The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Sebuah Permintaan



Suasana kantor hari ini terasa lebih menyenangkan. Joni , pria berkepala plontos , bersenandung kecil sambil menuangkan air panas ke dalam sebuah cup sedang. Sesekali badannya menari mengikuti gerakan tangannya yang sedang mengaduk kopi.


“Wah, kayaknya lagi senang nih Pak!” ujar Hilman yang tiba-tiba sudah berada di dalam pantry.


Joni hanya terkekeh sambil menyesap kopinya. Tapi kemudian dia menyadari tekukan di wajah Hilman yang sedang duduk.


“Kenapa, Man? Ada masalah?’ tanyanya sambil mengambil kursi di samping Hilman dan mendudukinya.


“Ini Pak , saya lagi pusing. Mau minta cuti. Tapi kerjaan masih menumpuk,” keluh Hilman. “Istri saya sakit di kampung”.


“Cuti saja! Masa iya gak boleh?”.


“Sudah Pak! Saya sudah minta cuti ke Bu Andrea. Tapi sama beliau gak dikasih”.


Joni berpikir sejenak , sebelum mengeluarkan idenya. "Langsung minta saja ke Presdir!”.


Mata Hilman membelalak saat mendengarnya. “Ke Presdir? Langsung?”.


Joni mengangguk. “Iya. Coba saja dulu”.


Hilman menimbang-nimbang. Tidak ada salahnya juga mencoba kan? Toh , saat ini Presdir terlihat sedang senang karena pertunangannya.


“Baiklah Pak! Saya akan coba!” ujar Hilman sambil mengangguk mantap.


Tapi walau dia sudah bertekad baja saat di pantry. Nyatanya kini nyalinya mendadak ciut begitu sudah berada di depan pintu ruangan Presdir. Dia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang sementara tangannya gemetaran saat mendorong pintu.


Semakin mendekati meja Dimas , langkahnya kian semakin berat. Dari jaraknya berjalan sekarang , dia bisa melihat raut wajah serius Dimas yang sedang membaca , entah laporan apa.


Tubuhnya mematung saat mata tajam Dimas serasa menembus jantungnya. Dia sudah mempersiapkan diri , jika nanti mendengar kata pemecatan dari mulut Dimas. Tapi dia tidak bisa mundur lagi. Dia harus tetap mencoba , karena bagaimanapun juga istrinya tetap yang nomor satu.


Bagaimana mungkin dia bisa tenang saat istrinya terbaring sakit sendirian di kampung? Makanya Hilman hanya bisa menunduk dan bersiap untuk mendengar kata-kata yang....


“Baiklah. Kamu mau cuti berapa lama?” pertanyaan Dimas yang di luar ekspetasinya membuat Hilman mendongakkan kepalanya.


Dia membelalakkan matanya , tak percaya dengan pendengarannya. Tapi kalimat Dimas selanjutnya mampu menyakinkannya kalau pendengarannya memang masih bagus.


“Sekarang kamu temui Andrea , nanti saya akan beritahu dia. Siapa tadi namamu? Hilman? Benar? Cutilah sebanyak yang kamu butuhkan untuk merawat istrimu. Jangan pikirkan pekerjaan dulu”.


“I..iya Presdir.” Hilman nyaris tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia mengosok-gosokkan matanya yang sebentar lagi terasa akan menangis.


“Nah, saya sudah mengabari Andrea. Dia bilang akan mengurusnya,” ujar Dimas begitu selesai menelepon.


“Terimakasih Presdir! Terimakasih banyak!” Hilman membungkukkan badannya seraya berseru senang.


Dimas tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk seraya memberinya isyarat untuk segera keluar dari ruangannya.


Sebelum keluar dari ruangan Dimas , Hilman mengucapkan terimakasih sekali lagi sambil tersenyum lebar.


Airmata haru Hilman semakin tidak bisa dibendung lagi saat Andrea memberitahukannya bahwa Dimas juga mentrasfernya sejumlah uang untuk membantu biaya pengobatan istrinya.


Presdir..Terimakasih. Terimakasih banyak,gumam Hilman seraya tersenyum lega.


**********


Dia lalu berjalan menuju rak buku yang terletak di pojok ruangannya dan menekan salah satu tombol yang tersembunyi diantara buku-buku. Begitu tombol ditekan , rak buku itu terbelah dua dan menampakkan sebuah ruangan kecil.


Ya , itu adalah ruang tersembunyi milik Dimas. Di sana ia menyimpan baju , jas dan beberapa keperluan lainnya untuk berjaga-jaga jika dia harus menginap di kantor. Di ruangan itu pula dia juga menyimpan beberapa file penting perusahannya.


Yang tahu mengenai ruangan ini hanya Nayra seorang. Itu pun setelah tanpa sengaja Nayra menekan tombol tersebut saat sedang mencari buku.


Setelah mengganti kemejanya , Dimas segera bergegas meninggalkan ruangan kerjanya tersebut dan berjalan menuju parkiran. Semua karyawannya sudah pulang dan hanya menyisakan sekuriti yang menjaga di dalam dan luar gedung.


Dari kejauhan firasat Dimas sudah tidak enak saat melihat ada mobil yang terparkir juga disana selain mobil miliknya.


“Pak..” Dan benar saja , langkah kakinya terhenti karena ada seseorang memanggil namanya.


Dimas menoleh. Kekesalannya langsung membuncah saat melihat orang yang memanggil namanya.


“Untuk apa lagi kamu kesini?! Kamu tidak bisa pakai cara halus ya? Apa perlu saya pakai cara kekerasan hah?!” bentak Dimas kesal.


Sudah beberapa hari ini Jay selalu mendatangi kantornya dan mencegatnya. Dan tujuannya selalu sama yaitu agar Dimas mau menemui Nayra.


“Pak. Tolong,maafkan Nayra." Tiba-tiba saja Jay berlutut di depan Dimas. Membuat Dimas tersentak dan refleks mundur beberapa langkah.


“Apa yang kamu lakukan?! Cepat pergi! Saya sudah bilang kan! Saya tidak ada urusan dengan kalian lagi!”.


“Nayra,Pak! Tolong Nayra!” ucapan putus asa dari Jay membuat Dimas yang sudah berjalan menuju mobilnya langsung berhenti.


“Nayra sekarang sedang sakit , Pak. Saya..saya..tidak tahu harus berbuat apalagi!”.


Dimas berbalik. Mendengus kesal dan menggertakan giginya.


“Saya akan panggilkan dokter untuknya. Sekarang cepat pergi sebelum saya lindas tubuhmu itu!”.


“Bukan Pak! Bukan dokter yang Nayra butuh! Tolong Pak , tolong lihat ini dulu” Jay tiba-tiba menghampiri Dimas dan langsung menyodorkan ponselnya ke tangan Dimas.


Emosi Dimas tersulut melihat kekurangajaran Jay padanya. Dia bersiap-siap membanting ponsel tersebut.


Tapi diurungkannya saat tanpa sengaja ekor matanya melihat sesuatu yang aneh di layar ponsel tersebut.


Matanya melebar semakin besar setiap ibu jarinya bergerak di atas layar ponsel tersebut. Rahangnya mengeras dan jantungnya berdegup lebih cepat.


“Ini...ini Nayra?” tanya Dimas tergagap.


Jay mengangguk.”Saya tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena dia terus memanggil-manggil nama Bapak”.


Bruk.


Dimas menjatuhkan ponsel Jay ke bawah. Tak cukup sampai situ , dia bahkan juga menginjak ponsel tersebut.


“Hentikan semua ini Jay! Jika kamu berani muncul dihadapan saya seperti ini lagi, saya akan potong kaki dan tanganmu itu!” ancam Dimas sambil menatap tajam ke arah Jay.


Dimas memandang sebentar Jay yang sedang terisak-isak memungut ponselnya yang rusak. Tanpa menoleh lagi ke belakang , Dimas berjalan menuju mobilnya dan bergegas meninggalkan area basement kantor.