BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
65. Menginap



Keelua mengusap peluh di dahinya saat menuruni bus yang mengantarnya ke sekolah, suasana hati gadis itu sangat buruk hari ini, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Anraka Pranata.


Gadis itu berharap semua ia tak bertemu dengan Anraka dalam waktu dekat atau bahkan tidak sama sekali. Keelua berniat untuk menginap di rumah Lula malam ini jika Anraka tidak segera meminta maaf padanya. Keelua tidak takut jika harus berpisah rumah dengan Anraka, pemuda itu yang salah, Keelua tidak melakuan apa apa hingga pantas diperlakukan seperti itu oleh pemuda tersebut.


"Selamat pagi, Keel."


"Hai, El."


"Lo naik bus lagi?" tanya Elvano saat menyamai langkah Keelua yang mulai memasuki kawasan sekolah.


"Iya. Emangnya mau naik apa lagi? Gue malas bawa kendaraan sendiri, ribet." Keelua menjawab namun tidak menoleh sama sekali.


"Lo kan bisa minta jemput sama gue atau sama siapa gitu," kata Elvano lagi.


Keelua mencemooh, "Lo kadang bangunnya lama banget, kalau nungguin lo gue jadi kering yang ada."


"Tapi sekarang cepat, 'kan?"


"Iya karena lo lagi kemasukan jin yang enggak suka telat."


Elvano tertawa lebar, kedua manusia itu terus berjalan bersama hingga memasuki gedung sekolah.


"Gue dengar dengar katanya ada film baru yang bagus tuh di bioskop, lo mau nonton bareng gue enggak, Keel?" tanya Elvano begitu mereka berdua akan berpisah di ujung koridor.


"Nonton, ya? Gue kemarin udah nonton, masa nonton lagi. Lo ngajak temen yang lain deh, hari ini gue ada urusan mendadak juga. Sorry, ya," tolak Keelua dengan halus, sebenarnya ia tak ingin menyakiti hati temannya ini.


"Oh gitu, enggak apa apa. Ngomong ngomong kemarin lo nonton sama siapa? Lula?"


Keelua menggeleng, "Enggak, sama Bumi."


Dahi Elvano mengernyit, sepertinya ia benar benar tak percaya dengan apa yang baru saja Keelua katakan.


"Bumi? Bumi yang anggota geng EX itu? Temannya si Anraka, 'kan?" tanya pemuda itu dengan wajah tak terbaca.


Sedangkan Keelua mengangguk dengan semangat, "Iya, Bumi yang itu. Lo kenal sama dia? Dia 'kan baik banget."


"Lo jangan terlalu dekat sama mereka, Keel. Buat apa sih lo temanan sama orang orang kayak geng EX itu? Mereka nakal, musuhnya di mana mana, kalau lo kenapa kenapa gimana? Gue enggak mau kalau mereka sampai ngejahatin lo." Elvano menatap Keelua dengan intens, sepertinya pemuda itu benar benar serius dengan apa yang ia katakan.


Keelua tertawa kecil, "Enggak, El. Geng EX itu orangnya baik baik, mereka sama sekali enggak jahat, mereka selalu ngejagain gue, mereka juga selalu ada kalau gue butuh dan yang terpenting mereka enggak pernah macam macam dan enggak pernah punya niat jahat ke gue," jelas gadis itu.


"Bukan enggak, tapi belum. Mungkin aja mereka nyari waktu yang tepat buat ngejahatin lo. Gue tau tipe tipe orang kayak mereka, bisanya cuma nyari masalah doang." Elvano sama sekali tidak mendengarkan perkataan Keelua, "Gue mau lo ngejauhin mereka, terutama Anraka, jangan pernah lo berurusan sama dia."


"Enggak, El! Mereka baik, Anraka juga baik. Kenapa lo mesti permasalahin ini, sih?" kesal Keelua.


Kenapa masih ada saja orang yang menilai orang lain tanpa mengenal mereka lebih dulu? Geng EX itu baik, mereka hanya menyerang orang orang yang mengusik mereka dan mencari masalah lebih dulu. EX bukan geng anak sekolah yang sembarangan menyakiti orang lain yang tidak bersalah, mereka juga punya sopan santun seperti orang biasa.


"Keel."


Dari sisi yang berlawanan, muncul beberapa pemuda yang melangkah santai ke arah Keelua dan Elvano yang kini atensinya sudah teralihkan.


"Yang penting gue udah peringatin lo, Keel. Gue pergi dulu," kata Elvano seraya pergi dari hadapan Keelua, sepertinya ia tak ingin bertemu dengan para pemuda yang baru datang ini.


"Ngomong apa aja dia?" tanya Romeo.


"Siapa? Elvano?" tanya Keelua balik.


"Gue enggak peduli sama namanya, yang gue mau tau; dia ngomong apa aja soal EX? Dia ngomong yang enggak enggak, ya?"


Keelua menggeleng, "Enggak, kok. Dia enggak ngomong apa apa, mana mungkin dia berani. Lagian, kalian emang baik kok." Lantas tersenyum manis.


"Cuma beberapa orang aja yang sadar kalau geng EX itu sebenarnya baik, yang lain nganggep kita ini anak nakal yang bahaya kalau didekatin. Padahal aslinya enggak kok, kita cuma murid biasa." Bumi menimpali.


"Lo aja yang murid biasa, kalau gue mah murid luar biasa." Gibran menyela ucapan Bumi seraya memasang tampan congkaknya.


"Kalau lo luar biasa, tempat lo bukan di sini, dodol!" Romeo mendorong pelan kepala Gibran yang bisa bisanya melawak di waktu yang sangat tidak tepat.


Gibran memegangi kepalanya yang baru saja ditoyor oleh Romeo, "Itu maksudnya gue ganteng, bego! Makanya kalau pelajaran ekonomi jangan tidur lo!"


"Udah, stop!"


Anraka melangkah lebih dulu, meninggalkan teman temannya dan juga Keelua yang masih berdiri di sana dan menyaksikan perdebatan Gibran dan Romeo.


Keelua berbohong, Anraka tau itu. Ia mendengar bagaimana cara Keelua membela dirinya dan juga gengnya, yaitu EX. Anraka merasa Keelua itu bodoh, entahlah, gadis itu terlalu naif karena membela orang yang sudah bertindak tidak menyenangkan padanya.


Anraka tau betul Keelua pasti kesal padanya karena persoalan kemarin saat ia meninggalkan Keelua di pinggir jalan dan akhirnya membuat gadis itu tidak pulang ke rumahnya. Seperti yang Oma Arum minta, Anraka harus segera membawa Keelua pulang bersamanya hari ini atau dia akan terkena masalah tapi masalah yang lebih besar adalah Anraka tidak mau meminta apalagi memohon pada gadis tengil itu.


Beberapa lama berjalan, akhirnya Anraka sampai di kelasnya, ia memasuki kelas tanpa mempedulikan orang orang yang menyapanya sejak tadi, pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tak berselang beberapa lama, anggota geng EX yang lain juga menyusul, ada Bumi, Romeo, Gibran kemudian Ganta yang memasuki ruang kelas.


"Kenapa lo pergi duluan, Rak? Buru buru amat, lo belum ngerjain tugas, ya?" tanya Gibran.


"Emangnya ada tugas?" sela Romeo.


Gibran berpikir sebentar, "Enggak tau, coba tanya Ganta, dia 'kan si paling ngerjain tugas," katanya.


"Lo enggak bisa nyontek tugas gue lagi," sahut Ganta.


Mata Gibran melebar, apa yang baru saja dikatakan oleh Ganta? Apa pemuda itu mencoba membunuh Gibran tanpa menyentuhnya sama sekali? Dari mana Gibran akan mendapatkan semua jawaban yang benar jika bukan berasal dari Ganta? Hanya Ganta yang paling pintar di kelas yang dipenuhi murid buangan ini.


"Jangan gitu dong, Ta. Becandaan lo enggak lucu ah, malas banget gue." Gibran menarik lengan baju Ganta untuk membujuk pemuda itu.


"Udah, enggak usah dikasih, Ta. Si Gibran emang ngelunjak, makin lo kasih makin enggak ngehargain," sambung Bumi mengompori.


"Lo semua jahat sama gue," eluh Gibran.


Saat Gibran asik mengomel, Bumi duduk di atas meja Guru lalu meminta semua temannya untuk memperhatikannya.


"Gue mau cerita, ini mungkin bakal bikin kalian kaget tapi sebagai teman gue, kalian harus tau ini."


"Orang kaya enggak dapat bansos, ege." Gibran menyeletuk.


"Siapa bilang? Tetangga gue banyak yang ngaku ngaku jadi orang miskin supaya dapat bansos," balas Romeo.


"Lingkungan lo enggak baik tuh, buruan ganti rumah."


Romeo memutar bola matanya malas, berbicara dengan Gibran memang tidak ada titik terangnya.


"Kenapa, Bum?" tanya Ganta.


"Kemarin gue abis jalan sama cewek, gue nonton bareng, makan bareng, pokoknya seharian sama dia." Bumi mulai bercerita, wajahnya berseri seri menandakan bahwa ia benar benar sedang bahagia.


Gibran membuka mata dan telinganya lebar lebar, dahinya mengernyit, "Seriusan lo? Siapa cewek yang berhasil cairin hati lo yang super beku itu, Bum? Gue enggak nyangka, kirain lo bakal jomblo seumur hidup karena kadang lo suka takut sama cewek cewek yang ngejar lo."


"Coba tebak." Bumi tersenyum miring.


"Salsa?" tebak Romeo.


"Bukan. Salsa siapa? Gue enggak punya temen yang namanya Salsa," balas Bumi.


"Ya kali aja namanya Salsa, mana kita tau, 'kan?" Romeo tersenyum kecil.


"Adik kesal, bukan?" tanya Gibran.


"Bukan, dia seangkatan sama kita. Kalian juga kenal sama dia, kenal banget malah." Bumi menoleh ke arah jendela dan menatap apa saja sejauh matanya memandang.


"Ibu kantin!"


"Pala lo!"


Lagi lagi Gibran menjadi sasaran empuk Romeo karena jawabannya yang tidak masuk akal. Bumi memang meminta mereka untuk menebak namun seharusnya Gibran juga menentukan jawaban yang sedikit bisa diterima oleh akal sehat.


"Sebut aja, sih, kenapa harus pakai tebak tebakan? Kayak kuis anak SD mau pulang sekolah aja," protes Gibran.


Bumi kembali menoleh dan menatap satu persatu temannya, Ganta dan Anraka tidak ikut menebak namun Bumi tau bahwa mereka berdua juga ikut mendengarkan.


"Gue kemarin jalan sama Keelua."


"Apa?"


...****************...


"Hari ini gue boleh nginap di rumah lo, enggak?" tanya Keelua pada Lula yang sedang asik menyantap makanannya.


Lula mengangkat kepalanya, "Boleh banget. Tumben lo mau nginap, ada apaan?" tanya gadis itu.


"Kenapa lo nanya?" Keelua bertanya balik.


"Karena biasanya lo susah banget diajak ke mana mana apalagi nginap. Gue kira lo lagi ada masalah, lo baik baik aja, 'kan?" tanya Lula seraya menyentuh dahi Keelua.


Keelua mendecak, "Iya, gue enggak apa apa."


Sebenarnya Keelua tidak enak jika harus meminta bantuan Lula dan membuat temannya itu kesusahan namun karena Keelua tidak melihat niat baik dari Anraka dan karena ia juga tak punya pilihan lain, terpaksa gadis itu harus meminta bantuan pada satu satunya orang yang ia percaya di sekolah ini.


"Pulang sekolah kita singgah ke rumah lo dulu buat ambil baju, gitu, ya?"


Keelua menggeleng, "Gue pakai baju lo dulu, enggak apa apa, ya? Enggak usah balik ke rumah gue."


"Fix. Lo lagi ada masalah. Masalah apa, Keel? Kasih tau gue sekarang juga, gue enggak mau lo sembunyiin apa pun dari gue, katanya kita temen." Lula bisa langsung tau bahwa sebenarnya ada sesuatu yang terjadi pada temannya ini.


"Gue enggak bisa jelasin sekarang tapi ini masalah keluarga, La. Lo paham kan maksud gue? Gue enggak pernah nyembunyiin apa pun dari lo selama ini, cuma lo satu satunya tempat gue cerita." Keelua menggenggam tangan Lula, semoga Lula mau percaya padanya meskipun saat ini ia terpaksa harus berbohong.


Keelua bergumam di dalam hati, ia menangis, menangisi dirinya yang akhir akhir ini semakin banyak berbohong kepada orang orang yang peduli padanya.


Andai mereka tau, Keelua juga lelah membohongi dirinya sendiri dan berkata ia baik baik saja. Pada kenyataannya, ia sangat terluka. Terluka oleh keadaan, terluka oleh beban di pundaknya, terluka oleh kebohongannya sendiri. Tidak mudah menjadi Keelua, orang orang tidak akan paham perasaannya.


"Halo, Keelua."


Di tengah tengah suasana hatinya yang buruk, tiba tiba seseorang mendatangi Keelua dan Lula di sedang duduk berdua di meja kantin. Seorang gadis mendatangi mereka dengan dua orang temannya.


Keelua mengerutkan dahi, ia mengenal gadis berambut panjang ini, namanya Isabella.


"Gue dengar dengar lo sering berangkat bareng pacar gue, ya?"


Pacar? Lagi lagi alis Keelua menekuk tajam. Siapa yang gadis ini maksud?


"Pacar gue, Anraka, enggak usah pura pura bego deh lo!"


Atensi orang orang langsung tertuju pada Isabella yang tiba tiba meneriaki Keelua di tengah tengah kantin itu.


"Apa apaan sih lo? Lo gila, ya?" tanya Lula yang ikut mendongak menatap gadis sok berkuasa itu.


"Tanya sama teman lo nih, dia berani banget gangguin pacar gue. Emang dasarnya kegatelan aja makanya enggak tau diri jadi orang!"


"Emang si Raka pernah nganggep lo sebagai pacarnya? Lo yang harusnya sadar diri." Tak mau kalah, Keelua juga ikut membalas ucapan tak enak Isabella tadi terhadapnya.


Kantin berubah menjadi hening.


"Kurang ajar lo, ya!"


BYUUR!


Segelas es teh langsung membasahi seluruh seragam Keelua saat Isabella menyiramnya begitu saja.


"Lo cuma anak penjual susu, enggak usah sok cantik di sini. Geng EX mau temanan sama lo cuma karena lo itu murahan!"