BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
16. Kamar



"Ravi pulang."


Seorang anak laki laki datang dan masuk ke dalam rumah, di sebelahnya ada seorang anak perempuan yang terus mengikutinya sejak tadi. Ravi sebenarnya sangat lelah karena menggendong anak itu hingga sampai di depan pagar rumahnya.


Menyusahkan.


Saat melangkah masuk ke ruang tengah, alis Ravi menekuk begitu mendapati sosok seorang pria yang sepertinya ia kenal.


"Kakak mana?" tanya Ravi sebelum menyapa orang yang ada di sana.


"Kakak kamu lagi tidur di kamarnya."


Sekar tersenyum ke arah Angel yang juga tersenyum ke arahnya.


"Kamu dateng sama Angel, ya? Oh, iya kan udah satu sekolah. Sini Angel." Sekar melambaikan tangannya.


Anraka yang masih duduk di sofa menoleh dan mendapati adiknya sedang berdiri di sebelah adik Keelua.


"Kok kalian pulang cepat?" tanya Sekar lagi.


"Guru yang nyuruh," balas Ravi seadanya.


"Dia ngapain ke sini?" tanya Ravi.


"Dia siapa?"


Ravi mengisyaratkan dengan gerakan matanya, Sekar pun mengerti.


"Anraka datang ke sini tadi tuh nganterin kakak kamu pulang karena dia tiba tiba pingsan di sekolah."


"Pingsan?"


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ravi buru buru berlari ke arah kamar kakaknya tersebut. Tak lupa ia membuang tasnya ke sembarang arah, sedangkan Angel masih berdiri terpaku di tempatnya tanpa tahu harus melakukan apa.


Bagaimana bisa ia bertemu Anraka di sini? Habislah dia.


"Angel? Kenapa melamun? Sini."


Angel mengangkat pandangannya lalu mendekat dan duduk di sebelah Sekar.


"Kenapa kalian pulang cepat hari ini?"


"Guru guru di sekolah katanya ada rapat penting, Tante. Jadi kami dipulangin."


Sekar mengangguk, "Oh, gitu, ya. Kebetulan kakak kamu juga ada di sini." Lalu melirik ke arah Anraka.


Angel melirik Anraka sekilas lalu menelan saliva dengan susah payah. Sesampainya di rumah, ia pasti akan dimarahi oleh Anraka karena tidak langsung pulang ke rumah saat pulang dari sekolah. Padahal Angel baru sekali melakukan ini.


Dia bahkan belum pernah menyogok sopir pribadinya. Baru kali ini saja.


"Kak Keelua sakit apa, Tante?" tanya Angel hati hati.


"Oh, kakak kamu itu lagi demam, abis hujan hujanan katanya. Tante juga baru tahu ternyata hujan hujanannya gara gara kakak kamu yang ini." Sekar terkekeh pelan seraya melirik ke arah Anraka.


Dahi Angel berkerut, "Gara gara Bang Raka? Emang mereka ngapain, Tante?"


"Udah, anak kecil enggak perlu tau. Ngapain lo ke sini?" celutuk Anraka.


"Angel mau jengkuk kak Keelua. Kata Ravi Kak Keelua sakit."


"Aduh, baik sekali." Sekar mengelus pucuk kepala Angel dengan sayang lalu mencubit pipinya pelan.


Angel hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.


"Kalian udah makan? Pasti belum, 'kan? Udah mau jam makan siang, kita makan bareng aja, ya," tawar Sekar pada Angel dan Anraka.


"Enggak usah, Tante."


"Iya, Tante. Aku mau!"


Anraka melirik sinis ke arah adiknya. Memalukan.


"Kenapa enggak usah, Raka? Makan bareng aja, yuk, sebelum pulang."


Angel membalas tatapan sinis Anraka dengan cengiran, ia tahu betul bahwa kakaknya ingin menghempaskannya ke langit ke tujuh sekarang juga.


"Tante, aku mau ke kakak kak Keelua dulu, ya?"


Sekar mengangguk, "Oke, susul Ravi sana. Biar kakak kamu yang ganteng ini Tante yang temenin aja," balas Sekar seraya tertawa.


Mendengar itu, Anraka hanya bisa mengumpat dalam hati. Kenapa ia harus terjebak di rumah Keelua sekarang?


Angel melangkah pelan ke arah kamar Keelua yang terletak paling belakang, berada di sudut rumah, berhadapan langsung dengan kolam renang dan juga halaman belakang.


Tiba tiba anak perempuan itu terkejut ketika mendengar suara teriakan dari dalam kamar kakak dari Ravi itu. Buru buru Angel melangkah ke sana.


"Bangun!"


"Ravi!"


"Gue bilang bangun, Kak!"


Begitu berada di ambang pintu, Angel kaget ketika melihat Ravi sedang memukuli Keelua yang berbaring di kasur dengan bantal seraya berteriak meminta kakaknya itu untuk bangkit.


"Tadi lo bilang lo udah sembuh, 'kan? Terus kenapa malah pingsan?!" pekik Ravi lalu menarik kaki Keelua.


"AAA! Gue enggak tahu, Rav! Tiba tiba pingsan sendiri!" Keelua terus memberontak padahal kepalanya masih terasa pusing.


Angel yang berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum kecil melihat pertengkaran kecil itu. Ravi tampak sangat berbeda. Saat bersama dengan Keelua, anak laki laki itu bukan lagi anak laki laki yang dingin dan tidak banyak bicara.


Buktinya, sekarang Ravi sedang mengomeli Keelua karena tidak mendengarkan perkataannya hingga kakaknya itu sakit lagi.


Mereka pasti sangat saling menyayangi satu sama lain.


"Eh, Angel?" Pandangan mata Keelua yang sedang memegangi sudut ranjangnya agar tubuhnya tidak jatuh ke bawah jika Ravi menariknya menangkap sosok Angel yang berdiri di depan pintu.


Ravi pun ikut menoleh, lalu melempar bantal yang ia pakai untuk memukuli Keelua kembali ke atas ranjang lantas berdehem pelan.


Apa Angel melihat tingkahnya?


"Angel, tolongin kakak! Ravi kejam!"


"Istirahat atau gue tabok pala lo," ancam Ravi lalu keluar dari kamar Keelua dengan tergesa gesa.


"Kenapa dia, Kak?" tanya Angel.


Keelua menarik napasnya dalam dalam lalu memperbaiki posisinya.


"Enggak tahu, stress kali karena belajar mulu."


Angel melangkah mendekat lalu duduk di sisi ranjang Keelua.


"Kak Keelua lagi sakit, ya?"


Keelua mengangguk bagai anak kecil, "Iya, kakak lagi sakit tapi si Ravi datang datang malah mukulin kakak." Lalu terkekeh pelan.


"Lucu."


"Hm?" Keelua melirik ke arah Angel.


"Ravi lucu," ujar Angel.


Keelua tersenyum, "Kalau orangnya denger, dia pasti bakal marah kalau dibilang lucu."


"Emang lucu kok," balas Angel.


"Dia emang gitu. Suka nutupin perasaannya," bisik Keelua.


Dahi Angel mengerut, "Nutupin gimana, Kak?"


"Ya gitu. Contohnya dia sayang banget sama kakak tapi dia enggak mau ngomong." Keelua tertawa.


Angel mengangguk tanda mengiyakan perkataan Keelua, "Laki laki kalau jadi kakak atau pun adik sama saja. Keliatannya cuek padahal peduli."


"Emangnya Anraka juga gitu, ya?"


"Banget. Bahkan lebih."


Keelua menggeleng pelan, "Emang kurang ajar tuh cowok. Sama keluarganya aja dia ngeselin apa lagi sama orang lain."


Angel terkekeh, "Iya. Tapi sama kayak Ravi, walau pun keliatannya cuek, tapi sebenarnya dia punya kasih sayang yang tulus."


Keelua bungkam. Tidak menyangka anak perempuan seumuran Angel bisa memiliki kosa kata yang menggelikan seperti itu.


Tapi tak apa, itu adalah suatu hal yang baik. Harus didukung.


"Iya! Laki laki emang gitu, Keelua Pak Bambang."


Lalu kedua gadis itu tertawa renyah di dalam kamar Keelua yang bernuansa putih tersebut, suasana di dalam kamar sangat sejuk karena jendela yang mengarah ke halaman belakang dibiarkan terbuka.


"Oh, iya. Kamu ngapain ke sini? Bareng siapa?" tanya Keelua yang baru menyadari mengapa adik Anraka bisa berada di dalam rumahnya.


"Aku ke sini bareng Ravi, naik bus."


"Oh, gitu? Mau ngapain emang? Ada tugas kelompok?"


Angel menggeleng, "Cuma mau jenguk kakak aja, soalnya kata Ravi kakak sakit."


"Uh, manisnya." Keelua tersenyum lebar, "Andai kakak kamu semanis kamu, Ngel. Ganteng sih, tapi—-"


"Tapi apa?"


Mata Keelua membulat ketika mendapati Anraka sudah berdiri di ambang pintunya. Gadis itu melirik ke arah tubuhnya lalu segera menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut karena ia hanya menggunakan tanktop.


"Heh, lo ngapain di sini?!" teriak Keelua.


"Di panggil Mama lo, makan," ujar Anraka dengan wajah datarnya. "Enggak usah ditutup, udah gue lihat," lanjutnya lalu melenggang pergi begitu saja.


"Anraka kurang ajar!"


.


.


.


.


.


.


.