
"Halo, Keel?"
Terdengar suara seorang pemuda yang sangat Keelua hafal suaranya ketika panggilan terhubung.
"Iya, halo, Bumi. Kenapa?" tanya Keelua.
"Lo lagi di mana?" Pemuda itu balas bertanya.
Alis Keelua berkerut, mengapa Bumi bertanya seperti ini? Apa yang harus Keelua katakan? Tidak mungkin ia berkata jujur dan bilang bahwa ia ada di rumah Anraka, bukan?
"Gue lagi di rumah, ada perlu apa?". tanya Keelua. Ia memberi kesan cuek dari tiap nada bicaranya agar Bumi merasa tidak nyaman dan segera menutup teleponnya.
"Gue mau mampir ke rumah lo, boleh enggak?" tanya Bumi lagi.
Jantung Keelua berdetak lebih cepat dari biasanya, apa apaan pemuda ini, mengapa ia ingin datang ke rumahnya?
Dengan gugup Keelua menjawab, "Ke rumah gue? Ngapain? Orang tua gue lagi enggak ada, percuma juga lo datang," balasnya.
"Enggak apa apa, gue cuma mau ketemu sama lo aja. Bentar doang kok, gue mau tau gimana keadaan lo setelah kejadian tadi, lo enggak masuk sekolah ya hari ini?"
Bumi mengajukan banyak sekali pertanyaan hingga Keelua bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Gue enggak apa apa, kok. Beneran. Lo enggak perlu cemas. Gue sendirian di rumah, jangan datang sekarang nanti diomongin yang enggak enggak sama tetangga," jawab gadis itu. "Iya, gue juga enggak masuk sekolah soalnya baju gue basah semua," sambungnya.
"Kalau lo mau, gue bisa bawain lo baju baru supaya lo enggak perlu nunggu baju lo itu kering dulu sampai besok. Atau gue bawain tas sama sekalian?" tawar Bumi.
Mata Keelua melebar, "Enggak perlu, Bumi. Gue enggak apa apa, baju, tas sama sepatu gue masih bisa dipakai, gue enggak perlu yang baru. Terima kasih banyak, ." Keelua menelan salivanya dengan susah payah.
Anak orang kaya memang sangat pandai menghambur hamburkan uang mereka yang sebenarnya sangat berharga untuk orang orang kecil yang sedang kepayahan mencari uang yang mereka anggap sedikit itu.
"Lo yakin enggak butuh itu semua? Padahal gue pengen banget datang dan ngasih lo itu semua." Bumi mendecak dari ujung sana.
"Lain kali aja, ya. Kita pasti ketemu lagi di sekolah besok, makasih karena udah perhatian sama gue, lo baik banget," kata Keelua sebelum berniat menutup telepon itu.
Keelua melirik ke arah Anraka, pemuda yang sedari tadi duduk dan bermain game di atas sofa itu menatapnya dengan tatapan aneh.
"Lo mau gue bawain makanan, enggak?" tanya Bumi lagi.
Keelua menarik napas panjang, laki laki ini terlalu baik hingga membuatnya tidak enak.
"Enggak usah, gue udah masak kok. Makasih, ya."
"Kalau gitu-"
"Gue kayaknya harus istirahat dulu, deh. Soalnya kepala gue tiba tiba pusing, kalau lo mau, lo bisa traktir gue di kantin besok. Gimana?" saran Keelua.
Ia sebenarnya tidak ingin merepotkan Bumi namun karena pemuda itu terus meminta direpotkan jadi terpaksa Keelua harus memanfaatkannya.
"Oh, iya. Ya udah, lo istirahat dulu. Gue pengen ngomong sesuatu yang penting sama lo, mungkin besok. Gue bakal ngasih tau tempatnya, nanti kita ketemu di sana aja, ya."
Lagi lagi Keelua berkerut dahi, apa yang ingin pemuda ini katakan padanya lagi? Rasanya ia tiba tiba berubah menjadi gugup padahal Bumi sedang tidak ada di depannya sekarang.
"Sama sama, Keel. Jaga diri baik baik, ya," ujar pemuda itu.
Dengan sigap Keelua buru buru mematikan teleponnya, lantas menarik napas panjang.
"Si Bumi emang sebaik itu ya orangnya?" tanya Keelua pada Anraka yang sedari tadi diam.
"Dia cuma caper," balas Anraka singkat.
"Caper? Caper kok niat banget, sih. Enggak mungkin, ah. Dia kayaknya emang baik orangnya," balas Keelua.
Anraka tidak mengatakan apa apa lagi, ia hanya diam dan memperhatikan Keelua yang duduk dan bersandar di sofa yang ada di depannya.
Keduanya akhirnya memutuskan untuk sama sama tidak pergi ke sekolah, sebenarnya Keelua ingin hanya saja bajunya benar benar basah dan tidak bisa dikeringkan dengan cepat.
Mau tak mau, keduanya harus tinggal di rumah dan bersantai seperti tidak punya beban.
"Gue masih curiga sama lo," kata Keelua tiba tiba.
Anraka tidak menoleh, ia tetap fokus ke game yang sedang ia mainkan.
"Kenapa lo tiba tiba baik banget ke gue, lo pasti punya alasan untuk itu. Dan karena gue tau lo orangnya gimana, jadi mending sekarang lo bilang sama gue, apa yang ada di dalam pikiran dan hati lo yang busuk itu." Keelua menatap Anraka dengan tatapan mengintimidasi.
"Malas banget." Anraka memberikan respon yang sangat tidak berarti, itu tak menjawab pertanyaan Keelua sama sekali.
"Bodo amat kalau lo enggak mau ngomong sekarang, tapi suatu saat lo pasti bakalan ngomong dan jujur ke gue. Lo kan goblok kadang kadang," ucap Keelua seraya memakan kue yang ada di atas meja.
Berbeda dengan rumahnya, makanan dan cemilan di rumah Anraka selalu siap tersedia kapan saja dan tidak pernah habis. Sedangan di rumahnya, cemilan hanya akan ada saat ada seseorang yang berhati baik mau membelinya atau saat ada acara tertentu saja, itu pun akan habis dalam waktu satu hari, tidak akan lebih.
Anraka tetap tidak mengatakan apa pun, namun Keelua tidak henti hentinya berbicara karena gadis itu juga sudah terbiasa dengan sikap suaminya yang minta digelandang aparat.
"Ayo." Tiba tiba Anraka bangkit dan mengajak Keelua untuk pergi.
"Heh? Ke mana? Lo enggak ada angin, enggak ada hujan tiba tiba ngajak orang pergi aja." Keelua menatap Anraka bingung.
"Cepetan, gue tunggu di mobil. Dalam dua menit lo enggak datang, gue suruh Bumi ke sini buat nyulik lo." ancam pemuda itu.
Ancaman macam apa itu? Keelua tidak takut tapi ia tak mau Bumi menemukannya di rumah keluarga Pranata, pemuda itu pasti akan tau semua rahasia.
Dengan malas, Keelua langsung bergerak dan pergi ke atas untuk mengambil tasnya. Ia malas berurusan dengan Anraka yang keras kepala dan tidak bisa diberitahu. Jadi biar saja, Keelua akan mengikuti semua yang pemuda itu inginkan selama tidak merugikannya.
Setelah siap, Keelua keluar kemudian tak lupa mengunci pintu, ia juga pamit pada Bibi Maryam terlebih dahulu.
"Kita mau ke mana, sih?" tanya Keelua begitu ia memasuki mobil Anraka.
"Lama lo."
Anraka melirik Keelua, alisnya terangkat ketika melihat penampilan gadis itu. Keelua hanya mengenakan kaos oblong polos dan dipadukan dengan celana jeans pendek lalu memakai tas kecil yang sepertinya hanya muat hape saja.
"Bumi enggak perlu beliin lo apa apa, gue yang bakal ngasih semua yang lo mau."