The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Tugas Dirga



Selena termangu. “Anda bercanda kan, Tuan?” Akhirnya Selena bisa membuka mulutnya setelah terdiam berdetik-detik. Dia masih shock mendengar kalimat Aleron dan berharap pria tua itu hanya sekedar bergurau.


Tapi Aleron malah menggeleng. “Saya tidak bercanda.” Ucapnya tegas.


Selena mengamati lekat pria tua di hadapannya. Gurat keseriusan tercetak jelas di wajah keriputnya.


Selena mendesah berat. Mencoba menahan amarah yang bergemuruh di dadanya.


Sinting, itu satu kata yang ingin ia lontarkan tapi ditelannya. Bagaimana pun Aleron tetap orang tua yang harus Selena hormati. Terlebih lagi tidak mungkin Aleron tiba-tiba mengatakan permintaan itu tanpa sebab yang jelas.


“Mungkin ini bisa menjawab pertanyaanmu.” Seakan bisa membaca pikiran Selena, Aleron menaruh sebuah tablet silver di atas meja.


Selena meraih tablet itu dan menonton tayangan sebuah video. Alisnya bertautan, matanya membola tak berkedip. Beberapa menit kemudian, dia meletakkan kembali tablet itu di atas meja. Dia bingung harus merespon apa. Video tadi membekukan otaknya.


Aleron mengenggam tangan Selena. Menatapnya sendu. “Tidak bisakah kamu pertimbangkan Leon?” Lirihnya. “Kalau kamu keberatan, jadikan simpanan juga tidak masalah.”


Selena berjengit mendengar penuturan Aleron. Kesadarannya kembali pulih. Dia menyentakkan kasar tangan Aleron.


“Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Leon. Tapi seharusnya Anda membawanya ke dokter atau psikiater. Bukannya malah mendatangi saya, mengatakan hal tidak masuk akal!” Tukas Selena kesal. “Apa Anda tahu, apa yang sudah cucu Anda lakukan?”


Aleron menatap heran Selena. “Memangnya apa yang sudah ia lakukan?”


Sambil menahan emosi, Selena menceritakan perbuatan Leon terhadapnya dan Dimas.


Aleron terkesiap. Dia terdiam beberapa saat sebelum berucap, “Maaf..”


Aleron tertunduk, menutupi wajahnya dengan tangan keriputnya. Dia berusaha menahan tangisnya.


Selena trenyuh. Tangan kanannya terulur, menepuk pelan tangan Aleron, meremasnya erat. Seolah memberinya kekuatan.


Hening. Tak ada yang berbicara sampai akhirnya Selena memecah kesunyian itu.


“Hanya ada satu pria di dalam hidup saya. Dan itu adalah Dimas. Saya tidak akan pernah bisa memberikan cinta saya untuk pria lain.”


Aleron mendongak menatap Selena. Dia tersenyum sendu. “Saya tahu. Tolong maafkan kekurang ajaran pria tua ini dan juga Leon. Dia melakukan itu semua karena dia terlalu menyukaimu.”


“Saya maafkan. Tapi sepertinya suami saya tidak akan bisa memaafkan semudah itu. Apa yang sudah Leon lakukan sudah sangat keterlaluan. Tidak hanya hampir menghancurkan rumah tangga saya dan Dimas. Dia juga sudah memanfaatkan Nayra dan menghancurkan kariernya.”


Aleron menghembuskan napas berat. “Lakukan sesuka kalian. Leon bersalah jadi dia berhak mendapat hukumannya.” Ucapnya pasrah.


Selena mengerjap. “Anda yakin? Leon bisa saja masuk penjara.” Tanyanya ragu.


Aleron menatap lurus Selena. “Leon berhak dihukum. Begitu pun saya sebagai kakeknya berhak juga untuk melindunginya.”


Selena tersenyum tipis. Secara tidak langsung Aleron menantang Selena dan juga Dimas. Tapi Selena maklum, darah memang lebih kental dari pada air.


****


Selepas pertemuan mengejutkan itu, Selena kembali ke villa. Begitu sampai, dia terkejut melihat Dirga ada disana.


Sekretaris suaminya itu tengah duduk ditemani Bik Ninik. Raut wajahnya terlihat tegang namun begitu melihat Selena, pria berkacamata itu langsung tersenyum lega.


“Ibu dari mana? Kenapa nggak kasih tahu Bibi kalau mau keluar?” Bi Ninik bertanya cemas sambil menelisik majikannya. Bik Ninik takut kalau Selena dikejar-kejar reporter lagi seperti dulu.


Selena menyentuh pundak Bi Ninik, “saya hanya cari angin sebentar.” Selena mengarahkan pandangannya ke Dirga, “kenapa kamu bisa ada disini, Dir? Dimas mana?”


“Presdir masih ada di kantor. Saya kemari karena saya dengar Ibu menghilang.”


Dirga menggeleng. “Kebetulan saya memang dalam perjalanan kesini. Presdir menyuruh saya membawakan ini untuk Ibu.” Ucapnya sambil menyerahkan sesuatu. “Takut Ibu bosan, katanya.”


“Ya ampun, kamu disuruh Dimas membawakan ini?!” Selena berdecak heran sekaligus gemas. Bisa-bisanya Dimas menyuruh Dirga membawakan konsol gamenya sampai ke Puncak?


“Dia tahu nggak sih jarak Jakarta ke Puncak berapa jam?!” Tanya Selena kesal. “Kamu juga, kenapa mau-maunya disuruh begini sama Dimas? Walau dia atasan kamu, tapi ini kan masih jam kantor! Harusnya kamu keluar karena urusan kantor bukannya ngurusin hal begini!” Selena bersidekap sambil mengomeli Dirga.


Kalau nggak saya turutin, Presdir bisa ngamuk Bu, batin Dirga.


Sedetik kemudian, Selena mendesah menyadari kekeliruannya. Mana mungkin sih Dirga berani melawan perintah Dimas? Suaminya itu kan tidak bisa menerima bantahan.


“Maaf ya Dir. Saya malah marahin kamu.” Ucap Selena.


Dirga hanya tersenyum maklum. “Nggak apa-apa, Bu. Saya sudah biasa dimarahin.”


Selena menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Dirga. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. “Oh iya Dir, gimana soal masalah Jason? Dimas bilang, Jason ngajak ketemu ya? Mereka mau bertemu dimana?”


Dirga menggangguk. “Jason mau datang ke kantor. Makanya sekarang Pak Martin ada disana.”


Selena hanya manggut-manggut. Dia bersyukur Martin mau membantu Dimas. sampai selesai. Padahal Selena tahu kalau Martin sendiri juga sama sibuknya. Walau bukan perusahaan besar tapi perusahaan konstruksi milik keluarga Martin termasuk yang cukup disegani.


Jadilah hari itu, Dirga berada di villa sampai sore hari. Dia keasikan bermain game sampai lupa waktu.


Selena sendiri tak berniat menyuruhnya pulang. Dia sengaja membiarkan Dirga menemaninya bermain.


Sudah hampir 3 jam mereka berdua duduk bersila di karpet sambil memegang konsol game.


Saat ini mereka berdua tengah serius bermain game zombie. Saking seriusnya mereka tak menyadari seorang pria berjalan menghampiri mereka.


Pria itu menatap kesal Selena yang tertawa-tawa sambil memukul punggung Dirga. “Jangan disitu. Harusnya kamu kesana!” Selena berteriak frustasi bercampur geli melihat Dirga kewalahan menembaki zombie.


“Eheem…” suara dehaman seorang pria mengagetkan Selena dan Dirga. Mereka kompak menoleh dan mendapati Alvino tengah berdiri sambil bersidekap.


“Eh.. Vin. Udah pulang?” tanya Selena basa-basi sambil mengarahkan kembali pandangannya ke layar TV.


“Gue belum pulang, Sel. Ini arwah gue yang gentayangan!” tukas Alvino sambil mendudukkan tubuhnya ke sofa.


Menyadari intonasi kesal Alvino, Selena berbalik menatap sahabatnya. Dia mengernyit heran melihat raut tertekuk Alvino. “Tolong mainkan dulu, Dir.” Pinta Selena seraya menyerahkan konsol gamenya ke Dirga.


Dia kemudian duduk di sebelah Alvino, “lo kenapa dateng-dateng cemberut? PMS?” goda Selena.


Alvino menyandarkan kepalanya di sandaran sofa tak menghiraukan candaan Selena, “capek, Sel. Hari ini pasien banyak banget.” Keluhnya sambil memukul-mukul pelan pundaknya.


Selena ikut memijat sebentar pundak Alvino sebelum akhirnya beranjak berdiri, “Gue bikinin kopi deh. Mau?"


Mata Alvino berbinar senang. “Mau banget, Sel. Dari tadi kek. Sekalian masakin gue boleh, Sel. Laper nih abis cari nafkah seharian.” Sahut Alvino dengan nada manja.


"Ya..ya..ya.." Selena memutar bola matanya sambil terus berjalan ke dapur.


Interaksi Selena dan Alvino menarik perhatian Dirga. Pria itu tampak tercengang melihat keakraban keduanya. Dia sudah mendengar tentang kedekatan Selena dan Alvino tapi baru kali ini melihatnya secara langsung.


Pantesan Presdir menyuruhku mengawasi Dokter Alvino. Ternyata ini toh sebabnya. Kasihan Presdir, saingannya berat. Dirga membatin sembari melanjutkan permainannya.


Nanti aja aku awasinnya sekarang main dulu hehehe... Kekehnya.