
Setelah merasakan weekend yang menyenangkan , Selena kembali dihadapkan dengan realita pekerjaan yang memusingkan. Selena dan timnya yang terdiri dari 4 orang lainnya , saat ini tengah duduk bersama membahas langkah yang akan mereka buat.
“Jadi untuk project kali ini kita akan survey dan bekerjasama dengan salah satu perusahaan disana. Sudah kamu pastikan kan, Len?” tanya Selena.
Seorang gadis muda bertubuh mungil mengangguk seraya membaca lampiran file , “sudah, Bu. Silahkan dilihat.”
Helen menyalakan layar proyektor yang terhubung dari laptopnya. Dan mulai menjelaskan data yang dia punya. Rapat berlangsung sekitar 1 jam.
Dan hasil akhirnya adalah Selena , Niko dan Helen akan pergi bersama ke Bali akhir pekan ini.
Selena kembali ke ruangannya begitu rapat selesai. Dia pun kembali berkutat dan fokus dengan pekerjaannya hingga saatnya jam pulang kantor tiba.
Sesampai di apartemennya , Selena langsung menuju kamar mandi. Guyuran air hangat kran shower yang membasahi tubuhnya , mampu menghilangkan kepenatannya.
Sambil mengeringkan rambut hitam panjangnya yang basah , Selena menatap layar ponselnya. Tidak pernah ada kabar dari Dimas sejak pertemuan terakhir mereka.
Sebenarnya Selena ingin menghubungi Dimas lebih dulu. Tapi enggan , jika mengingat perlakuan Dimas di pertemuan terakhir mereka.
Jujur , ini pertama kalinya ia memikirkan seseorang dengan begitu serius.
Dia sendiri juga tidak mengerti , sejak kapan pria itu mampu memenuhi pikirannya sampai seperti ini.
Sementara itu di tempat lain dan di waktu hampir bersamaan...
Dimas duduk termenung sambil menatap langit malam dari balkon apartemennya. Tak dihiraukannya hembusan dingin angin malam yang menusuk kulitnya. Sejak tadi tangannya berulang kali mengetik-ketik sebuah pesan.
Tapi berulang kali pula keraguan menghampirinya hingga dia harus menghapusnya kembali.
Kesal, Dimas akhirnya menyerah dan memilih untuk kembali ke kamarnya dan bergegas tidur.
Tapi bukannya tidur , Dimas justru hanya berguling-guling di kasurnya. Sambil mengumpat , dia pun bangun dan pergi menuju ruang tengah.
“Ah , sial!” Lagi-lagi Dimas mengumpat karena tidak bisa fokus menonton siaran TV.
Seharian ini memang mood Dimas sangat jelek. Di kantor , dia bisa marah besar hanya karena persoalan sepele.
Dimas tidak tahu alasannya kenapa , setelah mendengar Selena pergi menginap bersama teman-temannya di Puncak , dia menjadi seperti ini. Apalagi saat mengetahui ada pria juga yang ikut bersamanya.
Sejak meninggalkan Selena begitu saja di mall , Dimas sebenarnya ingin menghubunginya. Tapi dia ragu mengingat ekspresi Selena terakhir kali.
Dia masih ingat raut bingung dan kesal yang terpancar dari wajah cantik Selena. Itu kesalahannya , seharusnya dia mengantarkan Selena pulang terlebih dulu.
Bagaimana bisa dia melakukan hal itu kepada seorang wanita? Terlebih lagi dirinya lah yang sudah mengajaknya pergi. Tapi dia tidak bisa berpikir jernih begitu mendengar Nayra dirawat di rumah sakit.
“Haah...”.
Pikirannya melayang mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Selena.
Dimas terlihat kesal sambil melirik jam tangannya. Dia terlambat di hari pertama bertemu? Bagus sekali , semakin menambah keenggananku untuk menikahinya , gerutu Dimas.
Tak berapa lama kemudian matanya menangkap sebuah sosok yang menarik dari kejauhan. Terlihat indah dan entah kenapa pandangan Dimas tidak bisa lepas darinya. Ketika sosok tersebut berjalan mengikuti seorang pelayan , jantung Dimas mulai berdebar dan semakin kencang kala pelayan tersebut membawa gadis itu tepat di mejanya.
Dimas mati-matian melawan kegugupan dengan memakai sikap yang selama ini dia gunakan jika sedang mengintimidasi orang.
Tapi wanita itu tidak terpengaruh dan justru malah menatapnya tajam. Dimas semakin salah tingkah saat tanpa sengaja jarak mereka berdekatan.
Dan entah kenapa Dimas ngotot mengantarkan Selena pulang. Padahal selama ini pantang bagi Dimas mengajak wanita lain selain Nayra untuk naik ke mobilnya.
Aroma parfum Selena yang menusuk indera penciuman Dimas semakin membuat nalarnya berhenti. Dia seakan enggan mengakhiri pertemuan ini dan tanpa sadar Dimas mengajaknya bertemu kembali.
Jantungnya semakin berdebar kala mendatangi Selena di kediaman orangtuanya. Sangat cantik dan indah sampai Dimas tidak bisa berkedip memandangnya.
Dimas bahkan sampai bersorak dalam hati saat papinya menanyakan tentang hubungan merek berdua. Tapi begitu melihat keengganan di mata Selena , Dimas pun sadar kalau Selena tidak menyukainya.
Karena itu Dimas memilih mengabaikannya tapi itu malah semakin membuat Dimas memikirkannya. Hingga tanpa sadar dia selalu mencari-cari alasan untuk dapat bertemu dengannya.
Dimas tersadar dari lamunannya dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengeluarkan ingatannya.
“Sadarlah Dimas! Kamu sudah punya Nayra! Bagaimana bisa kamu memikirkan wanita lain?!” Dimas mengomeli dirinya sendiri.
“Lebih baik aku begadang saja. Daripada pikiranku kemana-kemana,” keluh Dimas sambil membuka laptopnya.
Alhasil , Dimas pun tenggelam dalam pekerjaannya dan baru tidur ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.