
Selena menyandarkan badannya yang pegal sementara tangannya memijit-mijit batang hidungnya. Project yang sedang dia kerjakan kali ini ternyata cukup menguras tenaga dan pikirannya.
Tiga hari sudah berlalu sejak liburan singkatnya di Puncak tapi rasanya Selena ingin kembali lagi kesana.
Puk..puk..puk..
Selena menepuk-nepuk pelan pipinya berusaha memfokuskan kembali pikirannya. Setelah menarik napas panjang , dia kembali tenggelam oleh pekerjaannya.
Tok..tok..tok.
“Masuk,” Selena menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Barulah saat sebuket bunga tulip putih berada di mejanya , Selena menoleh dan menatap Prita kebingungan.
“Ini apa?” tunjuknya.
“Tadi resepsionis bilang , ada yang menitipkan buat Ibu. Tapi saya tidak tahu dari siapa. Di kartu namanya hanya tertera nama Ibu saja.”
Selena mengernyitkan dahi. “Tolong kamu taruh di vas saja ya,” ujar Selena sambil kembali menatap layar komputer.
Untuk saat ini Selena tidak mau ambil pusing memikirkan siapa pengirim bunga tersebut. Karena dia sendiri sedang kewalahan dengan pekerjaannya.
Tapi walau begitu , dalam hatinya dia mengucapkan terimakasih untuk si pengirim. Karena entah bagaimana , semangatnya kembali terisi.
Setelah dua jam berkutat di depan komputer , Selena bangkit dari kursinya dan melakukan sedikit perengangan kecil. Dia lalu berjalan menuju meja kecil tempat buket bunga tersebut berada.
Bunga tulip putih tersebut sekarang sudah berada di dalam sebuah vas kaca. Selena memiringkan kepalanya , menerka-nerka siapa pengirimnya. Gina? Alvino? Atau jangan-jangan Dimas?
Deg...deg.......
Jantung Selena berdegup saat memikirkannya. Walau tahu itu mustahil tapi Selena tak menampik jika dia sedikit berharap kalau pengirimnya adalah Dimas.
Selena menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghalau pikirannya. Lebih baik sekarang dia kembali bekerja daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.
Sekitar jam 5 sore , seperti biasa Prita muncul dari balik pintu dan mengingatkan Selena kalau sudah waktunya pulang kerja,
Dan Selena selalu membalas dengan tersenyum berterimakasih sambil merapikan meja kerjanya.
Tring... suara notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Selena membaca sebuah pesan dari Gina yang terpampang di layar ponsel.
Sel , nanti malam kita makan diluar ya. Gue jemput jam setengah delapan.
Oke.
****
Selena baru saja hendak bersiap-siap pergi menemui Gina saat ponselnya berdering. Matanya melotot ketika melihat nama yang tertera di layar. Selena berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
“Hai...” Suara lembut Dimas di seberang sana , sukses menggetarkan jantung Selena.
“Hai juga.”
“Apa kabar?”
“Baik. Kakak sendiri gimana?”
“Baik juga. Hmm...hari ini , kamu ada waktu? Kakak mau bicara sebentar.”
Selena terdiam berpikir sejenak. Dalam hatinya , dia berteriak kegirangan.
Tapi harga dirinya mengatakan ‘TIDAK’ , mengingat perlakuan Dimas yang menghilang begitu saja. Kedua pemikiran tersebut berkecamuk di kepalanya.
“Sel? Kamu masih disana?”
“Teman?” tiba-tiba nada suara Dimas terdengar aneh , “cewek atau cowok?”
“Ha? Cewek... Kak” Selena menjawab dengan sedikit bingung.
“Ohh....” Suara lembut Dimas kembali terdengar. " Ya sudah. Kalau besok? Bisa?”
“Gak bisa juga Kak. Soalnya aku mau ke Bali.”
“Bali?!!”
Selena sampai menjauhkan ponselnya karena volume suara Dimas mendadak meninggi.
Tapi kemudian Dimas berdeham.
“Kamu ngapain ke Bali? Sama siapa? Berapa lama?”
Selena mengernyit bingung mendengar pertanyaan beruntun dari Dimas.
“Kerja. Pergi sama team. Kayaknya sampai hari Minggu,” jelas Selena.
Dimas hanya menjawab ‘OH’ kemudian terdiam. Selena melirik jam tangannya. Dia bisa terlambat jika tidak berangkat. Selena baru mau membuka mulutnya ketika Dimas kembali melanjutkan bicaranya.
“Sel...maaf ya. Kakak baru bisa hubungi kamu sekarang. Maafin juga , kalau pertemuan terakhir kita kemarin, bikin kamu kecewa dan marah. Kakak sama sekali gak ada maksud buat ninggalin kamu. Waktu itu Kakak lagi gak bisa berpikir jernih. Sekali lagi maaf ya.”
Selena mengigit bibirnya mendengar setiap perkataan Dimas.
“Gak apa-apa kok,Kak. Umm..maaf ya, aku tutup dulu telponnya. Udah telat soalnya. Bye Kak,” tutup Selena.
Tangan Selena gemetar saat memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dalam hatinya dia ingin berteriak , memaki dan memarahi Dimas karena telah mengabaikannya.
Selena menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya beranjak pergi keluar dari unit apartemennya.
Saat sedang menunggu pintu lift , pintu unit Leon terbuka. Selena melirik sekilas dan dia melihat Leon keluar bersama seorang wanita muda berpakaian sexy.
“Selena...,” Leon berseru senang saat melihat Selena.
“Ah ,ya. Hai Leon.” Selena tersenyum canggung berusaha menahan pandangannya.
Tapi walaupun begitu Selena bisa melihat dari ekor matanya kalau wanita yang bersama Leon terlihat sangat cantik. Kulitnya putih bersih dengan rambut pirang panjang persis seperti boneka porselen yang dimiliki mama di rumah.
“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Leon begitu mereka bertiga masuk ke dalam lift.
“Baik-baik saja. Kalau kamu?”
“Baik juga. Hmm..lalu apa ada sesuatu yang menarik hari ini?”
Selena menoleh menatap Leon , “tidak ada. Memang ada apa dengan hari ini?”
“Ah...begitu... "
Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka bertiga keluar dari lift dan menuju basement bersamaan. Selena sendiri terburu-buru berjalan menuju mobilnya.
“Apa dia wanita yang kau bicarakan itu?” tanya wanita muda itu begitu Leon masuk ke dalam mobil.
“Iya. Bagaimana menurutmu?”
“Cantik. Aku menyukainya. Kelihatannya dia juga baik.”
“Ya. Dia memang cantik dan baik,” gumam Leon sambil menatap mobil Selena yang melintas di depannya.