
Dimas menghempaskan tubuhnya ke sofa. Disandarkannya kepalanya di bantalan sofa seraya memejamkan mata. Tapi saat matanya terpejam , pikirannya justru tertuju pada omongan Jay.
“Nayra,Pak! Tolong Nayra!”
“Bukan Pak! Bukan dokter yang Nayra butuh! Tolong Pak , tolong lihat ini dulu.”
“Saya tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena dia terus memanggil-manggil nama Bapak.”
“Hah...” Dimas menghela napas panjang dan mengubah posisinya menjadi duduk.
Dengan tangan yang menopang keningnya , Dimas kembali teringat keadaan Nayra yang tergambar di ponsel milik Jay.
“Mana mungkin Nayra selemah itu? Itu pasti hanya akal-akalan dia saja!”
“Tapi bagaimana kalau itu benar? Arrgh!!!”
Dimas memukul meja dengan frustasi. Pikirannya berkecamuk. Satu sisi di dalam bagian dirinya ingin segera memacu mobilnya menuju apartemen Nayra. Sementara sisi lainnya tidak ingin berurusan lagi dengan Nayra.
Dimas meremas kasar rambutnya. Melangkahkan kakinya dengan gusar , dia meneguk sebotol air dingin dari dalam kulkas.
Selagi meneguk , bayangan Nayra semakin melekat kuat di pikirannya. Membuat pria berusia 30 tahun itu membuang asal botol minumnya yang hampir kosong.
“Si*lan!” Dimas mengumpat seraya menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan.
**********
Jay setengah berlari begitu mendengar seseorang memencet bel dengan tidak sabar. Senyuman penuh haru tergambar jelas di wajahnya saat mengetahui orang yang berkunjung ke apartemen Nayra.
“Silahkan masuk , Pak. Nayra ada....,” ucapan Jay terputus karena Dimas melesat masuk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Dia bahkan sampaj menyenggol pundak Jay hingga membuat pria itu nyaris terjungkal.
“Nayra!”
Dimas membuka pintu kamar Nayra dengan keras dan langsung syok begitu melihatnya.
Menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut , Nayra terduduk di kursi seraya memandang ke arah jendela. Ruangannya gelap dan hanya lampu di atas nakas saja yang dinyalakan. Tapi untungnya malam ini bulan bersinar terang. Sehingga ada cahaya bulan yang masuk menyinari ruangan itu.
“Nayra..,” kali ini Dimas melembutkan suaranya.
Sambil melangkah pelan , Dimas mulai mendekati Nayra yang sama sekali tidak bergerak.
“Nay.” Panggil Dimas sekali lagi. Dan kali ini Dimas memegang pundaknya dan sedikit memutar badan Nayra dengan lembut.
Ekspresi Dimas menegang saat melihat Nayra dari dekat. Nayra memang terlihat baik-baik saja , tapi tidak ada sorot kehidupan di mata Nayra. Kosong - mirip seperti manequin etalase toko.
Dipeluknya tubuh Nayra yang hanya diam mematung. Dimas sedikit tersentak saat merasakan bobot tubuh Nayra yang terasa lebih kurus.
“Nay..Ini aku , Dimas!” kedua tangan Dimas menangkup pipi Nayra.
“Di...mas?” Nayra mengerjapkan matanya.
“Dimas??” Nayra mengulang kembali perkataannya.
Dimas mengangguk cepat, “iya. Ini aku , Dimas.”
“Dimas!!!!” Nayra berteriak. Menjatuhkan kepalanya di dada Dimas , sementara tangannya memeluk erat tubuh Dimas.
“Ya..Ini aku. Maaf..Maafkan aku,” ujar Dimas.
Nayra menumpahkan air matanya di dada Dimas hingga beberapa menit. Setelah itu, ia menuntun Nayra yang masih terisak untuk duduk di tepi kasur. Nayra masih memeluk pinggang Dimas , tak ingin melepaskannya walau hanya sebentar.
“Mau kupanggilkan dokter?” tanya Dimas.
Nayra menggeleng. "Tidak usah. Aku udah gak kenapa-napa.”
“Jangan membuat Jay cemas lagi!”
Nayra melepaskan pelukannya , menatap Dimas dengan raut wajah penasaran. "Kamu cemas juga gak?”
“Iya."
Hanya 1 kata yang terucap dari mulut Dimas sudah mampu membuat Nayra kembali menangis. Dia berteriak histeris sambil memukul-mukul lengan Dimas.
“Kenapa Dim? Kenapa?!! Kamu keterlaluan , Dim!” erangnya.
“Aku?! Keterlaluan?!” Dimas yang tak terima , segera bangkit dari kasur.”Kamu yang keterlaluan Nay! Kamu mutusin hubungan kita seenaknya!”
Nayra menghentikan tangisannya. Matanya menatap ke arah Dimas tak percaya.
“Gara-gara itu?”
“Hah!” Dimas mendengus kesal. “Itu bukan perkataan sepele Nay! Kamu mutusin hubungan kita di depan orang banyak!”
“Tapi kan harusnya kamu dengerin du...”
“Dengerin?! Apa yang harus aku dengerin lagi dari kamu?!” potong Dimas sambil menepis tangan Nayra. “Sudahlah , Nay. Kayaknya kamu sudah sembuh. Aku pulang dulu.”
“Dim..tunggu...jangan pergi!” Nayra memohon dengan suara tercekat. Dia berdiri , berusaha mencegah Dimas pergi.
Tapi Dimas tak menggubrisnya. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Semua selalu tentang kamu , Nay. Aku selalu mengalah untuk kariermu. Aku sudah muak.” Ucap Dimas sambil berjalan membelakangi Nayra.
“Mereka tahu kalau itu kamu!!” Nayra berteriak dengan putus asa.
Dimas yang sudah memegang kenop pintu , mengurungkan niatnya. Dia memutar badannya dan menatap bingung ke Nayra.
“Maksud kamu?”
“Aku lakuin itu semua demi kamu! Aku gak mau namamu terseret-seret karena foto itu! Aku gak mau orangtuamu semakin mencap aku buruk!!”
Badan Nayra merosot bersimpuh ke lantai dengan tangis terisak. Dimas buru-buru menangkap tubuhnya dan menuntunnya kembali duduk ke tepi kasur.
“Orang yang memotet foto itu mengabari CEO agensiku! Dia memberitahu semuanya! Tentang kamu! Tentang kita! Aku terpaksa menuruti kemauan CEO , agar dia tak mengeksposmu!”
“Apa?!” Dimas mengatupkan gigi dan mengepalkan tangan karena emosi mendengarnya.
Jadi selama ini , semua hanya pemikirannya saja?! Nayra melakukannya untuk melindungi dirinya! Tapi Dimas malah menuduhnya dan bahkan mengkhianatinya.
Pria macam apa kau , Dimas?! Gumam Dimas kesal.
“Berarti , semua akar masalah ini adalah CEO mu! Kurangajar!” geram Dimas marah dan mengambil ponsel dari sakunya.
“Bukan! Bukan dia!” Nayra terkejut dan buru-buru menahan tangan Dimas yang hendak menelpon seseorang.
“Dia juga korban, Dim! Dia juga diperas oleh orang yang mengirim foto itu!”
Dimas menghela napas panjang , mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Pandangannya kini beralih ke Nayra yang masih tertunduk menangis. Dia berjongkok , menyentuh pipi Nayra dan membuat mata mereka bertatapan beberapa detik.
Tangan Dimas meraih tubuh Nayra dan langsung mendekapnya erat.
“Maaf..maafkan aku , Nay." Rancau Dimas berulang kali. Emosi masih mengerogoti hatinya namun ditahannya mengingat kondisi Nayra yang masih menangis
sesegukan.
************
“Jaga Nayra baik-baik. Besok pagi , saya akan panggilkan dokter,”perintah Dimas kepada Jay.
Jay mengangguk , “baik Pak. Sekali lagi terimakasih.”
Dimas menoleh , menepuk pundak Jay , “justru saya yang harusnya berterimakasih. Terimakasih Jay , kamu selalu menjaga Nayra. Dan semoga selamanya seperti itu.”
Jay tersenyum mengangguk sambil terus memandangi punggung Dimas yang perlahan-lahan menghilang memasuki pintu lift.