BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
50. Malam ini



"Kenapa muka kamu?"


"Berantem."


"Berantem sama siapa?"


"Sama cewek kurang ajar." yang mulutnya


"Astaga, Keel."


Keelua duduk tertunduk, wajahnya penuh dengan beberapa bekas cakaran. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah namun gayanya seperti berandalan yang tidur di jalanan.


"Keluarga calon suami kamu bakal datang malam ini, kamu yakin enggak malu kalau muka kamu kayak gini?" tanya Sekar.


Keelua mengangkat kepalanya,


"Enggak apa apa, sapatau abis lihat muka aku yang kayak gini mereka mau batalin perjodohan ini," sahut Keelua.


"Keren, kak! Lo harus sering sering berantem kalau ada orang yang bikin lo kesel." Dari ujung sofa Ravi menyeletuk.


Sekar menarik napas panjang, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia akan membiarkan wajah Keelua berantakan seperti ini saat acara resmi dua keluarga nanti malam berlangsung?


"Ya udah, kamu ganti baju dulu. Mama siapin makanan," kata Sekar lalu melenggang pergi menuju dapur.


Ravi yang melihat ibunya bergerak menjauh dari ruang tengah dengan buru buru menghampiri Keelua dan menepuk keras bahu kakak perempuan itu hingga si empuh mengaduh.


"Lo luka luka kayak gini, si cewek yang lo ajak berantem luka juga, enggak? Apa lo kalah?" tanya anak laki laki itu tanpa basa basi.


"Dia pingsan," sahut Keelua santai.


"Lo emang benar benar kakak gue!"


...****************...


"Megalodon, megalodon!"


"Sadar, Ngel!"


"Astaga, Bang! Kita di mana? Kita enggak tenggelam, 'kan?!"


"Lo enggak bisa lihat? Kita lagi di mobil, kita harus pulang sekarang. Tadi Mama ngabarin gue katanya kita harus pulang segera, ada hal yang penting banget."


Angel menoleh ke sana ke sini seperti orang bingung, seingatnya malam itu mereka masih berada di tengah laut dan hanya berdua di pulau yang jaraknya sangat jauh dari daratan. Bagaimana bisa kini dirinya dan Anraka sudah ada di dalam mobil dan sedang di perjalanan pulang ke rumah.


"Di villa kan enggak ada sinyal, gimana caranya Mama ngabarin Bang Raka? Terus kenapa kita tiba tiba bisa ada di sini? Semalam kita masih ada di pulau itu, 'kan?" tanya Angel masih dengan wajah kebingungannya.


"Semalam kita ditolongin sama nelayan, lo kayaknya pingsan karena enggak bisa dibangunin. Paginya lo masih belum sadar juga akhirnya gue punya inisiatif buat pulang dan mampir ke rumah sakit dulu tapi di perjalanan Mama ngabarin gue dan sinyal udah ada," jelas Anraka. "Tapi bagus lah lo udah sadar, kita bisa langsung ke rumah dulu. Lo ngerasa baik baik aja, 'kan?" tanyanya.


Dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil, Angel mengangguk pelan, gadis kecil itu harus istirahat lebih banyak, kepalanya masih sedikit pusing.


"Enggak lama lagi kita bakalan sampai di kota, lo mau makan dulu, enggak?" tanya Anraka.


Mereka berdua belum makan sejak kemarin, akibat terdampar di pulau yang hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Anraka tau, Angel pingsan karena kelelahan dan karena perutnya belum diisi sama sekali. Pemuda itu sangat cemas namun ia berusaha untuk terlihat baik baik saja agar Angel juga bisa tenang.


"Angel makan di rumah aja, udah enggak terlalu jauh, 'kan? Kayaknya Angel udah enggak ada tenaga kalau harus makan di luar," balas Angel.


Anraka hanya mengangguk dan kembali fokus menyetir, mereka harus tiba secepatnya di rumah dengan keadaan selamat sentosa. Ini sudah siang, sedangkan Anraka berangkat sejak pagi tadi. Untung saja Angel siuman sebelum mereka sampai di rumah, kalau tidak, entah akan sepanik apa Regina dan Arya nanti.


Dalam hati Anraka bertanya tanya, kira kira hal penting apa yang akan orang tuanya katakan padanya. Apa mungkin ini soal keadaan Oma Arum? Atau soal perjodohan jodoh itu lagi? Anraka tidak tau, yang pemuda itu tau sekarang adalah ia harus segera sampai di rumah dan memberi adik perempuannya makan yang banyak serta mengembalikan senyum di bibir merah muda itu.


"Mama mau ngomong apa sama Bang Raka, ya? Apa mau bahas soal perjodohan?" tanya Angel dengan suara pelannya.


Anraka hanya mengangkat kedua bahunya acuh, dia juga tidak tau.


Selama satu jam menempuh perjalanan, akhirnya Anraka dan Angel sampai di rumah mereka. Sudah ada Regina, Arya dan Oma Arum yang menunggu tengah. di ruang


"Gimana liburannya, sayang?" tanya Regina pada Angel.


Angel hanya tersenyum lalu mengangkat kedua ibu jarinya, "Asik, Ma."


"Ikut gue, Angel," ajak Anraka bahkan sebelum keduanya mendudukan diri.


"Eh, mau ke mana?" tegur Regina.


Kedua kakak beradik itu segera meluncur ke dapur dan mencari makanan. Mereka berdua benar benar kelaparan dan setuju untuk tidak menceritakan kejadian kemarin malam pada orang tuanya.


Anraka baru sadar, ternyata


banyak orang yang menghubunginya sejak kemarin, mungkin karena ia sudah dua hari tidak masuk sekolah tanpa surat keterangan.


"Kalian lapar banget? Emang enggak makan dulu?" tanya Arya.


"Enggak sempat," balas Anraka.


Angel hanya diam saja, gadis kecil itu sudah duduk di sebelah Regina dengan kedua tangan yang bertaut, ia siap mendengarkan penyampaian yang akan orang tuanya katakan.


"Kita mulai aja, ya. Oma Arum yang bakal ngomong, supaya lebih detail dan jelas," seru Arya.


"Maaf, Raka. Kami terpaksa ganggu waktu liburan kamu karena hal yang sangat penting. Oma lupa ngasih tau kamu kalau malam ini kita udah ada jadwal buat ketemu sama keluarga calon istri kamu dan ini enggak bisa ditunda," terang Oma Arum.


Suasana hati Anraka langsung berubah drastis, pemuda itu sudah tau sejak awal.


"Kamu udah enggak bisa nolak, ini udah jadi keputusan yang terbaik. Oma cuma mau kamu dengerin apa kata Oma dan enggak bikin drama drama aneh yang akan kamu sesali nanti," tekan Oma Arum.


Mau tak mau, suka tak suka, Anraka hanya bisa menurut. Angel yang sudah hampir menyela ucapan Oma Arum terhenti karena sudah lebih dulu mendapat isyarat dari Regina untuk tetap tenang dan tidak mengatakan apa pun.


Hati Angel hancur berkeping keping karena harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa melakukan apa apa untuk sang kakak.


Anraka bangkit lalu melangkah cepat menaiki tangga untuk segera pergi ke kamarnya, ia tak ingin mengatakan hal buruk di tempat ini, ia harus pergi ke tempat lain untuk menenangkan diri.


Selain kamar, memangnya dimana lagi tempat yang paling aman untuk mengurung diri?


Menumpahkan semua air mata yang selalu ditahan di depan orang lain, memeluk sendiri jiwa yang rapuh, membiarkan kepala tertunduk lesu. Menjadi diri sendiri tidak selalu harus kuat, menjadi diri sendiri artinya menerima segala kekurangan. Di dalam kamar, siapa pun akan menjadi siapa dirinya sebenarnya. Tidak ada pura pura.


"Bang Raka.." Angel terus menatap kepergian kakaknya dengan mata yang mulai memanas.


Baru kemarin mereka berdua bercerita tentang bagaimana sedihnya jika keduanya hidup tidak berdampingan lagi, sekarang jarak yang tak terlihat itu terasa semakin dekat. Angel masih ingin berlama lama dengan kakaknya.


"Angel, tunggu, nak!"


Tak menghiraukan panggilan Regina, Angel pun ikut bangkit dan mengejar langkah Anraka, gadis kecil itu tau bahwa sekarang kakaknya sedang sangat hancur dan benar benar butuh seseorang untuk berada di sampingnya.


"Bang, Bang Raka! Bang Raka enggak sendirian kok, Angel juga enggak mau perjodohan ini!"


Angel berteriak dari luar kamar Anraka, benar benar meyakinkan kakaknya bahwa semua ini akan baik baik saja.


Air mata Angel sudah mengalir deras, ia bisa mendengar suara Anraka mengeram kesal dari dalam sana, perasaan gadis kecil itu pun kian campur aduk.


"Bang Raka jangan ngerasa sendirian, Angel selalu ada buat Bang Raka."


...****************...


Malam yang ditunggu tunggu untuk beberapa orang pun tiba, keluarga Keelua sudah siap menyambut kedatangan tamu spesial mereka malam ini.


Gadis dengan wajah lesunya itu hanya duduk di atas ranjangnya dan menatap lurus ke arah kaca, di sana ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya yang kini sedang memakai dress indah berwarna putih ditambah sentuhan aksesoris berwarna gelap. Rambutnya yang biasa ia kuncir tinggi dan asal kini sudah tertata rapi dan anggun oleh Ibunya.


Keelua akui, ia sangat cantik. Sayangnya waktunya tidak tepat, malam ini sama sekali tidak memberikan kesan bahagia untuk gadis itu.


Siapa yang akan bahagia jika dipaksa untuk menerima perjodohan yang sama sekali tidak pernah diimpikan?


Keelua kesal namun ia tak bisa menolak.


"Wih, make up tebal banget kayak ondel ondel."


Seseorang datang dan menegur Keelua dari tempatnya berdiri, siapa lagi jika bukan Ravi. Anak laki laki itu berdiri di ambang pintu, pakaiannya sudah rapi namun raut wajah bahagia juga tidak ada di wajahnya.


"Gue deg degan, takut yang datang ntar om om atau aki aki tua yang udah peot. Gue enggak mau punya ipar yang enggak sesuai standar," ucap anak laki laki tadi.


Keelua masih diam, ia terlalu malas untuk meladeni mulut banyak celoteh Ravi. Apa anak itu tidak tau bahwa Keelua sedang sedih?


"Gue tau lo lagi sedih tapi jangan sampai lo malu maluin juga dengan adegan make up bedak lima lapis lo itu luntur," caci Ravi lagi.


Keelua memejamkan matanya, menarik napas panjang kemudian menoleh ke arah Ravi yang masih setia berdiri dan memperhatikannya dari daun pintu.


"Lo kalau enggak bisa bantu mending pergi aja deh, gue malas kalau ada lo di sini," ucap Keelua dengan nada pelan namun menyakitkan.


"Lo mau minta bantuan apa emang? Udah enggak ada lagi yang bisa dilakuin, malam ini mereka bakal nentuin tanggal pernikahan. Bentar lagi lo udah jadi istri orang."


"Tapi gue enggak mau," balas Keelua.


"Jadi lo mau apa? Lo mau kabur dari rumah? Ayo, gue temenin," tawar Ravi.


"Enggak kabur dari rumah juga, dong. Gue mau tinggal di mana? Kasian juga Mama sama Papa, nanti mereka malu kalau sampai gue kayak gitu, sesat banget otak lo." Keelua menghela napas tipis.


"Ya emang kayak gitu 'kan jalan satu satunya? Kalau lo enggak mau Mama sama Papa malu, ya udah lo harus ketemu dulu sama keluarga yang udah ngelamar lo. Gue juga penasaran sama muka muka orang yang kebelet banget nikah, semoga aja bukan om om pedo atau kakek kakek yang udah bau tanah," kata Ravi dengan santai.


"Lo jangan bikin gue naik darah, gue gampar lo yang ada," kesal Keelua.


"Keelua, Ravi! Ini tamunya udah datang. Sini, sayang."