
Goenawan menatap nanar pemandangan dari luar jendela ruang kerjanya. Dari lantai 20, ia bisa melihat hiruk pikuk suasana Jakarta di siang hari. Goenawan mendesah berat. Dari pantulan jendelanya, ia bisa melihat bayangan Dimas yang sedang berdiri menatapnya.
Anak tunggalnya itu terlihat tak sabar dari caranya menyilangkan tangannya di dada. Di samping Dimas, menantu kesayangannya - Selena, terlihat berbisik meminta Dimas untuk duduk di sofa. Tapi Dimas menolaknya dan justru berjalan mendekati Goenawan.
“Papi!” Dimas kelihatan kesal karena Goenawan sedari tadi hanya diam membelakanginya. “Oke, kalau Papi gak mau cerita biar kami tanyakan sama Mami!”
Selena menyikut Dimas dan memberi tatapan tajam bersiratkan ‘Kalau bicara yang sopan sama orang tua!’
Dimas menggelengkan kepalanya dan malah tersenyum merangkul Selena di bahunya. “Kamu ikutin saja suamimu ini ya!” Ujarnya sambil menarik Selena keluar dari ruangan Goenawan.
“Baiklah. Akan Papi ceritakan,” ucapan Goenawan mampu menghentikan langkah Dimas dan Selena.
“Papi akan ceritakan semuanya. Tapi tolong jangan tanyakan pada Mami atau pun Merry.” Ujarnya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. Diikuti Dimas dan Selena dibelakangnya.
Goenawan menghela napas panjang. Menatap sejenak wajah anak dan menantunya.
Maafkan aku, Surya. Jangan marah terhadapku kalau nanti kita bertemu di surga. Aku sudah menjaga janji kita dengan baik. Mereka sendiri yang tahu terlebih dulu. Batin Goenawan kepada Surya, mendiang sahabatnya yang juga merupakan Papa Selena.
****
Sepeninggal dari kantor Goenawan, Dimas dan Selena kembali pulang ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan, mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
Cerita yang disampaikan Goenawan rupanya sedikit mengguncang mereka. Terutama Dimas.
Pria itu tak menyangka kalau kekayaan keluarganya hampir merenggut nyawa mereka berdua. Ternyata mereka berdua dulu pernah menjadi korban penculikan.
Kejadian itu terjadi saat mereka sedang berlibur bersama di villa milik orangtua Selena.
Dan Dimas kecil tanpa sengaja justru memudahkan niat para penculik, karena saat kejadian Dimas kecil tengah mengajak Selena kecil pergi keluar untuk melihat bintang yang berada di bukit belakang villa.
Bintang sialan! Kalau saat itu aku tak mengajak Selena kesana, kejadian seperti itu pasti tak akan pernah terjadi. Dan Selena tak harus mengalami trauma. Sampai harus dihipnotis untuk membuatnya lupa. Hei, Dimas kecil! Dimana otakmu kau simpan? Bagimana bisa dua anak kecil tengah malam bekeliaran di bukit?!
Terlalu sibuk memaki dirinya sendiri, Dimas tak sadar kalau lampu merah sudah menyala di depan mereka. Sementara dari arah kanan sebuah truk bermuatan galon air mineral tengah melaju kencang menuju persimpangan.
“Lampu merah, Dim!” Selena berteriak ngeri sambil menahan napasnya. Tangannya memegang erat seatbelt. Dia sudah bersiap menghadapi hal terburuk mengingat laju mobil Dimas yang cukup cepat.
Dimas yang tersadar segera menginjak pedal remnya sekuat mungkin dan memegang erat setir kemudi. Rahangnya mengeras seiring dengan napasnya yang tertahan dan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Instingnya mengatakan kalau sekeras apapun usahanya mengerem, mobilnya pasti akan tertabrak juga.
Aku harus meminimalisir kemungkinan yang terburuk.
Ckittt….. bruk.
Sesuai dengan prediksinya, Mobil sedan hitamnya menabrak bagian samping truck. Suara dua kendaraan yang bertubrukan itu membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik.
“Kamu baik-baik aja? Maaf..maafkan aku,” Dimas langsung memeluk Selena yang gemetaran.
Wanita itu terlihat shock karena di depan matanya kini jarak mereka dengan roda-roda truck hanya beberapa inci.
Mata Dimas menelisik tubuh Selena. Dia sedikit bernapas lega karena wanita itu tampak baik-baik saja walau dengan wajah yang memucat.
Para pengguna jalan yang lain dengan sigap langsung menghampiri mobil Dimas. Mereka mengetuk-ketuk kaca mobil Dimas dan saling bertanya dengan raut simpati dan ketakutan. Termasuk supir truck yang dengan cemas menghampiri mereka.
Dimas segera membuka pintu mobil dan menyakinkan orang-orang tersebut bahwa mereka baik-baik saja. Sekaligus meminta maaf karena sudah menimbulkan kemacetan.
****
Di tempat lain, Nayra terlihat sedang melakukan sebuah syuting iklan bersama dengan seorang model pria.
“Cut!” Sutradara berteriak dengan nada kesal. Ia berjalan cepat menghampiri Nayra. Wajahnya tertekuk dengan gurat kekesalan.
“Kalau kamu tidak bisa berkonsentrasi sebaiknya kamu istirahat saja! Biar saya cari model yang lain!” Hardik sutradara itu dengan suara kencang. “Kita sudah melakukan ini sepanjang hari. Tapi belum juga ada kemajuan. Pekerjaan saya masih banyak. Jika kamu ingin mengacau, cari tempat yang lain!”
Nayra terkejut begitupun dengan para staff yang ketakutan melihat tatapan tajam sang sutradara yang terkenal disiplin, tapi diam-diam mereka menyetujui ucapan sang sutradara.
Soalnya syuting yang seharusnya bisa selesai hanya dalam waktu 2 jam tapi ini sudah hampir 3,5 jam dan mereka masih jalan di tempat.
Nayra mengigit bibirnya sambil menundukkan kepalanya. Meminta maaf kepada sutradara dan para staff.
“Ini take terakhir. Jika masih gagal juga, saya akan memanggil model yang lain!” ancam sang sutradara sambil beringsut pergi menuju tempatnya semula.
Nayra menggangguk dan dengan cepat menjernihkan pikirannya yang sejak tadi terusik dengan kelakuan Dimas tempo hari.
Sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu. Aku harus fokus dengan pekerjaanku.
Akhirnya syuting berakhir dalam waktu 45 menit. Nayra kembali meminta maaf kepada semua orang disana. Sang sutradara hanya berkata singkat, “Lain kali tolong lebih profesional.” Ujarnya sambil melenggang pergi.
****
“Masih mau mencarinya, Nay?” tanya Jay dari balik spion mobil saat melihat Nayra menelpon seseorang. Raut ketidaksukaan terpancar dari wajah Jay.
Nayra tak menggubrisnya dan terus saja menempelkan ponsel di telinganya. Beberapa menit kemudian Nayra melemparkan ponselnya ke lantai mobil begitu saja.
Diturunkannya sandaran jok kursinya sambil menutup kedua matanya dengan memakai masker penutup mata bermotif polkadot , pikiran Nayra mulai berkelana. Memikirkan pertemuan terakhirnya dengan Dimas.
Padahal Nayra sudah senang ketika pria itu mengajaknya bertemu lebih dulu. Tapi ternyata Dimas malah memutuskan hubungan mereka begitu saja sekaligus meminta maaf dan menyarankan Nayra untuk fokus dengan kariernya dulu.
Bodoh! Jangan gunakan karierku sebagai alasan putusnya hubungan kita. Tinggal bilang saja kalau kamu sudah mulai mencintai istrimu itu. Tapi Dim, kamu mengenalku bukan? Kamu pasti tahu kalau aku tak akan menyerah sebelum mencoba.