The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Setuju?



“Sel , minum dulu nih,” ujar Dimas sambil menyerahkan segelas kopi kepada Selena yang tengah duduk di sofa.


“Makasih,” balas Selena.


“Aku anterin kamu pulang ya. Kamu pasti capek,” tawar Dimas yang kini sudah duduk di sampingnya.


“Nanti aja deh. Aku gak apa-apa kok. Justru harusnya tante yang kamu pikirkan,” tolak Selena sambil memandang ke arah Vivi yang masih duduk di samping Goenawan.


“Iya. Sebentar lagi juga aku mau suruh Mami pulang kok. Biar nanti aku sendiri yang jagain Papi.”


“Kalau gitu aku juga disini.”


“Jangan. Kamu sama Mami harus pulang istirahat. Aku gak mau lagi dengar ada yang dirawat!”


Selena langsung menoleh menatap Dimas sehingga membuat pria itu terkejut.


“Kamu punya kaca gak? Lihat juga penampilan kamu sekarang gimana!” omel Selena jengkel.


“Dimas! Selena! Papi sudah sadar!” tiba-tiba saja Vivi berseru , menghentikan perdebatan antara Selena dan Dimas.


Mereka berdua pun segera berlari menghampiri tempat tidur dan melihat Goenawan dengan muka pucat sedang tersenyum kecil. Sontak Dimas langsung memencet tombol perawat yang ada di dinding. Tak berapa lama kemudian datang seorang dokter dan perawat.


Selena , Dimas dan Vivi menunggu dengan cemas ketika dokter mulai memeriksa tubuh Goenawan. Mereka baru bernafas lega saat dokter menyakinkan kalau kondisi Goenawan saat ini sudah jauh lebih baik.


“Kalian ini...Papi sakit kok malah bertengkar.” Ujar Goenawan pelan sambil berpura-pura merajuk ketika dokter sudah selesai memeriksa.


Sepertinya Goenawan benar-benar sudah jauh lebih baik. Karena dia kini bisa terduduk di tempat tidur. Dimas dan Selena tetap berada di samping Goenawan sementara Vivi pergi ke toilet untuk membasuh mukanya yang sembab.


“Jadi, kapan kalian menikah?” tanya Goenawan.


“Papi!” Dimas terkejut mendengarnya , “Papi baru sadar dan itu pertanyaan pertama Papi?!”


Selena juga terkejut dan mengangguk setuju dengan perkataan Dimas.


“Dimas..Selena,” tiba-tiba saja raut muka Goenawan menjadi serius. Dia menatap Dimas dan Selena bergantian. “Kalian pasti sudah tahu kondisi Papi seperti apa. Gak ada jaminan kalau Papi bisa selamanya sehat...,”


“Papi!” Dimas langsung memotong perkataan Goenawan. “Berhenti mikirin yang aneh-aneh.”


“Sekarang Om istirahat aja ya. Baru besok kita ngobrol lagi. Oke?” bujuk Selena.


Goenawan menggeleng.


“Aduh..Papi,” Dimas mengagaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bingung menghadapi papinya yang bertingkah bak anak kecil.


“Kalau kalian tidak mau menikah , bagaimana kalau bertunangan dulu?” usul Vivi yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang terlihat lebih segar.


“Tante!”


“Mami!”


“Mami! Hal seperti itu gak bisa diputusin mendadak. Apalagi yang akan ngejalanin kan Dimas sama Selena. Harus dipikirin dengan serius!”


Vivi pura-pura tidak mendengar. Dia malah meraih tangan Selena. Mengenggamnya sambil menatap Selena lembut , “kalau Selena pasti setuju kan?”.


“Emm...itu...,” Selena tampak bingung. Dia berusaha mengalihkan matanya dari tatapan Vivi. Namun sialnya dia kini justru bertatapan dengan Goenawan yang memandangnya dengan penuh harap.


Dimas yang jengah langsung buru-buru menarik Selena , “ayo Sel. Aku antar pulang.”


“Uhuk..uhuk....,” tiba-tiba Goenawan terbatuk-terbatuk sambil memegang dadanya.


Sontak Selena terkejut dan buru-buru menghampiri Goenawan. Begitupun dengan Vivi yang langsung mengelus punggung suaminya.


“Sel...,” Goenawan memandang Selena dengan sedih , “mau ya? Tunangan dulu? Uhukk..uhukk...,” lagi-lagi Goenawan terbatuk-batuk.


Dimas tersenyum jengkel melihat adegan tersebut. Dia seperti sedang menonton adegan sebuah sinetron. Dalam hatinya dia tertawa melihat akting kedua orangtuanya yang tampak natural. Dan yakin kalau Selena tidak akan terpengaruh.


Tapi Selena tidak seperti Dimas. Dia termakan dengan akting Goenawan. Dan benar-benar merasa panik melihat kondisi Goenawan.


“Iya , Selena mau. Om jangan sakit lagi ya,” ujar Selena sedih.


Ha? Dimas memandang Selena tak percaya. Kini pandangan Goenawan dan Vivi beralih ke Dimas. Begitupun dengan Selena yang menatap Dimas dengan mata cokelatnya.


“Tapi kalau kak Dimas keberatan juga gak....,”


“Siapa yang bilang aku keberatan?!” sergah Dimas buru-buru. “Aku Cuma gak mau kamu jadi terpaksa gara-gara ini!”


Di akhir kalimatnya , Dimas melotot ke arah kedua orangtuanya.


Selena menggeleng , “gak masalah. Asal Om janji sehat terus ya. Jangan sakit lagi.”


“Om janji!” tukas Goenawan cepat.


Fix, ini cewek ketipu papi sama mami! Gumam Dimas.


“Oke ya. Jadi kalian setuju. Kalau gitu nanti, Mami siapin acaranya,” ujar Vivi bertepuk tangan. “Nah sekarang kamu antar Selena pulang ya Dim. Kalian kan besok juga harus kerja.”


“Tante sendirian disini gak apa-apa?” tanya Selena cemas. Dia sepertinya masih percaya kalau Goenawan sakit parah.


“Gak apa-apa Sel. Terimakasih ya Sel. Tante sayang kamu,” balas Vivi sambil memeluk Selena erat-erat.


Dimas yang gerah melihat kedua orangtuanya langsung buru-buru mengajak Selena pulang. Setelah Dimas dan Selena pergi , Vivi menoleh ke arah suaminya.


“Pi , tadi kamu pingsan beneran kan?” tanyanya dengan curiga.


“Beneran, lah!” jawab Goenawan cepat.