
Emosi Alvino meradang kala seseorang terus-menerus menekan tombol bel sembari mengedor-gedor pintu unit apartemennya.
Sambil mengenakan bajunya dengan terburu-buru, Alvino bersiap menghardik orang yang berada di luar pintu unitnya. Namun amarahnya menguap kala melihat pelakunya.
Tanpa permisi, Orang tersebut bahkan memaksa masuk sampai membuat Alvino terdorong.
“Gin! Lo kenapa?!” protes Alvino.
Matanya celingukan memperhatikan lorong unitnya. “Sendirian? Gak sama Martin?”
Gina tidak menjawab dan tanpa aba-aba langsung menarik tangan Alvino seraya membanting pintu unit apartemen dan menguncinya.
Belum habis rasa keterkejutan Alvino, Gina sudah menyeretnya dan mendorongnya hingga terduduk di sofa.
“Gin!! Lo apa-ap... Aduh..!!”
Alvino mengaduh kesakitan saat kedua tangan Gina mencengkram kuat bahunya. Dia bisa merasakan kuku panjang Gina menghujam bahunya.
Alvino hendak protes tapi urung melihat mata Gina yang melotot tajam dengan muka yang memerah dan napas yang naik turun. Pertanda kalau ia sedang dibakar emosi. Alvino mengkerut, sedikit ketakutan.
Dalam kamus hidupnya , Gina adalah wanita ketiga yang tak mau ia sulut amarahnya. Alvino masih ingat dengan jelas bagaimana sangarnya Gina menghajar segerombolan gank motor yang pernah tanpa sengaja menyerempet mobilnya.
Dia terhenyak menyaksikan betapa mudahnya wanita itu menendang, memukul bahkan membanting beberapa pria yang notabene berukuran lebih besar darinya.
Belakangan Alvino baru tahu kalau sahabatnya ini menguasai berbagai teknik beladiri mematikan sedari kecil.
“Lo ada hubungan apa sama Nayra?!” suara tajam Gina membuyarkan lamunan Alvino.
Ha? Mata Alvino membulat. Terkejut dengan pertanyaan mendadak dari Gina.
“Jawab Vin!” Gina semakin emosi dan makin mencengkram kuat bahu Alvino.
“Gak ada apa-apa!!” Alvino meringis kesakitan. Bahunya seperti teriris silet, seketika ia merasa seperti sedang diintrogasi oleh sosok Wolverine, sebuah tokoh superhero bercakar tiga.
Gina mengendurkan cengkramannya namun tetap melotot tajam. Kali ini dibarengi dengan sorot curiga.
“Sumpah! Gue gak ada hubungan apa-apa!!” Alvino menepis tangan Gina yang masih menempel di bahunya. “Lo gak pernah potong kuku ya?!”
Alvino menepuk-nepuk pelan pundaknya yang terasa sakit dan juga perih.
“Gue kebetulan lihat dia jongkok ketakutan di lorong. Yaudah, gue bantuin terus gue anter pulang. Udah gitu doang. Kalau lo gak percaya, tanya sendiri sama orangnya!” sembur Alvino.
“Cuma itu?”
Alvino mengangguk kesal. Seketika raut muka Gina melunak. Sambil menghembuskan napas panjang, ia mendudukkan tubuhnya persis di samping Alvino.
Pandangan Gina kemudian beralih ke Alvino yang masih menepuk-nepuk bahunya. Merasa bersalah, Gina pun membantu memijat-mijat bahu Alvino.
“Maaf, sakit ya?”
Alvino meringis. “Perih Gin. Kuku lo tajam.”
“Hahaha..Maaf deh,” Gina tertawa kecil.
“Lagian lo aneh-aneh aja sih bawa artis orang seenak jidat!” Gina secara refleks memukul punggung Alvino. Namun ia buru-buru meminta maaf saat mendengar suara Alvino yang kesakitan.
“Ya masa gue diemin? Gue dokter dengan rasa humanity yang tinggi. Ngelihat ada orang kesusahan, jiwa sosial gue tergerak.” Seloroh Alvino sembari menepuk dadanya.
“Eh,tapi lo tahu dari mana kalau gue yang anterin Nayra?” Alvino bertanya dengan raut penasaran.
“Gue kan ada nyuruh orang buat ngikutin dia kemana-kemana.” Jawab Gina enteng.
Pupil Alvino membulat. “Gila! Itu kriminal namanya, Gin!” pekiknya kaget.
Alvino bergidik ngeri mendengar penuturan Gina.
Aset? Apa di mata Gina, Nayra itu tak lebih seperti sebuah barang berharga?
Berhubung nyeri di bahunya sudah menghilang, Alvino mencoba meluruskan kakinya sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke sofa.
Namun baru beberapa detik dia merasakan relaksasi, bulu kuduknya mendadak berdiri. Ada aura menakutkan di sampingnya.
Dengan cepat Alvino menoleh ke kanan dan mendapati Gina sedang menyeringai lebar.
“Sekarang giliran gue yang tanya.”
Alvino memijit-mijit pelipisnya yang sakit. Dia lelah dan sangat ingin pergi tidur. Tapi tampaknya Gina tak ingin menyudahi konfrontasinya.
“Jadi, lo mau tanya apa?” tanyanya mengalah.
“Pertama. Nayra ngapain ke rumah sakit? Kedua. Apa dia benar-benar sendirian? Ketiga. Apa aja yang kalian berdua bicarakan di dalam mobil? Dan terakhir. Lo lihat ada hal yang mencurigakan gak dari gerak gerik dia?"
Alvino menghembuskan napas panjang, mencoba untuk meredam kekesalannya sebelum menjawab rentetan pertanyaan Gina. Dia ingin marah tapi ia sadar kalau itu justru akan memancing emosi Gina kembali.
“Oke.. Jadi......”
****
“Intinya gue sama sekali gak tahu tujuan kedatangan Nayra ke rumah sakit untuk apa. Seandainya pun tahu, gue tetap gak akan cerita sama elo. Biar gimana pun, ada kode etik yang harus gue patuhin.” Tutup Alvino di akhir penjelasannya.
Dia terdiam, menunggu reaksi dari Gina yang sejak tadi, anehnya— hanya mendengarkan penuturannya tanpa menginterupsi.
Gina menghela napas sebelum bangkit menuju dapur. Alis Alvino mengernyit bingung. Matanya memandang lekat Gina yang sekarang malah mengambil sebuah panci. Sekelabat pikiran buruk menghantam Alvino.
Jangan bilang sekarang dia mau ngelempar panci ke muka gue?
Namun beberapa detik kemudian, dia dikejutkan dengan aksi Gina yang menyalakan kompor dengan panci berisi air di atasnya.
“Lo panasin air buat apa, Gin?” Alvino mendekat dengan ragu-ragu.
Bukan buat nyiram gue kan?
“Bikin mie.” Jawaban singkat Gina langsung disambut dengan helaan napas lega Alvino.
“Gue laper. Lupa belom makan tadi,” timpalnya sambil menumpahkan mie ke dalam panci. “Lo mau?”
Alvino menggeleng sambil mendudukkan tubuhnya di kursi makan. Ada keheningan beberapa detik sebelum akhirnya Alvino memberanikan diri bertanya.
”Selena baik-baik aja?”
Gina menatap Alvino sekilas. “Baik, lo harusnya jangan putus komunikasi kayak gini. Selena sampai nanya ke gue, lo sesibuk apa.”
Alvino terdiam gusar. Dia sebenarnya ingin bercanda lagi dengan wanita bermata cokelat itu, tapi hatinya masih sakit kalau teringat status Selena yang sudah menikah.
Ah, sekarang Alvino baru menyesali keterlambatannya mengungkapkan isi hatinya.
“Slurrp...slurrp..” Suara Gina yang menyeruput mie di depan Alvino ditambah dengan aroma kuah kaldu yang menusuk hidungnya, membuat pria itu tergiur.
Tanpa basa basi, Alvino mengambil garpu dan mencicipi sedikit mie buatan Gina.
Gina sempat protes namun urung saat Alvino menunjukkan kukunya yang berbekas di bahu Alvino.
“Bukannya dari tadi minta, jadi bisa gue bikinin sekalian. Kebiasaan, sadarnya belakangan. Makanya jodohnya jadi direbut orang!” sindir Gina pedas.