The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Maaf



1 tahun kemudian ……


Leon menatap kosong dinding polos bercat putih gading di hadapannya. Lamunannya terbuyarkan saat mendengar derap langkah seseorang mendekatinya.


“Selamat pagi Pak Leon, sudah siap keluar hari ini?” seorang suster wanita berbaju biru tersenyum ramah sambil mengecek tekanan darahnya.


Leon mengangguk. Dia hanya terdiam mengamati suster tersebut yang sekarang sibuk merapikan baju-bajunya ke dalam koper.


Leon baru bereaksi saat suster tersebut merapikan meja kecil yang terletak di samping bed sheet. Suster tersebut terlihat tengah memegang sebuah buku kecil berwarna cokelat.


Secepat kilat tangan Leon langsung bergerak menyambarnya. Mendekapnya ke dada sembari melempar lirikan tajam. Refleks, suster wanita tersebut beringsut mundur.


Melihat sorot ketakutan di wajah suster itu, Leon langsung terkesiap. Perlahan dia mengendurkan tatapannya. Tanpa bersuara, mulutnya terbuka mengucapkan kata ‘Maaf’.


Suster wanita itu mengangguk, tersenyum ramah kembali. “Maafkan saya juga, Pak. Lain kali saya akan lebih hati-hati lagi.”


Lagi-lagi Leon tak menjawab dan hanya melengos tak peduli. Dia membiarkan suster wanita tersebut melanjutkan lagi kegiatannya sementara Leon masih berdiri terpaku seraya mendekap erat buku miliknya.


*****************


“Coba dong panggil Papa….” Dimas menciumi gemas bayi mungil yang tengah tiduran telentang sambil memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.


“Ma … ma .. ma…” Bayi mungil itu terus berceloteh sambil berusaha membalikkan tubuh kecilnya.


“Sekali-kali panggil Papa dong, Sky … Coba ikutin mulut Papa. Pe A Pa - Pe A Pa.. P A P A,” Dimas terus berusaha membujuk jagoan kecilnya yang tengah bergeliat berjuang untuk tengkurap.


“Pelan-pelan lah, Bi.” Tegur Selena yang tiba-tiba muncul. Dia langsung duduk bersila di samping jagoan kecilnya. Bertepuk tangan kegirangan saat melihat putra kecilnya berhasil tengkurap setelah beberapa kali berusaha. “Wah anak mama hebat!!” serunya bersemangat.


“Anak kita, Sugar,” protes Dimas.


“Iya, anak kita.” Balas Selena cepat sambil menggendong Sky.


Sky Rafael Ivander Soetedjo - nama yang di berikan Dimas dan Selena untuk buah cinta pertama mereka.


Bermakna anak laki-laki yang di berkati, Dimas dan Selena berharap putra kecil mereka akan selalu di limpahi berkah Tuhan di manapun ia berada.


Selain itu nama SKY yang berarti langit, Selena menginginkan anaknya kelak akan menjadi orang hebat jauh melebihi dirinya dan Dimas.


.


.


Dimas mengamati lamat-lamat Sky yang tertidur pulas di dalam box bayinya. Jari jemari Dimas mengusap pelan pipi gembul Sky. Dia berhati-hati mengusapnya agar tak membangunkannya.


Dimas tersenyum bangga karena Sky memiliki gen ketampanan seperti dirinya. Dia jadi kembali teringat bagaimana cemberutnya Selena saat menyadari Sky hanya mewarisi mata cokelatnya saja.


Gede nanti jangan jadi playboy ya, Nak. Batin Dimas serius.


“Jangan di bangunin ya,” ancam Selena tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Dimas.


Refleks, Dimas berbalik sembari mengelus dadanya yang berdetak kencang, “Kaget aku, Sugar.”


Selena mengedikkan bahunya dan pergi begitu saja. Dimas termangu bengong melihat Selena yang melesat seperti meluncur di atas lantai. Dimas masih belum terbiasa dengan cara berjalan Selena yang terbilang unik dan baru ini.


Drrt.. drrt…


“Oke, makasih infonya,” tutup Dimas.


.


.


Selena bersenandung kecil di kursi goyang sembari menatap Sky yang tertidur pulas di gendongannya. Tangan kecil Sky mengenggam erat jari telunjuk Selena.


Selena tersenyum, mencium pucuk kepala Sky. Aroma khas shampo bayi langsung menggelitik indera penciuman Selena. Puas memandangi Sky, Selena berdiri lalu melangkah perlahan menuju box bayi dan membaringkan Sky dengan hati-hati agar tak terbangun.


“Sudah tidur lagi?” tanya Dimas begitu melihat Selena keluar dari kamar Sky.


“Jangan di bangunin lagi dong! Awas ya Bi, kalau di bangunin lagi, kamu yang nyusuin!” ancam Selena kesal. Dia mendelik tajam ke arah Dimas yang hanya tertawa tanpa dosa.


“Maaf deh, Sugar.” Dimas melangkah mengikuti Selena menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Selena langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan meluruskan kakinya. Lamat-lamat Dimas memperhatikan Selena yang tengah membaca buku.


Akhir-akhir ini Selena memang giat membaca buku tentang ilmu parenting. Terlebih semenjak Selena memutuskan mengurus Sky tanpa bantuan babysitter.


Awalnya Dimas sempat keberatan, dia khawatir Selena akan kelelahan. Tapi wanita itu sudah bertekad bahkan sampai memilih resign dari pekerjaannya. Mau tak mau Dimas pun mengabulkan keinginan Selena.


Bersama-sama , mereka berdua pun belajar menjadi orang tua yang baik untuk Sky. Beruntung Sky bukan bayi yang rewel. Sehingga Selena mau pun Dimas tak terlampau kewalahan mengurusnya.


“Aku pijitin ya,” kata Dimas. Selena menurunkan bukunya hingga sebatas hidung, memandang Dimas sejenak.


Belum juga Selena menjawab, Dimas sudah duduk bersila sambil menaruh kaki Selena di atas pahanya. Tangan Dimas mulai bergerak memijat-mijat betis Selena.


“Makasih, Bi.” Selena mengulum senyum lalu melanjutkan lagi bacaannya.


“Leon keluar hari ini,” ucap Dimas tiba-tiba. Manik hitamnya terus memperhatikan Selena yang masih berkutat dengan bukunya.


Hening. Ada jeda sejenak sebelum Selena akhirnya berucap, “oh.. Baguslah,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Karena terhalang buku yang sedang di baca istrinya, Dimas jadi tak bisa melihat raut wajah Selena. Dia semakin penasaran dan bertanya lagi ,“Just ‘OH’? Nothing else?”


Terusik dengan pertanyaan Dimas, Selena menghela napas gusar. Menutup bukunya lalu menaruhnya di nakas. Kemudian menarik kakinya dari pangkuan Dimas dan ikut duduk bersila.


“Terus kamu mau aku jawab gimana? Hore … Leon pulang.. Yeaay…” Selena tersenyum manis seraya bersorak kecil, lalu sedetik kemudian ekspresinya berubah datar sambil menatap lurus Dimas. “Gitu yang kamu mau?”


Dimas mencebik, “ya nggak gitu juga sih. Tapi beneran kan Sugar, kamu udah nggak cinta lagi sama cecunguk itu?”


Selena beringsut, bergeser mendekati Dimas. Menangkup wajah Dimas sambil berucap, “perasaanku ke Leon bukan cinta. Itu hanya sekedar suka, nggak lebih itu. Dan itu pun udah lama hilang. Aku bahkan udah nggak ingat nama itu lagi. Apa kamu nggak bisa melupakan masa lalu, Bi? Aku aja bisa melupakan masa lalumu.”


Dimas tercekat. Tertohok dengan perkataan Selena. Saat dulu Selena mengakui perasaannya terhadap Leon, Dimas selalu merasa ketakutan. Takut kalau suatu saat Selena akan berpaling dan memilih Leon. Bahkan sampai Sky lahir pun, ketakutan itu masih ada.


Mendadak, Dimas merasa jahat. Kenapa dia bisa meragukan Selena? Padahal Selena tulus mencintainya dan tak ragu memberikan kesempatan kedua setelah apa yang Dimas perbuat padanya.


“Maafin aku, Sugar. Maafin semua prasangkaku. Aku benar-benar bodoh bisa berpikiran kalau nanti kamu akan ninggalin aku,” ungkap Dimas pelan. Dia lalu memeluk Selena sambil mengucapkan kata ‘maaf’ berulang kali.


Selena tak mengucapkan apa- apa dan hanya mengusap lembut punggung Dimas. Netranya mengedar, memandang hampa langit-langit kamar.


Maafin aku juga, Bi.