
Sudah hampir seminggu Selena menjalin ‘kedekatan’ dengan Leon. Meski awalnya benci, tapi lama kelamaan perasaan itu menghilang begitu saja. Justru Selena merasakan ketulusan dari perhatian Leon.
Tak ayal perubahan Selena membuat Dimas diLanda kekhawatiran dan perasaan kesal. Kekesalannya semakin bertambah karena dia tak kunjung juga menemukan Anna.
Anna adalah asisten Leon yang ditetapkan polisi sebagai terdakwa kasus pencemaran nama baik dan UU ITE. Anna diduga sebagai dalang penyebaran video-video lama Dimas dan Nayra yang beredar di dunia maya.
Tapi Dimas tak mempercayainya begitu saja. Dia yakin kalau Leon adalah pelaku sebenarnya. Leon menggunakan nama Anna dan menyembunyikan wanita tersebut di suatu tempat.
Sadar kalau pesona Leon bisa benar-benar menaklukan Selena, Dimas semakin keras mencari Anna. Namun sia-sia. Anak buahnya yang diperintahkan untuk mengawasi pergerakan Leon tak kunjung mendapatkan hasil. Hingga akhirnya Dimas mendapatkan angin segar.
Suatu malam, Selena mengabarinya perihal sikap Leon yang mencurigakan. Pria itu gelisah dan bergegas pamit keluar begitu mendapat telepon dari seseorang. Dimas pun bergerak cepat mengikuti Leon setelah sebelumnya melumpuhkan 2 orang anak buah Leon di basement apartement.
Jejak Leon membawanya ke sebuah rumah berlantai 2 di komplek perumahan baru yang masih sepi. Dari kejauhan Dimas yang kala itu ditemani Martin mendapati rumah tersebut di jaga oleh beberapa orang berbadan besar. Melihat hal tersebut, mereka berdua yakin kalau Anna berada di sana.
“Sekarang tinggal kita pikirkan bagaimana caranya masuk kesana,” ucap Dimas sambil melajukan mobilnya pergi.
“Itu sih gampang,” celetuk Martin santai. “Kita tinggal menyamar sebagai petugas instalansi listrik atau air. Mereka pasti nggak akan curiga.”
Dimas mengerutkan keningnya, menyangsikan ucapan Martin.
Mana bisa segampang itu? Memangnya anak buah Leon bodoh?
.
.
Tapi nyatanya memang semudah itu bagi Dimas dan Martin untuk menyusup masuk.
Dengan hanya bermodalkan pakaian dinas petugas listrik, mereka berdua bisa leluasa menjelajahi setiap sudut ruangan.
Berpura-pura melakukan pengecekan rutin, Dimas dan Martin memulai pencarian mereka.
Martin bertugas sebagai pengalih perhatian, sementara Dimas menyusuri rumah. Saat berada di lantai 2, Dimas menyadari ada seseorang tengah mengawasinya dari balik pintu sebuah ruangan yang sedikit terbuka.
Dimas segera menghampirinya, dan mendapati seorang wanita berambut pendek, berkulit sawo matang di sana.
Anna
Anna langsung ketakutan begitu menyadari kalau pria tersebut adalah Dimas. Dia berniat melarikan diri namun posisi Dimas menghalanginya keluar.
Dimas menempelkan jari telunjuknya di bibir sambil matanya celingukan mengawasi keadaan di lantai 2.
Anna mengangguk. Rasa takutnya menghilang. Feelingnya mengatakan kalau Dimas tidak sejahat yang selama ini dikatakan Leon padanya.
Dimas berjalan mendekati Anna, membisikkan sesuatu di telinganya. Anna terkesiap. Belum habis rasa terkejutnya, Dimas sudah menyelipkan sesuatu di tangannya.
Anna termangu beberapa saat. Lalu kemudian dia mengangguk paham. Dimas tersenyum simpul dan bergegas kembali ke lantai 1.
******
Setelah 2 hari berlalu tapi Anna masih belum juga memberikan kabar. Dimas mulai uring-uringan lantaran terpaksa merelakan Selena yang nanti malam akan melakukan dinner romantis bersama Leon.
Karena suasana hati Dimas memburuk, suasana di kantor pun jadi menegangkan. Sepanjang pagi Dimas sama sekali tak menunjukkan senyumnya. Dia menjadi lebih sensitif dari biasanya. Para karyawan pun berusaha sebaik mungkin agar tak melakukan kesalahan. Karena jika Dimas sedang kesal, dia tidak akan mentolerir kesalahan meski sekecil apa pun.
Biasanya Dirga selalu menjadi korbannya. Sebagai asisten dan tangan kanan langsung Dimas, pria itu lebih sering menerima banyak omelan ketimbang pegawai lainnya. Dirga hanya bisa mengelus dada pasrah.
Beruntung kedatangan Martin ke kantor menyelamatkannya dari sasaran kekesalan Dimas. Begitu melihat Martin, senyum cerah terbit di wajah Dimas. Entah sejak kapan bromance di antara Dimas dan Martin mulai terjalin. Padahal Dirga sempat pesimis kalau atasannya tersebut bisa bekerjasama dengan Martin, mengingat kepribadian keduanya yang sama-sama introvert.
“Terima kasih Tuhan, saya jadi bisa tarik napas sejenak,” gumam Dirga senang. Sambil bersenandung, pria berkacamata itu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
.
.
“Di belakangnya ada tombol kecil,” kata Martin. Dimas membalik anting tersebut dan melihat ada setitik tonjolan kecil. “Kalau di tekan, bisa langsung me-record.”
Dimas mengangguk-anggukan kepala. Puas mengagumi mahakarya Martin, Dimas menaruh kembali anting tersebut ke dalam box. “Thanks.”
Tiba-tiba Dimas menyandarkan punggungnya ke sofa. Mukanya kembali tertekuk masam. “Ah, sialan!” umpatnya kesal. “Masih belum ada kabar dari Anna?”
Martin menggeleng.
“Tck.” Decih Dimas sambil menyugar kasar rambutnya. “Bisa gila kalau memikirkan Selena akan ke mansion cecunguk itu!! Apa kita nggak bisa langsung menjemput Anna? Aku bisa kirimkan anak buahku.”
Dimas sudah bersiap mengambil ponselnya. Tapi delikan tajam Martin menyurutkan niatnya.
“Jangan merusak rencana! Kalau kita langsung menyerbu, orang-orang di rumah itu pasti akan melapor ke Leon. Dan pria itu pasti akan bisa menebak tujuan Selena mendekatinya. Lalu setelah itu apa?
Kita hanya bisa mendapatkan Anna tanpa adanya bukti-bukti keberadaan ruangan rahasia itu. Padahal ruangan rahasia itu merupakan salah satu bukti terpenting kita. Sekedar mengingatkan Anda, kita juga masih belum tahu apa Anna bersedia menjadi saksi nantinya,” cerca Martin.
“Dan jangan lupakan kalau pria itu bisa memanipulasi keadaan. Bisa saja nanti dia berpura-pura tidak tahu dan terus berada di dekat Selena. Jangan sampai dia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap Nayra,” tambahnya.
Dimas menggertakan gigi, mengepal erat tangannya. “Kalau sampai dia menyentuh Selena, peduli setan dengan rencana ini! Akan langsung aku hancurkan kedua tangannya!”
Martin hanya terdiam. Tak hanya Dimas, Martin sendiri pun juga pasti melakukan hal yang sama jika sesuatu menimpa sahabatnya tersebut.
*******
Dewi fortuna sepertinya memang berpihak kepada Dimas. Baru tadi siang dia mengeluhkan tentang rencananya yang berjalan lambat, tapi sore ini Martin memberinya kabar gembira.
Anna sudah bersedia untuk membantu Dimas. Dia berencana melaksanakan aksinya malam ini bertepatan dengan Selena yang akan mengunjungi mansion milik Leon.
Tapi kegembiraan Dimas rusak lantaran melihat penampilan Selena malam itu. Sheath dress merah selutut terlihat cantik membalut tubuh indah Selena. Dimas yang sejak kemarin tidur di apartemen Selena, mengerucutkan bibirnya. Menatap kesal Selena yang sedang berdandan.
“Harus ya pakai baju seseksi itu?” protesnya. “Leon pasti kegirangan banget lihat kamu. Sengaja ya kamu?” sarkasnya.
Selena tergelak tawa. Menaruh kembali blush-on yang siap ia pulaskan. “Kamu mau aku gimana, Bi? Masa aku nge-gembel di depan Leon? Ini kan tujuannya biar Leon tertarik. Jangan marah, Bi. Aku jadi serba salah,” bujuknya.
“Kamu pakai daster aja..” usul Dimas asal.
“Ngaco!” sembur Selena.
“Bercanda, Sugar..” Dimas mengalungkan kedua tangannya di pundak Selena, memeluknya dari belakang. “Sebenarnya aku nggak suka lihat kamu seperti ini. Maafin aku. Karena masalahku, kamu jadi ikut terlibat.”
“Kenapa mesti minta maaf? Dari dulu aku udah pernah bilang ke kamu, kalau ini menyangkut tentangku juga. Aku juga mau tahu apa yang ada di dalam kamar rahasia itu. Kamu lupa ya, aku ini istri kamu, Bi. Berarti Masalahmu adalah masalahku juga.”
Dimas hanya terdiam, membenamkan kepalanya semakin dalam di pundak Selena. Dalam hatinya ia berjanji, jika kelak masalah ini selesai dia tak akan pernah lagi mengecewakan wanita yang dicintainya. Tidak akan lagi orang-orang masa lalu lainnya di antara mereka.
******
“Jadinya hari ini?” tanya Dimas pagi itu.
“Iya. Leon baru akan kembali ke Indonesia malam ini. Aku perkirakan dia mungkin akan sampai malam nanti. Kita punya cukup banyak waktu,” jawab Martin.
Dimas mengangguk puas. Dia sempat kesal karena Anna tiba-tiba saja mengubah pendiriannya. Dimas pikir Anna mungkin masih memiliki keraguan terhadapnya. Tapi rupanya, Anna sengaja mengundur waktu agar bisa bertepatan dengan kepergian Leon ke Jepang, entah apa alasannya.
“Ohiya, ini hasil rekaman Selena malam itu,” Martin menyodorkan sebuah flashdisk. Tapi saat tangan Dimas hendak terulur mengambilnya, Martin berkata tegas, “jangan emosi setelah melihat ini! Ingat, sebentar lagi rencana kita berakhir. Jangan sampai Anda merusaknya!” peringatnya.
Dimas berdecak tak senang. Tapi dia tetap mengangguk. Begitu Martin pamit pulang, Dimas langsung memasang flashdisk itu ke dalam laptopnya. Baru beberapa menit menonton, Dimas sudah kepanasan. Dia tak berhenti mengumpat sepanjang menontonnya.
“Benar-benar cecunguk gila!!” makinya.