The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pertemanan Dengan Leon



"Fuh...fuh...fuh...”.


Napas Selena naik-turun seiring dengan langkah kakinya. Sambil mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang di telinganya, Selena mulai berlari mengikuti alur treadmill yang semakin cepat.


Setelah belari di alat tersebut selama 30 menit, Selena yang sudah kelelahan memutuskan untuk mematikannya. Napasnya terengah-engah , keringat mengalir di sekitar wajah dan leher putihnya. Sambil meneguk sebotol air, matanya mengamati sekeliling area gym yang berada di lantai atas apartemennya.


Mungkin karena masih hari Jumat, sehingga tidak terlalu banyak penghuni yang menggunakannya. Tanpa sengaja matanya mengarah ke sebuah sosok pria yang tampak menonjol dan familiar.


Pria itu sedang fokus mengayunkan kedua lengannya di press chest machine. Setiap gerakannya membuat otot-otot bisepnya terlihat sempurna dibalik kaos putih polosnya. Yang membuatnya semakin menonjol mungkin juga karena rambutnya yang berwarna pirang kecoklatan dan paras Eropanya.


Sepertinya tidak hanya Selena saja yang memperhatikan Leon. Beberapa wanita muda yang ada disana juga sedang memperhatikannya. Bahkan dua orang diantaranya ada yang berani mendekati Leon. Selena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, sebelum akhirnya meninggalkan area gym dan kembali ke unit apartemennya.


Tok...Tok..Tok...


Terdengar suara ketukan di pintu tepat setelah Selena selesai membersihkan diri.


Selena menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 8.30 malam. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Seingatnya , dia tidak memiliki janji dengan Gina atau Alvino. Selena bergegas menuju pintu ketika suara ketukan itu semakin cepat. Dia mengernyit bingung ketika melihat sosok Leon dari balik lubang pintu.


“Hai.. Maaf mengganggumu malam-malam. Tapi...apa boleh aku meminta sedikit garam?” tanya Leon begitu pintu terbuka.


“Oh. Boleh. Tunggu sebentar ya,” jawab Selena sambil berjalan menuju dapur.


Tak berapa lama kemudian, Selena kembali dengan mengenggam sebuah kotak kecil. “Nah ini garamnya".


“Thanks..... Ah, Argo!! Berhenti!! Apa yang kau lakukan kawan?!” Leon terkejut dan panik saat melihat kucing peliharaannya kini tengah mengusap-usapkan kepalanya di kaki Selena.


“Hahaha...tidak apa-apa,” Selena tertawa. Dia berjongkok dan mulai membelai-belai kucing berbulu abu-abu tersebut , “ini kucingmu? Siapa tadi namanya? Argo?”.


“Meaaoow...” Argo mengeong pelan , seakan mengerti pertanyaan Selena.


“Iya. Namanya Argo. Sepertinya dia menyukaimu. Hei kawan kemarilah. Ayo kita pulang” ujar Leon sambil menjentikkan jari dan bersiul berulang-ulang.


Tapi Argo tidak bergeming , dia malah semakin menempel dengan Selena. Leon yang frustasi hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil meminta maaf.


“Tidak apa-apa. Dia lucu kok” balas Selena yang kini sudah menggendong Argo , “ohya, ngomong-ngomong kau membutuhkan garam untuk apa?”.


“Astaga. Aku lupa!” Leon tersentak kaget mendengar pertanyaan Selena dan bergegas menuju unitnya.


“Masuklah ke dalam Sel,” seru Leon dari dalam saat Selena mengikutinya.


“Oh oke. Wow...,” Selena mendesis pelan begitu memasuki unit apartemen Leon.


Sebuah sofa putih yang lebar dan panjang langsung menyambut Selena. Di depan sofa ada sebuah meja marme hitam. Sofa tersebut menghadap ke sebuah TV LED besar yang tertempel di dinding.


Tempat ini terlihat cukup nyaman dan rapi untuk ukuran seorang pria apalagi kalau mengingat Leon memiliki hewan peliharaan.


“Kau bermain game ini juga?” tanya Selena menunjuk ke arah sebuah poster besar bergambar tokoh game yang Selena mainkan.


Leon mengangguk , “begitulah”.


Selena mengangguk-anggukan kepala sambil membulatkan bibir. Matanya kini mengamati Leon yang sedang serius memasak. Selena bahkan sampai bertepuk tangan ketika Leon melakukan sedikit atraksi api dengan wajannya persis seperti seorang chef profesional.


Selena menatap kagum hasil masakan Leon yang kini tertata rapi di atas piring hitam. Awalnya Selena menolak tawaran makan dari Leon dan berpikir untuk kembali ke unitnya tapi ketika dia melihat tampilan pasta yang indah dan aroma yang harum, perut Selena langsung mengiyakan.


Dan entah bagaimana awalnya , tiba-tiba saja mereka berdua mulai menceritakan banyak hal. Leon menceritakan tentang dirinya yang berasal dari keluarga campuran. Ayahnya berdarah Perancis sementara ibunya Bandung. Leon lahir di Prancis tapi memutuskan besar di Indonesia. Tak heran kalau dia sangat fasih berbahasa Indonesia. Obrolan mereka pun kemudian berlanjut membahas game yang sama.


“Jadi sudah sejauh mana levelmu?” tanya Leon.


“Levelku masih rendah. Sekarang berhenti di level troll. Agak susah juga untuk mendapatkan diamond,” keluh Selena.


“Hm....,” Leon berpikir sejenak. “Mau kubantu? Aku punya cheatnya. Jadi kau bisa langsung berhadapan dengan naga”.


“Cheat?” mata Selena membelalak sebelum berkata. “Ah tidak. Aku mau main dengan jujur dan adil”.


“Hahaha..baiklah. Kalau diamond ... mau?”.


Selena langsung mengangguk cepat dan mereka segera bertukar ID. Selena terpekik kaget saat melihat jumlah diamond yang diberikan.


“1.000 buah? Wah, ini banyak sekali. Kau...” Selena berhenti sejenak. “Pemain kaya ya?”.


Leon tertawa keras , “begitulah. Aku sangat menyukai game ini”.


“Aku juga. Tapi saranku , jangan hamburkan uangmu begitu saja untuk bermain sebuah game,” ujar Selena yang dijawab anggukan oleh Leon.


“Ah , tampaknya aku harus kembali. Aku sudah terlalu lama disini. Terima kasih untuk makan malamnya”.


“Sama-sama, mampirlah lagi kalau kau ingin makan”.


“Oke...Bye Argo...,” ujar Selena sambil mengelus Argo pelan.


Begitu Selena dan Leon keluar dari dalam unit apartemen, sebuah suara teriakan mengejutkan mereka berdua.


“Sel!! Kenapa lo keluar dari sana?!”.