
Nayra Teona, model rookie terkenal digadang-gadang akan melejit seperti Kelly Tandiono atau bahkan Miranda Kerr. Paras cantiknya, proporsi badannya yang tinggi semampai ditambah kemampuannya berjalan di atas catwalk semakin mengukuhkan pernyataan tersebut.
Tapi sekarang semua hilang menguap begitu saja. Animo masyarakat terhadap dirinya berubah menjadi kebencian semenjak skandalnya mencuat. Dicap sebagai pelakor, ternyata berimbas besar pada kariernya.
Nayra yang dulu disibukkan dengan segala aktifitas, kini lebih banyak berdiam di apartemen. Melakukan beberapa project kerjanya yang masih bersisa. Tak banyak kontrak yang mendatanginya. Bahkan bisa dibilang tak ada.
Satu-satunya kontrak besar yang masih tersisa hanyalah kontraknya sebagai Brand Ambassador Spyrogames, yaitu perusahaan game milik Leon.
Nayra sempat berniat untuk membatalkan kontrak tersebut, tapi tak bisa. Ada penalti milyaran rupiah yang harus dia bayar, jika dibatalkan dari pihak Nayra.
Gina – selaku direktur agensi yang menaungi Nayra, menolak mentah-mentah membayar ganti rugi sebesar itu. Gina yang tadinya mengelu-elukan Nayra, kini membencinya.
Tak ada lagi sapaan manis yang biasa diucapkan Gina. Wanita itu bahkan enggan menemui Nayra secara langsung dan lebih memilih berkomunikasi lewat Jay, manager Nayra.
“Kamu yakin, Nay?” Sudah berulang kali Jay menanyakan hal yang sama. Pias wajah pria bertubuh gempal itu terlihat cemas.
“Yakin, Kak. Memangnya bisa aku tolak?” Nayra balik bertanya.
Jay hanya bisa terdiam membenarkan ucapan Nayra. Dia menghela napas panjang sambil mengusap kasar wajahnya. “Walau pun begitu, kamu harus tetap hati-hati. Langsung hubungin Kakak kalau ngerasa nggak beres.”
Nayra tersenyum lebar seraya mengacungkan ibu jarinya. “Siap, Kak.”
****
Selena melangkahkan kakinya tergesa-gesa memasuki lobi kantor Spyrogames.
Sepanjang perjalanan tadi, dia berusaha menelpon adiknya. Tapi tidak kunjung dijawab. Begitu pun dengan ponsel Leon.
“Permisi Mba, saya mau bertemu dengan Pak Leon.” Ucap Selena kepada seorang wanita berambut pendek di meja resepsionis.
“Sebelumnya sudah membuat janji, Bu?”
“Belum. Tapi…”
“Maaf.” Wanita itu langsung memotong perkataan Selena. “Ibu harus membuat janji terlebih dulu. Saya sarankan, Ibu kembali lagi besok pagi. Boleh saya tahu, dengan Ibu siapa? Biar saya buatkan janji.”
Selena menghela napas panjang, berusaha meredam emosinya. “Coba tolong sambungkan dulu dengan Pak Leon. Dia pasti mau bertemu saya. Tolong sampaikan kalau Selena ada di lobi.”
Wanita berambut pendek itu tampak kesal dengan sikap keras kepala Selena. Mereka berdua pun mulai terlibat perdebatan sampai seorang satpam menghampiri mereka.
“Saya sudah bilang sama Mba ini, sambungkan saya dengan Pak Leon!” Hardik Selena kesal.
“Selena?”
Mendengar namanya disebut, Selena refleks menoleh ke belakang. Netra cokelatnya seketika membulat melihat Nayra mendekatinya.
Belum sempat Selena membuka mulutnya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Wanita itu menyeringai saat melihat nama penelponnya. Sambil meninggikan suaranya, Selena menjawab panggilan tersebut.
“Aku udah di lobi. Tapi aku nggak tahu ruanganmu dimana. Resepsionis sama satpammu malah menyuruhku pulang.” Ucap Selena sambil mendelik tajam ke arah resepsionis.
Begitu panggilannya terputus, kali ini terdengar deringan telepon di meja resepsionis.
Beberapa menit kemudian, wanita berambut pendek itu keluar dari meja resepsionis dan membungkukkan badannya di depan Selena. “Ma-maafkan saya, Bu Selena. Saya tidak tahu kalau Anda temannya Pak Leon. Sekali lagi, tolong maafkan ketidaktahuan saya. Mari Bu, saya antar ke ruangan Pak Leon.”
“Sudahlah, saya bisa sendiri. Kasih tahu saja dimana ruangannya.” Sahut Selena ketus.
“Biar aku yang antar Sel. Sekalian aku juga mau ke lantai yang sama.” Timpal Nayra tiba-tiba.
“Terserahlah.” Gumam Selena sambil melenggang pergi.
Selena dan Nayra berjalan bersebelahan masuk ke lift menuju lantai 10. Suasana canggung menyeruak di dalam ruangan kecil itu. Mereka berdua membisu dan saling membuang muka.
“Selena…” Begitu pintu lift terbuka, mereka berdua dikejutkan dengan sosok Leon yang sudah menanti di depan lift. Pria berparas Eropa itu terlihat senang menyambut Selena. “Ayo, kita bicara di ruanganku.”
Berbanding terbalik dengan Selena, Leon justru bersikap dingin saat melihat Nayra. Pria itu bahkan seperti tak menganggapnya. Dia hanya menyapa Selena sementara Nayra dilewatinya begitu saja.
Nayra tersenyum getir. Padahal kemarin-kemarin sikap Leon sangat ramah padanya. Nayra hanya bisa mengigit bibirnya, memandangi punggung Leon dan Selena yang sudah pergi menjauh.
****
Meeting dengan staff pemasaran Spyrogames ternyata cukup memakan waktu. Nayra merasa lelah, terlebih sikap staff pemasaran membuatnya ingin segera pulang.
Mereka secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Nayra. Mereka juga tak segan-segan menyindir Nayra atau memotong kalimatnya tiap kali ia berbicara.
Seakan belum cukup, tiba-tiba saja Leon memintanya datang ke ruangannya setelah meeting berakhir. Keringat dingin mulai membasahi kening Nayra. Jantungnya berdebar kencang karena takut. Sebelum melangkah masuk ke ruangan kerja Leon, Nayra terlebih dulu mengirimkan pesan text ke Jay.
“Masuk.” Terdengar suara bariton Leon dari balik pintu.
Nayra menghela napas panjang sebelum membuka pintu berwarna hitam tersebut. Dia terkejut melihat Leon yang tiba-tiba tersenyum ramah padanya.
Tak jauh dari Leon duduk, terlihat Selena sedang bersidekap sambil melotot tajam ke arah Leon. Dia juga melihat ada seorang remaja muda di samping Selena.
Begitu Nayra duduk, remaja muda itu pamit keluar meninggalkan mereka bertiga. Nayra tertegun menyadari intensitas ketegangan di ruangan tersebut. Dia tak berani membuka mulutnya dan hanya mengalihkan pandangannya.
“Aku percayakan adikku padamu. Aku yakin, kamu memperkerjakannya karena kemampuannya, bukan karena kita saling mengenal atau kau ada tujuan lain. Aku harap, aku bisa mempercayaimu.”
Bola mata Nayra membulat mendengar penuturan Selena.
Jadi yang barusan itu adiknya Selena? Tapi kenapa dia bisa bekerja disini?
“Tenanglah, Sel. Aku nggak sepicik itu. Terimakasih sudah mau mengerti aku. Aku janji akan menangkap Anna. Benar ‘kan Nay?”
“Ha?” Nayra terkesiap karena tiba-tiba Leon mengajaknya berbicara. Tanpa tahu pembicaraannya, Nayra hanya mengangguk.
Selena mendengus kesal sambil bangkit berdiri. “Baiklah. Aku pergi dulu.” Selena tiba-tiba berbalik, menatap langsung Nayra. “Kamu nggak pulang, Nay?”
“Nayra masih ada urusan pekerjaan denganku.” Jawab Leon cepat sambil tersenyum lembut.
Selena sempat terdiam, sebelum akhirnya melangkah keluar meninggalkan Nayra dan Leon.
Grep.
Baru saja pintu tertutup, tiba-tiba Leon menarik kencang tangan Nayra, memaksa wanita itu untuk berdiri.
“Akkh..” Nayra mengernyit saat tangan Leon menjambak rambutnya. “Le-leon..”
“Bicara apa saja kamu ke Selena?!” Tatapan bengis Leon menusuk netra Nayra. Wanita itu ketakutan sambil menahan tangan Leon yang masih menggenggam erat rambutnya. “Jawab!”
Leon mencengkram rahang Nayra sambil mendorongnya ke tembok. Punggung Nayra terasa nyeri karena benturan itu. “Aku tahu semua tentang kamu, Nay. Keluargamu… Kakakmu perempuanmu..” desis Leon tajam di telinga Nayra.
Mata Nayra membola ketakutan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ja-jangan sakitin Kakakku.. Aku mohon…”
Air mata Nayra menggenang di pelupuk matanya. Dia tahu kalau Leon bisa bersikap nekat.
“Turutin semua perkataanku kalau kamu mau kakakmu selamat! Nggak ada yang mau membantumu lagi, Nay. Apa kamu pikir Dimas bisa melindungimu? Lihat sekarang, apa yang Dimas lakukan untuk karirmu? Nggak ada ‘kan? Sekarang prioritas Dimas bukan kamu lagi! Cuma aku yang bisa bantu kamu. Dengan koneksiku, kamu bisa berjaya lagi seperti dulu.”
Nayra terdiam, memejamkan matanya. Leon sudah tak lagi mencengkram rahangnya, tapi pria itu masih menjambak rambutnya. “Jadilah anak yang baik, oke?”
Setelah bicara begitu, Leon melepaskan jambakannya dan mendorong Nayra hingga jatuh tersungkur. “Pergi. Nanti akan kuhubungi lagi.”
Nayra berdiri, dengan gemetar dia merapikan rambutnya dan mengusap air matanya. Tanpa menoleh ke belakang, Nayra berjalan pelan keluar dari ruangan Leon.