
"Pasien sudah siuman, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap biasa terlebih dahulu sebelum boleh ditengok," kata seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan Gibran.
"Baik, Sus. Terima kasih banyak," sahut Keelua dan Romeo bersamaan.
"Saya tinggal dulu," ujar suster itu lagi lantas berbalik dan meninggalkan orang orang yang ada di sana.
"Untung aja Gibran baik baik aja, gue sampai enggak ngerasain ngantuk gara gara mikirin dia," ucap Romeo diiringi dengan helaan napas panjang.
"Gue curiga, jangan jangan kalian berdua punya hubungan spesial lagi," sambung Bumi.
"Ini udah malem, Bum. Jangan sampai gue masukin lo ke kamar mayat." Romeo mengancam dengan tatapan tajamnya.
Bumi hanya terkekeh geli bersama orang orang yang ada di sana.
Setelah Gibran dipindahkan, manusia manusia yang sudah sejak tadi menunggu pun akhirnya dipaksa untuk pindah tempat juga. Kali ini mereka pindah ke dalam ruangan yang sangat besar, ada banyak sofa dan fasilitasnya lengkap.
"Siapa yang nyuruh Gibran pindah ke sini?" tanya Romeo begitu masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokternya lah," sahut Keelua.
"Bukan, maksud gue siapa yang minta pihak rumah sakit masukin Gibran ke ruangan ini?" Romeo mengulangi pertanyaannya.
"Si Ganta." Bumi menyeletuk dari belakang.
"Ganta yang bayarin kamar ini buat Gibran?" tanya Romeo memastikan.
"Iya. Dia enggak mau kita semua duduk di luar makanya dia minta kamar VVIP buat Gibran." Bumi menjelaskannya dengan singkat.
Romeo berbalik, buru buru mencari keberadan Ganta dan akhirnya ia menemukan temannya yang baik itu sedang berdiri di sebelah ranjang Gibran. Mungkin Gibran masih butuh istirahat. dia sempat bangun beberapa detik namun ia tertidur lagi. Semua orang bahkan belum sempat menyapa pemuda itu.
"Baik juga si kulkas," gumam Romeo kemudian melangkah mendekat ke arah Ganta yang hanya diam dan memperhatikan Gibran yang masih terbaring lemah.
"Lagi ngapain, Gan?" tanya Romeo seraya menepuk bahu Ganta pelan.
Pemuda itu menggeleng kemudian menoleh ke arah Romeo, "Enggak ngapa ngapain, cuma ngeliatin Gibran doang," balasnya.
"Gibran kenapa emang? Kenapa harus dilihatin?" tanya Romeo lagi.
"Gue cuma penasaran aja, kira kira siapa yang udah ngelakuin ini ke Gibran. Cepat atau lambat, kita harus tau siapa orangnya," tutur Ganta.
Romeo menyetujui itu, meskipun Ganta tidak menyuruhnya, geng EX pasti akan mencari tau siapa yang sudah berani menyerang salah satu dari mereka. Apalagi yang orang itu serang adalah Gibran, salah satu anggota inti pendiri geng EX.
"Nanti lo kumpulin geng apa aja yang udah kita bandai, kalau udah, kasih ke gue biar gue yang nyari orang itu," kata Ganta pada Romeo.
Romeo pun lagi lagi hanya bisa mengangguk karena ia tau apa yang Ganta katakan sudah pasti benar dan pemuda itu selalu melakukan sesuatu setelah berpikir matang lebih dulu.
"Gibran masih belum siuman, ya."
Keelua datang diikuti oleh Anraka di belakangnya, kedua orang itu mendekati Anraka karena mereka melihat Romeo dan Ganta sepertinya sedang mengobrolkan hal yang sangat serius.
"Tadi dia udah siuman tapi tidur lagi, mungkin karena kecapean jadi perlu banyak istirahat," sahut Romeo.
"Iya enggak apa apa, dia harus banyak tidur sampai benar benar pulih. Semoga lukanya juga cepat sembuh," ujar Keelua.
Ternyata luka di lengan Gibran cukup besar, dilihat dari perbannya sudah bisa dipastikan bahwa luka tersebut bukan lah luka yang ringan, itu pasti luka yang serius.
"Ini lukanya parah banget kayaknya, ya," gumam Keelua.
"Supaya cepat sembuh dia enggak boleh banyak gerak biar lukanya cepat kering," celetuk Anraka.
Romeo menghela napas panjang, ia merasa kalau musibah ini menimpa Gibran ini terjadi karena ia tidak cekatan menjadi teman. Harusnya dirinya bisa menjaga Gibran lebih baik, bukan menolong temannya saat semuanya sudah terjadi.
"Kalau lo nyalahin diri lo sendiri, lo salah. Ini sama sekali bukan salah lo," ujar Ganta tiba tiba.
Romeo mendongak kemudian menatap Ganta dari samping, "Kok lo tau? Lo bisa baca pikiran, ya?"
"Dari raut muka lo keliatan banget, kita temanan bukan baru satu atau dua bulan. Gue tau lo sama Gibran sedekat apa, enggak susah buat nebak gimana perasaan lo sekarang," jelas Ganta dengan santai.
Romeo manggut manggut, itu memang benar, lagipula dari mereka semua, yang paling peka terhadap situasi dan keadaan adalah Ganta.
"Kita bakal nyari orang yang udah ngelakuin ini, Rak," ujar Ganta lagi, kali ini ia mengatakan itu pada Anraka.
Tentu saja Anraka menyetujuinya, siapa pun yang melakukan ini pada Gibran sudah benar benar menjadi musuh geng EX selamanya.
"Habis ini kita bakalan lapor polisi supaya kita bisa lebih gampang nyari pelakunya," balas Anraka.
"Iya, gue setuju," sambung Keelua.
"Gue enggak setuju."
Tiba tiba seseorang masuk ke dalam pembicaraan mereka, mereka semua menoleh ke belakang dan mendapati Bumi mendekat ke arah mereka.
"Lo enggak setuju soal apa? Kita udah bikin rencana mau laporin orang yang udah nyerang Gibran ke polisi setelah ini, kenapa lo enggak setuju?" tanya Romeo pada Bumi.
"Gue bukan enggak setuju soal itu," tutur Bumi, ia sudah ikut berkumpul bersama dengan yang lainnya. "Gue cuma mikirin nasib geng EX setelah kalian ngelaporin masalah ini," sambungnya.
Alis Romeo dan yang lainnya mengerut, apa maksud pemuda ini? Apa hubungan melapor ke polisi dengan nasib geng EX?
"Maksud lo apa?" tanya Ganta.
"Kalau kita ngelapor ke polisi, otomatis polisi itu bakal meriksa kita semua dan bakal nanyain kira kira apa penyebab orang yang enggak di kenal itu nyerang Gibran. Bener, 'kan?" Bumi mulai menjelaskan.
Orang orang yang ada di sana membenarkan pernyataan Bumi, itu memang tahap tahap penyelidikan yang akan dilakukan oleh para polisi. Lalu, apa masalahnya?
"Pas penyelidikan itu, kalian mau jawab apa kalau ditanya kira kira kenapa Gibran diserang orang itu, kalian bakal bilang karena kita punya geng yang namanya geng EX terus gara gara itu Gibran harus jadi korban balas dendam geng lain ke geng terang Bumi. kita? Gitu?"
Ganta, Romeo, Anraka dan Keelua terdiam. Apa yang dikatakan Bumi memang ada benarnya tapi tidak mungkin mereka hanya diam saja dan membiarkan orang yang sudah melukai Gibran bebas berkeliaran dan tenang di luar sana.
Itu tidak adil untuk Gibran.
"Kalau kayak gitu, udah pasti kita yang salah karena udah bikin geng dan pernah tawuran ngelawan geng geng lain sebelumnya. Bukannya nyelesain masalah, kita bakal nambah masalah lagi. Ngerti, 'kan?" Bumi kembali memperkuat alibinya.
"Lo jangan mikirin geng kita aja, pikirin Gibran juga dong. Dia enggak mungkin bisa diam aja tanpa dapat keadilan, lo pikir dibacok kayak gini enggak sakit? Gimana perasaan teman kita?" protes Romeo.
"Ini gue mikirin semua orang, gue mikirin Gibran sekaligus geng kita. Kalau Gibran dengar ini dia pasti setuju sama gue, gue cuma mau nyari jalan terbaiknya aja. Tapi kalau menurut kalian gue salah, ya udah berarti gue emang salah." Bumi tetap berpegang teguh dengan pendiriannya.
Sebenarnya niat pemuda itu baik tapi situasi dan kondisi mungkin tidak mendukung karena melihat keadaan Gibran yang mendapatkan cedera yang parah dan membutuhkan keadilan dari pelaku.
"Udah udah, kita pikirin aja dulu. Enggak perlu berdebat soal ini sekarang, yang penting Gibran pulih baru kita bicarain lagi. Kita bukan mau nyari pertengkaran, yang kita cari cuma keadilan buat Gibran dan kita sebagai teman temannya." Anraka menengahi.
Jujur saja Keelua tidak setuju dengan pendapat Bumi, gadis itu berpikir bahwa apa yang terjadi pada Gibran ini tidak ada sangkut pautnya dengan geng EX atau musuh musuh geng EX sebelumnya.
Jika para polisi menanyakan tentang bagaimana ini bisa terjadi, yang ditanyai tidak perlu membahas apa pun soal geng mereka karena pada saat kejadian, Gibran atau pun Romeo tidak sedang membawa nama geng mereka, mereka juga hanya berdua saja.
Hal ini terjadi murni karena kesalahan orang yang melakukannya, bukan karena geng atau apa pun, yang terpenting adalah penangkapan pelaku penyerangan bukan memikirkan bagaimana nasib geng mereka nanti.
Soal itu pasti masih bisa dipikirkan lain kali, tapi soal Gibran, nyawa hanya satu dan tidak bisa dikembalikan lagi. Untung saja Gibran tidak apa apa, jika penyerangan tadi membuat Gibran mendapatkan luka yang fatal, tidak ada waktu lagi untuk mereka memikirkan semua pergengan ini.
Keelua ingin mengungkapkan pendapatnya tapi ia sedikit ragu, apa mungkin apa yang ingin ia katakan dapat membuat masalah baru lagi? Tapi jika ia tidak mengatakan ini, ia bisa memikirkannya sepanjang hari.
Kali pula ada Anraka di sini, Keelua tau bahwa pemuda itu pasti akan menjaganya. Keelua memanfaatkan kesempatan itu.
"Tapi kalau menurut gue, sebelum kalian bahas masalah ini. Yang harus kalian ingat kalau nyawa Gibran itu cuma satu dan enggak akan ada gantinya. Kalau tadi dia sampai kenapa kenapa, kalian enggak akan punya waktu buat mikirin soal geng. Lagipula, polisi polisi itu enggak akan tau soal geng kalian kalau bukan kalian sendiri yang ngomong ke mereka, cukup bilang aja kalau ini semua emang murni kesalahan orang yang nyerang Gibran itu dan kalian sama sekali enggak tau apa masalahnya. Para polisi juga pasti ngerti gimana nakalnya anak SMA, apa pun yang terjadi, tugas mereka cuma nangkap siapa yang salah, 'kan?"
Keelua mengungkapkan pendapatnya panjang lebar, ia tak peduli bagaimana pendapat Bumi, yang ingin ia lakukan hanya memberikan pemikiran yang lebih masuk akal dari apa yang Bumi katakan tadi.
"Bener juga, sih. Ngapain kita kasih tau polisi itu soal geng kita? Mereka udah pasti enggak tau apa apa kalau bukan kita yang tau mereka," sahut Romeo. kasih
Keelua akhirnya lega, untung saja apa yang ia katakan ini masuk akal, untung saja ia tak mempermalukan dirinya sendiri.
"Masuk akal," sambung Ganta.
"Jadi kita bakal tetap laporin pelaku itu, 'kan?" tanya Romeo dengan raut wajah senang.
"Lo enggak tau apa apa soal geng EX, lo bukan bagian dari kita. Ngapain lo ikut campur? Lo tau apa?" tanya Bumi pada Keelua.
Tatapan pemuda itu sinis ke arah Keelua.
"Gue cuma ngasih tau gimana pendapat gue, emangnya salah?" tanya Keelua balik.
"Bukan salah, lo itu terlalu banyak ikut campur," kata Bumi dengan sarkas.
Keelua tidak habis pikir, apa yang Bumi pikirkan sebenarnya? Apa pemuda itu berpikir bahwa ia mengatakan pendapatnya untuk memojokkan? Apa Bumi pikir Keelua punya dendam padanya?
Padahal tidak sama sekali, Keelua tidak pernah membawa masalah pribadinya untuk hal hal seperti ini apalagi di lingkungan pertemanan mereka.
"Gue enggak ada maksud buat ikut campur, ini emang masalah kalian. Sorry deh kalau gue ganggu, gue tunggu di luar aja," kata Keelua seraya berbalik dan keluar dari ruangan Gibran.
"Apa apaan sih lo? Lo jangan ngomong kayak gitu ke Keelua, dia cuma mau bantuin kita." Romeo menegur Bumi.
"Kenapa? Lo mau belain dia? Lo sama aja kayak si Raka, dibikin stress sama tuh cewek, emang apa sih spesialnya dia?" tanya Bumi dengan kesal.
Anraka mencemooh, aksinya itu menarik perhatian teman temannya.
"Coba lo tanya sama diri lo sendiri, apa spesialnya Keelua sampai lo juga suka sama dia?"
...****************...
"Kamu di mana sekarang? Aku jemput, ya?"
"Buat apa, Pa? Enggak perlu jemput aku, aku enggak akan ke mana mana sebelum Angel ketemu."
Regina mendapatkan telepon dari Arya beberapa saat sebelum wanita itu memilih untuk memejamkan matanya.
Arya memohon meminta Regina untuk kembali ke rumah mereka tapi Regina tetap tidak ingin ke mana mana, ia akan terus mencari dan menunggu kabar dari Angel. Walaupun suaminya lebih memihak Ibunya yang telah mengambil anak mereka, Regina tidak akan menyerah untuk mencari Angel, ke mana pun anaknya itu pergi.
"Kamu pulang dulu, aku bakal ngomong sama Oma buat kasih tau kita di mana Angel sebenarnya," bujuk Arya.
"Kamu ini gila, ya? Gimana bisa kamu setenang ini sementara udah jelas kalau Mama kamu sendiri yang udah bawa anak kita pergi?! Anak kita lho, Pa, anak kita! Bukan anak aku sendiri!" pekik Regina dengan kesalnya.
Perasaan marah, takut, cemas, kecewa hingga sedih tercampur menjadi satu, membuat wanita itu tak sanggup menahan air mata serta emosinya.
"Tolong kamu tenang dulu, aku bakal lakuin apa aja supaya kita tetap bisa sama sama, aku enggak bakalan mau pisah dari kamu. Dari anak anak kita, aku pasti bakal bawa Angel pulang. Tapi kamu juga harus janji sama aku, kalau Angel udah ketemu, kita bakal kumpul bareng bareng lagi kayak dulu." Arya tidak memikirkan apa pun selain berusaha untuk meyakinkan istrinya bahwa ia akan melakukan yang terbaik.
Tanpa bisa ditahan lagi, Regina akhirnya menangis di tengah sepi malam yang menyelimutinya.
Dia tidak tau harus melakukan apa, ia hanya ingin menangis dan menangis sampai putrinya di temukan. Memikirkan bagaimana keadaan anaknya saja sudah membuat hati wanita itu sesak, ia benar benar tak sanggup berada jauh dari anaknya bahkan ia tak tau di mana gadis kecilnya itu.
Sementara Arya hanya bisa mendengarkan suara tangis istrinya, dadanya juga ikut terasa seperti dihantam dengan keras hingga ia kesulitan untuk bernapas.
Tapi bagaimana pun kondisinya, kedua pasangan itu tidak akan menjadikan berpisah sebagai pilihan.
"Aku cuma butuh Angel pulang, Pa. Aku enggak masalah kalau harus ngehadapin sikap Mama kamu yang enggak suka sama aku, yang penting anak anak aku ada sama aku. Aku benar benar enggak akan minta apa apa lagi," lirih Regina seraya terisak.
"Aku janji, aku janji akan nemuin Angel secepatnya. Pegang janji aku, sayang."