The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Perjalanan Dinas (part.2)



“Bu , habis ini kita mau kemana?” tanya Helen sambil menyeruput air kelapa muda.


“Hmm..Potato? Bagimana menurutmu Nik? Ramai gak disana?” Selena balik bertanya ke Niko yang tampak sibuk dengan ponselnya.


“Ko!” Helen menyikut Niko yang tak mendengar pertanyaan Selena.


“Eh..eh..iya..apa..apa,” Niko tersentak kaget.


“Ditanya bu Selena tuh. Kalau ke Potato rame gak?”


“Oh , emm...,” Niko berpikir sejenak. “Kayaknya sih gak bu. Soalnya ini bukan hari wisata.”


“Oke , kalau begitu kita kesana sekarang. Kalian sudah selesai makannya kan?”


Helen dan Niko mengangguk bersamaan. Mereka bertiga pun bergegas pergi. Namun saat hendak masuk ke dalam mobil , tiba-tiba seseorang memegang tangan Selena. Wanita cantik itu otomatis langsung menepis dan memuntir lengan orang tersebut.


“Aduh..aduh...,” ternyata itu Leon. Pria berwajah Eropa itu meringis kesakitan.


Selena yang menyadarinya langsung buru-buru menarik cengkramannya. Dia sedikit panik , “maaf..maaf. Aku kira orang lain. Sakit gak?"


Leon tertawa kecil , “tidak sakit kok. Tapi kekuatanmu boleh juga Sel. Kau jago bela diri ya?”


“Hanya untuk pertahanan diri. Omong-omong kenapa masih disini? Bukannya dari tadi kamu sudah selesai makan?”


“Aku mau menjelaskan kesalahpahamanmu. Gadis yang kau lihat kemarin dan tadi di meja adalah adik kandungku. Aku tidak punya kekasih.”


Selena mengernyit heran.


Dia daritadi nungguin gue selesai makan , Cuma buat jelasin itu saja?


“Jadi...masih boleh aku tahu nomer ponselmu kan?” Leon kembali menyodorkan ponselnya.


Selena tersenyum , menggeleng-gelengkan kepala. Dia kemudian mengambil ponsel Leon , mengetik nomernya sendiri dan menyerahkan kembali ke Leon yang terlihat kegirangan.


“Terimakasih. Oh , apa kalian mau pergi ke sesuatu tempat?”


“Iya. Kami mau ke Potato..aduh,” Helen yang berbicara langsung menjerit kecil ketika Niko menariknya menjauh.


“Potato? Oh....”


Suasana terasa sunyi dan canggung selama beberapa detik. Selena akhirnya sadar dan menghela napas sebelum berkata , “apa kau mau ikut bersama kami?”


Mata Leon yang langsung berbinar , seketika mengingatkan Selena dengan kucing peliharaan Leon , Argo.


“Tapi Sebelum itu , biar kuperkenalkan kalian terlebih dulu. Ini Helen dan itu Niko,” Selena mengarahkan tangannya. “Nah Helen..Niko , dia adalah Leon , tetangga sebelah apartemen saya."


Leon , Helen dan Niko saling bertukar senyum dan sapaan. Lalu setelah itu Niko lebih dulu masuk ke mobil. Disusul oleh Helen.


“Nah Leon , kita bertemu disana ya” ujar Selena.


“Kau..... tidak mau ikut ke mobilku?” tanya Leon kecewa.


“Oke ..oke maaf. Kalau begitu sampai bertemu disana,” balas Leon sambil buru-buru menuju mobilnya.


Selena memperhatikan Leon sampai masuk ke mobilnya baru setelah itu menyuruh Niko untuk segera tancap gas.


**********


Sesampai disana , tak butuh waktu lama bagi Selena dan Helen untuk mendapat meja , berkat Niko yang sepertinya memiliki banyak teman di Bali.


Selang beberapa lama kemudian Leon muncul. Kemunculan Leon menarik perhatian sebagian pengunjung wanita disana. Begitupun dengan Helen yang beberapa kali tersenyum-senyum girang melihatnya.


Duduk diatas beanbug dengan berlantaikan hamparan rerumputan yang hijau ditambah alunan musik DJ , membuat Selena sedikit tidak nyaman. Tadinya dia pikir Niko akan mencarikan meja di area restoran. Tapi begitu melihat Helen dan Niko yang terlihat girang , mau tak mau Selena juga terpaksa ikut menikmatinya.


Leon sepertinya menyadari hal itu karena dia berbisik di telingan Selena , “apa kau mau pergi dari sini? Kalau kau mau , Kita pindah ke dalam saja.”


Selena berpikir sejenak. Dia belum lama mengenal Leon jadi bagaimana mungkin dia ikut dengannya. Tapi Selena juga tidak terlalu menyukai suasana seperti ini.


Dia balik memandang Leon. Tidak ada firasat aneh saat melihatnya. Percaya dengan instingnya , Selena pun memutuskan untuk mengikutinya.


Ketika Selena berkata akan mencari udara segar bersama Leon , Helen dan Niko hanya berpandangan sambil tersenyum jahil.


**********


“Jadi.....bagaimana pekerjaanmu disini?” tanya Leon memulai pembicaraan.


“Baik-baik saja. Dan lebih lancar daripada yang ku kira.”


“Baguslah. Lalu kapan rencana kembali ke Jakarta?”


“Besok sore. Kau sendiri kapan akan pulang ke Jakarta?”


“Lusa mungkin. Entahlah , rasanya selalu berat setiap meninggalkan Bali.”


“Lalu kenapa kamu tidak tinggal disini saja?”


“Maunya. Tapi pekerjaanku tidak memungkinkan untukku tinggal disini.”


Mulut Selena membulat membentuk huruf ‘O’ sambil mengangguk-anggukan kepala.


“Boleh kutahu apa pekerjaanmu?” pertanyaan Selena membuat Leon mengerlingkan mata.


“Emm....bermain game?” Leon menjawab sambil tersenyum jahil.


“Ish..,” Selena mendesis kesal.


Leon tertawa lebar melihat wajah cemberut Selena , “maaf. Nanti akan ku beritahu. Tunggu saja ya.”


“Terserah...,” gumam Selena.


Walau kesal , tapi Selena tetap bersama Leon sepanjang malam hingga rasa kantuk yang memaksanya menyusul Helen dan Niko dan menarik mereka untuk kembali ke hotel.