BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
49. Nelayan



"Bang, udah malam banget.


Gimana, nih?"


"Kita nginep di sini aja, udah enggak ada cara lain."


"Gimana kalau air laut tiba tiba pasang? Kita bisa tenggelam, Bang," lirih Angel dengan mata sembabnya, gadis itu sudah lelah menangis.


Anraka mendekat ke arah Angel lantas merangkul bahu anak perempuan tersebut, "Enggak. Gue enggak akan biarin lo kenapa kenapa, kita bakal selamat, sebentar lagi kita bakal pulang ke villa."


"Tapi gimana caranya?" tanya


Angel lagi.


Anraka juga bingung tapi ia tak bisa membiarkan adiknya ketakutan seperti ini.


"Sekarang lo tidur, gue jagain lo di sini," titah Anraka, ia tak menerima bantahan.


"Tapi-"


"Kalau lo mau kita selamat, dengerin gue." Anraka menekan setiap ucapannya.


Mau tak mau, Angel pun akhirnya memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Anraka.


Angel tidak tau apa yang akan terjadi padanya dan kakaknya malam ini, satu satunya hal yang ada di dalam kepala gadis kecil itu adalah ia ingin pulang dan kembali ke rumah.


Tiba tiba Angel membenci tempat ini, malam ini adalah kenangan yang paling buruk untuknya. Pikiran pikiran aneh dan perasaan yang semakin memburuk tiap menitnya membuat Angel gelisah.


Bagaimana caranya ia bisa tidur pulas dalam keadaan terjebak di pulau tanpa kepastian akan selamat atau tidak seperti ini? Bagaimana jika air benar benar naik dan menenggelamkan mereka di tempat ini? Bahkan tidak ada yang tau bahwa mereka berada di sini, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka sekarang.


Dan bagaimana jika megalodon benar benar ada? Bagaimana jika tiba tiba ikan raksasa itu muncul dan memangsa mereka? Angel ketakutan, tangannya gemetar dan perutnya kelaparan.


Setidaknya Anraka bersamanya, Angel akan selalu merasa aman saat kakaknya ini berada di sisinya.


Anraka melirik ke sana ke mari, apa benar benar tidak ada orang yang bisa membantunya dan Angel untuk pergi dari pulau ini?


Angel sepertinya sudah tertidur, tubuh gadis itu sudah tak gemetar dan gelisah seperti tadi.


Pemuda itu hampir pasrah, ia merelakan apa saja yang terjadi padanya jika memang ini sudah ditakdirkan untuknya namun ia tak bisa membiarkan Angel ikut sengsara bersamanya. Jika bisa memilih, Anraka ingin menyelamatkan Angel saja, dirinya bisa diurus nanti.


Sebuah sinar cahaya dari lampu senter tiba tiba menyilaukan mata Anraka, pemuda itu langsung mencari asal cahaya itu dan mencari tau dari mana datangnya.


Begitu mendapati sebuah perahu nelayan mengapung dan mendekat ke arah mereka, semangat hidup Anraka seolah kembali berkobar. Pemuda itu membaringkan tubuh Angel di pasir putih secara perlahan lantas mencoba menarik perhatian para nelayan tersebut dengan cara menepuk kedua tangannya dan melambai lambai serta sesekali berteriak minta tolong.


Seperti yang diharapkan, orang orang yang berada di dalam perahu tersebut menyadari kehadiran Anraka di pulau yang tak berpenghuni itu.


"Ngapain di sini, Mas? Dia kenapa?" tanya seorang nelayan yang turun dari perahu dan melihat Angel sedang terbaring di atas pasir.


"Saya sama adik saya enggak bisa pulang karena perahu kami hanyut, tolong saya sama adik saya, Pak."


Entah bagaimana Anraka menjelaskan betapa bahagianya dia saat bisa berbicara dengan manusia lain di pulau ini.


"Ayo, kita bawa adik Masnya pulang."


...****************...


"Selamat pagi, Keelua. Pagi pagi udah cantik aja nih."


Gadis yang baru saja disapa oleh sekelompok pemuda itu hanya melirik sinis lantas bergumam, "Baru sadar gue cantik?"


"Keel! Keel! Keel! Tunggu!"


Dari arah belakang terdengar pula suara seorang gadis yang lagi lagi memanggil Keelua namun nadanya panik dan terburu buru.


"Kenapa, La?" tanya Keelua ikut panik.


"Selamat pagi," balas Lula sambil terkekeh pelan.


Keelua memutar bola matanya malas lantas berbalik dan meninggalkan Lula yang berhasil membuatnya panik.


"Tungguin, dong!" Lula kembali mengejar Keelua dan menyamai langkahnya. "Lo kenapa enggak masuk sekolah kemarin?" tanya gadis berambut sebahu itu.


"Enggak apa apa, lagi malas aja. Bad mood," sahut Keelua santai.


"Si Raka juga enggak masuk kemarin, malas banget. Padahal salah satu penyemangat gue masuk sekolah itu kan dia makanya kemarin gara gara dia enggak masuk sekolah, gue jadi lemes seharian," eluh Lula.


"Lebay lo," caci Keelua. "Tapi beneran si Raka enggak masuk?Tumben banget, bolos kali, ya?" tebak gadis itu.


Lula mengangguk kukuh, poni gadis itu berayun seirama dengan anggukan kepalanya.


"Raka beneran enggak masuk sekolah bukan bolos, buktinya teman temannya yang lain ada. Enggak mungkin dia bolos sendirian, 'kan? Mana berani juga dia bolos, kan biasanya ada lo yang jadi mata mata Omanya," tampik Lula.


Keelua terdiam, ia berpikir sebentar. Apa Angel berada di dalam masalah lagi? Apa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Anraka tidak masuk sekolah? Keelua penasaran.


"Apa kalian janjian buat enggak masuk, ya? Atau lo sama Raka bolos berdua, iya?!"


"Ngaco! Diem lo!"


Tak mau ambil pusing, akhirnya Keelua kembali melangkah lebih dulu meninggalkan Lula yang terlalu banyak bicara. Keelua sadar bahwa ia cerewet namun sepertinya Lula lebih cerewet darinya.


Dengan buru buru Keelua merogoh sakunya lantas mengeluarkan ponsel dan beralih menelpon seseorang.


"Halo, Rav? Lo di mana?"


Saat panggilan terhubung Keelua langsung menodong oknum yang ada di ujung sana dengan pertanyaan.


"Bus."


"Lo kemarin masuk sekolah, enggak?" tanya Keelua lagi.


"Enggak."


"Kalau lo sampai di sekolah, tanyain ke teman teman kelasnya Angel, kemarin Angel masuk sekolah apa enggak. Oke?"


"Ya."


Panggilan terputus.


Keelua mengeram kesal, bisa bisanya Ravi mematikan panggilan yang masih terhubung padahal ia belum selesai bicara.


"Angel siapa, Keel?" Lula dari sisi sebelah kanan Keelua bertanya.


"Adiknya Raka," balas Keelua.


"Astaga, Ravi sama Angel satu sekolahan juga? Ya ampun! Gue enggak kuat banget!" Tiba tiba Lula memekik kesenangan.


"Jangan bilang lo lagi ketempelan jin penjaga koridor," ucap Keelua.


"Sembarangan lo!" Lula kemudian memukul singkat lengan atas Keelua.


"Ya udah."


"Lo mau tau kenapa gue senang banget pas dengar ternyata Ravi sama adiknya Raka itu satu sekolahan?" tanya Lula pada Keelua.


"Enggak," balas Keelua acuh.


"Ya udah kalau lo maksa, gue bakal jelasin secara detail ke lo." Lula masih melangkah santai di sebelah Keelua yang melangkah gontai.


"Padahal gue bilang enggak mau__"


"Jadi gini, gue kan kenal sama Ravi, Ravi itu adik lo, bener kan?" Lula mulai menjelaskan padahal Keelua sudah bilang bahwa ia tak ingin mendengar itu semua.


Keelua terdengar menghela napas panjang, "Iya," jawabnya.


"Nah, Angel itu adiknya Anraka. Ravi sama Angel itu satu sekolahan, berarti adiknya Raka itu satu sekolahan sama orang yang gue kenal." Raut wajah Lula sangat serius sampai membuat Keelua mendengarkan dengan seksama.


"Terus?"


"Berarti ada kemungkinan gue sama Anraka jodoh! Iya, enggak, sih?!" pekik Lula dengan penuh semangat.


"Mimpi lo!"


"Apaan sih lo?"


Seseorang tiba tiba menyeletuk dari arah belakang, Lula kemudian menoleh dan melirik sinis gadis gadis yang baru saja menyindirnya.


Tak hanya gadis gadis yang baru saja menyindir Lula, bahkan Keelua pun jengah mendengar pendapat tidak masuk akal dari Lula yang bisa bisanya menyambungkan hal yang benar benar tidak cocok. Ada ada saja, apa benar Lula ini temannya?


"Iya enggak sih, Keel?" tanya Lula sambil menyenggol lengan Keelua.


"Bodo amat, La. Terserah lo."


Keelua merasa cukup. Sudah cukup dengan semua omong kosong yang Lula katakan, ia tak sanggup lagi mendengar yang lainnya.


Gadis dengan rambut dikuncir rendah itu pun kemudian membuka pintu kelas lalu masuk ke dalamnya, di ruangan tersebut belum terlalu ramai, Keelua dan Lula memang gemar datang lebih dulu di banding teman teman mereka yang lain. Bukannya apa apa, Keelua hanya menghindari tatapan tatapan para pemuda yang seperti sangat memujanya dan tatapan dari para gadis yang seolah ingin memakannya hidup hidup.


"Belum banyak yang datang, kita datangnya terlalu pagi," ucap Lula.


"Enggak apa apa, gue lebih suka kalau enggak banyak yang datang," sahut Keelua.


Kedua gadis yang memang duduk bersebelahan itu akhirnya mendaratkan bokong mereka ke atas kursi seraya menyimpan tas yang mereka bawa ke tempatnya.


Belum beberapa menit keelua menghela napas lega dan baru sepatah kata yang Lula keluarkan dari mulutnya yang tidak bisa berhenti bicara, tiba tiba terdengar suara pintu kelas dibuka dengan gerakan buru buru.


Sontak atensi siapa saja yang ada di dalam ruangan kelas tersebut langsung teralihkan dan fokus ke arah pintu.


"Keelua!"


"Eh, iya. Kenapa?"


Keelua sedikit kaget saat Gibran seperti mendobrak pintu dan buru buru lari ke mejanya.


"Lo lihat Anraka, enggak? Kok dia enggak kelihatan dari kemarin? Dihubungin juga enggak bisa. Kalian berdua kemarin janjian buat barengan enggak masuk sekolah, 'kan?" tanya Gibran dengan napas yang masih memburu.


Mata Keelua melebar, "Enggak lah! Enak aja kalau ngomong! Gue juga belum ketemu sama si Raka dari kemarin. Enggak mungkin juga gue mau bolos bareng dia, najis banget!" seru gadis itu.


"Enak aja lo ngomong najis tentang Raka, emang lo siapa?" celetuk seorang gadis yang tampaknya mengikuti langkah Gibran dan masuk ke dalam kelas Keelua.


"Lo yang siapa? Enggak sopan banget motong omongan orang. Lo di situ belain Anraka, emangnya lo pikir Anraka kenal sama lo? Enggak usah banyak omong kalau enggak mau berurusan sama gue," hardik Keelua dengan tatapan sinisnya.


Gibran menoleh ke belakang dan melihat orang yang baru saja Keelua teriaki kemudian kembali menoleh lagi ke arah Keelua.


"Lo kenapa, Keel? Tumben banget emosi gitu," tegur Gibran.


"Dia lagi PMS, udah enggak apa apa. Biarin aja," celetuk Lula.


"Jadi beneran lo enggak tau Anraka di mana? Lo enggak bolos bareng dia kemarin?" Gibran mengulangi pertanyaannya.


BRAK!


"Siapa yang bilang, sih?! Bisa bisanya ada yang nyebar gosip tentang gue apalagi disangkut pautin sama si Raka sialan itu!"


Keelua menggebrak meja dengan keras, suasana hatinya benar benar buruk sejak kemarin ditambah lagi dengan mulut orang orang di sekolah ini yang tidak bisa dijaga. Rasanya Keelua ingin sekali mengamuk.


Gibran terdiam lantas dengan susah payah menelan salivanya, ini pertama kali ia melihat Keelua semarah ini. Biasanya gadis itu berdebat dengan Anraka dan membuat keduanya sangat emosi tapi tidak pernah sampai separah ini.


"Gue baru aja dengar dari teman teman kelas gue, Keel." Gibran bergumam kecil.


"Siapa yang bilang?! Bawa orangnya ke depan gue! Berani beraninya dia!"


Gibran menoleh ke belakang, mencari sosok gadis yang tadi diteriaki oleh Keelua, gadis itu adalah gadis yang sama yang mengatakan padanya bahwa Keelua bolos bersama dengan Anraka kemarin.


"Lah, kemana dia?" Sosok gadis itu hilang tanpa jejak padahal tadi dia berani memotong obrolannya dengan Keelua.


"Cewek tadi kemana, Keel? Dia yang ngasih tau gue, kok malah pergi, sih?" Gibran mengusap tengkuknya.


"Udah ah, pergi sana. Gue enggak tau si Raka kemana, gue bukan pawangnya. Lo datang ke rumahnya aja biar tau, jangan ganggu gue!" pekik Keelua.


"Eh, Keel. Tunggu!"


Lula memanggil nama Keelua seiring dengan langkah kaki gadis itu yang melenggang pergi meninggalkan kelas.


Keelua tak menghiraukan apa pun dan siapa pun, ia hanya tetap melangkah cepat meninggalkan semua orang yang memperhatikannya.


"Keel?" Bumi menatap bingung Keelua yang baru saja melewatinya begitu saja, wajahnya tampak mereka seperti orang yang sedang marah.


Bumi buru buru menyusul Gibran yang tadi mengatakan akan pergi ke kelas Keelua untuk menanyakan keberadaan Anraka yang tiba tiba lenyap begitu saja.


"Eh, Keelua kenapa?" tanya Bumi saat masuk ke kelas Keelua dan menemukan Gibran dan Lula masih geming di tempat mereka.


"Dia marah," balas Lula.


"Iya, dia marah. Marahnya kenapa? Enggak mungkin tiba tiba marah tanpa alasan, 'kan?" Bumi menatap Gibran dan Lula bergantian.


"Nanti aja gue jelasin, kita kejar si Keelua dulu nanti dia beneran ngamuk lagi," saran Gibran.


"Gimana kalau dia nyari si cewek yang tadi? Bisa bisa tuh cewek di cakar cakar sama si Keelua," timpal Lula.


"Astaga, iya! Mampus gue!"