The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Bertemu Mantan



“Surabaya? Kenapa mendadak sekali, Kak?” Nayra bertanya bingung.


Pagi ini seharusnya Nayra melakukan syuting iklan untuk perilisan game terbaru perusahaan Leon. Tapi tempat syuting yang semula berlokasi di studio Jakarta mendadak berubah menjadi studio di Surabaya.


“Entahlah. Tiba-tiba saja Kakak di telepon. Ayo, kemasi barang-barangmu. Kakak tunggu di lobi depan, 15 menit lagi.” Jay mengedikkan bahu lalu pergi meninggalkan Nayra yang masih tertegun bingung.


Ini pasti ulah Leon. Tapi kenapa harus ke Surabaya? Ada apa di sana?


Hingga Nayra dan Jay tiba di bandara Juanda, wanita itu tetap tidak menemukan jawabannya.


Walau begitu, Nayra tetap yakin bahwa ada sesuatu yang membuat Leon merubah lokasi syutingnya. Dan entah kenapa feeling Nayra didera perasaan gelisah.


Di Surabaya, perusahaan SpyroGames menyewakan sebuah mobil sedan hitam beserta supirnya untuk akomodasi Nayra selama di sana.


Supir sedan hitam itu mengantar Nayra dan Jay ke sebuah hotel berbintang 5. Mata Nayra seketika membulat, saat mobil yang mereka naiki masuk ke pelataran hotel. Dia mencengkram kuat kemeja Jay.


“Kenapa, Nay?” tanya Jay bingung.


“I- ini hotelnya Dimas, Kak.” Nayra tergagap.


Pikiran Nayra langsung berkembang jauh. Dia jadi semakin yakin kalau Leon memang sengaja mengatur semua ini.


Tapi untuk apa? Nggak mungkin kan Dimas ada disini juga?


“Lalu apa masalahnya? Apa kamu pikir Presdir ada di sini?” Jay menepuk pundak Nayra. Menyadarkan wanita itu dari lamunannya. “Mana mungkin, Nay. Kalau memang beliau ada, berarti kalian beneran berjodoh.” Jay mencoba melucu sambil beranjak keluar dari mobil.


Nayra terdiam memikirkan kata-kata Jay.


Benar juga, masa iya Dimas ada di sini. Tapi kalau iya ... apa boleh aku berharap sedikit?


****


“Nah, ini kartu kamarmu. Simpan baik-baik.” Jay menyerahkan sebuah amplop kecil berisikan card access kamar Nayra.


“Maaf ya Nay, padahal Kakak sudah meminta kamar baru di lantai yang sama denganmu. Tapi mereka bilang full semua. Heran Kakak, kenapa perusahaan SpyroGames tidak memesan kamar yang bersebelahan untuk kita berdua?!”


Jay tak henti-hentinya mengomel. Karena kamar mereka berbeda lantai.


Padahal biasanya perusahaan sponsor selalu menyediakan kamar berdampingan untuk mereka. Selain alasan keamanan, juga memudahkan Jay untuk mengurus segala kebutuhan Nayra.


“Sudahlah, Kak. Aku akan baik-baik saja. Toh, kita hanya berbeda 1 lantai. Lagi pula, keamanan di sini 'kan ketat.” Hibur Nayra.


Jay menghela napas panjang. Mengelus rambut Nayra. “Yasudah. Kita masih ada waktu 1 jam. Gunakan untuk beristirahat. Kalau butuh sesuatu, telepon Kakak. Selalu kunci pintumu dan jangan biarkan siapa pun masuk.” Perintah Jay yang langsung diangguki Nayra.


****


Perutnya keroncongan. Tak ingin menganggu Jay yang mungkin sudah tertidur ,ia memutuskan untuk mencari sendiri makanan di luar.


Seperti biasa, Nayra menyamarkan tubuhnya dengan masker. Setelah memastikan tidak ada orang di koridor lantainya, Nayra baru berani keluar. Bersamaan dengannya, pintu di seberang kamarnya juga terbuka.


“Nayra?” Si pemilik kamar seberang, terkejut melihatnya.


Sepertinya penyamaran Nayra gagal karena pria itu bisa mengenalinya dengan mudah.


“Dimas?” Nayra tak kalah terkejut saat menyadari sosok di hadapannya. “Kenapa kamu ada di sini?”


“Ini hotelku.” Jawab Dimas bingung. “Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu di sini? Apa kamu ada syuting di kota ini?”


Nayra mengangguk. Namun seketika ia merasa cemas karena teringat sesuatu. “Ma-maafkan aku. Hotel ini dipesan oleh sponsorku. Aku baru tahu saat sudah tiba di sini. Sumpah, aku sama sekali nggak tahu kalau kamu ada di sini juga.” Ceplos Nayra panik.


Dimas tertawa renyah. “Kenapa heboh begitu? Santai saja. Eh, tapi kamu mau kemana?” Dimas menelisik tampilan Nayra.


Nayra menarik napas lega. Dia sudah takut, Dimas akan menduganya macam-macam.


“Aku mau ke bawah. Cari makan malam.” Ujar Nayra.


“Kamu belum makan? Ini sudah malam, Nay! Bahaya keluar sendirian! Dimana Jay?!” Dimas celingukan memandangi koridor yang sepi.


“Kak Jay sudah tidur. Aku nggak mau menganggunya. Lagi pula aku lihat di depan hotel ada minimarket, kok.”


Dimas berdecak, mengacak sedikit rambutnya. “Mau makan apa kamu di minimarket? Mie instan? Sudah, kamu tunggu saja di kamarmu.” Ujar Dimas sambil mendorong pelan Nayra masuk ke kamar.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar Nayra. Wanita itu mengintip dari lubang pintu dan langsung tersenyum saat membuka pintu kamarnya.


“Habiskan. Jangan disisakan.” Ucap Dimas sambil menyerahkan bungkusan makanan.


Nayra terkesiap, hatinya merasa hangat. Entah dari mana keberanian itu muncul. Saat Dimas hendak berbalik masuk ke kamarnya, tiba-tiba saja Nayra sudah menahan ujung kaos biru miliknya.


Langkah Dimas terhenti, dia membalikkan tubuhnya. Kini mereka berdua saling berhadapan di koridor yang sepi. Jantung Nayra berdegup kencang. Dia menarik napas dalam-dalam, memberanikan dirinya.


“Mau makan bersama? Hanya makan sebagai sesama teman, nggak lebih.” Pinta Nayra penuh harap.


Dimas terdiam, menatap Nayra sejenak. Lalu menggeleng.


“Nay. Kita sudah tak bisa berteman seperti dulu lagi. Selena masih belum terbiasa dengan kehadiranmu. Aku nggak mau lagi menyakiti perasaannya. Maafkan aku. Istirahatlah.” Pamit Dimas meninggalkan Nayra yang menatapnya kecewa.


Begitu Dimas menutup pintu kamarnya, Nayra bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Dia merosot, menangis diam-diam di dalam kamar mandi. Keran wastafel sengaja ia nyalakan agar menyamarkan suara tangisannya. Dia berbaring di bathub dan menangis cukup lama di sana.