The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pertengkaran



Selena merebahkan tubuhnya telentang di atas kasur, membiarkan rambutnya yang masih basah tergelung di balik handuk putih.


Matanya terasa berat. Akhir-akhir ini dia juga merasa tubuhnya lebih cepat lelah ketimbang biasanya.


Kayaknya aku harus cek-up ke dokter nih, batin Selena sebelum matanya terpejam.


.


.


“Sugar ..” Sentuhan halus di pipinya membangunkan Selena. Matanya menyipit, menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba menusuk indera penglihatannya.


Begitu kesadarannya pulih, dia melihat Dimas sudah berbaring miring di sampingnya.


Tangan Dimas terulur, membelai pipinya lagi.


“Maaf, aku terpaksa bangunin kamu. Tapi kamu bisa masuk angin kalau tidur seperti ini. Mana rambutmu masih basah.” Dimas mengamati gulungan handuk di atas kepala Selena. “Kamu juga masih pakai bathrobe.”


Selena menghela napas lelah. “Akhir-akhir ini badanku gampang capek, Bi."


Selena beranjak duduk di kursi rias kecil berbulu putih. Rambutnya langsung tergerai berantakan begitu ia membuka gulungan handuk di atas kepalanya.


“Kamu sakit?” Dimas langsung ikut berdiri, berjalan menghampiri Selena. Lalu memijit pundaknya seraya menatap wajah istrinya lewat pantulan cermin rias.


Selena mengangkat bahunya. “Nggak tahu. Mungkin kurang istirahat,” cetus Selena sambil melirik Dimas yang berdiri di belakangnya. “Gara-gara siapa ya?” timpalnya bersungut-sungut.


Dimas nyengir. Sejak skenario mereka dimulai, Selena memang sengaja tinggal di apartementnya. Hampir setiap malam pula Dimas tak pernah absen untuk mengajaknya keluar diam-diam.


Jika sudah begitu, biasanya Selena baru akan kembali ke apartement saat subuh menjelang.


“Biar aku bantu,” merasa bersalah, Dimas berinisiatif membantu Selena mengeringkan rambutnya.


Tangan kanan Dimas berputar-putar di atas kepala Selena sambil mengenggam hair-dryer. Sementara tangan kirinya menyibak tiap helai rambut Selena, mengarahkannya agar rata terkena uap hair-dryer.


Sambil melakukan itu, diam-diam Dimas memperhatikan Selena. Wanita itu kelihatan kesusahan menahan kantuknya. Kalau dipikir, memang akhir-akhir ini Selena selalu kelihatan lelah.


“Besok aku mau ke kantor polisi,” satu kalimat Dimas sukses membuat Selena terjaga. Iris cokelatnya lagsung membulat sempurna.


“Besok?”


Sebuah anggukan dari Dimas menjawab pertanyaan Selena. Wanita itu tampak terkejut.


“Kenapa, Sugar? Kamu keberatan?” candanya sembari mematikan hair-dryer. Sambil menggulung kabel hair-dryer, Dimas mengamati Selena yang hanya menggelengkan kepala.


“Siapa yang keberatan?” cetus Selena sambil menyisir rambutnya yang sudah kering.


Dimas menunduk, mencium puncak kepala Selena seraya menghirup aroma khas shampoo flower Selena. Matanya memperhatikan lekat Selena yang tengah menyisir rambutnya.


“Bi ….” Panggilan lembut Selena membuyarkan lamunan Dimas. Pria itu menatap Selena yang sudah mengenakan piyama merah berbahan satin.


“Boleh aku minta sesuatu?” Tanya Selena ragu-ragu. Dia mengigit bibir bawahnya, tanpa menyadari kalau gerakan kecilnya itu mampu mengundang gairah Dimas.


“Kamu mau minta apa?” Dimas mengalihkan pandangannya ke manik cokelat teduh Selena. Dia harus menahan hasratnya. Saat ini, istrinya harus tidur lebih cepat dari biasanya.


“Emm….,” Selena kelihatan bingung. Matanya bergerak gelisah. Dia tersentak saat tangan Dimas menangkup wajah kecilnya. Selena memejamkan matanya sesaat, lalu memandang dalam Dimas.


“Tolong jangan masukkan video kamar rahasia Leon ke dalam laporanmu,” pintanya.


Rongga dada Dimas langsung memanas. Napasnya terasa sesak mendengar permintaan lirih istrinya. Terlebih Selena mengatakannya dengan tatapan sendu. Dimas menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit dan marah yang tiba-tiba menghimpitnya.


“Kasih aku satu alasan kenapa aku harus mengiyakan permintaanmu,” ucap Dimas tegas. Walau kesal, Dimas tetap harus berkepala dingin. Dia tak ingin hubungannya dengan Selena memburuk hanya karena emosinya.


“Aku ….. hanya kasihan,” lirih Selena.


Ya, mungkin ini hanyalah rasa empatinya sebagai seorang teman. Seminggu bersamanya, ternyata mampu menyakinkan Selena kalau Leon tak sejahat perkiraannya.


“Kasihan?” Dimas terperangah mendengar jawaban Selena. Ketenanganya langsung runtuh. Dimas langsung berdiri seraya melempar pandangan kecewa.


“Kamu kasihan dengan laki-laki seperti itu? Apa kamu nggak kasihan sama aku?!” tukasnya kesal. “Gara-gara dia, semua orang menghujatku! Perusahaanku hampir hancur! Dan kita hampir bercerai, Sel. Apa kamu nggak memikirkan itu?”


Selena tersentak. Suara Dimas yang meninggi ditambah Dimas yang memanggilnya Selena dan bukannya Sugar, membuatnya marah. Dia ikut berdiri menghampiri Dimas.


“Memangnya ini gara-gara siapa?! Siapa yang suruh kamu menemui Nayra di saat kita sudah menikah!” Balas Selena sengit dengan tatapan berapi-api.


Dimas terkejut, tanpa sadar ia bergerak mundur selangkah. Ekspresi Selena terlihat mengerikan. Manik cokelat teduhnya melotot seolah ingin menerkam Dimas.


Belum habis rasa keterkejutannya, Selena tiba-tiba saja menangis.


“Kamu jahat! Ini kan….bukan sepenuhnya salahku…kamu..juga ada andil..,” Selena terisak sembari menutupi wajahnya. Dia sesenggukan dengan bahu yang bergerak naik turun.


Tanpa pikir panjang Dimas segera memeluk Selena. Dia panik melihat Selena menangis seperti itu.


“Iya, aku yang salah. Harusnya aku putusin Nayra dulu baru nikahin kamu. Maafin aku ya. Jangan nangis lagi… Kamu tahu kan, aku paling nggak bisa lihat kamu menangis?”


Dimas memilih mengalah. Hilang sudah emosinya setelah melihat air mata Selena. Istrinya benar, jika saja saat itu dia menyelesaikan dulu hubungannya dengan Nayra secara baik-baik, artikel tersebut tidak akan pernah muncul. Baik Nayra maupun Selena tidak akan merasa tersakiti olehnya.


“Kenapa malah kamu yang salah?!” protes Selena tiba-tiba saat tangisannya mereda. Sambil mengurai pelukan Dimas, Selena menyeka ujung matanya.


Selena mendongak, menatap Dimas dengan tatapan menuntut. “Kenapa kamu yang salah? Harusnya aku yang salah…” Selena bergumam lirih. Mereka masih berdiri berhadapan dengan kedua tangan Dimas melingkar di pinggang Selena.


Ha? Dimas hanya bisa bengong. Menatap Selena dengan raut kebingungan. Padahal barusan Selena menyalahkannya tapi sekarang saat dia sudah mengakui, Dimas kembali disalahkan.


“Jadi mau kamu gimana Sugar? Aku salah atau nggak menurutmu? Aku beneran bingung.”


“Jangan marah lagi.. Itu aja mauku…” ceplos Selena malu-malu sembari merapikan beberapa helai rambut Dimas yang mencuat.


“Aku marah karena keinginan anehmu.” Dimas menjeda kalimatnya sejenak. “Sekarang aku tanya, apa kamu masih menginginkan aku untuk nggak melaporkan soal kamar itu?”


Selena tak menjawab dan malah menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Sambil membenamkan wajahnya, dia berucap pelan, “Terserah kamu….”


Ada keheningan sesaat setelah Selena mengucapkan kalimat itu. Suara helaan napas panjang Dimas, memecah keheningan tersebut. “Kalau itu maumu, akan kulakukan,” putus Dimas.


Selena terkejut. Seketika dia mendongak, melempar pandangan senang. Tapi kemudian raut wajahnya berubah ragu. “Kamu yakin Bi?”


Dimas mengangguk kecil. “Lagipula, masih banyak bukti yang bisa aku pakai untuk menjerat Leon. Anna juga sudah bersedia jadi saksiku. Jadi ya… soal kamar rahasia itu bisa aku hilangkan tanpa jejak.” Dimas tersenyum penuh arti.


Selena melempar tatapan bingung. “Maksudnya?”


Dimas tertawa kecil, mencium kening Selena. “Nanti aku kasih tahu. Sekarang kita tidur dulu. Besok kamu periksa ke dokter ya Sugar. Aku temani sekalian minta suplemen yang bagus untuk kamu.”


“Oke.” Selena beranjak menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya. Dimas ikut berbaring di sampingnya.


“Tapi ngomong-ngomong, aku kaget lihat kamu nangis seperti tadi,” ujar Dimas.


“Aku juga bingung, Bi. Akhir-akhir ini aku gampang nangis. Masa tadi aku nangis dengar cerita kucingnya Prita kejepit pager. Nggak banget kan?” timpal Selena.


Dimas tertawa kecil seraya membetulkan posisi tidur Selena. Menarik lembut Selena ke dalam pelukannya. “Jam makan siang besok, aku jemput. Kita ke dokter langganan keluargaku aja. Lebih dekat dari kantormu soalnya.”


Selena hanya mengangguk. Wanita itu langsung terpejam begitu Dimas mengusap-usap rambutnya.