
Hubungan Selena dan Leon semakin dekat. Hampir setiap malam mereka menghabiskan waktu bersama, walau hanya untuk sekedar bersantap malam di apartement Leon.
Kehadiran Selena yang tinggal di apartementnya lagi, membuat Leon semakin yakin kalau Selena sudah tak pernah bertemu Dimas lagi.
Walau Leon tak pernah sekali pun mendengar kata ‘perceraian’ dari mulut Selena, tapi dia yakin kalau hubungan suami-istri itu akan segera berakhir.
Karenanya, Leon semakin berani menunjukkan perasaannya kepada Selena.
Seperti siang ini, pria itu mengirimkan buket mawar merah cantik dan kali ini dibarengi dengan sebuah kartu ucapan kecil bertuliskan ‘Semangat Bekerjanya – L’
Selena mendesah berat saat menerima buket bunga mawar itu. Seminggu bersama Leon membuatnya menyadari perasaan pria itu padanya. Leon sangat baik dan memperlakukannya dengan lembut.
“Maafkan aku Leon," desis Selena sambil membuang buket mawar merah itu ke tempat sampah.
****
“Apa kirimanku sudah sampai?” tanya Leon saat mereka berlatih bersama di area gym apartement.
“Sudah. Bunganya sangat cantik.” Jawab Selena sambil terus berjalan di treadmill.
“Maaf aku belum sempat mengabarimu,” tambahnya seraya mengulas senyum.
“Syukurlah.” Leon tertawa senang. Tapi sejurus kemudian, dia menatap lurus Selena. “Sel, boleh aku bertanya sesuatu?”
Selena menghentikan laju treadmillnya lalu berpaling memandang Leon. “Mau tanya apa? Kelihatannya serius sekali.”
Leon terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. “Nanti saja aku bertanyanya. Lebih baik kita lanjutkan latihannya,” ucapnya nyengir.
Selena menatap bingung Leon yang sudah beranjak menuju cable machine. Tapi beberapa detik kemudian, wanita itu memilih tak peduli dan melanjutkan aktifitasnya di atas treadmill.
Selepas berolahraga, Selena dan Leon kembali ke unit mereka masing-masing. Dan malam ini, seperti biasanya Selena akan kembali bersantap malam di unit Leon. Tapi kali ini, mereka hanya akan memesan makanan dari luar.
Setengah jam kemudian, Selena sudah duduk manis di sofa ruang tengah Leon, menunggu pesanan mereka tiba. Sembari menunggu, mereka duduk bersebelahan sambil bermain game online.
Selena memekik kaget saat seorang pemain berusaha menembakinya. Dia bahkan mengumpat, membuat Leon membelalak kaget mendengarnya.
“Kenapa? Kaget ya melihatku seperti ini? Apa aku merusak ekspetasimu?” tanya Selena kala menyadari tatapan keterkejutan Leon.
Tak disangka Leon justru tertawa lebar. “Nggak. Justru sebaliknya, aku semakin mengagumimu.”
“Kamu? Mengagumiku? Apa nggak salah?” Selena bertanya heran. “Harusnya aku yang mengagumimu karena sudah membuat game sebagus ini.” Selena mengulum senyum.
Leon tersenyum cerah. Dia berniat membalas ucapan Selena tapi deringan telepon apartementnya membuatnya menoleh. Leon segera menjawab panggilan itu.
“Pesanannya sudah sampai, aku akan mengambilnya ke bawah.” Pamit Leon.
Selena mengangguk. Peraturan di apartement mereka memang tidak memperbolehkan orang lain selain penghuni untuk menaiki lift. Jadi biasanya para penghuni apartement akan mengambil pesanan mereka di lobi.
Seketat itu sistem keamanan apartement ini. Maka tak heran jika apartement yang ditinggali Selena mendapat ulasan sebagai salah satu hunian apartement terbaik di Jakarta.
Beberapa menit kemudian, Leon sudah kembali dengan bungkusan di kedua tangannya. Selena menatap lapar makanan yang tersaji rapi di meja.
“Ohiya, tadi sepertinya kamu mau nanya sesuatu deh. Mau tanya apa?” tanya Selena di sela-sela makannya.
Leon tersentak bingung. Dia tampak ragu-ragu membuka mulutnya.
“Ngomong aja. Sebisa mungkin aku jawab.” Timpal Selena.
“Emm..itu. Sebenarnya yang mau aku tanyakan berhubungan dengan privasimu.” Leon mengusap-usap tengkuknya. Matanya bergerak-gerak gelisah sambil mengigit bibirnya.
“Apa? Tanyakan aja.” Selena mulai tidak sabar mendengar pertanyaan Leon.
Leon menghembuskan napas panjang mencoba mengumpulkan keberaniannya. “Bagaimana hubunganmu dengan Dimas? Apa .... ada kemungkinan kalian akan bersama lagi?” tanyanya pelan.
“Oh… itu yang kamu mau tanyakan?” Selena meletakkan garpunya lalu menatap sendu Leon. “Entah. Aku sendiri juga nggak tahu mau gimana dengan pernikahanku.”
“Dimas nggak pernah menemuimu?” tanya Leon heran.
“Menelponmu mungkin?”
Lagi-lagi Selena menggeleng.
“Jika seandainya … Dimas menjalin hubungan lagi dengan Nayra, bagaimana? Apa kamu akan menceraikannya atau tetap bersamanya?”
“Tentu saja aku akan langsung menceraikannya!” Jawab Selena tegas. “Aku paling nggak suka diduakan.”
Leon mengerjap kaget. Dia mengigit lidahnya, berusaha menahan luapan kegembiraan. Dia mengontrol raut wajanya agar terlihat sedih dan simpatik di depan Selena. Pria itu lalu memutari meja, menghampiri Selena.
Selena berjengit kaget saat Leon tiba-tiba berlutut di depannya. “Kamu ngapain berlutut?! Cepat berdiri!” Seru Selena.
Leon tak menjawab, dia malah meremas lembut tangan Selena. Manik abu-abunya menatap lembut kedua manik cokelat milik Selena.
“Sel, aku tahu mungkin perkataanku sekarang nggak pantas aku katakan. Tapi …. Aku menyukaimu, Selena Celestine,” Ucap Leon lirih.
Hening. Selena terdiam begitu juga Leon. Pria itu tampak bingung karena Selena tak bereaksi apa-apa.
“Terimakasih sudah memberanikan diri mengungkapkannya,” ujar Selena memecah keheningan.
Leon membelalak kaget. “Kamu nggak kaget? Apa jangan-jangan…. Kamu sudah tahu kalau aku menyukaimu?” tanyanya terkejut.
Selena mengangguk.
“Ah…” Leon menundukkan kepalanya. Entah karena malu atau kecewa karena Selena mengetahuinya duluan.
Selena memegang lengan Leon, membimbing pria itu untuk duduk di sampingnya.
“Nayra yang memberitahuku.” Perkataan Selena lagi-lagi mengejutkan Leon. Pria berparas Eropa itu menoleh dengan cepat. Raut mukanya menunjukkan ketakutan.
“A-apa dia cerita soal…..” Leon menggantung kalimatnya. Jantungnya mulai berdebar kencang membayangkan amukan Selena jika mengetahui tentang rahasia mansionnya.
“Soal kamar rahasia itu?” Selena meneruskan kalimat Leon dengan santai. “Ya, dia memberitahuku soal itu juga.”
Leon menelan salivanya. Menatap gugup Selena yang sedang memandanginya. Tak disangka, seulas senyuman justru terukir di bibir Selena.
Leon terkesiap. “Kamu… nggak marah?” tanyanya cemas dan bingung.
Selena tertawa kecil. “Awalnya aku marah tapi kemudian seminggu ini aku menyadari sesuatu…” Selena menatap lembut Leon. “Kalau nggak ada pria di dunia ini yang menyukaiku setulus kamu.”
“Caramu memang salah dan ekstrem..” Leon meringis malu saat Selena mendelik berpura-pura marah. “Tapi aku mencoba berpikir lain bahwa mungkin kamu menyukaiku di saat aku sudah bertunangan dengan Dimas. Jadi daripada mengusik hubunganku, kamu lebih memilih menyukaiku diam-diam.” Pungkas Selena. “Apa pemikiranku salah?”
Leon nyengir. “Salah.”
“Mananya yang salah?”
“Aku sudah menyukaimu jauh sebelum kamu mengenal Dimas. Bahkan mungkin sudah sangat lama.” Leon tersenyum tipis sambil menatap Selena. “Apa kamu masih ingat, dulu ada seorang pria asing yang kecopetan di halte dan kamu memberikannya ongkos taxi agar pria itu bisa kembali ke hotelnya?”
Selena terdiam sambil berpikir. Otaknya mulai menggali ingatan-ingatan lamanya. Semenit kemudian, dia memekik kaget. “Pria asing itu kamu?!”
Leon menggangguk, berbinar senang. “Kamu ingat?”
Selena mengangguk. “Itu sudah lama sekali loh!”
“Memang dan sejak itu aku mulai menyukaimu dan berusaha mencari keberadaanmu. Tapi aku baru menemukanmu saat aku tinggal disini..” Kenang Leon sedih.
Selena meremas lembut tangan Leon. “Terimakasih sudah menyukaiku di waktu yang lama. Tapi, kamu tahu statusku sekarang kan? Jadi maaf ….. aku belum bisa membalas perasaanmu.”
Leon mengangguk, mengulum senyumnya. “Nggak masalah, Sel. Seenggaknya aku sudah lega.”
Leon hendak bangkit kembali ke tempatnya saat tangan Selena menahannya. “Emm… Leon.”
“Ya, Sel. Ada apa?”
“Apa boleh ..... aku lihat kamar rahasia itu?” tanya Selena penuh harap.