
Sore ini sepulang kerja , Selena mengajak Gina untuk nongkrong di cafe favorit mereka sekaligus menceritakan soal perjodohannya.
Niatnya agar Gina ikut membantu membujuk mamanya agar menolak perjodohan ini. Namun tak disangka justru sahabatnya malah ikut mendukung.
"Jadi lo mau dijodohin? Sama cowok yang sama sekali lo gak pernah temuin?"
Gina terlihat bersemangat saat Selena bercerita soal perjodohannya.
"Keren." Desisnya.
"Apa?" Selena terkejut melihat respon Gina.
"Keren darimana?" Matanya mendelik tajam sementara yang ditatap hanya cengengesan tak berdosa.
"Ya, keren dong. Kayak di sinetron," ujar Gina nyengir sambil menyeruput kopinya.
"Hah .. tau ah!" Selena mendengus kesal.
Gina melirik Selena dengan perasaan sedikit bersalah. Raut mukanya terlihat tertekuk. Berulang kali dia menghembuskan napas panjang.
Tatapan Selena pun tampak kosong dan hanya menusuk-nusuk red velvet cakenya tanpa dia makan. Padahal biasanya Selena langsung melahap habis cake favoritnya tersebut.
Gina mendesah pelan. Sebenarnya Gina tahu kalau masalah perjodohan ini membuat sahabatnya cukup tertekan.
Bagaimana tidak , selama ini hidup Selena hanya berfokus pada satu tujuan yaitu kesuksesan. Sejak jaman sekolah , Selena sudah mengasah dirinya untuk belajar lebih keras dibanding yang lain.
Gina ingat betul , karena kegilaannya untuk belajar sampai membuat Selena jatuh pingsan dan mimisan beberapa kali. Namun berkat itu pula , Selena mendapat beasiswa di sekolah terbaik bahkan bisa melanjutkan kuliah di luar negeri.
Di usia 20 , Selena sudah lulus setahun lebih cepat dari mahasiswa lainnya dan langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan industri pangan terbesar di Asia Tenggara.
Dia memulai karirnya dari posisi terbawah. Kegigihannya akhirnya membuahkan hasil karena kini di usia 27 tahun , dia sudah menjadi General Manager.
Teman-temannya bisa dihitung pakai jari. Selain itu Selena hanya pernah berpacaran sekali saat di SMA. Itu pun hanya bertahan selama 2 bulan saja.
Entah sudah berapa banyak pria yang Gina coba kenalkan. Namun Selena selalu menolak dengan berbagai alasan. Makanya saat mendengar perjodohan ini, tentu saja Gina merasa senang.
Tapi sepertinya yang dia lakukan justru membuat Selena bersedih. Bertekad untuk membuatnya kembali ceria , Gina pun berinisiatif mengajaknya pergi.
"Sel , mau ke salon gak? Lagi ada model nail-art baru katanya."
"Nail-art?"
Akhirnya senyum terukir dari raut wajah Selena. Dia sangat menyukai nail-art dan Gina tahu hal itu. Tapi kemudian Selena mengernyitkan matanya.
"Tapi bukannya lo janjian sama Martin?"
"Ini lagi gue re-schedule." Ujar Gina sambil menatap layar ponselnya. Tangannya sibuk mengetik ponsel.
Malam ini seharusnya dia dan Martin merayakan anniversarry hubungan mereka yang ke 4 tahun. Tapi Gina tidak nyaman memikirkan kalau harus bersenang-senang sementara sahabatnya sedang bersedih seperti ini.
"Oke. Done!" Gina tersenyum lebar.
Untungnya Martin mau mengalah. Walau tentu saja , Gina harus membayarnya dengan berjanji akan melakukan hal yang selama ini Gina jarang mau lakukan.
Yakni , menemani kekasihnya bermain futsal. Bukan apa-apa, hanya saja Gina merasa menunggu Martin bermain futsal itu membuang waktunya secara sia-sia. Dia hanya duduk dipinggir lapangan selama 2 jam. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Let's go!"
Gina menggandeng tangan Selena dan memaksanya meninggalkan area restoran. Sementara Selena hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Gina seraya bersyukur di dalam hati karena Tuhan telah memberikannya seorang sahabat terbaik.