa basi lagi, langit sudah semakin gelap, tentu saja ia tidak mau membiarkan dirinya dan Keelua terguyur hujan.
"Pegangan, Keel."
Keelua langsung memeluk pinggang Elvano dan bersama sama melaju kencang membelah jalanan yang tidak ramai. Namun sayangnya hari ini keberuntungan tidak berpihak kepada kedua orang itu, di tengah tengah perjalanan menuju sekolah hujan pun turun dengan begitu derasnya.
"Elvano! Hujan!" pekik Keelua.
"Gue tau, Keel. Enggak usah teriak teriak kayak gitu!" Elvano juga ikut berteriak membalas teriakan Keelua.
"Anraka sialan!"
...****************...
Keelua duduk di kursi yang ada di kantin sambil menggigil karena kedinginan, ia menutupi tubuhnya yang dingin hanya dengan menggunakan blazernya yang juga lembab. Gadis itu membolos pelajaran pertama karena terlambat, setelah menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh satpam sekolah agar ia dan Elvano bisa masuk ke dalam sekolah.
Bersama segelas teh hangat di depannya, Keelua terus merutuki seorang Anraka Pranata yang tadi tega meninggalkannya di pinggir jalan.
"Dasar cowok kurang ajar," gumamnya.
"Eh, Keel? Lo ngapain di sini? Enggak belajar?"
Bumi datang dan ikut duduk di sebelah Keelua yang masih kedinginan, Keelua menggeleng, "Enggak. Tadi gue telat, kehujanan terus dihukum lagi."
Astaga. Lo menggigil gitu, ucap Bumi lalu mengangkat tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas dahi Keelua.
"Panas banget, lo demam, Keel." Bumi lalu memeriksa pipi dan leher gadis itu.
Keelua tidak menjawab apa apa, gadis itu hanya terus mengeratkan pegangannya pada blazernya yang lembab.
"Ini blazer lo lembab, Keel. Lepas aja," ujar Bumi seraya mulai melepaskan blazer yang ia kenakan lalu menutupi tubuh kedinginan Keelua.
"Gue antar lo pulang sekarang," ucap Bumi lalu segera menggendong tubuh Keelua dan membawanya ke luar kantin.
Sesampainya di parkiran, Bumi mendudukan Keelua di jok penumpang depan mobilnya lalu berkata;
"Tunggu gue bentar ya, Keel. Gue minta izin dulu ke Guru. Tas lo mana?"
"Di dalam kelas, tadi dibawain sama Lula ke dalam," balas Keelua.
"Oke. Tunggu sini."
Bumi pun berlari sekuat tenaga menuju kelas Keelua dan berniat mengambilkan tas gadis itu juga memintakan izin untuk Keelua karena gadis itu sedang sakit.
"Permisi." Bumi mengetuk pintu kelas Keelua lalu membukanya, pemuda itu menemukan seorang Guru yang sedang memberi materi untuk semua siswa yang ada di kelas itu.
"Silahkan masuk, Bumi," titah Guru itu.
Bumi pun dengan percaya dirinya masuk ke dalam kelas itu dan mendekat ke arah meja Guru.
Para siswi yang histeris melihat kedatangan Bumi ke kelas mereka sudah memekik kesenangan, banyak yang dengan sesegera mungkin mengambil foto pemuda itu diam diam. Seisi kelas yang tadinya aman sentosa kini berubah gaduh hanya karena kedatangan pemuda tampan bernama Pribumi Pradita.
"Ada apa?" tanya Guru yang sepertinya juga teracuni dengan ketampanan Bumi.
"Gini, Bu. Siswi Ibu yang namanya Keelua Ameera tiba tiba sakit karena kehujanan tadi pagi, tadi dia enggak masuk kelas karena terlambat dan akhirnya dihukum. Jadi saya mau izin nganter dia pulang," jelas Bumi.
Lula dan seluruh siswa yang ada di sana terutama para gadis kaget mendengar penuturan pemuda itu. Jadi Bumi datang ke kelas mereka karena ingin minta izin untuk Keelua?
Astaga. Hancur hati mereka.
Setelah mendapatkan izin dari Guru, Bumi pun melangkah cepat menuju bangku Keelua lalu mengambil tas gadis itu. Tak lupa sebelum pergi pemuda itu melayangkan senyuman tipis pada Guru dan siswa yang ada di dalam kelas.
Senyuman Bumi adalah tipe senyuman yang dilihatnya satu detik, terbayangnya seharian.
Sebelum menyusul Keelua di parkiran, Bumi memutuskan untuk menuju ke kelasnya terlebih dahulu. Pemuda itu akan mengambil ponsel dan kunci mobil yang ia letakkan di loker kelasnya.
"Gue pergi bentar, ya," ujar Bumi seraya buru buru membuka lokernya.
Semua teman temannya ada di dalam kelas, geng EX lengkap.
"Mau ke mana lo?" tanya Gibran.
"Mau bolos lo, ya?" timpal Romeo.
Bumi mendecak, "Enggak. Gue mau nganterin Keelua pulang, dia sakit."
"Hah? Ngapain tuh bocah ke sekolah kalau sakit?" tanya Romeo lagi.
"Tadi dia kehujanan pas mau ke sekolah, jadi gitu deh." Bumi mengambil semua barang yang ia butuhkan lalu melangkah keluar kelas, "Gue pergi dulu!" serunya.
"Tumben si Keelua telat."
"Kasian juga tuh bocah, ternyata cewek tengil kayak dia bisa sakit juga."
Anraka yang sedari tadi bungkam sebenarnya mendengarkan obrolan Bumi dan kedua temannya dengan seksama. Ia tidak menyangka aksinya meninggalkan Keelua di pinggir jalan tadi akan membuat gadis itu kehujanan dan sakit.
Harusnya ia tidak meninggalkan gadis itu dan pergi ke sekolah bersama. Anraka seperti merasa tidak enak dan sedikit merasa bersalah.
Namun Anraka langsung menepis segala perasaan yang tiba tiba saja menghantuinya itu. Bukan salahnya jika Keelua kehujanan dan sakit, ia tidak ingin berangkat dengan Keelua tapi ia dipaksa oleh Oma Arum dan gadis itu tidak menolak. Berarti semuanya murni kesalahan gadis itu karena ingin ikut dengannya.
Anraka pun mendengus kesal lalu bangkit dari tempatnya.
"Eh, mau ke mana lo? Ikutan nganter si Keelua?" tanya Romeo.
"Bacot."
...****************...
"Ayo, Keel. Kita langsung balik ke rumah lo, ya?"
Keelua hanya mengangguk pelan, ujung hidungnya sudah memerah dan wajahnya pucat pasi. Dengan panik Bumi mulai menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari lingkungan sekolah.
Mobil Bumi pun menerobos jalanan dan bergerak cepat menuju rumah Keelua. Bumi sangat cemas pada gadis di sebelahnya, ia baru pertama kali melihat kondisi Keelua seperti ini, gadis yang biasanya ceria dan selalu tersenyum jahil kepadanya kini terlihat sangat lemas.
Beberapa saat kemudian, Bumi sampai di rumah Keelua. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Keelua yang luas lalu keluar dari mobil dan kembali menggendong tubuh Keelua.
"Permisi." Bumi berdiri di depan pintu rumah Keelua
Tak lama berselang, pintu itu pun terbuka menampakkan seorang wanita yang merupakan Ibu Keelua.
"Eh, Keel? Kenapa kamu?"
"Keelua sakit, Tante. Saya cuma nganter dia pulang."
"Astaga! Ayo masuk, nak."
.
.
.
.
.
.
.
.