The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kecemasan Dimas



Leon tergagap mundur. Netranya membola sementara tangannya mengepal gemetar meremas t-shirt hitamnya. Piasnya memucat.


Tak pernah dibayangkannya kalau Selena akan memintanya menjauh. Bahkan dari kata-katanya tersirat seolah Leon sudah sangat menganggunya.


Berarti selama ini dia terganggu dengan kehadiranku?


Selena mengigit bibirnya, menahan himpitan nyeri di hatinya. Rongga dadanya terasa sesak melihat Leon begitu terpukul mendengar perkataannya.


Selena berusaha menahan air matanya. Menyakinkan dirinya kalau ini keputusan terbaik yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.


Leon harus pergi dari hidupnya. Pergi dari kehidupan keluarga kecilnya. Selamanya.


Perasaannya kepada Leon merupakan sebuah kesalahan. Kesalahan besar yang tak boleh ia ulang.


Dimas sudah memberikan seluruh hatinya untuknya. Kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama?


“Jadi, semua hal yang kita lakukan bersama dulu …. Semuanyaa menganggumu?” pertanyaan Leon menyadarkan Selena dari lamunannya. Suara Leon terdengar bergetar.


“Kamu juga sudah tahu kan alasanku mendekatimu karena apa? Apa kamu pikir, selama ini aku benar-benar menganggapmu sebagai teman?” ceplos Selena sengit.


Selena terkejut sendiri begitu selesai melontarkan kalimatnya. Tapi dia segera memasang kembali wajah datarnya seraya memperhatikan Leon yang sedari tadi hanya berdiri tertunduk.


Tiba-tiba Leon mengangkat kepalanya. Seketika itu juga Selena terkesiap. Sorot mata Leon memancarkan kesedihan dan perasaan terluka. Kentara sekali kalau Leon berusaha menahan air matanya. Selena bisa melihat kabut di manik abu-abunya.


Selena langsung memalingkan wajahnya. Melempar pandangan ke segala arah. Tapi kemudian dia sadar, sikapnya bisa membuat Leon berpikiran kalau kata-katanya hanya omong kosong belaka.


Makanya Selena mati-matian menguatkan hatinya, mengontrol raut wajahnya agar bisa menatap Leon. Memberinya sorot ketegasan yang menyiratkan kalau semua perkataannya adalah kejujuran.


Suara tangisan Sky memecah keheningan di antara mereka. Selena langsung bergegas menggendong Sky. Menimang-nimang putra kecilnya sembari mengajaknya berbicara. Untuk sejenak, Selena melupakan keberadaan Leon.


“Mungkin dia haus..” tiba-tiba saja Leon sudah berdiri di samping Selena.


Selena berjengit kaget. Dia langsung bergerak siaga hendak menjauhkan Sky dari jangkauan Leon tapi diurungkannya. Putra kecilnya tiba-tiba saja tertawa melihat Leon. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Leon.


“Sky!” protes Selena.


Kaget, Sky langsung menangis. Dia meronta-ronta di pelukan Selena, menggapai-gapai minta di gendong Leon.


“Boleh aku menggendongnya?” tanya Leon penuh harap.


“Menjauh dari istri dan anakku!!” bentak Dimas yang tiba-tiba sudah menghampiri mereka. Dimas menggertakan giginya, berdiri di tenga-tengah Leon dan Selena. Matanya berkobar nyalang menatap Leon.


Di balik punggung Dimas, Selena sibuk menenangkan Sky yang terus menangis. Sepertinya Sky ketakutan saat mendengar bentakan Dimas.


“Ini peringatan terakhir dariku. Jangan pernah muncul di hadapan kami lagi atau ku patahkan kedua tanganmu dan menjebloskanmu kembali kesana!!!” ancam Dimas. Dia lalu berbalik, menggandeng Selena sambil mendorong stroller.


Sepanjang perjalanan pulang, Selena tak berani memandang Dimas. Mereka berjalan bersisian tanpa berbicara apapun. Sky sendiri sudah tenang di dalam gendongan Dimas. Bayi mungil itu sibuk memainkan dasi merah Dimas seraya berceloteh asal.


.


.


Tak tahan dengan kecanggungan yang menguar, Selena memberanikan diri mendekati Dimas setelah pria itu selesai bebersih badan.


“Heem….,” Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Dimas. Pria itu membelakangi Selena sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Selena menghela napas gusar. Jelas sekali kalau suaminya masih dilanda kekesalan. Selena lantas beringsut dari duduknya, berjalan pelan mendekati Dimas lalu memeluknya dari belakang.


“Kamu jangan mikir aneh-aneh dulu.. Seriua deh.. Tadi itu aku udah coba ngusir dia tapi tahu-tahu Sky rewel… Jadi fokusku ya ke Sky dulu, mana aku sadar kalau dia ada di dekatku tadi,” Selena mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya sambil tetap memeluk Dimas.


Terdengar helaan tarikan napas Dimas. Dia melepaskan kaitan tangan Selena di pinggangnya, lalu berbalik menatap Selena. Wanita itu terkesiap sebentar saat Dimas tiba-tiba mendekapnya erat.


“Aku tahu.. aku dengar semuanya…” ucap Dimas lirih. “Makasih udah menjaga hatimu, Sugar. Aku bukan marah sama kamu. Aku marah sama diriku sendiri yang nggak bisa menjaga kamu dan Sky. Dari seorang Leon aja aku bisa kecolongan, gimana ke depannya nanti? Apa aku bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk kalian?”


Selena menggeleng cepat, merangkulkan lengannya di pundak Dimas. Tinggi badan Dimas yang menjulang membuatnya harus sedikit mendongak tiap kali mau berbicara dengannya.


“Apa sih maksudmu perkataanmu, Bi? Kamu itu ayah dan suami terhebat di dunia!! Jangan pernah meragukan dirimu sendiri. Sky nggak kekurangan apa pun berkat kerja kerasmu. Begitu pun aku. Tanpa aku harus bekerja, aku bisa beli semua yang aku inginkan. Itu semua karena siapa coba? Karena kamu, Bi. Jadi tolong… jangan pernah berucap seperti itu lagi.”


Selena menangkup wajah Dimas, menatap dalam suaminya tersebut, “Kamu nggak akan menjaga Sky sendirian, ada aku - ibunya. Kita berdua akan menjaga Sky bersama. Lagian, apa kamu pikir aku tadi bakal ngijinin Leon menyentuh Sky?!” Selena tiba-tiba mendengus pelan, “big NO!”


Dimas tertawa kecil lalu memeluk Selena seraya mengecup ceruk leher Selena, “makasih, Sugar. I love you.”


“Love you too,” balas Selena lembut.


***********************


Sementara itu, di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari Jakarta.


Nayra berdiri bersandar di balkon apartemennya seraya menatap indahnya langit malam. Dari kejauhan, dia bisa melihat patung Merlion berpendar memukau dihiasi sorotan lampu warna-warni.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Nayra memeriksa ponselnya. Tersenyum kecil begitu membaca pesannya. Tak berapa lama kemudian, dia mulai asyik berkirim pesan dengan seseorang di seberang sana.


.


.


“Itu sudah semuanya?” tanya Jay saat melihat Nayra membawa kopernya keluar dari dalam kamar.


“Sudah, Kak.”


“Yakin kan? Kita nggak akan kesini lagi loh. Begitu kita keluar, tempat ini langsung jadi milik orang lain.”


Nayra mengacungkan jempolnya, “sudah 3x aku periksa dalamnya. Aman,Kak. Nggak ada yang ketinggalan.”


Jay mengangguk puas. “Oke, kita berangkat.” Jay menarik koper besar berwarna biru di tangan kanan sementara tangan kanannya menjinjing beberapa paper bag.


Nayra mengekor di belakangnya sambil mendorong kopernya yang juga berukuran besar.


Sebelum mengunci pintu, Nayra mengedarkan pandangannya, menatap apartement yang sudah setahun ini menjadi tempat tinggalnya. Sekelebat bayangan saat masih tinggal di dalamnya, mendadak melintas di benaknya.


Seruan Jay yang bergema di lorong, memutuskan lamunannya. Nayra terkesiap lalu tersenyum sekilas sebelum akhirnya mengunci apartement tersebut dari luar.


Nayra melangkah cepat seiring debaran jantungnya yang berdegub kencang karena tak sabar ingin segera menemui seseorang yang sudah sangat ia rindukan.