
Sejak mengetahui kenyataan masa kecil mereka dan nyaris mengalami kecelakaan , hubungan Selena dan Dimas semakin merenggang. Mereka mulai sibuk menyalahkan diri sendiri hingga berbuntut kesalahpahaman.
Selena berpikir kalau Dimas menjauhinya karena membuat hubungannya dengan Nayra putus. Sebaliknya Dimas mengira Selena marah padanya karena ia sudah menyebabkan wanita itu mengalami penculikan hingga menyebabkan trauma.
Terhitung sudah hampir 1 minggu, mereka bersikap seperti orang asing. Jarang berkomunikasi dan hanya sekedar bertegur sapa. Kesibukan mereka menjadi salah satu penyebabnya.
Karena itu Dimas memutuskan untuk segera menyelesaikan masalah di antara mereka sebelum semakin terlambat. Dimas sengaja pulang lebih cepat dan melimpahkan semua pekerjaannya kepada Dirga. Pria berkacamata itu sempat menolak tapi kemudian menerima dengan senang hati setelah dijanjikan bonus 3x lipat.
Dan sore harinya, Dimas memberanikan diri menjemput Selena di kantornya. Pria itu sudah rindu dengan tawa lepas Selena dan senyuman malu-malu yang sering tanpa sadar wanita itu perlihatkan.
Demi memuluskan niatnya Dimas sengaja datang 30 menit lebih cepat , berjaga-jaga kalau Selena pulang tepat waktu. Dan benar saja - tepat pukul 5 sore, wanita itu sudah terlihat keluar dari kantornya.
Pupil Selena membulat seiring dengan langkah Dimas yang kian mendekat. Dia membeku saat Dimas tersenyum lebar sambil merangkul pinggangnya. “Yuk, pulang.”
“Kamu ngapain disini?” tanya Selena bingung. Seolah terhipnotis, Selena mengikuti Dimas tanpa bantahan. Ia juga tak melepaskan tangan Dimas yang masih menempel di pinggangnya.
“Jemput kamulah. Memangnya mau ngapain lagi aku kesini?” Dimas membuka pintu mobil dan menuntun wanita itu masuk ke kursi penumpang.
Selena yang tersadar langsung protes dan berniat keluar. Tapi Dimas keburu menghalanginya. “Aku mau bicara serius sama kamu. Kita nggak bisa begini terus, Sel.”
Selena mendesah pelan. “Kamu benar. Kayaknya kita memang perlu bicara.”
Senyum mengembang di wajah Dimas. Dia segera menyalakan mesin mobil setelah Selena memasang sabuk pengamannya.
Sepanjang perjalanan, Selena sama sekali tak membuka mulutnya dan hanya menatap ke jalanan. Sementara Dimas fokus menyetir di tengah kemacetan ibukota.
“Kita ngobrolnya sekalian makan ya. Kamu keberatan ngga?” tanya Dimas memulai percakapan.
Selena hanya melirik sekilas. “Nggak.”
“Oh,oke.”
Dimas sedikit senang walau Selena tak banyak bicara, setidaknya wanita itu tak protes meski mereka harus berkendara hampir sekitar 45 menit.
Dimas memilih sebuah restoran western bernuansa cozy khas Eropa sebagai tempat santap malam mereka.
“Tempat kita di lantai 2.” Dimas mengajak Selena menaiki tangga bercat cokelat. Mereka berjalan bersisian sambil bergandengan tangan.
Lantai 2 di restoran itu terdiri dari beberapa ruangan yang di khususkan untuk area private room. Dimas mendorong pintu kaca dan mempersilahkan Selena masuk terlebih dulu.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Dimas setelah mereka duduk di kursi bercat kayu.
“Kamu yang bawa aku ke sini. Kamu saja yang pesan,” jawab Selena sambil mengedarkan pandangannya. Ruangan kecil berdominasi warna cokelat kayu itu terlihat nyaman dengan pencahayaan yang redup.
Dimas mengangguk dan langsung memesan setelah melihat buku menu. Dia tak bertanya macam-macam karena tak ingin wanita itu marah dan memilih pergi. “Kita makan dulu ya,Sel. Setelah itu baru kita bicara.” Selena mengangguk sekilas dan kembali memusatkan fokusnya pada gawainya.
Setelah pesanan mereka datang, Selena dan Dimas mulai makan tanpa banyak bicara. Dimas sempat mengajaknya bercanda tapi Selena hanya menanggapi sekadarnya saja.
“Sekarang kita bisa mulai bicara serius,kan?” tanya Selena setelah pelayan restoran mengambil piring kotor di meja mereka.
Dimas mengangguk meluruskan tubuhnya. Ketika mata mereka saling bertubrukan, Dimas merasa jantungnya semakin berdebar kencang. Dimas menghela napas sejenak sambil mencondongkan sedikit badannya dan mengenggam tangan Selena.
“Aku mau kontrak kita di batalkan dan kita mulai semuanya lagi dari awal.”
“Memulai lagi dari awal? Maksudmu..bercerai?” Pupil Selena bergetar. Hatinya terasa pedih mengumamkan kata-kata itu.
Dia sudah menduga kalau Dimas pasti akan meminta perceraian lebih cepat dari kontrak mereka. Tapi mendengarnya secara langsung ,ternyata lebih sakit dari dugaannya.
“Cerai?!” Dimas membelakakkan matanya. “Kamu ngomong apa sih, Sel? Jangan pernah ngomong seperti itu lagi! Aku nggak suka dengarnya!” Dimas menggertakan giginya kesal. “Dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara, Sugar.” Dimas melembutkan suaranya.
Sugar? Alis Selena berkerut. Bibirnya hendak terbuka tapi Dimas keburu melanjutkan kalimatnya.
“Ah, kamu merusak momennya.” Dimas menggerutu pelan kemudian menatap Selena lekat-lekat kali ini dengan raut wajah serius.
“Tolong dengarkan aku dan jangan memotongnya. Maaf, mungkin kata-kataku ini terkesan nggak tahu diri setelah apa yang aku lakukan terhadapmu. Tapi aku udah nggak bisa lagi menahan perasaanku. Aku jatuh cinta sama kamu, Sel. Dan aku mau memulai lagi pernikahan kita dari awal.”
Hallo, Author-author 😁 Sehat semua tho? Maapkeun saia yang kelamaan UPnya. Selain banyak kerjaan ples ngurus krucil ditambah ide yang suka tiba-tiba ngeblank.
Saran dong, author-author kalau lagi blank ngapain aja 😁
Sekali lagi terimakasih buat yang udah mampir kasih jempol dan komennya. Semoga kita semua sehat terus yaa 😊