
Dentuman kencang musik EDM club ‘Crowd’ semakin mengusik ketidaknyaman Nayra. Duduk di tengah-tengah sofa no 5, Nayra menggerutu kesal karena posisinya menyulitkannya untuk keluar.
“Minum dong, Nay.” Thatia menuangkan alkohol di gelas Nayra yang kosong. “Jangan diem aja.”
Nayra menggeleng. “Gue mau pulang.”
“Apa?” Thatia mendekatkan telinganya. “Lo ngomong apaan? Enggak kedengeran.”
“Gue mau pulang,” ulang Nayra. Kali ini dia menaikkan sedikit intonasi suaranya.
“Masih sore, Nay. Mau kemana sih buru-buru,” sahut Ellin.”Habisin dulu lah minumannya.”
“Tahu nih. Kaku banget hidup lo sekarang. Enggak asyik,” cibir Thatia.
Nayra menghela napas kesal. Jika bukan karena temannya – Shelly, mengadakan barchelorette party disini, Nayra enggan datang ke club hiburan lagi.
Sejak putus dari Dimas dan terperangkap dalam jebakan Leon, Nayra memang memutuskan untuk menjauh dari kehidupan malam.
“Yuk, kita cabut.” Shelly – si empunya acara, tiba-tiba bangkit dari duduknya.
Nayra mengerling senang. Sempat mengernyit heran melihat botol-botol minuman masih terisi tapi ditinggalkan begitu saja. Meski begitu ia hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
Berjalan bersisian dengan Ellin, mereka menembus hiruk pikuk keramaian pria dan wanita yang berjoget di sekeliling area club.
Sayangnya, Keceriaan Nayra berubah jadi kekesalan saat Shelly justru memencet tombol lift lantai 7 dan bukannya groundfloor.
“Loh, kita bukannya mau pulang?” protes Nayra.
Megan merangkul pundak Nayra, “siapa yang bilang kita mau pulang, Nay? Justru party yang sesungguhnya baru akan dimulai.” Megan mencubit pipi Nayra gemas, “awas lo ya kalau pulang. Dipecat jadi temen!”
Nayra memilin tangannya cemas. Dia tahu party seperti apa yang dimaksud Megan. Party gila-gilaan dengan sekumpulan pria-pria ganteng dan mesum.
“Enggak ah. Gue mau…”
Terlambat, tangan Nayra sudah keburu ditarik Shelly begitu pintu lift terbuka. Shelly menggelayut manja di lengan Nayra.
“Sebentar lagi kan gue nikah, Nay. Kapan lagi coba bisa gila-gilaan sama kalian? Ayolah, cuman malam ini doang, masa lo gak bisa?” bujuknya.
Nayra terdiam. Tiga hari lagi, Shelly akan menikahi seorang pria bule berkewarganegaraan Inggris. Dan begitu menikah, temannya itu akan ikut menetap di kota kelahiran suaminya. Sudah pasti Shelly akan susah untuk bertemu mereka lagi.
“Yaudah, tapi gue nggak mau pulang subuh. Minimal jam 1 gue balik,” peringat Nayra.
“Jam 2 deh. Sekarang aja udah mau jam 12, Nay.”
“Jam 1.”
Shelly cemberut. “Iya deh. Jam 1.“ Tersenyum jahil sambil masih mengelayut di lengan Nayra, menggandengnya memasuki room karaoke 705.
Lo enggak bakalan bisa pulang, Nay. Pokoknya Kita party sampai besok!.
.
.
Apartement 2 Park Venue
Alvino merebahkan dirinya di atas sofa panjang sambil memeluk bantal kecil. Manik hitamnya terpaku sepenuhnya pada TV layar datar berukuran 58 inch yang sedang menampilkan pertandingan sepak bola klub favoritnya.
Hampir 2 jam lamanya Alvino tak bergeming dari posisinya. Barulah setelah pertandingan berakhir, Alvino beranjak dari sofa. Mengeliat sejenak, merenggangkan tubuhnya yang kaku.
Berjalan santai menuju kulkas, mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya sampai tersisa setengah. Lalu kembali ke sofa dan mengambil ponselnya, mengecek jika ada chat atau panggilan tidak terjawab.
Sesaat kemudian kening Alvino berkerut. Belum ada chat masuk dari Nayra. Padahal Dalam chat terakhir yang dikirimkan Nayra, wanita itu mengatakan akan pulang jam 1 dan berjanji mengabari Alvino jika sudah sampai di apartement. Alvino lantas melirik jam di layar ponselnya.
Ini udah Jam 3 pagi. Apa dia masih belum pulang juga?
Didera rasa penasaran, pria berbintang Aquarius tersebut pun mencoba menelpon Nayra.
“Hallo?”
Bukannya suara Nayra, Alvino justru mendapati suara asing seorang wanita menjawab panggilannya.
“Nayra?” Alvino sedikit berteriak, mencoba mengalahkan dentuman musik EDM di seberang sana.
“Nayra? Bentar.”
Alvino mendengarkan dengan perasaan gelisah. Sepertinya wanita itu bertanya pada seseorang di sampingnya. “Beb, Nayra mana?”
“Tuh, tepar di sana.” Terdengar suara seorang pria menjawabnya.
KLIK..
Tanpa basa-basi Alvino segera menutup teleponnya dan berlari ke kamar. Mengambil jaket, topi dan masker serta kunci mobil lalu melesat keluar dari apartementnya.
.
.
“Hallo .. hallo??” Megan berteriak lalu melihat layar ponsel dan tersadar kalau sambungannya sudah dimatikan.
“Yee.. b*ngke!! Enggak sopan!” umpatnya.
“Nggak tahu. Barusan ada cowok nelpon Nayra.” Megan bersidekap, membiarkan Andrea menciumi pundak dan lehernya.
“Siapa sih tadi? Kurang ajar banget!” Megan mencoba melihat panggilan telpon yang masuk namun sayang ponsel Nayra sudah keburu terkunci password.
“Udahlah Beb. Ngapain ngurusin Nayra. Tuh, dia aja lagi asyik sama Jemmy,” Andre menunjuk bagian pojok sofa.
Megan memicingkan matanya. Ruangan room yang temaram sedikit menyulitkan penglihatannya. Meski tidak begitu jelas, tapi dari pandangan Megan, Nayra seperti terlihat sedang berpelukan dengan seorang pria.
Megan tersenyum senang. Tidak sia-sia mencekoki Nayra dengan alkohol. Karena Nayra terlihat lebih lepas dan ceria.
Megan dan yang lainnya beranggapan kalau Nayra masih diliputi kegalauan selepas perpisahannya dengan Dimas.
Lepasin beban lo Nay. Malam ini jadilah diri lo sendiri.
Megan menarik satu hisapan terakhir rokoknya lalu mematikannya di asbak dan kemudian berdiri seraya menarik Andre. Membawa pacar semalamnya itu ke sebuah kamar yang ada di ujung room.
.
.
“Gue … mau ..pulang..” Nayra bergumam sembari menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa pusing.
“Ah..sialan,,” Nayra terus memaki. Dia ingin berdiri tapi raganya seakan terbenam di sofa.
Di sampingnya ada Shelly – si empunya acara, yang sama teparnya seperti Nayra. Bedanya, Shelly sudah benar-benar tepar di sofa dengan posisi tengkurap.
“Mau kemana, Nay?” Jemmy mencegah tangan Nayra saat wanita itu berusaha bangkit.
“Pulang!” Nayra menepis kasar tangan Jemmy lalu berjalan sempoyongan, menghiraukan Jemmy yang mengejarnya.
“Tunggu. Biar gue anterin l....,”
Jemmy terkejut saat tiba-tiba seseorang menarik tubuh Nayra. Dia menatap tajam pelakunya. “Siapa lo?”
Alvino balik melotot tajam, “saya pacarnya Nayra. Anda siapa?” tanyanya dingin.
Refleks, Jemmy mundur selangkah. Sorotan tajam Alvino membuat nyalinya ciut. Apalagi saat tanpa sengaja, Jemmy melihat Alvino sudah bersiap mengepalkan tangannya.
Melihat Jemmy terpaku di tempatnya, Alvino lantas berbalik dan merangkul bahu Nayra dan melangkah pergi. Tapi langkah Alvino terhenti karena Megan sudah menghadangnya di depan pintu.
“Temen gue mau di bawa kemana?! Lepasin!” Megan berusaha menarik Nayra tapi Alvino langsung menepisnya.
Alvino mengenali suara Megan. “Tadi kamu ya yang jawab telepon saya?”
“Oh, jadi elo si cowok kurang ajar tadi?!” semprot Megan.”Gue enggak tahu lo siapa tapi …”
“Saya pacarnya Nayra.” Potong Alvino. “Sekarang tolong minggir, saya mau bawa dia pulang.”
Megan tertawa sinis, “hah! lo pikir gue tolol?! Nayra itu jomblo. Udah deh, lo lepasin temen gue sekarang atau gue panggil sekuriti buat ngusir lo keluar.”Gertaknya.
“Terserah. Yang jelas omongan saya jujur. Saya memang pacarnya Nayra.” Alvino melengos pergi mengejar Nayra yang berjalan sempoyongan tak tentu arah.
Kesal karena omongannya tidak digubris, Megan bergegas keluar dan memanggil sekuriti, meninggalkan Alvino yang terlihat sibuk membantu Nayra mencari tasnya.
Tak berselang lama, Megan kembali dengan dua orang pria berseragam hitam. “Itu Pak orangnya!” tunjuknya berapi-api ke arah Alvino.
Megan berjalan mengekori sekuriti sambil tersenyum sinis. Alvino menatap tajam kedua sekuriti tersebut. Dia lalu menghela napas kesal dan membuka maskernya.
Senyuman Megan seketika luntur saat kedua sekuriti tersebut justru tertunduk hormat dan meminta maaf kepada Alvino.
Mampus gue. Siapa nih cowok? Kok sekuritinya jadi hormat gini.
Ah, alamat kena kasus lagi deh gue.
Megan mulai ketar-ketir. Tanpa masker, dia bisa melihat wajah pria yang mengaku sebagai kekasih Nayra. Megan memicingkan matanya. Wajah itu tampak familiar.
Gue kayak pernah lihat dimana ya?
Oh..my God.. I know him!!
“Anda.. Alvino Christian Immanuel Dharmawan?” tanyanya tercengang.
Alvino mengangguk.
Megan menelan salivanya. Merutuki kebodohannya dalam hati.
“Anda..beneran pacarnya Nayra?” tanya Megan pelan. Meski takut, Megan harus memastikan apakah benar pria di hadapannya ini adalah kekasih temannya.
Lagi-lagi Alvino mengangguk. Megan mendeteksi wajah Alvino dan merasakan kejujuran di matanya.
“Sudah bisa saya antar Nayra pulang sekarang? Atau masih butuh konfirmasi lain lagi?” sindir Alvino.
Megan salah tingkah. Ia buru-buru membuka jalan, membiarkan Alvino melewatinya. Megan tidak melepaskan pandangannya sampai keduanya masuk ke dalam lift.
Senyuman tulus seketika terbit di sudut bibirnya. Meski tidak mengenal sosok Alvino secara personal tapi Megan sering mendengar hal-hal baik mengenai keluarga Alvino dari sosial media maupun internet.
Dan malam ini, Megan melihat sendri kebenaran dari cerita-cerita tersebut.
Karena lo anak baik, jadi Tuhan juga kasih yang terbaik buat elo. Semoga dia bisa jadi jodoh yang terakhir buat elo, Nay.