BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
32. Angel Baik - Baik Saja



"Keluar dari sini."


Oma Arum menunjuk ke arah ambang pintu kamar Anraka dan menyuruh Angel untuk keluar dari kamar itu.


Angel menoleh ke arah Anraka terlebih dahulu namun pemuda itu tidak memberikan reaksi apa apa.


Jangan harap Anraka akan membantu atau pun membela Angel, pemuda itu pasti akan diam saja jika ia berurusan dengan Oma Arum. Anraka merupakan cucu yang sangat penurut pada neneknya itu bahkan ia tidak pernah membantah apa pun yang dikatakan oleh Oma Arum.


Gadis kecil itu pun melangkah gontai menuju ambang pintu namun suara Anraka menghentikan langkahnya. Angel berbalik.


"Ini, bawa ke bawah."


Anraka menyodorkan piring mie goreng yang masih tersisa sedikit pada Angel lalu dengan pasrah Angel mendekat lalu mengambilnya.


Gadis kecil itu pun lantas keluar tanpa mengatakan apa pun lagi. Hatinya terasa begitu sakit, bahkan kakaknya sendiri pun tidak membelanya sama sekali, pemuda itu hanya diam ketika melihat adiknya dimarahi dan dimaki maki seperti itu.


Tangan kecilnya yang membawa piring tampak layu dan tidak bertenaga sama sekali, tapi dengan sisa sisa ia ga yang Angel miliki, pun berhasil membawa piring itu ke meja makan. Masih dalam diam, Angel pun mendudukkan bokongnya ke salah satu kursi yang tersedia di meja makan, tatapannya nanar menatap piring makanan Anraka yang tidak pemuda itu habiskan. Jari jari mungil Angel pun akhirnya terangkat dan mengambil mie yang tersisa di piring Anraka tadi lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, Angel memakan sisa makanan Anraka hingga tak bersisa.


Senyum gadis itu mendadak terbit, ia senang karena Anraka menghabiskan makanannya walau pun harus dibantu oleh dirinya sendiri. Angel tidak suka membuang buang makanan, namun ia juga tidak suka makan makanan sisa tapi karena makanan itu sisa Anraka, Angel akan memakannya. Lagi pula, Angel memasak mie itu tadi dengan penuh cinta dan ketulusan hati, sayang saja jika di buang begitu saja ke tempat sampah ketika piringnya akan dicuci oleh Bibi Maryam nanti.


Dari jendela dapur yang mengarah langsung ke halaman belakang, Angel bisa melihat dengan jelas langit sudah mulai tampak keunguan. Sebentar lagi akan tiba waktu malam, waktu di sana Angel bisa menumpahkan segala keluh kesah dan perasaan sedihnya sendirian tanpa harus diganggu oleh sinar hangat mentari yang membuat Angel selalu iri karena sinarnya.


Sinar yang begitu berkilau dan menyilaukan, Angel selalu berusaha untuk menjadi mentari yang bercahaya namun sinarnya selalu saja diredupkan bahkan sebelum sempat menyala.


Angel ingin sekali lari dari rasa lelah dan sakit yang menghantuinya namun untuk berdiri saja ia tak mampu, apa lagi berlari.


Di umurnya yang masih terbilang baru memasuki masa remaja, masalah masalah yang rumit harus gadis kecil itu alami. Terkadang, Angel iri dengan teman temannya yang hidupnya begitu tenang dan berjalan seperti apa yang memang seharusnya terjadi. Sesuai umur dan masa kecil yang menyenangkan.


Angel memang punya segalanya, ia punya fasilitas, rumah yang bagus, uang, keluarga yang lengkap dan tidak perlu khawatir tentang masa depan karena semuanya telah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya sampai gadis kecil itu lulus kuliah nanti.


Namun semua itu tidak ada artinya jika Angel harus hidup dalam kesengsaraan batin terus menerus. Perlahan lahan jiwa Angel terasa mati karena kesehatan mentalnya yang terus memburuk dari hari ke hari.


Gadis itu memang tak mengatakan apa pun tentang perasaannya pada siapa pun tapi semakin ia pendam, perasaan itu akan semakin membuatnya tersiksa.


Angel tak mempercayai orang lain lebih dari dirinya sendiri, mungkin ini yang dinamakan di dewasakan oleh keadaan dan Angel sama sekali tidak menginginkannya. Ia ingin hidup dan tumbuh sesuai usianya. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur dan inilah Angel yang berusaha baik baik saja dengan mental yang terus digempur.


Ada satu hal yang sangat ingin Angel lakukan sekarang. Gadis itu mengambil ponselnya yang memang sejak tadi ia letakkan di atas meja makan sebelum ia naik ke atas, kemudian mencari nama seseorang di daftar kontaknya.


Setelah mendapatkannya, Angel langsung melakukan panggilan. Beberapa saat menunggu, panggilan itu pun diangkat. Hati Angel bersorak gembira.


"Halo?" ucap Angel setelah seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.


"Ini siapa?"


Angel menggigit bibir bawahnya pelan, "Ini Angel, kamu lagi apa, Rav?" balas gadis itu.


"Oh, Angel." Nada suara anak laki laki itu pun berubah, tidak terlalu datar seperti tadi. "Gue lagi main game di rumah, lo dapat nomer gue dari mana?" tanyanya.


Angel bergumam sebentar, apa ia harus mengatakan hal yang sejujurnya? Ia takut Ravi akan marah.


"Kamu mau jawaban jujur apa bohong?" cicit gadis kecil itu.


Ravi menarik napas pendek dari ujung sana, "Jawaban apa aja yang penting enggak bohong."


"Jawaban bohong aja ya tapi kamu harus percaya biar aku enggak dosa." Angel menelan ludahnya, entah mengapa ia begitu tegang padahal mereka berdua nanya berbicara lewat sambungan telepon.


"Dari mana, Angel?" tanya Ravi lagi penuh penekanan.


"Aku nyuri dari hape kamu waktu itu." Angel terkekeh pelan, "Maaf, ya. Soalnya aku malu mintanya, jadi mending aku curi aja." Lantas tersenyum tanpa rasa bersalah walaupun Ravi tidak dapat melihat senyumannya.


"Tumben pakai aku kamu, biasanya lo nyebut nama lo sendiri kayak anak TK," ejek Ravi kemudian.


Mendadak Angel mencebik bibir tapi ia juga baru sadar bahwa tadi ia menggunakan sebutan itu saat berbicara dengan Ravi.


"Enggak apa apa, refleks aja. Gimana? Kamu marah, enggak? Maafin aku, ya."


Ravi bergumam pelan, "Enggak apa apa. Asal jangan diulang lagi, kalau mau apa apa minta aja, enggak usah malu," sahutnya.


Entah mengapa tiba tiba pipi dan hati Angel menghangat, perasaan ini tidak bisa Angel deskripsikan namun bisa membuat suasana hatinya jauh lebih baik.


"Terus lo mau apa? Gue lagi main game tadi, kalau kalah gimana? Untung saja bukan ngejar rank," kata Ravi lagi, suaranya mendadak jutek.


Anak laki laki ini memang gampang berubah ubah dalam waktu singkat.


"Rank apaan?" tanya Angel dengan begitu polosnya.


"Enggak usah dijelasin, lo enggak bakal ngerti. Udah dulu, mandi," ucap Ravi. gue mau


Mata Angel membulat, "Oh, gitu. Ya udah, mandi yang bersih, Ravi."


Panggilan terputus.


Namun setelah suara Ravi hilang dari telinga gadis kecil itu, perasaan sedih mendadak datang dan menghujaninya kembali.


Sepertinya Angel butuh lebih dari sekedar berbincang kecil dengan manusia favoritnya, rasa sakit itu masih bisa terasa.


Tatapan Angel kosong lalu gadis itu melangkah pelan menuju halaman belakang yang terdapat kolam renang di dalamnya. Kaki kurus gadis itu terus membuat langkah langkah kecil hingga akhirnya ia sampai di tepian kolam yang airnya tampak jernih begitu ditimpa cahaya senja yang menguning.


Angel menatap air itu lekat lalu ia memejamkan mata, merasakan semua rasa sakit yang ia rasakan, walau pun ia tau, semakin ia merasakannya akan semakin dalam rasa sakit itu menyakitinya.


Dalam hitungan ketiga, Angel membanting tubuhnya ke atas air hingga ia terjatuh ke dalam kolam yang paling dalam. Pasokan oksigen Angel menipis namun ia tetap memejamkan matanya dan tak berniat untuk bangkit atau menyelamatkan nyawanya.


"Angel baik baik aja," batinnya.


...****************...


"Udah waktunya pulang, Pa."


Regina masuk ke dalam kantor suaminya dengan berkas berkas yang harus pria itu tanda tangani.


Suami sekaligus bos Regina itu mengangguk, namun ia masih sibuk dengan laptopnya.


Arya adalah pemilik perusahaan industri raksasa milik keluarganya yang sudah diwariskan padanya beberapa tahun lalu, dan Regina adalah sekretaris pribadi Arya sekaligus istri pria itu.


"Sebentar lagi, sayang," balas Arya sembari tampak sibuk mengecek berkas berkasnya satu per satu.


Regina pun pasrah dan duduk di atas sofa yang tersedia di ruangan kantor khusus Chief executive officer tersebut. Ruangan bernuansa putih itu sangat luas dengan banyak barang barang mahal di dalamnya, membuat siapa pun yang masuk ke dalam ruangan itu akan langsung terpanah.


Regina sudah menjadi istri Arya sebelum pria itu menjadi CEO perusahaan ini, awalnya Regina hanyalah pegawai biasa yang kebetulan berteman baik dengan anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja yaitu Arya.


Hubungan mereka semakin baik setelah Arya dan Regina mulai menjalin hubungan yang lebih intens satu sama lain. Akhirnya kedua orang itu pun memutuskan untuk melangkah kejenjang yang lebih serius, yaitu menikah.


Di awal rencana, hubungan kedua orang itu awalnya tidak direstui oleh orang tua Arya, terutama Arum, Ibunda Arya. Beliau sangat menentang hubungan anaknya dengan Regina yang sudah berjalan beberapa bulan itu tapi pada akhirnya, karena Arya sangat bersikeras untuk menikahi wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu, Arum pun mau tak mau harus menyetujui hubungan kedua orang itu.


Arya mengancam tidak akan menjalankan bisnis keluarga jika ia tidak diberi restu untuk menikahi Regina, hal itu yang membuat Arum panik karena Arya adalah anak satu satunya.


Dua tahun mengarungi bahtera rumah tangga, akhirnya lahirlah anak laki laki pertama dari pasangan itu, Anraka Pranata. Karena sejak awal Arum tidak menyukai Regina, sikap Arum pada Regina pun terkesan kurang baik bahkan ketika anaknya, Arya, sudah menikahi wanita itu.


Namun, begitu Anraka lahir, Arum sangat bahagia dan mulai bersikap lebih baik kepada Regina. Sejak kecil, Anraka lebih dekat dengan Arum karena wanita itu yang terus bersikeras untuk menjaga anak dari Arya dan Regina itu. Arum menyuruh Regina untuk fokus bekerja saja dan tidak perlu mencemaskan Anraka.


Arum bilang, Anraka sudah berada di tangan yang aman.


Mungkin hal itu lah yang membuat Anraka salah paham sampai sekarang dan bersikap acuh tak acuh pada kedua orang tuanya karena ia menganggap kedua orang tuanya lah yang tidak ingin memperhatikannya.


Sampai saat ini, Regina dan Arya selalu mencoba mendekati Anraka dengan cara halus dan perlahan lahan agar Anraka mau menerima kedua orang tuanya kembali dan juga bisa bersikap lebih ramah.


"Pa, Mama khawatir sama Angel," kata Regina sambil menatap lurus dinding yang ada di depannya, sejak tadi ia hanya melamun saja.


Arya menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali fokus pada laptopnya, "Khawatir kenapa, Ma?" tanya pria itu.


"Mama takut dia lagi ngerasa sedih sekarang karena ucapan Omanya tadi," balas Regina.


Arya menghela napas, "Kita doain aja semoga Angel enggak apa apa, ya. Begitu sampai di rumah Mama bisa ketemu sama Angel dan nanyain langsung ke dia gimana keadaan anak kita yang cantik itu." Pria itu tersenyum ke arah istrinya yang tampak risau.


Regina mengangguk, "Iya, Pa. Perasaan Mama tiba tiba enggak enak aja tentang dia."


"Ya udah, kalau gitu sekarang mending kamu telepon dia dulu buat mastiin dia enggak kenapa kenapa," saran Arya.


Lagi lagi Regina mengangguk lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan hendak menghubungi Angel yang sedang berada di rumah. Walau pun sebentar lagi wanita itu sudah akan pulang ke rumah bersama sang suami, tapi perasaannya sudah tidak bisa menunggu. Ia harus mengetahui keadaan anak bungsunya itu sekarang juga.


Beberapa saat panggilan yang dilakukan oleh Regina berdering namun tak kunjung diangkat oleh Angel. Regina melakukan panggilan berkali kali namun tetap saja anak perempuan itu tidak mengangkat teleponnya.


"Pa, enggak diangkat. Perasaan Mama makin enggak enak deh." Regina menggenggam ponselnya erat erat.


Perasaan resah semakin menghantuinya, ia tidak bisa lebih lama berdiam diri seperti ini terus.


"Mama tenang dulu, ya. Kita pulang sekarang." Arya buru buru merapikan semua berkas berkas yang ada di mejanya lalu menutup laptopnya.


"Ayo, Ma." Pria itu bangkit dari kursinya lalu mengambil tangan istrinya dan langsung keluar dari ruang kantor itu.


Regina mencoba menetralkan deru napasnya dan berpikir positif bahwa Angel pasti baik baik saja. Ada Anraka yang pasti akan menjaga adiknya, pemuda itu tidak mungkin membiarkan adiknya kenapa kenapa apa lagi sampai terluka.


"Angel, semoga kamu baik baik aja, ya, sayang." Regina berdoa penuh harap.


.


.


.