BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
12. Pelukan kecil dari Ravi



"Woi, bagi duit!"


Salah satu teman gadis kecil itu menepuk bahu anak laki laki yang sedang duduk sendirian di pinggir lapangan.


Si gadis kecil hanya memandangi dari beberapa meter di belakang anak laki laki yang sedang dipalak oleh teman temannya.


"Kayaknya gue tau deh dia siapa," gumam sang gadis. "Mirip Ravi, tapi pasti bukan."


Sang gadis melihat anak laki laki yang sedang dipalak oleh temannya tidak berkutik, ia tidak mengindahkan kehadiran tiga teman si gadis itu.


"Eh, lo dengar, enggak?"


Anak laki laki itu melirik sebentar, lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Songong banget tuh orang." Si gadis kecil mulai kesal, ia pun berniat untuk turun tangan memalak anak laki laki itu.


Sepertinya dia belum tau siapa penguasa sekolah ini.


Dengan congkaknya si gadis melangkah menuju tempat ketiga temannya itu berdiri, ia pun hampir melihat wajah anak laki laki itu.


"Kenapa?" tanya sang gadis ke temannya.


"Dia belagu, dimintain malah kayak gitu," ujar salah satu anak laki laki tersebut.


"Kayaknya dia belum tau siapa kita." Si gadis menaikkan kedua lengan bajunya dan bersiap menghadapi anak laki laki kurang ajar itu.


"Woi!"


Anak laki laki tadi menoleh dengan malas.


Wajah sang gadis langsung pucat pasi, "R-Ravi."


"Kenapa?"


"Kok kamu ada di sini?"


"Kamu?!" Tiga anak laki laki yang ada di belakang sang gadis kaget mendengar kata itu keluar dari mulut anak perempuan yang tomboi tersebut.


"Gue pindah ke sini kemarin. Lo sama teman teman lo mau malakin gue?" Anak laki laki itu pun berdiri.


Si anak perempuan tengil tadi malah mengangguk kemudian menggeleng.


"Iya apa enggak?" tanya sang anak laki laki memastikan.


"Iya. Eh, enggak."


Anak perempuan itu pun spontan menepuk dahinya. Ia benar benar merasa bodoh sekarang.


"Enggak, Ravi. Aku enggak malakin orang kok."


Anak laki laki di hadapannya tidak mengubah ekspresinya sama sekali, matanya lalu naik memandang tiga anak laki laki lain yang berdiri di belakang gadis kecil itu.


"Kalian temannya?"


Tiga anak laki laki itu pun mengangguk.


"Jagain dia." Ravi mengangkat tangannya lalu menepuk pucuk kepala gadis kecil yang punya pipi bulat itu.


"Jangan nakal, Angel."


...****************...


"Ma, kakak mana?"


"Tumben nyariin kakak kamu." Sekar sedang duduk di depan TV menunggu film favoritnya.


"Biasanya dia nemenin mama nonton TV." Ravi ikut duduk di sofa depan TV.


"Kakak kamu lagi sakit," ujar Sekar.


"Sakit? Kenapa?"


"Tadi pas mau ke sekolah, dia kehujanan katanya terus demam deh. Lagi tidur tuh di kamar."


"Eh, mau ke mana kamu?"


Tanpa mengatakan apa pun, Ravi pun bangkit dari sofa lalu berjalan ke arah kamar Keelua.


Ravi tidak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Keelua tanpa permisi. Ternyata benar, Keelua sedang terlelap di atas kasurnya, tubuhnya ditutupi dengan selimut tebal.


Anak laki laki itu melangkah mendekat lalu memandangi wajah kakaknya yang tidak menyebalkan seperti biasanya.


"Kalau dilihat lihat, gue mirip ya sama lo, kak. Tapi dikit doang," batin anak laki laki itu.


Ravi kembali menatap ke sekitar, kamar kakaknya sangat redup dan barang barang tidak berguna berantakan di mana mana. Hati kecil Ravi tergerak untuk berbuat baik, entah angin dari mana yang membawa perasaan ini tapi tangannya sudah bergerak untuk merapikan meja belajar Keelua yang sebenarnya tidak pernah di tempati untuk belajar.


Ravi juga memunguti pakaian Keelua yang berserakan di lantai lalu memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Menyapu lantai kamar itu agar terlihat rapi dan bersih.


Setelah selesai, Ravi pun duduk di kursi yang ada di meja belajar Keelua. Ravi tidak berniat untuk segera keluar dari kamar kakak satu satunya ini, ia mungkin akan di sini lebih lama, untuk menemani Keelua.


Walau pun jarang sekali akur dan selalu meributkan hal hal kecil, sebenarnya Ravi begitu peduli pada Keelua. Sifat Ravi yang cuek dan sifat Keelua yang bisa menertawakan apa saja membuat mereka tampak tidak cocok dari luar, padahal kakak beradik ini adalah dua orang yang saling membutuhkan satu sama lain.


Keelua juga sangat khawatir ketika Ravi hanya bisa mengeram kesakitan saat kakinya diurut waktu itu, sampai sampai Keelua memeluk Ravi erat sekali ketika anak laki laki itu ingin menangis sebab menahan sakit.


Di balik sikap cueknya, Ravi sangat menyayangi Keelua.


Tangan Ravi bergerak membuka laptop Keelua yang ada di depannya lalu menyalakannya. Ia hanya ingin melihat lihat isi laptop kakaknya itu, mungkin saja ia akan menemukan hal hal lucu untuk membuli kakaknya.


Ravi mengecek satu persatu file yang ada di dalam laptop itu, tidak ada yang menarik sampai sebuah file mengalihkan atensinya.


Sebuah file bernama; Ravi <3


Dengan penasaran, tangan Ravi pun membuka file itu. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati semua foto foto masa kecilnya bersama Keelua tertata rapi di sana.


Mulai dari foto bayi Ravi, foto ketika Keelua kecil mencium pipi adiknya yang masih sangat kecil dan menggemaskan, Ravi yang mulai beranjak besar, kali pertama Ravi bisa duduk, hari pertama Ravi bisa berjalan dan banyak lagi.


Banyak sekali foto masa kecil Keelua dan Ravi di dalam sana. Tak heran, karena Ayah mereka memang suka mengabadikan setiap momen yang keluarganya lalui.


Ravi mendecih pelan ketika menemukan banyak foto aibnya juga di dalam laptop Keelua. Foto ketika ia tertidur dan Keelua menarik hidungnya, foto ketika ia botak, foto ketika gigi Ravi ompong dan foto lucu mereka berdua.


Astaga. Lucu sekali.


Hampir saja Ravi ingin menghapus foto foto aib dirinya di laptop kakaknya itu namun ia mengurungkan niatnya. Biarkan saja Keelua menyimpan semua foto bodoh itu jika ia mau, tidak tau alasan Keelua menyimpannya namun ia tau bahwa kakaknya menganggap foto itu berharga. Ravi


Ketika sedang asik melihat lihat foto yang ada di laptop Keelua, tiba tiba terdengar suara Keelua yang mengeram pelan. Ravi menoleh dan mendapati Keelua membuka matanya.


Gadis itu mengucek mata mengantuknya pelan lalu menoleh ke arah Ravi yang duduk di meja belajarnya dan laptopnya terbuka.


"Eh, lo ngapain di sini, cil?"


"Nama gue bukan Acil," balas Ravi.


Keelua menguap pelan lalu memeluk bantal gulingnya, "Lo ngapain di sini, hah? Ngapain lo buka buka laptop gue, enggak ada video aneh kok di dalamnya."


"Siapa juga yang mau nyari video aneh? Gue cuma gabut," balas Ravi.


"Lo khawatir ya sama gue?" tanya Keelua dengan mata yang masih terpejam.


Ravi menelan salivanya, "Enggak. Enggak ada kerjaan banget."


Keelua pun bangkit dan meregangkan tubuhnya, matanya melebar mendapati kamarnya sudah bersih dan rapi.


"Lah, ini kamar gue kok rapi banget? Siapa yang bersihin? Enggak mungkin kan gue tidur sambil bersih bersih." Keelua lalu menoleh ke arah Ravi yang diam di tempatnya.


Gadis itu memincingkan mata lalu tersenyum curiga, "Lo yang bersihin, Rav?"


Ravi menggeleng, "Bukan."


"Kata Pak Bambang enggak boleh bohong. Lo bohong, ya?"


"Abisnya kamar lo kayak kandang sapi, berantakan banget." Secara tidak langsung Ravi mengaku bahwa dialah yang membersihkan kamar Keelua.


"Oh, jadi lo." Keelua tertawa, "Baik banget deh adikku tersayang." Lalu tersenyum manis ke arah Ravi.


Ravi mengidik ngeri melihat tatapan menjijikan dari Keelua itu.


"Lo sakit, kak?"


Keelua mengangguk kukuh, "Iya, kakak lo yang cantik ini lagi sakit. Tuh, panas banget." Lalu ia memegangi dahinya sendiri.


"Makanya kalau hujan itu neduh, jangan bego."


"Eh, nih bocah ngomongnya enggak sopan banget sama kakaknya," omel Keelua.


"Maaf."


"Peluk dulu, dong!" Keelua tertawa jahat seraya merentangkan tangannya. Ia tau setelah mendengar itu Ravi akan langsung keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apa pun lagi.


"Eh, kok?"


Tanpa disangka, Ravi datang mendekat lalu memeluk tubuh Keelua sekejap.


"Jangan sakit, kak. Gue enggak suka."


.


.


.


.


.


.


.


.


.