BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Roti sobek



"Kami pulang."


Keelua melangkah masuk di ikuti oleh Anraka di belakangnya, seperti biasa, gadis itu tampak ceria dan seperti tidak terjadi apa apa.


Ternyata ada Regina di ruang tengah, sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya dan terlihat sangat sibuk.


"Halo, Mama!" sapa Keelua dengan senyuman manisnya, gadis itu langsung duduk di sebelah mertuanya dengan santai dan memperhatikan apa yang sedang wanita muda itu lakukan.


"Halo, sayang. Kalian dari mana? Kok baru pulang?" tanya Regina dengan santai, matanya masih fokus ke laptop.


"Kami dari jalan jalan, capek banget," balas Keelua.


"Kok mata kamu sembab, sayang? Abis nangis, ya?" tanya Regina saat menoleh ke arah Keelua yang duduk di sebelahnya.


"Enggak apa apa, Ma. Tadi Keelua abis-"


"Nangis bahagia, soalnya Raka pinter ngebahagiain anak orang," celetuk Anraka yang berjalan santai menaiki tangga dan meninggalkan Ibunya dan juga sang istri.


Regina tertawa, "Oh, gitu. Bagus deh, Raka sekarang berubah jadi romantis, ya?" tanyanya.


Keelua bingung akan menjawab apa, ia hanya ikut terkekeh lalu bangkit dan berdiri depan mertuanya. gugup di


"Keelua naik dulu, ya, Ma. Malam ini Mama mau masak, ya? Keelua bantuin, ya. Keelua tau masak, tapi Keelua mau belajar masak lagi supaya lebih jago, masakan Mama juga enak banget, enggak kalah jauh sama masakan Mama Sekar." Keelua tersenyum manis, sambil memandangi mertuanya yang selalu terlihat cantik.


"Iya, sayang. Kamu bersih bersih dulu, abis itu kita masak bareng. Oke?" balas Regina.


Keelua mengangguk lagi, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah tangga untuk naik menuju kamarnya dan juga kamar Anraka yang sudah menjadi satu.


Begitu sampai di kamar Anraka, Keelua langsung masuk ke dalam ruangan itu dan mengunci pintunya. Rasanya ia ingin terus memaki dan mengeluarkan kata kata kasar saat ia mengingat wajah Bumi yang menyebalkan. Bisa bisanya pemuda itu bertindak seolah olah ia sangat tersakiti padahal yang sebenarnya adalah ia juga punya gadis lain.


"Kesel banget!" omel Keelua saat ia menaruh tasnya di atas kursi meja belajar Anraka.


"Lo enggak capek ngomel ngomel? Gue yang dengerin aja capek banget," kata Anraka saat melihat istrinya mendumel tak henti henti.


"Gue masih kesel tau enggak sama teman lo itu, dia bener bener kurang ajar! Bikin gue malu aja, ngapain gue nangisin cowok kayak dia coba? Kalau gue tau dia punya cewek lain, udah gue ludahin di dalam bioskop abis itu gue tinggal. Bodo amat!"


Gadis itu mulai melepas baju sekolahnya lalu merapikannya, masih dengan mendumel.


"Udah kali, enggak ada capek capeknya."


Anraka sebenarnya tidak terganggu dengan semua ocehan istrinya, malah ia senang mendengarnya apalagi ketika ia menjelek jelekkan Bumi yang memang pantas mendapatkan itu.


Anraka hanya kasian pada Keelua yang harus mengalami segala penipuan cinta ini, meskipun tak mencintai Bumi tapi Keelua sudah banyak membuang waktu dan air mata untuk pemuda itu.


Tapi tak apa, itu pelajaran untuk Keelua bahwa ia tidak boleh menangisi pemuda lain selain Anraka.


Selang beberapa menit, Keelua sudah mulai tenang, gadis itu bersiap untuk mandi. Ia berbalik untuk melihat Anraka tapi tiba tiba saja gadis itu memekik.


"Astaga! Apa apaan nih!" pekiknya.


Anraka terlonjak kaget, "Apaan?" tanyanya.


"Lo kenapa enggak pakai baju?!" tanya Keelua dengan kesal.


"Gue mau mandi, masa mandi pakai baju." Anraka terlihat biasa saja padahal Keelua sudah menutup matanya.


"Ya jangan buka baju di sini, gue jadi lihat, 'kan!" Keelua terus menutup matanya namun tidak sepenuhnya, ia tetap bisa melihat bentuk tubuh indah Anraka dari sela sela jarinya yang terbuka.


"Emang kenapa? Enggak ada yang larang juga. Lagian gue suami lo, ngapain mesti tutup mata?"


Keelua terdiam, benar juga. Untuk apa ia menutup matanya?


Setelah itu, Keelua memberanikan diri untuk membuka matanya lalu melihat jelas Anraka tak mengenakan apa apa.


Mata Keelua tak bisa lepas dari tubuh suaminya, ia seperti melihat sesuatu yang harus terus dipandangi tanpa henti. Perut kotak kotak itu membuat Keelua terhipnotis, apa yang selama ini hanya bisa ia baca di novel benar benar bisa ia saksikan secara langsung sekarang.


Benar benar mengagumkan!


"Eh, boleh pegang, enggak?" tanya Keelua dengan muka polosnya.


"Pegang itu," kata Keelua seraya menunjuk sesuatu di bagian bawah Anraka.


Mata Anraka melebar, spontan ia menutup bagian celananya kemudian berbalik hingga membelakangi Keelua yang masih duduk di kursi meja belajarnya.


"Kenapa, sih? Gue cuma mau pegang aja," kata Keelua.


"Jangan!" seru Anraka.


"Katanya kita udah suami istri, berarti boleh, dong? Kenapa enggak boleh?" Keelua bangkit kemudian berdiri di belakang Anraka, ia benar benar ingin menyentuhnya.


"Iya tau, tapi enggak boleh gini.


Aturan gue yang minta duluan, masa lo yang minta duluan, sih? Harga diri gue hilang kalau kayak gitu!" seru Anraka lagi.


Keelua mengerut dahi, ia tak mengerti dengan apa yang Anraka katakan, ia hanya ingin menyentuhnya sekali lagi, ini tidak akan ada sangkutpautnya dengan harga diri yang pemuda itu bicarakan.


Karena Anraka tak kunjung berbalik dan membiarkan Keelua menyentuhnya, gadis itu akhirnya memilih untuk memaksa Anraka dengan menarik lengan pemuda itu agar bisa menyentuh apa yang ia mau.


"Sini!"


"Jangan!"


"Eh?!"


"Akhirnya, gue bisa nyentuh ini juga! Ini asli?!"


Anraka menghela napas panjang saat Keelua tiba tiba mengelus perutnya, bukan bagian yang lain. Pemuda itu kira Keelua akan menyentuhnya di bagian yang tak seharusnya gadis itu minta tapi untung saja bukan itu yang Keelua maksudkan.


Anraka sampai salah paham.


"Lo mau nyentuh perut gue? Kenapa enggak bilang dari tadi? Gue 'kan jadi ambigu, gue kira apaan." Anraka membiarkan saja Keelua melakukan apa yang ia mau, untung saja ketakutan pemuda itu tidak benar benar terjadi.


"Gue udah bilang tadi, udah gue tunjuk juga. Lo enggak ngeh? Emang lo pikir gue mau megang apaan?" tanya Keelua sambil mendongak menatap Anraka yang menggaruk kepalanya.


"Enggak ada. Diam lo."


Keelua terus memegang perut Anraka, seperti orang yang pertama kali melihat perut yang berbentuk kotak rapi seperti roti sobek.


"Udah? Gue mau mandi." Anraka buka suara, sepertinya ia bosan karena Keelua terus memegangi perutnya dan merabanya di sebelah kanan dan kiri tanpa membiarkannya duduk pula.


"Perut lo asli apa buatan? Kok bisa bagus kayak gini? Gimana caranya cowok punya perut kayak gini?" tanya Keelua dengan mata yang berbinar, masih menatap perut Anraka seperti orang kelaparan.


"Asli lah, ini hasil olahraga yang giat. Enggak gampang bisa punya perut kayak gini," jawab Anraka dengan bangga.


"Semua teman teman lo punya perut kayak gini? Bentuknya sama semua apa beda beda? Ada enggak ya yang lebih bagus dari ini?" tanya Keelua lagi, ia melontarkan banyak sekali pertanyaan.


"Kayaknya gue yang paling bagus, sih. Abis itu si Gibran, Ganta, Bumi, sama si Romeo. Kita semua punya, olahraganya 'kan bareng bareng biasanya," jelas Anraka.


"Oh, ya? Gue pengen pegang perut mereka semua satu satu, gue mau lihat!" seru Keelua dengan gemas.


"Enggak boleh. Apa apaan lo? Lo enggak cukup sama satu perut aja? Punya gue aja, enggak usah kegatelan mau pegang pegang perut cowok lain."


Anraka tiba tiba kesal saat mendengar Keelua mengatakan itu, ia tidak bisa membayangkan jika istrinya memegang perut pemuda lain apalagi tepat di hadapannya.


"Tapi-"


"Enggak boleh. Awas aja lo. Udah sana, gue mau mandi."


Anraka menggeser tubuh Keelua dari hadapannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, wajahnya tampak kesal, sepertinya Keelua salah bicara.


"Gue salah ngomong, ya? Tapi gue emang benar benar pengen megang perut kotak kotak lagi!" gumam Keelua dengan bingung.


"Perut gue aja, enggak usah banyak mau!" teriak Anraka dari dalam kamar mandi.


"Iya, bawel!"