
"Bumi enggak perlu beliin lo apa apa, gue yang bakal ngasih semua yang lo mau."
Keelua menoleh dengan tatapan bingung, "Apa lo bilang? Gue juga enggak mau kali, enggak usah ngomong seolah olah gue minta apa apa ke Bumi. Gue 'kan cuma bilang dia baik aja."
"Kalau dia baik sama lo, lo bisa suka sama dia," balas Anraka.
Alis Keelua mengerut lebih dalam, "Apa apaan sih lo? Lagian kalau gue suka sama dia apa urusannya sama lo? Bukannya itu bagus, ya? Kalau gue suka sama si Bumi, otomatis gue pengen nikah sama dia dong, jadi lo bebas. Goblok banget jadi orang, hal yang enggak perlu dipermasalahin aja pakai dibahas segala," omelnya.
"Lo enggak bakal bisa jadi istri dia," ujar Anraka dengan tenang.
"Kenapa enggak?" tanya Keelua balik.
"Karena lo istri gue."
Keelua hanya bisa geleng geleng kepala, ia sungguh tak mampu membaca isi pikiran Anraka yang benar benar tidak tertata. Apa mau pemuda ini sebenarnya?
"Gue heran deh sama lo, gue enggak tau alasan lo apa makanya lo bisa jadi tiba tiba peduli sama gue. Gue enggak tau apa rencana lo sampai lo tiba tiba berubah dan seolah olah nerima gue jadi istri lo sekarang padahal dulu lo benar benar benci sama gue. Ada apaan sih? Apa yang tiba tiba ngerubah lo? Apa jangan jangan lo bukan Anraka, lo kembarannya, ya?" Keelua menatap Anraka dengan tatapan mengintimidasi, pemuda itu benar benar berubah menjadi aneh.
"Lo enggak perlu tau, lo perlu lo tau sekarang gimana caranya dandan biar kalau gue bawa lo ke mana mana enggak malu maluin," balas Anraka namun tidak menjawab pertanyaan penting yang diajukan oleh Keelua.
"Malas banget, lo siapa nyuruh nyuruh gue?" kesal Keelua dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Gue suami lo."
Keelua mengangkat kedua tangannya lantas menutup telinganya yang tidak kuat mendengar kalimat yang baru saja di keluarkan oleh Anraka.
"Stop pakai kata kata yang bikin gue geli, Rak. Kita sama sama tau kalau kita ini enggak saling sayang, kita nikah karena dipaksa jadi lo jangan sampai bikin gue muntah di sini," sungut Keelua.
"Gue enggak peduli."
Tak ingin mempedulikan Anraka lagi, Keelua menatap keluar jendela. Tiba tiba saja kerinduan akan rumahnya kembali memenuhi hati gadis itu, perasaannya mendadak kacau dan yang ia inginkan hanya menangis dan menangis setiap saat. Padahal bisa saja jika ia hanya ingin bertemu dengan Ibu dan Ayahnya serta adiknya. Namun, yang Keelua inginkan adalah pulang bukan hanya sekedar berkunjung lalu pergi lagi.
Sedangkan keluarga Keelua seolah olah tak dapat menerima Keelua lagi di rumah mereka, Ibu dan Ayah gadis itu memaksa anak mereka untuk tinggal di rumah suaminya dan tidak boleh menginap terlalu lama.
Keelua yakin, kedua orang tuanya mengkhawatirkan suntikan dana yang keluarga Pranata suntikan pada mereka diambil kembali.
Keelua sangat mengerti bahwa kedua orang tuanya sedang ada di dalam kesusahan namun dirinya sendiri tidak punya seseorang yang dapat mengerti selain Ravi, adiknya. Sungguh, Keelua tidak tahan tinggal di rumah yang bukan rumahnya, ia tak mau hidup bersama orang orang yang baru saja ia kenal dan belum mengenali pribadi mereka satu persatu.
Contohnya saja Oma Arum, wanita paruh baya itu sangat baik dan ramah padanya tetapi ternyata nenek kandung Anraka itu sering bersikap tidak adil pada adik Anraka, Angel. Beliau sering membeda bedakan Anraka dengan gadis kecil itu, entah apa sebabnya tapi Keelua sudah berjanji untuk terus menjaga Angel, apa pun yang terjadi pada gadis itu.
Belakangan ini Keelua sudah mulai melihat sifat dan sikap asli Oma Arum selama mereka tinggal bersama. Ternyata wanita paruh baya itu cukup sarkas dan tidak dapat meng-filter ucapannya ketika berbicara dan mungkin hal itu lah yang membuat Angel hampir depresi.
"Udah sampai, turun."
Keelua yang sedang asik dengan pikirannya hanya mampu terdiam dan menatap ke depan. Mobil Anraka ternyata berhenti di parkiran bawah tanah yang tampaknya adalah parkiran mall.
"Ini di mall? Ngapain lo ngajakin gue ke mall?" tanya Keelua sebelum keluar dari mobil.
"Soalnya kalau ngajak ke KUA 'kan udah," balas Anraka dengan santai tanpa memikirkan efek yang bisa Keelua terima.
Keelua mendengus saja, ia malas meladeni Anraka yang benar benar selalu ingin menguras emosinya.
Gadis itu akhirnya turun dari mobil lalu menunggu Anraka keluar juga. Tanpa mengatakan apa pun, sang pemuda langsung berjalan lebih dulu tanpa mengindahkan Keelua yang padahal sedang menunggunya.
"Selamat datang, Tuan Anraka," sambut seorang satpam yang menjaga pintu masuk.
Keelua sontak terkejut, bagaimana bisa satpam di mall ini mengenal Anraka? Mereka teman atau apa? Atau mungkin Anraka memang terkenal di kalangan satpam.
Keelua tidak tau.
"Eh, kok satpam itu tau nama lo? Dia manggilnya pakai kata Tuan lagi, udah kayak boss aja lo," tanya Keelua seraya terkekeh.
"Gue yang punya mall ini," jawab Anraka dengan santai.
Keelua harus berjalan dengan cepat agar bisa menyamai langkah Anraka yang lebar karena kakinya yang panjang.
Keelua tertawa, ia benar benar tidak menyangka bahwa Anraka ternyata bisa berimajinasi tinggi juga seperti dirinya. Bagaimana mungkin pemuda seperti Anraka mengatakan hal seperti tadi? Tentu saja itu harusnya menjadi hal yang memalukan jika dikatakan oleh seorang ketua geng yang sangat jarang memberi lelucon itu.
"Lo jarang ngelawak tapi sekalinya ngelawak lucu banget, ya," ledek Keelua masih dengan sisa sisa tawanya.
"Gue enggak ngelawak." Anraka terus berjalan, sorot matanya menerawang jauh ke depan. Mimik wajahnya pun biasa saja seperti orang yang benar benar serius.
"Kalau lo enggak ngelawak, berarti maksud lo ini mall yang segede gaban punya lo gitu? Lo yang punya gedung super luas ini gitu? Lo yakin? Kok gue enggak percaya." Keelua tidak yakin, ia hanya belum pernah melihat seorang pemuda yang masih berstatus pelajar sudah mampu memiliki mall besar seperti ini kecuali di dalam novel yang ia baca.
"Terserah." Anraka memilih diam, percuma saja jika ia menjelaskan semuanya pada seorang gadis bodoh yang tidak pernah bisa serius. Tentu saja ia tak akan percaya.
Tak lama berselang, Anraka berhenti di sebuah toko baju yang di dalamnya terlihat sangat mewah. Kemewahannya membuat mata Keelua berbinar.
"Gila, pasti mahal banget di sini. Kaki gue sampai gemetar." Keelua berdecak kagum.
"Ambil apa pun yang lo suka, enggak perlu lihat harga, lo cuma perlu milih nanti gue yang bayar."