The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Tidur Berdua



Pekerjaan yang dilakukan Dimas dan Martin selama seminggu, akhirnya berakhir sia-sia. Dengan liciknya, Leon melimpahkan semua kesalahannya kepada Anna – sekretarisnya.


Dia tiba-tiba meliris pernyataan kalau postingan-postingan itu dilakukan oleh Anna. Leon menambahkan kalau itu semua dilakukan Anna karena obsesinya terhadap Dimas.


Bak pahlawan kesiangan, Leon sampai membungkukkan badannya di hadapan media, sebagai tanda permintaan maaf karena tak bisa menjaga karyawannya.


Dimas kalah telak. Mau tak mau, dia terpaksa memperkarakan Anna. Sebelumnya Dimas sempat membuat geger publik karena menuduh Leon sebagai dalang penyebar postingan anonim itu.


Tapi sayang, bukti yang dikumpulkan Dimas masih belum sanggup untuk menjerat Leon. Yang ada, malah menjadi bumerang buat Dimas. Masyarakat malah menuduh Dimas sengaja lepas tangan dari skandalnya sendiri.


Sekarang justru Leon yang dielukan. Dia dianggap malaikat karena membantu Dimas mengungkap kebenaran alih-alih membalas perlakuan Dimas padanya.


“Sial!” Dimas menggebrak mejanya. Dirga sampai terlonjak kaget. Sementara Martin hanya duduk menyilangkan kakinya sambil terdiam menahan emosi.


“Hanya ada cara itu…” Ucap Martin sambil menatap lurus Dimas yang masih berdiri.


Dimas menggeleng keras. Menolak mentah-mentah ide tersebut. Ide yang harus melibatkan Selena. “Tidak akan pernah!” Ucapnya tegas.


Martin mengangkat kedua tangannya. “Aku hanya memberikan ide. Tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan. Kecuali memang Anda mau menerima hasil akhirnya.”


Dimas tak menjawab, ia malah menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Menopangkan kepalanya di atas meja, dia mulai memejamkan matanya.


Otaknya mulai berpikir langkah selanjutnya. Tapi tak ada satu pun yang tercantol di pikirannya. Semua lenyap usai polisi menetapkan Anna sebagai DPO.


Anna – wanita yang dikambinghitamkan Leon, seolah menghilang ditelan bumi. Tak ada yang tahu keberadaannya. Semakin menyulitkan, karena Anna adalah seorang yatim-piatu yang tinggal seorang diri di apartemen pinggiran kota Jakarta.


Deringan ponselnya membuyarkan lamunannya. Dimas tampak enggan menjawab panggilan tersebut. Dia baru menjawabnya setelah ponselnya berdering cukup lama.


“Ada apa?” tanyanya malas.


Suara tangisan wanita di seberang sana, membuatnya bangkit. Dia mendengarkan seksama tiap patah kalimat yang meluncur dari wanita di seberang sana.


“Tunggu aku disana.” Tutup Dimas. Dia mengambil kunci mobilnya sambil menatap Dirga dan Martin. “Saya pergi dulu.”


“Presdir mau ke…..”


BLAM (pintu tertutup)


Belum sempat Dirga menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah keburu pergi. Dirga mendesah gusar. Dia melangkah lesu keluar dari ruangan Dimas. Sementara Martin terlihat sibuk memainkan ponselnya sebelum ikut beranjak keluar.


****


“Brengsek! Aku nggak tahan lagi!” Dimas terlihat kesal. Dia sudah bersiap menghambur keluar, jika saja Nayra tak menahan tangannya.


“Jangan, Dim! Jangan gegabah. Kita belum tahu rencana dia.” Sergah Nayra. “Kalau kita salah langkah, kejadian ini bisa keulang lagi.”


Dimas menggertak giginya. Dia melirik sekilas tangan Nayra yang menahannya. Emosinya langsung luruh melihat ruam biru di pergelangan tangan Nayra.


Dimas kembali duduk di samping Nayra. Mengelus lembut pergelangan tangan wanita itu. “Apa masih sakit?”


Nayra berjengit mendapat perlakuan seperti itu. Sosok Dimas yang mengkhawatirkannya seperti ini mengingatkannya kembali akan masa lalu mereka.


Dia tak kuasa menolak saat Dimas mencoba mengoleskan salep di pergelangan tangannya. Mata Nayra mulai berkaca-kaca. Tak bisa dipungkiri, dia masih memiliki rasa untuk pria di hadapannya ini.


“Apa perlu aku panggilkan dokter?” Dimas cemas melihat bulir bening jatuh dari manik hitam Nayra.


“Nggak kok. Aku hanya teringat sesuatu.” Nayra buru-buru menghapus air matanya sambil mengulas senyumnya. “Makasih ya, udah mau datang kesini. Aku kira, kamu nggak bakalan mau menginjakkan kaki kesini lagi.”


“Bukan nggak mau, aku hanya…, ya ampun!” Dimas berseru kaget sambil merogoh-rogoh saku celananya. “Ponselku dimana ya?”


“Ponsel?” Mata Nayra ikut berkeliaran mencari benda pipih hitam milik Dimas. Sebelum akhirnya menemukannya di pojok sofa.


“Aku belum bilang ke Selena. Aku telepon dia dulu.” Ujar Dimas sambil berjalan menjauh.


Nayra menggangguk sambil menahan rasa sakit di hatinya. Sedetik kemudian, ponselnya berbunyi. Bola matanya membulat melihat nama Leon tertera di layarnya. Nayra berpikir sesaat sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon itu dari kamarnya.


Dimas hanya berada sebentar di apartemen Nayra. Setelah berbincang dengan Jay, Dimas memutuskan untuk pulang. Mata Nayra mulai berkabut saat menatap Dimas yang perlahan menghilang di dalam lift.


****


Tok..tok..tok..


Suara ketukan di pintu kamarnya, mengalihkan sejenak pandangan Selena dari cermin riasnya. Sambil menepuk-nepuk wajahnya, Selena mempersilahkan si pengetuk masuk ke kamarnya.


Kepala Dimas menyembul lebih dulu sebelum tubuh tingginya berjalan masuk dan duduk di tepi kasur Selena.


“Kenapa?” tanya Selena sambil melirik Dimas yang kedapatan sedang memperhatikannya dengan intens.


Dimas nyengir. “Aku tidur di sini ya?”


Selena mengernyit, memutar tubuhnya menghadap Dimas. “Memangnya kamarmu kenapa?”


“Nggak kenapa-napa. Aku hanya takut tidur sendirian.” Jawab Dimas santai.


Takut tidur sendirian? Memangnya selama ini, dia tidur dengan siapa?


“Terserah kamu.” Jawab Selena malas sambil meneruskan kegiatannya merawat muka.


Ini sudah menjadi rutinitas Selena sebelum tidur, mengoleskan beberapa produk kecantikan di wajahnya. Karena rutin melakukannya, wajah Selena tetap terawat walau digempur kerja seharian.


“Kamu udah cantik, Sugar.” Dimas geleng-geleng kepala melihat Selena yang entah berapa kali mengoleskan sesuatu di wajahnya. “Lagian kamu 'kan mau tidur. Apa nggak sayang nanti kena bantal?”


Selena menggeleng. “Memang begini skincare malam perempuan, Bi.”


“Kamu udah cantik. Tanpa kamu pakai ini itu di wajahmu pun aku udah naksir. Jangan terlalu cantik, Sugar. Aku nggak rela kalau pria-pria liatin kamu. Lagian kamu kan udah jadi milikku.”


Selena berdecak berkali-kali. “Memangnya kamu pikir, perempuan pakai skincare hanya untuk menarik perhatian laki-laki? Kamu salah, Bi. Kami, kaum perempuan, merawat wajah bukan hanya untuk terlihat menarik di depan lawan jenis. Tapi juga sebuah bentuk penghargaan untuk diri sendiri. Bangga aja rasanya kalau lagi ngaca terus lihat muka sendiri mulus. Aku juga mau terlihat cantik di depan diriku sendiri.” Jelas Selena panjang lebar.


Dimas hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Selena. Dari pada diusir keluar, lebih baik Dimas segera menutup mulutnya dan bergegas membaringkan tubuhnya di kasur.


“Sini..sini..” Dimas menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong di sampingnya sambil tersenyum jahil, saat melihat Selena sudah bersiap tidur.


“Tanganmu.” Selena menunjuk tangan kanan Dimas yang merentang lebar.


“Ini bukan tangan, tapi bantal.” Sahut Dimas sambil menarik Selena dengan tangan kirinya.


“Lenganmu bisa pegal loh,” peringat Selena sambil menyandarkan kepalanya di lengan Dimas.


“Lenganku kuat, Sugar. Percuma aku rajin nge-gym kalau hanya begini saja bikin pegal.” Seloroh Dimas.


Selena hanya memutar bola matanya. Percuma berdebat dengan Dimas. Pria itu selalu punya seribu alasan untuk membantah.


“Oh iya, ngomong-ngomong gimana keadaan Nayra?”


Selena belum sempat bertanya soal Nayra, karena wanita itu pulang lebih malam dari Dimas dan langsung menuju kamarnya tanpa sempat berbincang dulu dengan suaminya itu.


Dimas menghela napas panjang dan mulai menceritakan semuanya, termasuk lebam di tangan Nayra. Selena terkejut, wanita itu tak percaya kalau Leon bisa berbuat sejahat itu.


“Dia udah sebarin postingan itu, mengoyahkan pernikahan kita dan kamu masih nggak percaya kalau dia jahat?” Dimas terlihat kesal lantaran Selena terkesan seperti membela Leon.


“Bukan gitu. Aku tahu kalau dia itu keterlaluan, tapi masa sampai setega itu nyakitin Nayra? Di mataku, Leon kelihatan menghargai perempuan, kok.”


“Iya, tapi hanya ke kamu!” Cibir Dimas. “Aku akuin, dia emang kelihatan sayang banget sama kamu. Aku bisa lihat itu dari matanya tiap kali dia ngeliatin kamu. Makanya, please ya Sugar, jangan lagi kamu datangin dia. Aku takut kamu jatuh cinta sama dia.”


Selena tertawa sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Dimas. “Justru harusnya aku yang khawatir. Kamu baru ketemu mantanmu loh. Gimana kalau nanti kamu balikan lagi sama Nayra?”


Dimas menggeleng, mengecup puncak kepala Selena. “Nggak mungkin. Aku jatuh cinta hanya sekali dan itu hanya sama kamu.”


Walau hatinya merasa tersentuh dan senang mendengar pernyataan Dimas, rasa lelah dan mengantuk membuat Selena hanya bisa tersenyum menanggapinya. Sedetik kemudian, dia sudah terlelap sambil memeluk Dimas.