
Oma Arum dan Arya memasuki ruangan Angel dengan tenang, namun tiba tiba saja kedua orang itu terkejut saat melihat tatapan Regina yang begitu tajam ke arah mereka, terutama ke arah Oma Arum.
"Sayang? Kamu kenapa?" Arya mendekat ke arah Regina, berusaha menenangkan istrinya.
"Kenapa Mama Arum bohong sama aku? Mama juga bohong ke mas Arya," tanya Regina pada sang mertua.
Dahi Oma Arum yang sudah dihiasi kerutan semakin berkerut, "Ngomong apa kamu ini? Kamu mau nuduh saya lagi?" ketusnya.
"Raka yang barusan bilang sama aku, Ma. Kalau Mama yang udah ngebanting piring yang aku lihat di kamar Raka tadi dan Mama ngebanting piring yang Angel pakai untuk makan itu di hadapan Angel juga," lirih Regina dengan penuh air mata.
Arya terkejut mendengar penyataan itu, matanya melirik ke arah sang Ibu lalu beralih ke arah Anraka.
"Raka, apa itu benar?"
Anraka mengangguk kukuh seraya menatap kedua tangannya yang saling bertaut di antara pahanya.
"Ma, kenapa Mama lakuin itu ke Angel? Mama tau kan gimana lemahnya mental dia?" tanya Arya dengan begitu lembut namun ada nada kecewa di dalamnya.
Oma Arum mendengus kesal, "Salah dia sendiri. Kenapa dia bikinin cucu saya makanan yang enggak sehat? Harusnya kalau mau makan makanan kayak gitu makan sendiri aja, enggak usah ngasih ke Anraka. Saya yakin kok si Angel itu maksa Raka buat makan," celoteh Oma Arum membalas pertanyaan Arya, anaknya.
"Enggak, Oma. Raka yang mau kok, Angel cuma nawarin aja," celutuk Anraka.
Untuk pertama kali, akhirnya Anraka berani buka suara ketika hal seperti ini terjadi. Biasanya jika Oma Arum melakukan hal yang membuat Angel menangis atau diam berjam jam di kamar, Raka tidak pernah mau angkat bicara jika ada yang bertanya padanya tentang kejadian yang sebenarnya walau pun ia mengetahui semuanya. Bukan karena Anraka tidak peduli pada Angel, melainkan karena Anraka takut akan dimarahi oleh Oma Arum jika ia berani menceritakan apa yang ia lihat.
"Mama dengar sendiri, 'kan? Mama enggak seharusnya ngelakuin itu, Ma." Arya kembali memberi pengertian pada Ibunya yang tampak ogah ogahan mendengar kata katanya itu.
"Anraka itu enggak tau apa yang udah dia lakuin, karena hatinya aja yang baik jadi dia nerima apa yang dikasih sama Angel, padahal sebenarnya dia enggak mau," sergah Oma Arum, wanita itu terus saja membela dirinya dan juga Anraka yang sudah mengaku salah.
"Enggak, Oma. Anraka yang-"
"Diam, Anraka!" bentak Oma Arum yang berhasil membuat Anraka langsung membungkam mulutnya.
"Cukup, Ma! Mama udah ngebentak dan ngelempar piring di hadapan Angel sampai anak perempuan aku kayak gini, sekarang Mama mau marahin Raka juga? Aku enggak akan biarin itu!"
Oma Arum mengeram kesal lalu berteriak, "Kalian ini benar benar bikin saya pusing aja, ya! Buang buang waktu saja ke sini cuma buat ngelihat keadaan anak enggak tau diri kayak dia. Kerjaannya nyusahin terus!"
"Mama!" Arya dan Regina berteriak spontan bersamaan.
"Sudah, mending saya pulang aja, enggak penting sekali ada di sini." Oma Arum menatap jengah, "Ayo, Raka, pulang sama Oma," ajak Oma Arum pada Anraka.
Anraka menggeleng, "Enggak, Oma. Raka mau di sini aja jagain Angel," tolak Anraka.
"Ya sudah, terserah kamu saja." Oma Arum berbalik lalu keluar dari ruangan Angel tanpa rasa bersalah sama sekali.
Regina pun kembali terisak, hatinya mendadak sakit ketika mendengar sang mertua mengatakan hal seperti itu tentang anaknya. Entah bagaimana perasaan Angel jika ia sendiri yang mendengar kata kata menyakitkan seperti itu dari neneknya sendiri.
Arya menarik tubuh Regina mendekat ke arahnya lalu pria itu membiarkan sang istri menangis tersedu sedu di bahunya sambil mengelus punggung wanita itu dengan pelan.
"Udah, Ma. Maafin kata kata Oma, ya," bisik Arya kepada Regina yang tidak bisa membendung tangisnya.
"Aku enggak tau setegar apa hati Angel, Pa. Aku enggak tau apa yang selama ini dia tanggung," lirih Regina seraya terisak.
Anraka bangkit lalu berjalan gontai ke arah bangsal Angel, tangan pemuda itu naik untuk membelai rambut legam adiknya. Pemuda itu menatap Angel lekat, seolah olah ini adalah kali terakhir ia bisa melihat wajah cantik adiknya.
"Maafin Bang Raka, Dek. Maaf."
...****************...
Oma Arum masih berdiri di depan rumah sakit untuk menunggu taksi online yang ia pesan, wanita paruh baya itu merogoh tasnya lalu mengambil ponsel dari dalam sana.
Beberapa saat kemudian, Oma Arum pun mulai memanggil nomer yang sejak tadi ingin ia hubungi.
"Halo, sayang."
"Halo. Kenapa, Oma?"
Terdengar suara ceria dari ujung telepon.
"Kamu bisa ke rumah sakit, enggak?" tanya Oma Arum.
"Ke rumah sakit? Oma lagi sakit?!" pekik kaget Keelua dari ujung telepon.
Oma Arum tersenyum, "Enggak, sayang. Adiknya Raka sakit, jadi cucu kesayangan Oma itu lagi jagain dia. Kamu tolong temenin dia, ya, soalnya Mama Papanya Raka pasti bakal pergi lagi abis ini. Oma enggak mau Raka jagain adiknya sendirian," terang Oma Arum.
"Angel sakit, Oma? Ya udah, Keelua siap siap terus ke sana, ya. Oma tolong kirimin alamatnya aja ke nomer Keelua, ya." Keelua membalas.
"Oke, sayang. Makasih, ya," kata Oma Arum lalu langsung mematikan sambungan.
"Andai Keelua itu cucuku."
Sementara Keelua sudah terburu buru mencari baju yang layak untuk ia pakai ke rumah sakit, sambil menerka nerka kira kira apa yang telah terjadi pada Angel hingga menyebabkan gadis kecil itu masuk rumah sakit.
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Anraka? Apa pemuda itu yang menyebabkan semuanya? Jika iya, cucu kesayangan Oma Arum itu sudah sangat keterlaluan.
Angel adalah gadis kecil yang baik dan ramah meskipun ia punya sisi gelap yang tidak semua orang ketahui, tapi di luar dari itu semua, Anraka seharusnya menjaga adiknya, senakal apa pun dia.
Keelua bisa melihat sikap Anraka yang acuh tak acuh pada Angel jika ia sedang bersama sepasang kakak Keelua bisa melihat sikap Anraka yang acuh tak acuh pada Angel jika ia sedang bersama sepasang kakak dan adik tersebut, tapi sifat Anraka memang sudah seperti itu sejak lahir dan tidak dapat dirubah. Walaupun begitu, Keelua tau bahwa Anraka sangat peduli pada adiknya, hanya saja pemuda itu tidak pernah menunjukkannya secara langsung.
Sifat Anraka hampir sama seperti Ravi; adik Keelua, hanya saja Ravi masih sedikit lebih lunak dibanding Anraka yang sudah sedingin es batu.
Gengsi seorang Anraka tentu saja tinggi, mungkin lebih tinggi dari rasa malunya.
Saat asik memilih milih baju, tiba tiba terdengar suara pintu diketuk, Keelua spontan menoleh ke arah pintu dan muncul lah sosok Ravi yang menyembulkan kepalanya.
"Kak, beli mie ayam, yuk!" ajak Ravi.
Mata Keelua melebar, "Boleh, di mana?" tanyanya balik.
"Di Mas Mas langganan kita aja, warungnya buka. Gue lapar banget nih abis mandi," kata Ravi sambil memegangi perutnya yang rata.
Keelua mendecak, "Abis mandi sama lapar apa hubungannya." Lantas melangkah ke arah pintu dan melupakan tujuannya memilih milih baju.
"Kita beli mie ayamnya jalan kaki aja, ya," ucap Ravi yang berjalan lebih dulu di depan Keelua.
"Kok enggak naik motor aja, sih? Gue malas jalan kaki sore sore kayak gini. Udah mau gelap lagi," tolak Keelua dengan bibir yang
"Kok enggak naik motor aja, sih? Gue malas jalan kaki sore sore kayak gini. Udah mau gelap lagi," tolak Keelua dengan bibir yang maju.
Ravi memutar bola matanya malas, kakaknya ini manja sekali.
"Enggak apa apa, seru tau. Di luar pasti pemandangannya bagus banget, udah senja," sahut Ravi lagi.
Keelua mendecih, "Sok sok an lihat senja, anak indie lo sekarang?" cibirnya.
"Indie tuh penyanyi yang terbitin lagu sendiri, bego. Bukan orang orang yang suka lihat senja sama minum kopi di atas gunung. Lo kalau enggak tau istilah mending enggak usah dipakai. Gue geprek lo ntar," jelas Ravi dengan sedikit emosi.
Bicara dengan Keelua memang tidak bisa tidak menggunakan emosi.
Keelua kemudian mencibir, "Bodo amat, pokoknya lo anak indie dadakan." Kemudian menutup pintu utama yang baru saja mereka lewati.
"Kita jalan kaki, enggak usah banyak protes." Ravi melangkah lebih dulu ke arah pagar rumahnya.
Sedangkan Keelua masih terdiam di tempat sambil menatap kesal ke arah Ravi yang sudah melangkah menjauh.
"Gue mau naik motor! Lo aja sana jalan kaki!" seru Keelua pada Ravi.
Baru saja Keelua hendak mengambil motor yang terparkir di garasi, tiba tiba Ravi menaikan tangannya dan memperlihatkan kunci motor yang ada di genggamannya dari jarak beberapa meter.
Keelua mengumpat di dalam hati, Ravi menyebalkan!
Akhirnya Keelua terpaksa mengikuti langkah Ravi yang benar benar tidak menggunakan kendaraan apa pun untuk pergi membeli mie ayam incaran mereka, padahal motor yang ada di rumah mereka itu masih baru tapi sangat jarang dipakai karena Ravi dan Keelua pergi ke sekolah selalu naik kendaraan umum.
Sekolah Ravi tidak mengizinkan semua muridnya untuk naik kendaraan pribadi karena mereka masih di bawah umur, sedangkan Keelua memang malas membawa kendaraan sendiri karena ia rasa itu merepotkan.
"Malas banget gue sama lo, jadi batu kek sekali sekali," kesal Keelua saat sudah berhasil menyamai langkah Ravi.
"Bacot, dek," sahut Ravi acuh.
Keduanya kemudian melangkah santai menuju warung penjual mie ayam. Ravi sibuk dengan pikirannya sedangkan Keelua sibuk memandangi orang orang yang lalu lalang di kawasan perumahan tempatnya tinggal.
"Kak," panggil Ravi pelan.
Anak laki laki itu menimang nimang, apakah ia harus menanyakan hal ini pada sang kakak? Tapi kakaknya itu pasti akan mengejeknya dan membuatnya malu. Keelua 'kan memang seperti itu.
Tapi, jika tidak menanyakan hal ini, Ravi akan merasa gelisah dan tidak nyaman karena terus memikirkannya.
Keelua menoleh, "Apa?"
Ravi menarik napas panjang, "Kalau suka sama orang lain itu wajar, enggak?" tanya anak laki laki itu kemudian.
"Wajar lah, itu 'kan manusiawi," sahut Keelua.
Raut wajah Keelua masih biasa saja, sepertinya ia belum sadar kemana arah pembicaraan ini.
"Gue enggak mau suka sama orang lain, kak," kata Ravi lagi. Ia memberanikan diri.
"Kenapa?" tanya Keelua.
"Banyak yang bilang, suka sama orang lain itu cuma bakal bikin kita sakit hati. Gue enggak mau sakit hati, gue masih terlalu muda." Ravi menatap lurus ke depan.
Tanpa disangka, Keelua terkekeh, "Iya, sih. Umur lo masih muda banget, tapi suka sama seseorang itu enggak bisa diatur. Kalau suka ya suka aja, mau lo masih bocil, udah gede, udah tua. Itu hal yang wajar dan semua orang pasti ngerasain. Enggak perlu takut, luka dan sakit hati itu pendewasaan. Jangan pernah takut jadi dewasa," terang Keelua dengan begitu bijaksana.
Ravi memproses setiap kata yang baru saja Keelua ucapkan di otaknya, dan itu benar. Untuk apa ia takut?
"Jadi dewasa 'kan enggak enak, kenapa gue harus enggak boleh takut?" tanya Ravi lagi.
"Enggak tau juga, sih, gue ngomong itu tadi supaya kedengaran keren aja kayak motivator motivator di TV," balas Keelua lantas terkekeh.
Ravi menghela napas pendek, padahal ia sudah serius mendengarkan tapi Keelua malah kambuh lagi.
"Gue enggak tau kenapa lo harus enggak boleh takut buat jadi dewasa, jadi dewasa emang enggak enak. Lo bakal punya tanggung jawab lebih besar, bukan cuma buat diri lo sendiri aja tapi harapan orang tua yang nunggu lo sukses bakal jauh lebih besar lagi dan mungkin bakal bikin lo tertekan. Tapi di luar dari semua itu, jadi dewasa ada nilai plusnya juga," jelas Keelua panjang lebar.
"Ada nilai plusnya? Apaan tuh?" Ravi menoleh ke arah Keelua yang juga sedang melihatnya, ia penasaran.
"Kalau jadi dewasa, lo bebas ngapain aja. Lo bebas bawa kendaraan ke sana ke mari tanpa takut ditilang, lo bisa punya KTP dan jadi warga legal, lo bisa ngurus ini itu sendiri, lo bisa pergi ke mana aja tanpa pengawasan orang tua dan yang paling seru adalah lo bisa nonton film atau baca cerita bergenre 18+ tanpa takut ketahuan lagi!" seru Keelua seraya tertawa lebar.
Ravi memukul lengan Keelua spontan, "Kotor otak lo, ya!
.
.
.
.