The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kejujuran



Selena mematut bayangannya di depan cermin. Dia berputar-putar , memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya.


Tadi siang , Dimas menyetujui permintaan Selena yang mengajaknya bertemu. Dan seperti biasa , Dimas mengajaknya bertemu di salah satu restoran mewah.


Makanya , Selena yang sudah kembali tinggal di apartemennya -- dibuat kelabakan sejak pulang dari kantor. Dia sempat kebingungan memilih dress apa yang akan dia gunakan.


Baju oke , rambut oke , make-up? Ya, lumayan lah. Sip. Let’s go!


Sambil bersenandung kecil , Selena melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemennya. Tepat saat dia keluar , Leon juga keluar dari unit apartemen.


“Hai Sel,” sapa Leon begitu menyadari kehadiran Selena.


“Hai juga Leon,” balas Selena.


“Wah,kamu mau pergi keluar?” tanya Leon.


Selena menggangguk dan tersenyum. “Iya.”


Sambil mengobrol ringan, mereka berjalan bersama menuju lift. Di dalam lift , Selena menyadari kalau Leon diam-diam melirik ke arahnya dengan tatapan yang menurutnya - sedikit aneh.


“Bajuku terlihat buruk ya?” Selena yang tidak tahan diperhatikan terus-menerus oleh Leon , akhirnya terpaksa bertanya.


“Sejak tadi , kamu ngeliatin aku dengan pandangan aneh.”


“Aneh?” Leon terkejut dan menoleh ke arah Selena. “Bukan. Bukan seperti itu kok! Hanya saja....,” Ucapan Leon terputus karena pintu lift terbuka.


“Hanya apa?” desak Selena yang penasaran. Dia bahkan berjalan lebih cepat , mengimbangi langkah Leon yang semakin cepat.


Sampai akhirnya mereka berhenti di depan lobi. Selena sempat heran , bagaimana Leon bisa tahu kalau ia akan menuju ke lobi dan bukan ke basement?


“Cantik. Kamu cantik malam ini , Sel. Dengan dress itu,” ujar Leon pelan. Dia memalingkan muka , menghindari tatapan Selena. “Ya pokoknya , semoga sukses. Apapun acaramu malam ini.”


Setelah berkata seperti itu , Leon berlalu meninggalkan Selena yang bengong dan baru sadar sedetik kemudian.


“Terimakasih Leon!” ujar Selena yang dibalas dengan lambaian tangan dari Leon yang terus berjalan tanpa menoleh.


Tring..


Sebuah pesan notifikasi terdengar dari ponselnya. Cepat-cepat ia buka kunci layar ponselnya.


Ternyata pesan itu dari Dimas yang mengatakan kalau pria itu telah sampai di depan lobi. Sambil menahan kegugupannya , Selena pun melangkahkan kakinya menuju ke depan lobi.


“Hai Sel.” Sapa Dimas sambil tersenyum begitu melihat Selena.


Melihat senyuman Dimas , jantung Selena mendadak berdegup kencang. Dia makin menjadi salah tingkah , saat Dimas memegang tangannya dan membantunya menuruni anak tangga lobi.


Kecanggungan yang dirasakan Selena terus berlanjut sampai ke restoran tempat tujuan mereka.


Kak Dimas kenapa ya? Apa gue salah ya , ngajakin dia ketemuan? Jangan-jangan dia lagi sibuk ya? Duh , Selena! Bodoh banget sih kamu! Harusnya besok-besok aja ketemunya.


“Kakak lagi ada masalah ya?” Setelah berpikir cukup lama , akhirnya Selena memberanikan diri untuk bertanya. “Dari tadi Kakak diam saja.”


Dimas -- yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, terkesiap mendengar pertanyaan tersebut. Raut wajahnya langsung berubah dengan seutas senyum di bibirnya.


“Tidak ada apa-apa. Ayo , habiskan makananmu.”


Selena memandang Dimas dengan curiga. Dia tahu kalau Dimas sedang berbohong , tapi Selena memilih berpura-pura tidak tahu dan melanjutkan makanannya. Niatnya untuk menceritakan tentang ingatan masa kecilnya pun , ia urungkan.


Nanti aja deh , gue ceritanya. Tunggu Kak Dimas tenang dulu.


Tapi ada juga yang mengusik pikirannya , sejak mereka di restoran , ponsel Dimas berdering beberapa kali. Dan setiap kali ponselnya berdering , Dimas hanya meliriknya dengan raut wajah muram.


Selesai makan , Dimas langsung mengantar Selena pulang. Tidak ada obrolan yang terjalin , yang ada hanya alunan musik dari radio yang dinyalakan. Selena memandang ke arah luar jendela dan entah kenapa dia sudah merasakan perasaan yang tak enak.


Dan benar saja , begitu mereka sampai di apartemen Selena , Dimas langsung mencegahnya turun.


“Sel , bagaimana kalau kita batalkan saja pertunangan kita,” ucap Dimas tiba-tiba.


Bak tersengat listrik , Selena membelalakan matanya. Dia sempat terdiam sejenak sebelum berkata , “Kak, bercandamu gak lucu tahu!”


“Kakak serius!” ujar Dimas yang terlihat frustasi.


Jantung Selena mulai berdetak kencang saat Dimas mengutarakan alasannya.


Pandangannya mulai terasa kabur , ia pun sampai harus mengigit bibirnya untuk menahan air matanya. Hatinya terasa sakit. Tangannya mengepal , berusaha menahan luapan emosi yang mungkin akan ia tumpahkan. Namun ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Dimas.


“Nanti kita bicarakan lagi Kak. Sekarang aku masuk dulu. Hati-hati di jalan ,Kak,” pamit Selena sambil membuka pintu mobil.


Dia sempat tersenyum saat menutup pintu mobil dan berjalan lurus tanpa melihat ke belakang.


“Sel!” suara seorang pria mengagetkan Selena yang sedang melamun. Pandangan Selena samar-samar. Tapi suara pria itu terdengar seperti Alvino.


“Lo kenapa Sel? Kok nangis?!” Alvino bertanya dengan panik saat melihat air mata Selena.


“Vin..hik..hik...,” Selena tak kuasa lagi membendung air matanya. Beruntung saat itu lobi sudah sepi. Hanya ada satu resepsionis yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


Alvino pun langsung mendekap Selena. Karena dia tidak bisa menaiki lift tanpa kartu akses , Alvino memutuskan membawa Selena yang masih menangis , masuk ke dalam mobilnya. Alvino hanya diam , hatinya pilu dan marah mendengar tangisan Selena.


Buku-buku jarinya memutih , mengenggam erat setir kemudi. Siapa pun orang yang membuat Selena bersedih , harus berhadapan dengannya!